ORIENTALIS DAN AL-QURAN

BAB 18 :
ORIENTALIS DAN AL-QURAN

The History of The Qur’anic Text hal 337 – 343

Kontroversi seputar tulisan Arab kuno dan Mushaf Ibn Mas’ud sudah dibahas, sekarang kita alihkan perhatian pada spektrum yang lebih luas mengenai serangan Orientalis terhadap Al-Qur’an dalam berbagai dimensi untuk dapat menyajikan suatu citra beberapa upaya dan tujuan Barat dalam mencemarkan kemurnian teks Al-Qur’an menggunakan sumber-sumber tidak etik dan penipuan.

1. Perlunya Pembuktian Penyimpangan dalam Al-Qur’an

Dengan maksud hendak membuktikan moralitas dan superioritas teologi Barat, Bergtrasser, Jeffery, Mingana, Pretzl, Tisdal dan banyak lagi lainnya, telah mencurahkan seluruh kehidupannya guna menyingkap perubahan teks Al-Qur’an yang, katanya, tidak mereka dapatkan dalam kajian kitab Injil. Seperti tampak dalam bab sebelumnya, banyak sekali perbedaan yang memenuhi halaman-halaman dalam Kitab Injil, “Cette masse enorme depasse ce dont on dispose pour n’import quel texte antique; elle a fourni quelque 200,000 variantes. La plupart sont des variants insignifiantes… Deja Wescott et Hort, en donnant ce chiffre, constataient que les sept 6uitieme du texte etaient assures… Il y en a pourtant”.1 Jika lihat secara keseluruhan, tampak melemahkan isu-isu penting dalam teologi dan menimbulkan keprihatinan mengenai adanya cerita-cerita palsu yang disisipkan ke dalam teks melalui pengaruh masyarakat umum. Sementara desakan untuk membuktikan keadaan yang sama terhadap Al-Qur’an mulai menggejala semenjak beberapa tahun lalu disebabkan oleh perubahan peta politik Timur Tengah, namun upaya-upaya dalam bidang ini kebanyakan telah dimulai lebih awal dari perhatian mereka. Di antara karya-karya sebagaimana sejarah telah mencatat:

A. Mingana and A. Smith (ed.), Leaves from Three Ancient Qurans, Possibly Pre-’Othmanic with a List oftheir Variants, Cambridge, 1914;

G. Bergtrasser, “Plan eines Apparatus Criticus zum Koran”, Sitrungsberichte Bayer. Akad., Munchen, 1930, Heft 7;

O. Pretzl, “Die Fortfuhrung des Apparatus (‘riticus zum Koran”, Sitzungsberichte Bayer. Akad., Miinchen, 1934, Heft 5; dan

A. Jeffery, The Qur’an as Scripture, R.F. Moore Company, Inc., New York, 1952.

Jeffery barangkali yang paling banyak menguras tenaga dalam masalah ini.

2. Kritikan Orientalis Terhadap Kompilasi AI-Qur’an

Tampaknya terdapat beberapa pintu gerbang yang digunakan sebagai alat penyerang terhadap teks AI-Qur’an, salah satunya adalah menghujat tentang penulisan serta kompilasinya.2 Dengan semangat ini pihak Orientalis mempertanyakan mengapa, jika Al-Qur’an sudah ditulis sejak zaman Nabi Muhammad `Umar merasa khawatir dengan kematian para huffaz pada peperangan Yamamah, memberi tahu Abu Bakr akan kemungkinan lenyapnya Kitab Suci ini lantaran kematian mereka.3 Lebih jauh lagi, mengapa bahanbahan yang telah ditulis tidak disimpan di bawah pemeliharaan Nabi Muhammad sendiri? Jika demikian halnya, mengapa pula Zaid bin Thabit tidak dapat memanfaatkan dalam menyiapkan Suhuf itu? Meskipun berita itu diriwayatkan oleh al-Bukhari dan dianggap sah oleh semua kaum Muslimin, penjelasan itu tetap dianggap oleh kalangan Orientalis bahwa apa yang didiktekan sejak awal dan penulisannya dianggap palsu.

Mungkin karena kedangkalan ilmu, berlaga tolol (tajahul), atau pengingkaran terhadap kebijakan pendidikan kaum Muslimin merupakan permasalahan sentral yang melingkari pendirian mereka. Katakanlah terdapat satu naskah Al-Qur’an milik Nabi Muhammad mengapa beliau lalai menyerahkannya pada para Sahabat untuk disimak dan dimanfaatkan? Besar kemungkinan, di luar perhatian, tiap nasikh-mansukh, munculnya wahyu baru, ataupun perpindahan urutan ayat-ayat tidak akan tecermin dalam naskah di kemudian hari. Dalam masa[ah ini, beliau akan membuat informasi keliru dan melakukan sesuatu yang merugikan umatnya; kerugian yang ada dirasa lebih besar dari manfaatnya. Jika naskah itu terdapat, mengapa Zaid bin Thabit tidak memakainya sebagai narasumber di zaman pemerintahan Abu Bakr? Sebelumnya, telah saya kemukakan bahwa guna mendapat legitimasi sebuah dokumen, seorang murid mesli bertindak sebagai saksi mata dan menerima secara langsung dari guru pribadinya. Jika unsur kesaksian tidak pernah terwujud, adanya buku seorang ilmuwan yang telah meninggal dunia, misalnya, akan menyebabkan kehilangan nilai teks itu. Demikianlah apa yang dilakukan oleh Zaid bin Thabit. Dalam mendikte ayat-ayat Al-Qur'an kepada para Sahabat, Nabi Muhamtnad , melembagakan sistem jaringan jalur riwayat yang lebih tepercaya didasarkan pada hubungan antara guru dengan murid; sebaliknya, karena beliau tidak pernah menyerahkan bahan-bahan tertulis, maka tidak ada unsur kesaksian yang terjadi pada naskah kertas kulit yang dapat digunakan sebagai sumber utama untuk tujuan perbandingan, baik oleh Zaid maupun orang lain.4

Tetapi jika keseluruhan Al-Qur'an telah direkam melalui tulisan semasa kehidupan Nabi Muhammad dan disimpan baik dalam pengawasan beliau maupun para Sahabat, mengapa pula `Umar takut kehilangan Al-Qur' an karena syahidnya para huffaz? Hal ini, sekali lagi, menyangkut tentang hukum persaksian.

Dengan jumlah yang ribuan, para huffaz memperoleh ilmu pengetahuan Al-Qur'an mela]ui satu-satunya otoritas yang saling beruntun di muka bumi ini yang, akhirnya, sampai pada Nabi Muhammad Setelah beliau wafat, mereka (para sahabat) menjadi sumber otoritas yang juga saling beruntun; kematian mereka hampir-hampir telah mengancam terputusnya kesaksian yang berakhir pada Nabi Muhammad , yang mengakibatkan untuk mendapat ilmu yang diberi otoritas kurang memungkinkan. Demikian juga apabila mereka mencatat ayat-ayatnya menggunakan tulisan tangan akan kehilangan nilai sama sekali, karena pemiliknya sudah masuk ke liang lahat dan tidak dapat memberi pengesahan tentang kebenarannya. Kendati mungkin terdapat secercah bahan tulisan yang secara tak sengaja persis sama dengan Al-Qur’an seperti yang dihafal oleh yang lain, selama masih terdapat saksi utama yang sesuai, ia akan menjadi paling tinggi, menempati urutan ke tiga dari dokumen yang sah. Itulah sebabnya dalam membuat kompilasi Suhuf, Abu Bakr bertahan pada pendiriannya bahwa setiap orang bukan saja mesti membawa ayat, melainkan juga dua orang saksi guna membuktikan bahwa penyampaian bacaan itu datang langsung dari Nabi Muhammmad (kita temukan hukum kesaksian ini juga dihidupkan kembali di zaman pemerintahan `Uthman). Ayat-ayat yang telah ditulis tetap terpelihara dalam rak-rak dan lemari simpanan, baik tanah Yamamah itu mengisap darah para huffaz ataupun tidak, akan tetapi otoritas saksi yang merupakan poin paling penting dalarn menentukan keutuhan nilai sebuah dokumen, yang paling dijadikan titik sentral kekhawatiran ‘ Urnar.

3. Perubahan Istilah Islam pada Pemakaian Ungkapan Asing

Pintu gerbang kedua masuknya serangan terhadap Al-Qur’an adalah melalui perubahan besar-besaran studi keislaman menggunakan peristilahan orang Barat. Dalam karyanya Introduction to Islamic Law, Schacht membagi fiqih Islam kepada judul judul berikut: orang (persons), harta (property), kewajiban umum (obligations in general), kewajiban dan kontrak khusus (obligations and contracts in particular), dan lain-lain.5 Susunan seperti ini sengaja diperkenalkan hendak mengubah hukum Islam pada hukum Romawi yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan topic bahasan serta pembagiannya yang digunakan dalam sistem perundang-undangan Islam. Wansbrough melakukan hal yang sama terhadap Al-Qur’an dengan membagi Quranic Studies menurut ketentuan berikut: Prinsip-prinsip penafsiran (Principles of Exegesis) (1) Tafsiran Masoreti (Masoretic exegesis); (2) Penafsiran Hagadi (Haggadic exegesis); (3) Deutungsbedurftigkeit; (4) Penafsiran Halaki (Halakhic exegesis); dan (5) Retorika dan simbol perumpamaan (Rhetoric and allegory).6

Tafsir-tafsir seperti ini menghabiskan lebih dari separuh buku yang ditulis di mana jika saya bertanya pada para ilmuwan Muslim baik dari Timur mau pun yang berlatar belakang pendidikan Barat, tak akan mampu memahami semua daftar isi buku tersebut. Barangkali hanya seorang pendeta Yahudi yang dapat menjelaskan peristilahan Perjanjian Lama, namun hal ini akan sama nilainya seperti seorang pendeta memaksakan baju tradisi mereka pada seorang sheikh. Mengapa mereka begitu bergairah mengubah istilah Islam, di mana tujuannya tak lain hendak memaksakan sesuatu yang di luar jangkauan bidang para ilmuwan Muslim, guna menunjukkan bahwa hukum mereka bersumber dari Yahudi dan Kristen?

4. Tuduhan Orientalis terhadap Penyesusian

Hal ini akan menggiring memasuki pintu gerbang ketiga dalam menyerang terhadap Al-Qur’an: perulangan tuduhan yang ditujukan kepada Islam hanya merupakan pemalsuan terhadap agama Yahudi dan Kristen, atau bagian dari sikap curang dalam memanfaatkan literatur Kitab Suci untuk kepentingan sendiri. Wanshrough, sebagai seorang penggagas tak tergoyahkan dalarn pemikiran ini tetap ngotot, misalnya, ia menyatakan, “Doktrin ajaran Islam secara umum, hahkan ketokohan Muhammad, dihangun di atas prototype kependetaan agama Yahudi.”7 Disini, kita hendak rnengkaji rasa sentimen ke dua orang ilmuwan tersebut yang menulis menggunakan alur pemikiran yang senada.

i. Tuduhan dan Penyesuaian Kata yang Merusakkan

Dalam satu artikel Encyclopedia Britannica (1891) Noldeke, tokoh Orientalis, menyebutkan banyak kekeliruan di dalam Al-Qur’an karena, katanya, “kejahilan Muhammad” tentang sejarah awal agama Yahudi – kecerobohan nama-nama dan perincian yang lain yang la curi dari sumber-sumber Yahudi.8 Dengan membuat daftar kesalahan la menyebut:[Bahkan] orang Yahudi yang paling tolol sekalipun tidak akan pernah salah menyebut Haman (menteri Ahasuerus) untuk menteri Fir’aun, ataupun menyebut Miriam saudara perempuan Musa dengan Maryam (Miriam) ibunya al-Masih…. [Dan] dalam kebodohannya tentang sesuatu di luar tanah Arab, ia menyebutkan suburnya negeri Mesir-di mana hujan hampir-hampir tidak pernah kelihatan dan tidak pernah hilang-karena hujan, dan bukan karena kebanjiran yang disebabkan oleh sungai Nil (xii. 49).9

Ini merupakan satu upaya yang menyedihkan hendak mengubah wajah Islam menggunakan istilah orang lain, siapa orangnya yang menyebut bahwa Fir’aun tidak memiliki seorang menteri yang bernama Haman, hanya karena tidak disebut dalam Kitab Suci yang terdahulu? Dalam kebohongannya Noldeke tidak malu menunjuk bahwa Al-Qur’an menyebut Maryam (Ibu alMasih) sebagai “saudara perempuan Harun”,10 bukan Musa. Harun ada di jajaran terdepan dalam kependetaan orang-orang bani Israel; yang menurut Perjanjian Baru, Elizabeth, saudara sepupu Maryam dan juga ibunya Yunus, semua lahir dari keluarga pendeta, lantaran itu merupakan “anak-anak perempuan Harun.”11 Dengan kepanjangan itu, kita dapat secara meyakinkan mengatakan baik Maryam atau Elizabeth sebagai “saudara-saudara perempuan Harun” atau “anak-anak perempuan `Imran” (ayah Harun).12

Apakah tuduhan Noldeke mengenai kesuburan negeri Mesir? Membanjirnya Sungai Nil adalah karena di sebagian daerah, sumber utama, karena adanya perbedaan curah hujan, seperti telah dibuktikan para pakar lingkungan, namun demikian mari kita singkirkan terlebih dulu akan hal ini dan lihatlah ayat 12: 49 yang mengatakan:

“Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia akan diselamatkan, dan di masa itu mereka memeras anggur. “

Saya serahkan kepada para pembaca meneliti sendiri ada atau tidaknya penyebutan kata hujan pada ayat itu, sebenarnya tuduhan seperti itu muncul dari kekalutan pikiran Noldeke terhadap kata benda “hujan” dan “pengucapannya”.

ii. Sebuah Injil Palsu

Ini satu tuduhan lagi yang dialamatkan terhadap Al-Qur’an oleh Hirschfeld.13 Jika kata Injil ditujukan pada Perjanjian Baru, mari kita ingat kembali dua doktrin utama dalam agama Kristen: Dosa Warisan dan Penebusannya. Yang pertama adalah warisan otomatis yang ada pada setiap insan, karena mereka keturunan Adam, sedang yang ke dua karena terbentuknya kepercayaan bahwa Tuhan telah mengorbankan satu-satunya Anak yang lahir ke dunia sebagai penghapus dosa. Tetapi Al-Qur’an dengan tegas menolak kedua-duanya:

“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima tobatnya. “14

“Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.”15

Trinitas dan penyelamatan melalui al-Masih, sebagai esensi ajaran Kristen, tidak diberi peluang sama sekali dalam Al-Qur’an, sementara ceritacerita Injil yang ada tidak lebih dari sekadar masalah kesejarahan, bukan keyakinan ideologi.

“Katakanlah, “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak seorang pun yang setara dengan Dia. “16

Jadi, sebenarnya di manakah asal usul pemalsuan itu? Adapun mengenai penyesuaian dari Perjanjian Lama (sebagaimana dituduhkan oleh Wansbrough, Noldeke, dan lainnya), apa perlunya Nabi Muhammad mengungkapkan satu Kitab Suci yang menggambarkan Yahweh sebagai Tuhan yang bersifat kesukuan, bahkan tidak dihubungkan dengan kaum Samaritan dan kaum Edomit, tetapi semata-mata pada Bani Israel? Sejak awal pembukaan kitab, kita dapati Al-Qur’an mengatakan:

“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. “17

Ini merupakan sebutan universal sifat Allah, yang melintasi batas kesukuan dan bangsa berlandaskan pada ketentuan keimanan. Seseorang tentunya tidak akan dapat menempel buah mangga yang gemuk atau subur pada satu cabang berduri dari sebatang pohon kaktus yang rapuh.

The History of The Qur’anic Text hal 343 – 349

5. Sengaja ingin Mengubah Al-Qur,an

Pintu gerbang pintu masuk ke empat adalah hendak memalsukan Kitab Suci Al-Qur’an itu sendiri. Sebagaimana telah kita kaji secara kritis teori-teoriGoldsiher dan Arthur Jetffery mengenai ragam bentuk AI-Qur’an, selain mereka, masih terdapat beberapa Orientalis lain yang cukup terpandang.

i. Upaya Flugel Mengubah Al-Qur’an

Pada tahun 1847 Flugel mencetak sejenis indeks Al-Qur’an. la juga menguras tenaga ingin mengubah teks-teks Al-Qur’an yang berbahasa Arab dan, pada akhirnya, menghasilkan suatu karya yang tidak dapat diterima oleh pembaca Al-Qur’an di mana pun. Adalah sudah jadi kesepakatan di kalangan kaum Muslimin untuk membaca Al-Qur’an menurut gaya bacaan salah satu dari tujuh pakar bacaan yang terkenal,18 yang semuanya mengikuti kerangka tulisan `Uthmani dan sunnah dalam bacaannya (qira’ah), perbedaan-perbedaan yang ada, kebanyakan berkisar pada beberapa tanda bacaan diakritikal yang tidak berpengaruh sama sekali terhadap isi kandungan ayat-ayat itu. Setiap Mushaf yang dicetak berpijak pada salah satu dari Tujuh Qira’at, yang diikuti secara seragam sejak awal hingga akhir. Tetapi Flugel menggunakan semua tujuh sistem bacaan dan memilih satu qira’ah di sana sini dengan tidak menentu (tanpa alasan yang benar) yang hanya membuahkan ramuan cocktail tak berharga. Bahkan Jeffery (yang dikenal tidak begitu bersahabat dengan tradisi keislaman) malah bersikap sinis dengan menyebut,

Edisi Flugel yang penggunaannya begitu meluas dan berulang kali dicetak, tak ubahnya sebuah teks yang sangat amburadul, karena tidak mewakili balk tradisi teks ketimuran yang murni mau pun teks dari berbagai sumber yang ia cetak, serta tidak memiliki dasar ilmiah yang dapat dipertanggung jawabkan.19

ii. Upaya Blachere Merusak Al-Qur’an

Ketika menerjemahkan makna Al-Qur’an ke dalam bahasa Prancis (Le Coran, 1949) Regis Blachere bukan saja mengubah urutan surah-surah AIQur’an , malah juga menambahkan dua ayat fiktif ke dalam batang tubuh teks. Dia berpijak pada cerita palsu di mana, katanya, Setan yang memberi “wahyu” kepada Nabi Muhammad yang tampaknya tidak dapat membedakan antara Kalam Allah dan ucapan mantra-mantra orang kafir seperti tercatat dalam cerita itu. Tak satu pun jaringan transmisi bacaan maupun 250,000 manuskrip Al-Qur’an yang masih ada memasukkan dua ayat itu di mana secara keseluruhan berseberangan dengan setiap naskah yang terdahulu dan berikutnya, pada dasarnya, bertentangan dengan inli AI-Qur’an yang sesungguhriya.20 Dengan diberi label ’20 bis* dan ’20 ter’, ayat-ayat palsu itu rnerupakan seruan kepada kaum Muslimin untuk mengagungkan berhala masyarakat Mekah Jahiliah.21 Lihat Gamhar 18.1.

 

Gambar 18.1: Terjemahan Blachere dengan dua ayat palsu
yang diberi label ’20 bis’ dan ’20 ter’.

Berita bohong ini terbukti mampu menyulut ghirah yang memukau bagi kalangan Orientalis dalam melepas cerita selanjutnya pada pihak lain. Terjemahan Sirat Ibn Ishaq (sebuah biografi awal tentang Nabi Muhammad yang arnat meyakinkan) telah diterbitkan berulang kali di dunia Islam sejak tahun 1967. Dalam terjemahannya, ia menggunakan ketidak jujurannya yang terlalu banyak untuk dihitung; di antaranya ia memasukkan dua halaman dari salah satu karya at-Tabari, tempat ia menceritakan dongeng bohong itu semata-mata hanya dorongan rasa ingin tahu. Guillaume tidak pernah menunjukkan catatan kaki secara jelas, hanya dengan menggapai kutipan itu dalam tanda kurung dan tidak memisahkan dari batang tubuh naskah teks utama, yang didahului penyisipan tanda huruf T yang digunakan dengan semangat membara tanpa disertai penjelasan. Uraian yang berkepanjangan (dua halaman) diambil dari perlakuan yang serupa,22 dan akibatnya komunitas Muslim yang kurang terpelajarmenganggapnya sebagai kebenaran dari cerita fiktif musyrik tersebut dan tanpa disengaja mau menerima sebagai bagian karya sejarah Ibn Ishaq yang sesungguthnya.

iii. Upaya Mingana Merusak Al-Qur’ an

Prof. Rev. Mingana, yang dianggap oleh sementara pihak sebagai `ilmuwan ulung dalam bahasa Arab’23 sebenarnya masih memiliki pemahaman yang rapuh serta belum memadai. Ketika menerbitkan `Naskah Penting Hadith Bukhari (An Important Manuscript of the Traditions of Bukhari,)24 dalam beberapa alinea, telah membuat beberapa kekacauan sebagai berikut: ketidaktepatan dalam menyalin wa haddathani (ia malah menyalin wa khaddamani); Abu al-Fadl bin dibaca dengan Abu al-Muzaffar, membuang perkataan muqabalah; ketidakmampuan membaca sebagian kata-kata seperti al-ijazah (dengan semau gue dihapus seluruhnya); menambah huruf waw; salah dalam menerjemahkan istilah thana dan ana, dan banyak lagi, dengan sederet kesalahan yang ia lakukan, hanya menempatkan kedudukannya sebagai seorang ilmuwan tanggung.


Gambar 18.2: Salah satu lembaran palimpsest yang digunakan oleh Mingana. Sumber: Mingana & Lewis (eds.), Leaves from Three Ancient Qurans, Plate Quran B.

Hadith al-Bukhari (Traditions of Bukhari) tentu merupakan sebuah kompilasi hadith, saya menggunakannya sebagai suutu test. Kembali pada perbeduan-perbedaan text AI-Qur’an, kita temukan di sini bahwa Mingana juga meninggalkan satu warisan, menerbitkan satu karya yang berjudul Leaves from Three Ancient Qurans, Possibly Pre-’Othmanic with a list of their Variants.25 Manuskrip yang ash adalah satu palimpsest. Palimpsest adalah manuskrip di mana tulisan aslinya telah dihapus guna memberi peluang bagi tulisan baru (penerjemah). yang terbuat dari kertas kulit halus: pada asalnya mengakomondasi ayat-ayat Al-Qur’an, kemudian dihapus dan ditulis kembali oleh seorang Kristen Arab.26 Untuk mengetahui tulisan yang mula-mula tentulah sangat memerlukan kerja keras, karena itu Mingana menyemprot ketiga halaman itu dengan sinar infra merah guna melihat perbedaan.27 Lihat Gambar 18.2 di atas.

Dalam menganalisis lembaran-lembaran tersebut, Mingana membuat daftar perbedaan Al-Qur’an pada manuskrip itu beserta terjemahan bahasa Inggrisnya. Tidak susah untuk meneliti ketidakjujuran yang ada dalam masalah ini, yang ditujukan khususnya kepada para pembaca yang hanya tahu sedikit bahasa Arab. Empat perbedaan berikut menjelaskannya:

1). Mingana menulis:

“Kalau bukan ( atau ) bermakna pukulan, tinju, bertinju, maka itu adalah kata-kata yang tidak jelas. Kalimat pada AI-Qur’an [yang tercetak] adalah sebagai berikut: `Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikit pun dari (siksa) Allah.’ Teks kami berbunyi: `Dalam meremehkan, mereka tidak akan mengambil tempat untuk memukul, bagi kamu.’ Kalau terjemahan itu tidak bisa diterima, maka makna yang sebetulnya dari kata benda ini memang bermasalah. Kamus hanya menyatakan: ‘, Kata benda abstrak dalam bentuk tiga akar dan bukan dalam bentuk tidak banyak digunakan dalam omposisi pasca-Qur’an , tetapi kata sifat dapat ditemukan dalam banyak penulis.”28

Catatan: begitu banyak sport permainan dalam segi bahasa, yang semuanya diarahkan guna membungkam satu poin penting. Melihat akan ketidak mampuan dalam membaca naskah al-Bukhari yang begitu jelas. apa lagi palimpsest, terjemahan Mingana semuanya nihil, karena pada bagian akhir ia tidak mampu menyajikan suatu pengertian yang dapat dicerna oleh akal dalam konteks bahasan ini. Perkataan sebenarnya hanya peristilahan yang sesuai bagi adu kekuatan dalam dunia tinju. bukan untuk Al-Qur’an, dan kata terjemahan yang sopan yang mungkin dapat saya sumbangkan adalah, `Di luar kejahatannya, mereka tidak akan dapat memberi proteksi pada anda darit empasan yang begitu dahsyat [sic]‘. Bahwa dua perkataan terakhir yang disebabkan kesalahan tulisan adalah sangat kentara (penulis mana yang sengaja ingin mencoba-coba mengubah ayat ini dengan menyisipkan kata-kata yang tidak dapat diterima oleh akal waras itu?), namun demikian, Mingana, tampaknya tak mau mengakui kekalahan.

2). Dari surah 17: 1.29

Al-Qur’an yang tercetak

(sebagaimana diberikan Mingana)

Manuskrip Mingana

 

Catatan: Siapa saja yang menggunakan Mushaf cetakan Madinah hari ini, akan melihat ejaan yang tercetak adalah 30 dan bukan . Mingana sejak awal menyisipkan alif atas inisiatif sendiri, lalu ia menghapus pada bagian kedua guna menciptakan `ragam bacaan’. Demikian juga, perkataan barak ( ) yang berarti keberkahan dan juga bersujud, dan karenanya ia memanfaatkan untuk menerjemahkan kata pertama (dengan tambahan alif) sebagai “yang diberkati”, dan yang kedua sebagai “yang bersujud”.

3). Dari surah 9: 37.31

Al-Qur’an yang tercetak

(menurut Mingana)

Manuskrip Mingana

 

Catatan: Bukan satu rahasia bahwa para penulis awal kadang-kadang menghilangkan huruf-huruf hidup (alif, waw, dan yak’) dari naskah mereka,32 dan di sini penulis menghilangkan huruf hidup bagian akhir pada perkataan yahdi karena tidak berbunyi. Sekali lagi Mingana mengambil kesempatan, kali ini melalui perpindahan posisi yang betul-betul menggelikan. la memisahkan alif dari kata al-yawm dan meletakkannya pada perkataan la yuhda, sehingga tercipta satu ungkapan yang tidak mempunyai aturan tata bahasa dan tidak berarti sama sekali. Hal ini dapat diumpamakan atau dianalogikan dalam ungkapan bahasa Inggris tigers hunting (memburu harimau) dan mengubahnya menjadi tiger shunting (memindahkan landasan harimau).

4). Dari surah 40: 85 33

Al-Qur’an yang tercetak
(versi Mingana)

Manuskrip Mingana

 

Catatan: Trik yang sama juga diterapkan di sini, walaupun agak lebih canggih. Sambil memindahkan dari kepada , Mingana secara kreatif telah menambahkan tanda titik pada perkataan yang tidak bertitik.

 

The History of The Qur’anic Text hal 349 – 356

6. Puin dan Bagian-Bagian Manuskrip San’a’

Dalam sumbangannya terhadap Al-Qur’an sebagai Text, Dr. Gerd-R. Joseph Puin menyindir adanya kekhususan yang ia jumpai dalam kumpulan manuskrip Yaman:34

Penulisan alif yang tidak sempurna. Ini tampak lebih umum pada bagianbagian manuskrip San’a’ dibandingkan dengan yang lain.

Perbedaan letak pemisah ayat pada ayat-ayat tertentu.

Penemuan `terbesar’ adalah satu bagian yang mana akhir surah 26 setelahnya diikuti oleh surah 37.

Dalam menulis “What is the Koran?” (Apa itu AI-Qur’an?) edisi Januari, 1999, dalam majalah The Atlantic Monthly, Toby Lester begitu kental mengandalkan pada penemuan Dr. Puin.. Salah seorang tokoh penting dalam memulihkan Mushhaf-Mushaf di San’a’, Yaman,35 Dr. Puin menemukan dirinya, dan juga bagian-bagian manuskrip Yaman, tiba-tiba menjadi sorotan melalui publikasi artikelnya. Kata-kata Lester kadang-kadang memicu sensasi yang menyenangkan dan juga luapan kemarahan yang mendalam mengenai karya Puin itu, tergantung apakah seorang berbicara kepada Orientalis atau Muslim yang taat, makanya, guna meredam kemarahan kaum Muslimin dan mengikis ketidak percayaan, Puin telah menulis satu surat panjang dalam bahasa Arab kepada al-Qadi al-Akwa` dari Yaman. Surat itu kemudian muncul dalam harian ath-Thawrah, dan saya reproduksi di pelbagai tempat.36 Sambil memuji Mushaf-Mushaf San’a’ dan bagaimana ia menguatkan posisi kaum Muslimin, namun ia juga menulis dengan gaya yang sangat halus dan sekaligus ingin mengelabui seluruh sejarah Al-Qur’an. Berikut ini adalah terjemahan sebagian surat itu yang berkaitan dengan tema ini:

Peninggalan-peninggalan [Mushaf tua ini] secara ilmiah meyakinkan berasal dari abad pertama setelah Hijrah! Karena keberadaan manuskripmanuskrip tersebut di San’a’, …[kita memiliki] satu-satunya bukti monumental tentang penyelesaian tulisan Al-Qur’an pada abad pertama Hijrah, dan bukan, seperti yang ditudingkan oleh para ilmuwan nonMuslim, pada abad ketiga Hijrah! Tentunya, kaum Muslimin akan bertanya apa pentingnya informasi yang dilangsir oleh seorang ilmuwan non-Muslim, jika kaum Muslimin yakin bahwa Mushaf yang lengkap sudah ada sejak Khalifah ketiga, `Uthman bin `Affan. Keyakinan mereka sebenarnya hanyalah satu kepercayaan yang dikemas dalam keimanan yang baik, karena kita tidak mempunyai naskah ash Mushaf yang ditulis di bawah pengawasan `Uthman, ataupun naskah-naskah lain yang ia sebar ke negeri-negeri lain….

Ringkasan beberapa poin penting surat di atas sebagai berikut:

Manuskrip San’a’ adalah satu-satunya bukti monumental tentang penyelesaian penulisan Al-Qur’an pada abad pertama Hijrah, yang merupakan argumen kuat terhadap tuduhan banyak ilmuwan non-Muslim bahwa ia baru selesai pada abad ketiga Hijrah.

Kaum Muslimin tidak punya bukti bahwa AI-Qur’an yang Iengkap telah ada sejak zaman pemerintahan ‘Uthman: hanya berpijak pada keimanan yang haik yang selalu dijadikan sandaran.

Kebanyakan tuduhan Puin sudah kita bicarakan: ketidak sempurnaan dalam penulisan huruf alif sudah kita singgung pada Bab 10 dan 11; kemenangan `terbesar’, bagian yang memuat di mana surah 26 diikuti dengan surah 37, tidaklah begitu unik seperti yang telah saya tunjukkan dari bagian Mushhaf yang lain, lihat hlm. 73-76. Adapun mengenai kesalahan letak tandatanda pemisah ayat, ketidakserasian dalam bidang ini telah tercatat dan dibuat klasifikasi oleh para iltnuwan Muslim sejak awal. Satu tuduhan yang belum sempat kita kupas akan dibahas sesudah ini.

i. Adakah Bagian-Bagian Manuskrip San’a’ Satu-satunya Bukti Lengkapnya Al-Qur an pada Abad Pertama?

Puin melempar dua tuduhan yang saling berkaitan. la menarik ke belakang tahun penyelesaian penulisan Al-Qur’an yang lengkap dari abad ketiga kepada abad pertama, tetapi kemudian, dengan menghindar dari segala sesuatu yang lebih spesifik tentang `abad pertama’, secara halus telah membuka sebuah kerangka waktu yang luas untuk digunakan sekehendaknya.

Tidak semua Orientalis menuding bahwa penulisan Al-Qur’an terselesaikan pada awal abad ke tiga. Ada beberapa di antara mereka, seperti Pendeta Mingana, yang ngotot bahwa penulisan Al-Qur’an telah lengkap pada abad pertama, dan contoh lain, Muir, berpegang bahwa Mushaf yang ada sekarang adalah sama dengan apa yang diberikan oleh Nabi Muhammad Kemudian ada pula al-Hajjaj (w. 95 H.), yang banyak dipuji ilmuwan Barat, karena menyempurnakan penulisan AI-Qur’an. Semua tahun tergabung dalam abad pertama Hijrah, dan tidak adanya kepastian dari Puin telah membuka peluang untuk meletakkan waktu kapan saja dalam periode ini. Ketepatan adalah satu unsur penting bagi ilmuwan yang sungguh-sungguh, dan kita hendaknya mau mematuhi. Dengan wafatnya Nabi Muhammad pada tahun 11 Hijrah, berarti masa akhir turunnya wahyu; oleh sebab itu maka dikumpulkan dalam bentuk luaran (external form) di zaman Abu Bakr (w. 13 H.), di mana ejaan diseragamkan dan naskah-naskahnya disebarluaskan oleh `Uthman (2530 H.) Inilah pandangan kaum Muslimin. Mereka tidak pernah mengatakan bahwa Al-Qur’an yang lengkap tidak pernah terwujud sehingga ke zaman `Uthman, dan jika Puin mengatakan demikian, berarti tidak mewakili pendapat kaum Muslimin.

Lusinan manuskrip Al-Qur’an abad pertama tersedia di berbagai perpustakaan di seluruh dunia;37 Dugatan prihadi saya bahwa di seluruh dunia tersedia sekitar satu perempat juta baik sehagian atau keseluruhan manuskrip Mushaf yang meliputi semua zaman.38 Di bawah ini adlalah daftar manuskrip yang semuanya menunjuk pada abad pertama hijrah. Dalam pengumpulannya, saya berpijak pada karya K. `Awwad,39 saya hanya mengambil Mushaf abad pertama dari daftar yang ia sajikan (ditandai dengan nomor yang tebal) dan kemudian disusun kembali sesuai dengan urutan nama.40

[1] Satu naskah dinisbatkan pada Khalifah `Uthman bin `Affan. Amanat Khizana, Topkapi Saray, Istanbul, no. 1.

[2] Naskah yang lain dikaitkan dengan `Uthman bin `Affan. Amanat Khizana, Topkapi Saray, no. 208. Naskah ini mempunyai 300 folio dan bagian kedua jilidnya hilang.

[3] Naskah lain dikaitkan dengan `Uthman bin `Affan. Amanat Khizana, Topkapi Saray, no. 10. la hanya 83 folio dan mengandung catatan-catatan yang ditulis dalam bahasa Turki yang menyebutkan penyalinnya.

[12] Dinisbatkan kepada Khalifah `Uthman di Musim Seni Islam, Istanbul. Ada folio yang hilang pada bagian awal, pertengahan, dan akhir. Dr al-Munaggid telah meletakkan abad pertama waktunya pada paruh kedua

[43] Dinisbatkan kepada Klalifah ‘Uthman di Tashkent, 353 fulio.

[46] Naskah yang berukurun hesar dengan 1000 halaman, ditulis antara 25_31 11. di Raw:iq al-Magharibah, al-Azhar, Kairo.

[58] Dinishatkan kepada Khalifah ‘Uthman. Perpustakaan Negara Mesir, Kairo.

[4] Dikaitkan dengan Khalifah ‘All bin Abi Talib di atas palimpsest. Muresi Kutuphanesi, Topkapi Saray, no. 36E.H.29. Ada 147 folio.

[5] Dikaitkan dengan Khalifah `. Amanat Khizana, Topkapi Saray, no. 33. Hanya ada 48 folio.

[11] Dikaitkan dengan Khalifah ‘All. Amanat Khizana, Topkapi Saray, no. 25E.H.2. Mengandung 414 folio.

[37] Dikaitkan dengan Khalifah `Ali. Perpustakaan Raza, Rampur, India, no. 1. Mengandungi 343 folio.

[42] Dikaitkan dengan Khalifah ‘All, San’a’, Yaman.

[57] Dikaitkan dengan Khalifah `Ali, al-Mashhad al-Husaini, Kairo.

[84] Dikaitkan dengan Khalifah `Ali, 127 folio. Najaf, Iraq

[85] Dikaitkan dengan Khalifah ‘All. Juga di Najaf, Iraq.

[80] Disandarkan pada Husain bin ‘All (w. 50 H.), 41 folio, Mashhad, Iran.

[81] Disandarkan pada Hasan bin ‘All, 124 folio, mashhad, Iran, no. 12.

[86] Dinisbatkan pada Hasan bin ‘All, 124 folio. Najaf, Iraq.

[50] Satu naskah, 332 folio, berkemungkinan besar dari awal paruh pertama abad pertama. Perpustakaan Negara Mesir, Kairo, no. 139 Masahif.

[6] Dikaitkan dengan Khudaij bin Mu’awiyah (w. 63 H.) ditulis tahun 49 H. Amanat Khizana, Topkapi Saray, no. 44. Mempunyai 226 folio.

[8] Sebuah Mushaf bertulisan Kufi ditulis tahun 74 H. Amanat Khizana, Topkapi Saray, no. 2. Mempunyai 406 folio.

[49] Sebuah naskah ditulis oleh al-Hasan al-Basri tahun 77 H. Perpustakaan Negri Mesir, Kairo, no. 50 Masahif.

[13] Sebuah naskah di Museum Sent Islam, Istanbul, no. 358. Menurut Dr. al-Munaggid ia berasal dart akhir abad pertama.

[75] Sebuah naskah dengan 112 folio. Museum Inggris, London.

[51] Sebuah naskah dengan 27 folio. Perpustakaan Negara Mesir, Kairo, no. 247.

[96] Sekitar 5000 folio dari berbagai manuskrip di Bibliotheque Nationale de France, kebanyakan dari abad pertama. Salah satunya, Arabe 328(a), baru-baru ini diterbitkan dalam bentuk edisi faksimile.

Ini bukan daftar lengkap: untuk mendapatkan koleksi pribadi dapat mengakibatkan temperamen yang bukan-bukan bagi pemiliknya, dan kaum Muslimin secara umum tidak dapat memperlakukan hal yang sama seperti yang dialami oleh Lembaga Munster untuk Kajian Teks Perjanjian Baru yang terdapat di Jerman.41 Koleksi yang terdapat pada Tiirk ve Islarn F.serleri Miiresi di Istanbul, yang secara potensi lebih penting dari manuskrip San’a’, masih menunggu kehadiran para ilmuwan yang berdedikasi. Terlepas dari rasa keberatan, daftar di atas menunjukkan banyak Mushaf yang lengkap (dan yang agak lengkap) yang masih bertahan sejak zaman awal Islam, dan satu di antaranya, mungkin terdapat yang lebih tua dari Mushaf `Uthman.

Walaupun tentunya terdapat sebuah khazanah agung yang menyimpan kekayaan ortografi yang rada aneh-aneh, Mushaf-Mushaf yang terdapat di San’a’ tidak menambah sesuatu yang baru atau bukti penting yang telah menunjukkan penyelesaian penulisan Al-Qur’an pada awal beberapa dasawarsa Islam.

7. Kesimpulan

Schacht, Wansbrough, Noldeke, Hirschfeld, Jeffrey, Flugel, Blachere, Guillaume, Mingana, dan Puin bukan satu-satunya dalam rencana busuk yang mereka lakukan; semua Orientalis mesti, walaupun dalam batas-batas tertentu mengalami perbedaan, berlaku curang jika ingin meraih kesuksesan dalam memalsukan AI-Qur’an, baik dengan mengadakan perubahan, sengaja membuat kesalahan terjemahan, pura-pura bego, menggunakan referensi palsu, atau berbagai cara lain. Prof. James Bellamy baru-baru ini menulis beberapa artikel untuk `memperbaiki’ kesalahan penulisan yang terdapat dalam teks,42 dan dalam upaya seperti itu ia bukan satu satunya tokoh; beberapa waktu yang lalu telah menyaksikan meningkatnya paduan suara Orientalis ingin merevisi AlQur’an secara sistematis. Hans Kung, pakar teologi Kristen Katolik yang menurutnya, diskursus Islam telah terbentur jalan buntu, maka pada tahun 1980-an ia mengusulkan agar kaum Muslimin mau mengakui elemen kemanusiaan yang ikut bermain pada Kitab Suci Al-Qur’an .43

Demikian halnya dengan KCnneth (‘rugg, seorang penrunpin gereja Anglican, mondesak kaum Muslimin untuk memikirkan kembali konsep wahyu tradisional Islam, ‘.rnungkin sebagai konsesi bagi kaum Muslimin dalam semangat pluralisme dialog antar kepercayaan saat ini.”44 Dalam tulisannya yang kemudian diberi judul “The Historical Geography of the Qur’an”, ia mengusulkan untuk memusnahkan ayat-ayat Madani (karena penekanan pada aspek hukum dan politik) dan mengambil ayat-ayat Makiah yang umumnya lebih mementingkan iman terhadap keesaan Tuhan, sambil menyatakan secara tidak langsung bahwa Islam politik tidak mempunyai tempat dalam alam demokrasi sekuler dan juga Hukum Romawi. Pemusnahan ini, ia berspekulasi, dapat dipaksakan dengan pengajuan appeal untuk mendapatkan consensus orang-orang berpikiran dangkal tanpa menghiraukan pendapat para ilmuwan Muslim.45

Al-Qur’an menyatakan:

“Dan Kami turunkan kepadamu peringatan [Al-Qur'an], agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.”46

Nabi Muhammad akan selamanya tinggal sebagai satu-satunya manusia yang ditugaskan untuk menerangkan isi Kitab Suci ini; sunnahnya juga merupakan pembimbing praktis dalam melaksanakan Al-Qur’an dan sebagai referensi yang menentukan diterima atau tidaknya satu penafsiran. Dalam upaya memisahkan Al-Qur’an dan Sunnah, lebih-lebih lagi satu bagian AlQur’an (ayat Makiah) dengan yang lain (ayat Madaniah), para Orientalis benarbenar tidak peduli dengan undang-undang yang mengatur seluruh hukum dan ketetapan, dan merintangi orang-orang terpelajar memainkan tulisannya dalam masalah ini serta tidak memberi sesuatu yang berarti bagi masyarakat awam. Teori-teori mereka secara tersirat menyatakan siapa saja boleh menurunkan ketinggian nilai derajat Perintah-Perintah Allah, meskipun diracik dengan hukum negara sekuler, tetap tak akan jadi masalah.

Dengan kerusakan kitab suci, tanpa alasan, mereka jadikan sebagai norma kehidupan, para ilmuwan Barat memaksa ingin mengguyur Al-Qur’an ke dalam lumpur hitam tanpa menyadari bahwa hasrat yang mereka dambakan hendak mendiskreditkan terhadap sesuatu yang pasti dan terpelihara secara sempurna, tidak mungkin dapat terwujud. Dalam hal ini Hartmut Bobzin menulis,

Polemik orang-orang Kristen terhadap AI-Qur’an atau Islam secara keseluruhan lebih diminati oleh orang Eropa `Geistsgeschichte’ daripada untuk kepentingan studi Islam dalam arti yang lebih mendalam. Kebanyakan kajian yang diangkat berulang kali tidak ada kaitannya dengan ajaran Islam yang sesungguhnya.47

Ia menggunakan analogi kelompok Guardi, di abad ke-18 Italia, yang membuat satu seri `lukisan-lukisan Turki’ dengan cara menirukan artis kontemporer dengan gaya yang khas.

Oleh karena itu, `Oriental subjets’ [orang timur] seperti yang dilukiskan oleh Guardi dan kawan-kawan, kebanyakan merupakan contoh khayalan bagaimana semestinya dunia Timur harus dilihat.48

Apa yang jadi keinginan Guaardi tidak jauh beda dengan potret para Orientalis dalam melukiskan Islam; suatu hasrat ingin tahu yang memicu penelitian para Orientalis berseberangan dengan keimanan kaum Muslimin, karena dalam fantasi bagaimana dunia Timur itu “seharusnya dilihat” telah disulap ke dalam dunia politik yang berlainan.

 

 

————————————————

1. A. Robert dan A. Feuillet (cds.), Introduction a la Injil, tome 1 (Introduction Generale, Ancien Testament), Desclce & Cie, 1959, hlm. 111. Terjemahan kasamya, Perjanjian Baru memiliki 200,000 perbedaan, tapi kebanyakan tidak penting (contohnya banyak jenis ejaan). Westcott dan Hort, ketika memberi angka ini, menyatakan bahwa tujuh per delapan teks dapat dipastikan kedudukannya; namun terdapat banyak perbedaan yang cukup penting. Yang menarik adalah angka 200,000 itu dikurangi menjadi 150,000 dalam karya terjemahan berbahasa Inggris di atas [A. Robert dan A. Feuillet, Interpreting the Scripture, diterjemahkan oleh P.W. Skehan dkk., Desclee Company, NY, 1969, hlm. 115] Lihat tulisan ini hlm. 317-323.

2. Menurut Jeffery, “Para ilmuwan Barat tidak sependapat bahwa susunan teks Al-Qur’an yang ada di tangan kita sekarang, sama dengan apa yang terdapat pada zaman Nabi Muhammad r ” [Masahif, Introduction, hlm. 5]. Di sini apa yang dimaksud Jeffery adalah susunan surah dan ayatayatnya.

3. Lihat tulisan ini hlm. 84.

4. Kembali ke hlm. 90-91, hadith Sawwar bin Shabib mengatakan bahwa Zaid membandingkan Mushaf `Uthman dengan naskah Al-Qur’an Nabi sendiri. Kalau itu memang naskah Nabi sendiri yang di simpan dalam penjagaan `A’ishah, maka Zaid telah mendapatkannya dengan status sekunder dalam upaya tersebut.

5. J. Schacht, An Introduction to Islamic Law, Oxford Univ. Press, 1964, Isi Kandungan.
6. J. Wansbrough, Quranic Studies, Isi Kandungan.

7. Lihat R.S. Humpreys, Islamic History: A Framework for Inquiry Revised edition, Princeton Univ. Press, 1991, hlm. 84.

8. Lihat “The Koran”, Encyclopedia Britannica, ed. ke 9, 1891, jld. 16, hlm. 597ff. Dicetak kembali dalam Ibn Warraq (ed.), The Origins of the Koran: Classic Essays on Islam’s Holy Book, Prometheus Books, Amherst, NY, 1998, hlm. 36-63.

9. T. Noldeke, “The Koran”, dalam Ibn Warraq (ed.), The Origins of the Koran, hlm. 43.
10. Qur’an 19:28.

11. Lukas 1: 5. Lihat juga Lukas I : 36.

12. Lihat terjemahan Al-Qur’an oleh Yusuf Ali, komentar mengenai ayat 3: 35 dan 19: 28.

13. A. Mingana, “The Transmission of the Koran”, dalam Ibn Warraq (ed.), The Origins of the Koran, hlm. 112.

14. Qur’an 2: 37.

15. Qur’an 6: 164.
16. Qur’an 112: 1-4.
17. Qur’an 1: l-2

18. Lihat tulisan ini, hlm. 169-172.
19. A. Jeffery, Materials, hlm. 4.

20. Untuk pembahasan yang lebih dalam, lihat `Urwah b. az-Zubair, al-Maghazi, hlm. 106-110, khususnya catatan kaki.

21. Selain ayat-ayat palsu, Blachere (dan yang lain seperti Rodwell dan Richard Bell) mengubah susunan surah dalam terjemahan mereka yang juga berarti menentang kesucian teks Al-Qur’an sekehendaknya oleh para ilmuwan Barat yang seakan-akan mengikuti urutan Mushaf Ibn Mas’ud.

22. Lihat A Guillaume The Life of Muhammad: A Translation of Ibn Ishaq’s Sirat Rasul Allah, cetakan ke 8, Oxford Univ. Press, Karachi, 1987, hlm. 165.

23. Ibn Warraq (ed.), Origins of the Koran, hlm. 410.
24. Cambridge, 1936

25. Cambridge, 1914.

26. Tulisan kedua-duanya (Al-Qur’an dan teks Kristen) saling melengkapi satu sama lain.

Tulisan seperti ini disebut palimpsest.

27. Mingana Smith (ed. ), Leaves from Three Ancient Qurans, plate Quran B.
28. Ibid. hlm. xxxvii.

29. Ibid. hlm. xxxviii.

30. Sebenarnya ada huruf alif kecil di atas huruf khat, tapi sayangnya, komputer ini tidak bisa menuliskannya.

31. Mingana, Leaves from Three Ancient Qurans, hlm. xxxviii. la mengutip kata yang sama untuk ayat 9: 24.

32. Lihat tulisan ini hlm. 145.

33. Mingana, Leaves frorn Three Ancient Qurans, hlm. xxxix.

34. Lihat G.R. Puin, “Observation on Garly Qur’an Manuscripts in San’a’”, dalam S. Wild (ed.), The Qur’an as Text, hlm. 111.

35. Untuk penjelasan yang Iebih terperinci lihat al-Qadi al-Akwa’, “Masjid San’a: Monumen Islam Terkemuka di Yamani’, dalam Masahif San’a’, hlm. 9-24 (Bagian bahasa Arab).

36. Keseluruhan teks telah diterbitkan pada keluaran 24-11-1419 H. Saya telah mengemukakan sebagiannya pada Bab I (Gambar 1.1).

37. Yang menarik adalah adanya sekitar 2327 naskah Sahih al-Bukhari di seluruh dunia, sebagaimana disebutkan dalam katalog al-Fihris as-Shamil li at-Turath al-’Arabi al-Islami al-Makhtut: al- adith an-Nabawi ash-Sharif wa ‘Ulumuhu wa Rijaluhu [AI al-Bait Foundation, 'Amman, 1991, I: 493-565]. Melihat pada bilangan yang banyak itu (walaupun katalog tidak selalu tepat dan lengkap), maka tidak salah untuk memperkirakan bilangan manuskrip Mushaf itu berlipat kali ganda dari bilangan Sahih Bukhari.

38. Bilangan ini agak kccil, dan scbcnarnya ia bisa Icbih dari itu. Kolcksi pada Turk ve Islam Fscrlcri Muzcsi di Istanbul dipcrkirakan mcngandung 210000 folio [F. Deroche, "The Qur'an of Amagur", Manuscripts of the Middle East, Leiden, 1990-91, jid. 5, hlm. 59]. Lantas, “Dengan sekitar 40 ribu Lembar perkamen kuno dan kertas teks Qur’an dari Masjid Besar San’a yang ada di tangan….” [G.R. Puin. "Methods of Research on Qur'anic Manuscripts: A Few Ideas", dalam Masahif San'a', hlm. 9]. Ada juga koleksi bilangan besar selainnya dibelahan dunia yang lain.39. K. ‘Awwad, Aqdam al-Makhtutat al-’Arabiyyah fi Maktabat al-’Alam, hlm. 31-59.
40. Ada beberapa masalah yang perlu dikemukakan mengenai daftar ini:

• Meskipun kebanyakan Mushaf ini dianggap telah ditulis oleh orang ini dan itu, kita tidak dapat memastikan dan menolaknya karena manuskripnya tidak memberikan keterangan mengenai hal itu. Sumber-sumber lain, kebanyakan tanpa nama, yang memberi identitas penulisnya. Oleh karena itu, untuk memperkirakan tanggal, kita mesti melakukan penyelidikan sendiri. Apabila sebuah Mushaf didasarkan kepada ‘Uthman, dll., bisa jadi berarti penyalinnya telah menulis dari sebuah Mushaf yang disebarluaskan oleh ‘Uthman.

• Banyak tulisan-tulisan baru yang kembali ditemukan membantu kita dalam melacak perkembangan sebuah tulisan. Menurut urutan tanggalnya, tulisan yang tampak tidak bagus tidak semestinya Iebih awal dari tulisan yang bagus dan menarik, saya sendiri pernah menemui satu contoh hal itu: satu tulisan yang bentuknya buruk di Istana Baraqa dihadapkan dengan tulisan yang Iebih rapi dan Iebih awal dari kawasan yang sama. [Ibrahim Jum'ah, Dirasat fi Tatawwur al-Kitabah al-Kufiyyah, hlm. 127]. Sebuah Mushaf yang ditulis dengan tulisan yang indah tidak berarti ia dihasilkan belakangan; tapi sayangnya inilah sikap yang diambil oleh al-Munaggid dan yang lainnya, yang menerima begitu saja terhadap teori yang belum diuji.

41. Fungsi utama kantor ini adalah mencatat sctiap manuskrip Perjanjian Baru, baik itu potongan kecil berukuran 20 cm atau di atas Iektionari. Lihat B. Metzger, The Text of the New Testament, hlm. 260-263.42. Lihat “AI-Raqim or al-Ruqud? A Note on Surah 18:9″, JAOS, jld. cxi (1991), hlm. 115-17;

“Fa-Ummuhu Hawiyah: A Note on Surah 101:9″, JAOS, jld. cxii (1992), hlm. 485-87; “Some Proposed Emendations to the Text of the Koran”, JAOS, jld. exiii (1993), hlm. 562-73; dan “More Proposed Emendations to the Text of the Koran”, JAOS, jld. cxvi (1996), hlm. 196-204.

43. Peter Ford, “The Qur’an as Sacred Scripture,” Muslim World, jld. Ixxxiii, no. 2, April 1993, hlm. 156.
44. A. Saccd. “Rethinking ‘Revelation’ as a Precondition for Reinterpreting the Qur’an : A Qur’anic Perspective”, JQS, 1: 93, sambil mengutip K. Cragg, Troubled by Truth, Pentland Press, 1992, hlm. 3.

45. Ibid, l: 81-92.46. AI-Qur’an 16: 44.
47. H. Bobzin, “A Treasury of Heresies”, dalam S. Wild (cd.), The Qur’an as Text, hlm. 174.
48. Ibid., hlm. 174. Tulisan miring adalah tambahan.

The History of The Qur’anic Text
- From Revelation to Compilation -
Sejarah Teks Al-Quran – Dari Wahyu Sampai Kompilasinya -
Prof. Dr. M.M al A’zami

http://www.pakdenono.com

About these ads

About sesungguhnya pacaran dan musik itu haram hukumnya ( www.jauhilahmusik.wordpress.com , www.pacaranituharam.wordpress.com )

pops_intansay@yahoo.co.id
This entry was posted in orientalisme. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s