kumpulan cerita inspirasi – kisah inspirasi

kumpulan cerita inspirasi – kisah inspirasi

Sang Pemberani

Senin, 04/04/2011 14:15 WIB | email | print

Oleh Ali Mustofa

Kala itu masa generasi terbaik, generasi yang mampu memberikan cahaya terang di tengah pekatnya kegelapan. Pengukir sejarah perjuangan gemilang. Gagah dengan kewibawaan Islam dan kokoh karena kekuatan iman.

Pertempuran Uhud, bersinar nama Thalhah Ubaidilah, “si burung elang perang uhud”, itulah julukan yang diberikan oleh Rasulullah SAW kepadanya. Kisah hebat yang tentunya sebagai pelajaran bagi generasi berikutnya.

Diceritakan, ketika tentara Muslim terdesak mundur dan Rasulullah saw dalam bahaya akibat pasukan pemanah tidak disiplin dalam menjaga pos-pos di bukit, pasukan musuh bagai kesetanan merangsek maju untuk mengejar para mujahidin dan Rasulullah saw. Semua musyrikin berusaha mencari Rasulullah. Dengan pedang-pedang mereka yang tajam dan mengkilat, mereka terus mencari, para sahabat dengan sekuat tenaga melindungi.

Mereka pun rela terkena sabetan, tikaman pedang, tusukan tombak dan anak panah. Tetapi para sahabat tetap bertahan melawan kaum musyrikin Quraisy. Hati mereka berucap dengan teguh, “Aku korbankan ayah ibuku untuk engkau, ya Rasulullah!” Pertempuran pun terus berlanjut. Tak terpikir oleh mereka untuk mundur sebagai pengecut. Hanya ada dua pilihan, hidup mulia atau mati sebagai syuhada.

Thalhah adalah salah satunya. Diayunkan pedangnya ke kanan dan ke kiri. Ia melompat lincah ke arah Rasulullah SAW yang tubuhnya berdarah. Dipeluknya Beliau SAW dengan tangan kiri dan dadanya. Sementara pedang yang ada ditangan kanannya ia ayunkan ke arah lawan yang mengelilinginya. Ia tak akan membiarkan senjata-senjata tajam musuh mengenai tubuh kekasihnya, meskipun dengan itu dirinya menjadi menderita.

Alhamdulillah, Rasul SAW pun selamat. Kaum musyrikin pergi meninggalkan medan perang. Mereka mengira sang nabi SAWtelah tewas, padahal tidak, meskipun dalam keadaan luka-luka. Para sahabat menjadi lega, sebelumnya mereka sangat khawatir telah terjadi apa-apa dengan seseorang yang paling dikasihinya itu.

Kemudian Rasul SAW dipapah oleh Thalhah menaiki bukit yang ada di ujung medan pertempuran. Tangan, tubuh dan kakinya diciumi oleh Thalhah, seraya berkata dengan nada lembut, “Aku tebus engkau Ya Rasulullah dengan ayah ibuku.” Nabi SAW tersenyum dan Bersabda: “Keharusan bagi Thalhah adalah memperoleh…”Yang dimaksud Rasulullah SAWadalah memperoleh surga.

Sungguh, peristiwa yang sangat luar biasa, suatu ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq pernah berkata, “Perang Uhud adalah harinya Thalhah. Pada waktu itu akulah orang pertama yang menjumpai Rasulullah. Ketika melihat aku dan Abu Ubaidah, baginda berkata kepada kami: ‘Lihatlah saudaramu ini.’ Pada waktu itu aku melihat tubuh Thalhah terkena lebih dari tujuh puluh tikaman atau panah dan jari tangannya putus.” Subhanallah!

Sebuah pelajaran berharga dari sahabat Thalhah, pahlawan Islam yang gagah berani, rela berkorban apa saja demi Allah dan Rasul-Nya, untuk kemuliaan agamanya. Karena ia tahu, nilai dunia itu tak ada apa-apanya, akhiratlah masa depan yang sesungguhnya. Berbahagialah Thalhah, ia mendapatkan tempat yang mulia disisi-Nya. Semoga kita bisa meneladani sikap sahabat Thalhah.

Saat ini dunia Islam sedang dijajah dan dihinakan, apakah kita hanya diam dan berpangku tangan, ataukah kita mau untuk bangkit berjuang demi kemuliaan Islam.

http://mustofa.web.id/

 

kumpulan cerita inspirasi – kisah inspirasi

About these ads

About sesungguhnya pacaran dan musik itu haram hukumnya ( www.jauhilahmusik.wordpress.com , www.pacaranituharam.wordpress.com )

pops_intansay@yahoo.co.id
This entry was posted in cerita eramuslim.com. Bookmark the permalink.

6 Responses to kumpulan cerita inspirasi – kisah inspirasi

  1. kumpulan cerita inspirasi – kisah sumber inspirasi – cerpen penuh inspirasi
    ==============================

    Pikir-Pikir Singkir
    Senin, 04/04/2011 07:13 WIB | email | print

    Oleh Rifki

    Sinar matahari mulai terasa panas. Panasnya terasa bertambah saya rasakan di tubuh saya ketika memasuki kawasan padat lalu-lintas di Jalan TB Simatupang. Keringat mulai membasahi wajah saya. Untuk menguranginya, saya buka kaca helm saya untuk membiarkan wajah saya disapa angin yang bertiup perlahan. Lumayan.

    Di saat semua kendaraan melaju lambat, saya alihkan pandangan saya ke kiri dan ke kanan. Aneka mobil dan motor dengan aneka merek berjalan searah beriringan. Di antara banyak kendaraan bermotor yang berjalan perlahan tersebut, mata saya menangkap sebuah gerobak berisi sayur-mayur. Ketika gerobak tersebut berjalan tepat di samping kiri, saya bisa melihat isi gerobak yang masih penuh dengan aneka sayur-sayuran. Mulai dari kangkung, bayam, jagung, sampai cabe.

    Melihat gerobak yang masih penuh tersebut sementara waktu sudah mendekati tengah hari, terlintas sebuah pikiran di otak saya. “Si Bapak ini koq tengah hari gini baru keluar bawa sayuran. Apa gak takut kalau gak ada pembeli. Jam segini kan biasanya ibu-ibu sudah masak sayuran yang dibelinya di pagi hari.”

    Sesaat kemudian, pikiran lain muncul, “Buat apa mikirin rezeki si tukang sayur? Emangnya kalau dia rugi kamu ikutan rugi? Rezeki dia sudah ada yang beri. Daripada ngomel-ngomel sendiri lebih baik kirim doa aja, supaya dagangannya laku. Dia senang, kamu pun gak sewot. Mikirin tukang sayur gak bikin jalanan jadi lancar, fokus aja supaya selamat sampai tujuan.”

    Ya, terkadang, baik sengaja atau tidak sengaja, sebuah persoalan masuk ke dalam pikiran dan langsung menjadi beban. Padahal kalau diteliti, persoalan tersebut tidak ada kaitannya sama sekali dengan diri dan aktifitas kita. Persoalan itu ada atau tidak, selesai atau tidak selesai, tidak menambah atau mengurangi nilai kehidupan kita. Bahkan yang ada hanya akan menguras tenaga dan pikiran saja. Bukankah Islam mengajarkan bahwa di antara tanda kebaikan keislaman seseorang adalah ia meinggalkan perkara yang tak berguna baginya?

    Sebuah analogi ada dalam sebuah kisah keluarga tukang kunci. Sang Bapak yang merupakan ahli kunci terkemuka di daerah tempatnya tinggal, ingin menyerahkan usaha yang dia miliki kepada salah satu anaknya. Tetapi dia merasa bingung memilih di antara kedua anaknya, karena Keduanya memiliki kemampuan yang sama bagus. Dalam kebingungan dan kebimbangan tersebut, akhirnya dia memutuskan untuk mengadakan lomba. Siapa pun yang menjadi pemenang di dalam lomba tersebut maka dia lah yang akan menjadi penerus usaha keluarga.

    Pada hari lomba diadakan, Sang Bapak memanggil kedua anaknya dan menyampaikan segala ketentuan lomba.

    “Tujuan kalian berdua adalah membuka kotak yang berisi benda berharga yang ada di dalam kamar masing-masing. Yang menjadi pemenang adalah siapa yang paling cepat membuka kotak tersebut dan kembali ke tempat ini. Mengerti?”

    “Mengerti, Pak!” Jawab keduanya serempak.

    Setelah Sang Bapak memberi aba-aba sebagai tanda dimulainya lomba, maka kedua anak tersebut segera berlari menuju masing-masing kamar dan melakukan apa yang menjadi tujuan lomba. Selama beberapa saat keduanya berusaha membuka kotak di hadapan masing-masing. Sementara Sang Bapak hanya menunggu di luar kamar sambil berharap siapa pun yang menjadi penerus usahanya adalah yang terbaik di antara kedua anaknya.

    Tiba-tiba, Sang Bapak melihat pintu kamar anak bungsunya terbuka disusul dengan keluarnya sang anak yang kemudian berlari ke hadapannya. Beberapa saat kemudian, giliran pintu kamar anak sulungnya. Keluar dari kamar, anak sulungnya juga berlari-lari menuju tempat semula di hadapan sang Bapak.

    “Sesuai dengan ketentuan lomba di awal tadi, pemenangnya adalah siapa yang paling cepat membuka peti di dalam kamar dan kembali ke tempat ini. Dengan ini saya menyatakan bahwa pemenang di antara kalian berdua adalah kamu, Amir. Kaulah yang berhak meneruskan usaha keluarga ini. Sedangkan kamu, Amar, bantulah adikmu dalam mengembangkan usaha keluarga ini,” pesan sang Bapak.

    “Tapi aku punya satu pertanyaan kepadamu, Amar. Aku tahu, kemampuanmu tidak berbeda dengan adikmu. Aku yakin kamu bisa membuka peti di dalam kamarmu secepat yang adikmu lakukan. Tetapi kenapa kamu keluar kamar lebih lambat dari adikmu? Apakah kamu mengalami kesulitan membuka peti itu?”

    Mendengar pertanyaan itu, Amar menjawab, “Sebenarnya aku telah berhasil membuka dengan cepat. Tetapi aku tidak langsung keluar kamar. Aku penasaran dengan benda yang ada di dalam peti tersebut, maka aku pun membuka peti dan melihat isinya. Padahal perbuatan tersebut tidak ada dalam ketentuan lomba dan akibatnya aku kalah dalam lomba ini.”

    Wallahu a’lam.

    http://jampang.multiply.com

    ==============================
    kumpulan cerita inspirasi – kisah sumber inspirasi – cerpen penuh inspirasi

  2. kumpulan cerita inspirasi – kisah sumber inspirasi – cerpen penuh inspirasi
    ==============================

    Apa Hanya Guru?
    Minggu, 03/04/2011 13:54 WIB | email | print

    Oleh Mamah Hikmatussa’adah

    “Mba, saya inginnya calon istri saya nanti adalah seorang wanita yang berprofesi sebagai guru.” Jelas sahabatku via telepon pagi itu.

    “Kenapa begitu?” saya balik bertanya.

    “Karena pekerjaan guru sangat mulia, dan seorang guru itu harus sabar, memiliki sifat keibuan, penyayang dan itu penting untuk mendidik calon anak-anak saya kelak.” Jawabnya cepat.

    Saya pun tersenyum. “Amin. Semoga Allah mengabulkan keinginanmu.” Timpal saya.

    Tergelitik hati saya saat mendengar keinginan sahabat saya. Dia sudah saya anggap seperti adik saya sendiri, meskipun baru kenal dalam hitungan bulan, tapi saya dan dia memiliki hampir banyak kesamaan. Akhirnya, dia pun tak segan bercerita pada saya. Saya pun demikian. Akan sangat terbuka untuk mendengar ceritanya.

    Kali ini, lagi-lagi masalah tentang pernikahan. Tak bosan telinga ini mendengar cerita tentang mereka yang semangat ingin mengikuti sunnah Rasul-Nya. Termasuk sahabat saya itu. Diskusi kami disela-sela pekerjaan kami adalah tentang hal yang satu ini.

    Ya, tentang menikah. Seperti pasar yang selalu ramai, tak pernah sepi pengunjung, maka topik ini pun selalu hangat untuk dibicarakan orang. Tak terkecuali para sahabat-sahabat saya. Mereka yang masih sendiri pasti bersemangat untuk membicarakan tentang kriteria dan impian mereka masing-masing di masa depan bersama orang yang kelak mendampingi.Tak ada yang salah memang. Impian itu doa, menurut saya.

    Kini yang hadir dalam benak saya adalah, apa hanya seorang guru yang memiliki kesabaran? Apa hanya guru yang memiliki sifat kewanitaan dan keibuan lebih banyak? Saya pun mencoba berpikir bijak. Mungkin benar adanya, jika seorang guru harus bahkan wajib memiliki sifat penyabar untuk menghadapi setiap karakter muridnya yang bukan anak kandungnya sendiri. Benar juga jika guru adalah pekerjaan yang mulia. Tak salah juga jika seseorang yang profesinya menjadi guru harus lemah lembut dalam bertutur kata, baik akhlaknya, penyayang, adil, dan sebagainya. Dan itu semua tergolong dalam sifat keibuan.

    Lalu pertanyaan saya berikutnya adalah, jika kita lihat sosok ibu kita di masa lalu, berpuluh-puluh tahun silam, apakah ibu kita berprofesi sebagai seorang guru? Mungkin jawabannya bisa ya atau tidak. Lalu darimana sifat keibuan, penyabar, dan penyayang yang dimiliki oleh ibu kita, sehingga kita bisa berdiri seperti ini? Dan sifat itulah yang selalu kita rindukan dari sosok ibu kita. Padahal mungkin, ibu kita dulunya bukan seorang guru. Tapi ibu kita berhasil meraih itu semua sebagai bekal mendidik kita hingga seperti ini.

    Subhanallah! Saya tidak menyalahkan siapa pun yang berazam ingin memiliki pendamping hidup dengan profesi seorang guru. Tapi hendaknya menanamkan keyakinan, bahwa seorang wanita, sudah pasti akan mewarisi sifat Alloh yang Maha Rahman dan Rahiim, serta Maha Penyabar melebihi kaum adam. Tak perlu diragukan lagi. Apa pun profesi atau pekerjaannya, yakin sajalah pada Alloh, jika suatu hari menikah dengan wanita yang baik agamanya, maka Alloh titipkan sifatNya pada wanita itu.

    Hari esok adalah hal yang ghoib bagi kita. Perbaikilah kualitas diri kita di hadapanNya. Sehingga kelak saat waktu tepat itu tiba, Alloh pun akan menitipkan seorang istri yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan kita.

    Wallohu’alam bis showab.

    (hikmah_radar@yahoo.com)

    ==============================
    kumpulan cerita inspirasi – kisah sumber inspirasi – cerpen penuh inspirasi

  3. kumpulan cerita inspirasi – kisah sumber inspirasi – cerpen penuh inspirasi
    ==============================

    Bahagiakah?
    Minggu, 03/04/2011 07:19 WIB | email | print

    Oleh Dinar Zul Akbar

    Ada yang bilang kebahagiaan itu dari berasal dari hati. Ada juga yang berpendapat bahwa bahagia itu dapat dibeli. Atau bahkan ada juga yang bilang bahwa bahagia itu hanya untuk dirasakan bukan untuk dikonsep. Ah makin bingung saja saya mengenai BAHAGIA itu.

    Apakah bahagia itu? Apakah di saat kita bergelimangan harta sedangkan orang lain kesusahan? Apakah di saat kita sehat sedangkan yang lain sakit tak berkesudahan?Apakah di saat kita berhasil sementara orang lain berkesulitan?

    Beberapa waktu lalu ada salah seorang saudara saya, yang menyatakan bahwa ia bahagia ketika berhasil lulus SNMPTN dan masuk keperguruan tinggi yang ia cita-citakan. Dalam hati saya berpikir, apakah ini kebahagiaan itu? Ketika kita lulus ujian, seperti halnya kita SD ikut General Test kemudian masuk SMP pilihan kita. Kemudian SMP hingga SMA, dan sampai ke jenjang perguruan tinggi. Atau mungkin lulus ketika test mencari pekerjaan nanti. Lantas bagaimana dengan proses setelah test itu kita lewati?

    Apakah kita selalu bahagia ketika kita berada di jenjang SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi, hingga dunia kerja nanti? Akan tetapi sepertinya kenyataan tidak menunjukkan seperti itu.

    Sekali lagi, apakah ini bahagia itu? Kebahagiaan yang sesaat (atau mungkin sesat kali ya) temporer, seperti halnya kita minum dan makan, ketika kita haus dan lapar lalu berulang dan terus berulang lagi.

    Ada sebuah istilah di dalam dunia perfilman yaitu Happy Ending (Akhir Yang Bahagia). Tetapi sekali lagi, entah mengapa saya sedikit tergelitik mendengar istilah tersebut. Apakah bahagia itu selalu datangnya di saat-saat terakhir? Dalam hati apakah bahagia itu seperti pahlawan-pahlawan di dalam film Action Heroes? Yang mereka selalu datang terlambat! Kalau seperti itu, bisa jadi kita bahagia nanti pada saat kita sudah menjadi kakek atau nenek (Kalau umur kita panjang tentunya). Lantas bagaimana kita menikmati kebahagiaan itu. Kalau ternyata umur kita tinggal sedikit lagi untuk menikmati hal tersebut.

    Ada juga istilah senang. Entah apakah sama antara senang dan bahagia itu? Kalau kita perhatikan ucapan dalam sebuah pesta pernikahan. Hampir rata-rata tertulis dikartu ucapan tersebut adalah sebuah kalimat SELAMAT BERBAHAGIA. Coba kita ganti dengan istilah senang, menjadi SELAMAT BERSENANG-SENANG. Mungkin anda akan tertawa sedikit atau minimal tersenyum manis membaca ucapan tersebut. Walaupun tidak ada yang salah dengan ucapan tersebut. Karena memang sepasang pengantin tersebut mereka akan “Bersenang-senang”.

    Seketika saya ingat sebuah ucapan dari seorang filsuf atau sufi Imam Al Ghazali, mengenai kebahagiaan. Beliau mengatakan bahwa Bahagia itu ketika kita sudah ditingkat Ma’rifatullah (Mengenal Allah). Seperti halnya perasaan seorang rakyat kecil yang berkenalan dengan pejabat kelurahan, maka ia akan bertambah rasa bahagianya ketika ia berkenalan dengan camat, walikota, gubernur, bahkan presiden atau jabatan-jabatan yang dianggap tinggi. Maka bagaimana tidak bahagianya kita jika kita sudah dapat mengenal Raja dari Segala Raja di dunia ini yakni Allah SWT.

    Ketika kita telah melewati tahap Syariah, Thoriqoh, dan Haqiqoh hingga Ma’rifah. Maka kita akan menerima segala sesuatu yang telah diberikan oleh Allah SWT dengan lapang dada. Karena memang hidup ini permasalahan (penuh ujian) yang tidak akan pernah berhenti. Dalam melaksanakan konsep bahagia ini, memang agak sulit untuk direalisasikan. Karena memang PERJUANGAN (dalam mencapai kebahagiaan) adalah PELAKSANAAN KATA-KATA (WS Rendra).

    Walau ditimpa berbagai macam parahnya ujian kehidupan ini. Jikalau kita mengenal Allah maka kita akan merasa bahwa kita akan mendapati kebahagiaan itu. Karena kita qonaah (baca: menerima) terhadap segala iradah Allah SWT. Seperti halnya banyak kita jumpai orang yang miskin secara ekonomi di pelosok-pelosok desa akan tetapi hidup mereka bahagia, karena mereka memang menerima dan tidak mengeluh dengan keadaan mereka. Berbeda dengan manusia-manusia rakus yang bergelimangan harta karna menipu rakyat, yang bisa membeli segala sesuatu dengan uangnya, hidup mereka pun tidak-lah se-bahagia yang orang lain bayangkan.

    Inilah ciri unik dari orang-orang beriman apabila ia ditimpa ujian maka ia bersabar, dan apabila diberi nikmat maka ia akan bersyukur. Dan inilah juga yang merupakan ciri utama dari orang-orang yang telah mengenal Allah SWT dalam hidupnya.

    Sungguh di dalam hati saya pun, berat rasanya mencapai kebahagiaan itu. Mungkin sedikit tulisan ini agar dapat bermanfaat dan memacu saya untuk dapat meraih rasa bahagia tersebut. Maka sekarang mungkin saya akan sedikit mencoba bertanya kepada anda sekalian. APAKAH ANDA BAHAGIA?

    ==============================
    kumpulan cerita inspirasi – kisah sumber inspirasi – cerpen penuh inspirasi

  4. kumpulan cerita inspirasi – kisah sumber inspirasi – cerpen penuh inspirasi
    ==============================

    Ketika Rasa Malas Menyerang Diri
    Sabtu, 02/04/2011 15:07 WIB | email | print

    Oleh Syaripudin Zuhri

    Terkadang si Amat, sebut saja begitu namanya, mau mengerjakan apa saja malasnya bukan main, mau olah raga malas, takut keringatan nanti bau! Mau kemping malas, nanti kesasar di jalan. Mau belajar kursus apa gitu, juga malas. Habis waktunya malam sih, sudah lelah duluan habis kerja seharian. Mau ngaji juga malas, baru berapa ayat sudah jatuh terlelap di bangku! Mau nulis di Internet, sekedar berbagi kepada kawan-kawan di dunia maya, juga malas! “Ngapain nulis, di blog sudah banyak yang nulis, bahkan semua yang ngeblog, biasanya yang nulis, lalu siapa yang baca?” Begitu pikir si Amat, jadi dianya tambah malas nulis.

    Begitu juga dengan si Amit (nama rekaan) mahasiswa yang lagi malas-malasnya, padahala baru saja tingkat pertama, eh penyakit malasnya kambuh! Penyakit malas sejak SMA dulu, maunya hura-hura terus! Mau kerja apa saja malas, apa lagi belajar atau membaca buku, susahnya minta ampun! Si Amat baru giat bila buka komputer… Untuk main game! Coba waktu itu di SMA, ketika menjelang ujian SMA, yang dibaca di Internet bukan materi yang berhubungan dengan pelajaran, yang dibaca email dan chatingan dengan teman-temannya di dunia maya.

    Nah penyakit itu masih dibawa sampai dia kuliah, padahal kuliah itu bukan lagi seperti anak-anak ketika di SMP atau di SMA yang masih “disuapin” terus oleh gurunya, mahasiswa itu harus mandiri dan belajar sendiri mencari materi-materi yang berhubungan dengan mata kuliah yang sedang diambilnya, bukan malahan main game atau bersantai-santai dan baru belajar ketika masuk semesteran, maka lahirlah apa yang disebut SKS (Sistem Kebut Semalam!) Kalau begitu caranya, ya apa bedanya ketika si Amit di SMA dulu, tak ada perubahan! Si Amit tetap malas-malasan belajarnya, malas-malasan kuliahnya.

    Lain lagi dengan X, kita sebut saja begitu, Mahasiswi tingkat dua pada sebuah fakultas yang beken di Ibu Kota, juga punya penyakit yang sama, seprti si Amat dan si Amit, penyakit malas. Iya malas ngapain-nggapain, Dewi malas baca dikatat, malas ke perpustakaan, malas kuliah, sebal ngeliatin dosennya yang itu-itu juga, malas membantu orang tua, apa lagi membantu ibu di rumah memasak, ”wah mau muntah mencium bumbu-bumbunya,” katanya bersemangat. Diskusi dengan teman-teman di kampus, dia juga tak mau, “malas” katanya!

    Dan mungkin banyak sekali orang yang dihinggapi rasa malas tersebut, kebanyakan manusia memang inginnya, ya berleha-leha, ingin santai, ingin rileks dan inginya “tidur-tiduran” saja atau ingin duduk di kursi malas, sambil minum kopi tubruk membaca koran di beranda rumah.

    Wah pokonya yang enek-enak saja, sementara hidup itu tidak seenak yang dibayangkan. Banyak sekali masalah yang timbul dalam hidup dan kehidupan ini yang mesti diselesaikan. Dan itu bukan hanya menimpa atau mengena orang-orang yang memang berkerja sebagai pimpinan, baik pimpinan tingkat paling rendah di pemerintahan, seperti kepala Desa atau Lurah samapai ke tingkat paling tinggi di pemerintahan yaitu seorang Presiden!

    Dan persolan juga buka hanya menimpa orang-orang miskin yang untuk mencari ”sesuap dua suap nasi”-saja susahnya bukan main. Begitu juga orang-orang yang sedang mencari pekerjaan alias pengangguran, sudah mencoba mencari ke sana ke mari, ngelamar kerjaan ke berbagai perusahaan, mengirim lamaran pekerjaan ke berbagai perusahaan, bukan hanya satu-dua lamaran pekerjaan, bukan hanya sepuluh dua-puluh lamaran pekerjaan, tapi ratusan bahakan mungkin ribuan lembar surat lamaran pekerjaan yang sudah dikirimkan, satupun tak ada jawaban! Jika adapun, hanya pemberitahuan “MAAF, TAK ADA LOWONGAN PEKERJAAN”

    Iya, mencari pekerjaan bagitu sulitnya di tengah-tengah krisis ekonomi yang berkepanjangan sekarang ini. Dan seandainyapun diterima pekerjaan, itu hanya menjadi pegawai kontrakan yang hanya enam bulan saja, itupun masih harus “memberi sesuatu” pada pihak ketiga sebagai perantara, sebuah yayasan yang menjadi perantara pekerja dengan perusahaan!

    Aneh, ngelamar pekerjaanpun harus pakai perantara, padahal pihak pencari kerja bisa datang sendiri ke perusahaan yang dituju, namun entah peraturan dari mana, sekarang ini sebuah perusahaan baru mau menerima pekerja via sebuah yayasan, ada apa ini?

    Sesuatu yang semula mudah, sekarang ditambah lagi dengan jalur birokrasi melalui sebuah yayasan penyalur tenaga kerja! Sehingga sang pencari kerjapun akhirnya dibuat malas dengan sistem yang ada! Ya pengangguran menjadi tambah banyak dengan sistem sekarang ini dan pekerjapun seperti sapi perah yang tak punya hak bersuara!

    Mereka hanya bekerja, bekerja dan bekerja, padahal nasib mereka seperti berada di ujung tanduk, karena kapanpun sang majikan, dalam hal ini penguasa, dapat memecatnya, sang pekerja hanya bisa gigit jari, tak bisa menuntut ke mana-mana. Dan kalaupun dituntut sang majikannya, bisa menjadi pihak pengusaha yang akan menang di ”meja hijau”.

    Bagitu juga yang sudah bekerja dan banyak orang yang sudah bekerja menjadi tambah malas, padahal sebelum bekerja atau ketika sedang mencari pekerjaan begitu bersemangat dan mengapa setelah bekerja, apa lagi setelah bekerja di tempat yang sama dalam hitungan tahunan, penyakit malas menjadi bertambah-tambah, makanya adalah istilah ”monday syndrome” Situasi yang membuat malas, ketemu hari Senin, karena Senin adalah hari pertama bekerja atau hari pertama kuliah atau sekolah.

    Lalu bagaimana mengatasinya? Bagaimana mencari solusi dari penyakit malas tersebut? Saya kemukan cara-cara berikut ini, semoga bermanfaat:

    1. Allahumma Paksain.

    Ini terdengar seperti main-main, lucu! Kok berdoa seperti? Ya Allah … paksakan! Ya itulah doa yang tak ada dalam Al-Qur’an atau hadist, tapi bisa mujarab! Kok bisa? Mari kita coba, ketika anda bangun tidur, apa lagi lagi dingin-dinginnya musim dingin di Rusia, wah bisa-bisa alasan untuk tidak sholat subuh bertambah-tambah. Dalam selimut tebal dan dengan penghangat ruangan, karena di luar suhu mencapai minus 25⁰ C!

    Bisa anda bayangkan betapa mengigilnya bila di luar dan di dalam kamar selimut tebal menghangatkan badan, adzan subuh tak terdengar, memang tak ada adzan jauh dari Masjid, maka bertambah alasan untuk tidak bangun sholat subuh!

    Lalu bagaimana caranya? Ya itu tadi, “Allahumma paksain!” Singkirkan selimut, jika perlu lompat dari tempat tidur, bangun! Paksakan untuk bangun dan minta pertolongan pada Allah agar dibangunkan!

    Mengapa untuk sholat subuh bangun saja susah? Karena sholat subuh disaksikan malaikat dan ada pengiring sholat subuh, yaitu sholat fajar dua rokaat, atau sholat qobliyah subuh, sholat yang satu ini tak pernah ditinggalkan Rosulullah SAW, karena menurut beliau ganjarannya melebihi luasnya langit dan bumi, karena sangat besarnya pahala yang diberikan, maka tantangnyapun berat! Yaitu tadi, susah sekali bangunnya, perlu pemaksaan diri untuk bangun!

    2. Bersyukur Banyak Pekerjaan

    “Apa-apain sih, banyak pekerjaan kok di suruh bersyukur?” Mungkin ada yang berpendapat itu. “Orang sudah lelah dengan berbagai macam pekerjaan, eh malah di suruh bersyukur, ada-ada saja!” Mungkin ada juga yang komentar demikian.

    “Malas ah… orang lagi pusing mikirin banyak kerjaan, eh pakai disuruh bersyukur lagi, macem-macem saja!” Mungkin B protes begitu.

    “Au ah. Capek-capek nih kerjaan numpuk!” si C ngamuk-ngamuk, karena di mejanya kerjaan bertumpuk-tumpuk!

    “Sana nyingkir jauhan, gue lagi sibuk nih, pekerjaan gue banyak banget!” Kata si D ketika temanya mendekati mau diajak jalan-jalan.

    Wah pakoknya anda bisa menemukan kalimat itu sebanyak-banyaknya, baik yang bekerja di kantor-kantor pemerintah, BUMN atau BUMS, juga yang bekerja di sektor-sektor lainnya. Banyak sekali yang mungkin saja putus asa karena diserbu oleh pekerjaan yang sedemikian banyaknya. Lalu bagaimana menghadapinya, solusinya? Ya bersyukur!

    Kenapa haru bersyukur dengan pekerjaan yang banyak atau bertumpuk-tumpuk? Alasanya:

    1. Alhamdulillah, anda masih punya kerjaan, coba lihat di luar sana, berapa banyak orang yang menganggur, bukan ribuan orang tapi jutaan orang menganggur di Indonesia! Bayangkan… betapa banyak orang yang menganggur dan anda sekarang sedang bekerja, apa bukan kebahagiaan namanya? Apa bukan nikmat Allah namanya? Maka syukurilah ketika anda banyak pekerjaan.
    2. Alhamdulillah, dengan banyak pekerjaan pahala anda akan semakin bertambah, karena pekerjaan adalah ibadah. Apa lagi kalau yang bekerja adalah bapak-bapak. Sebagai kepala keluarga seorang bapak adalah wajib mencari nafkah untuk anak istrinya, seorang bapak wajib bekerja untuk keluarganya. Bukankah pengertian hukum wajib adalah fikih berarti sesuatu yang apabila dikerjakan mendapat pahala dan kalau ditinggalkan malah berdosa! Jadi otomatis bila anda bekerja, apa lagi pekerjaannya banyak ya pahalanya juga bertumpuk-tumpuk!
    3. Alhamdulillah, anda berkerja, karena bekerja juga adalah ibadah, bekerja adalah rasa syukur yang nampak dalam kehidupan sehari-hari. Allah SWT dan para malaikatnya menjadi saksi ketika anda bekerja karena Allah, lillahi ta’ala! Bekerja adalah ibadah, dengan motovasi tersebut semoga anda semakin giat bekerja!

    3. Bahagialah!

    Apapun yang anda kerjakan bahagialah, syukurilah. Karena dengan bekerja selain mendapat hasil berupa uang, kerjaan juga menghasil sesuatu di luar materi! Orang yang mempunyai pekerjaan akan bahagia, dia sudah bisa mengaktualisasikan dirinya dihadapan manusia lain. Orang bekerja akan bahagia, energi, akal, pikiran, perasaannya ikut bersatu padu membentuk sebuah keharmonisan karya Illahi yang ada pada dirinya.

    Orang yang berkerja yakin akan kebahagiaan hidup yang telah dijanjikan olehNya, apa lagi bekerja pada tempat yang halal. Coba anda bayangkan selain anda mendapat materi, anda juga mendapat kebahagiaan dan mendapat pahala dariNya? Coba apa yang kurang?

    Nah berhentilah mengeluh banyak pekerjaan, berhentilah mengeluh mendapat pekerjaan yang menumpuk, berhentilah mengeluh “disuguhi” atasan pekerjaan semeja! Sambutlah dengan senyuman, katakanlah “Alhamdulillah rezeki datang lagi!” Sambutlah dengan kebahagiaan, katakanlah ”Alhamdulillah pahala datang lagi!” Ayo senyum… tuh lihat pekerjaan datang lagi, Alhamdulillah!

    ==============================
    kumpulan cerita inspirasi – kisah sumber inspirasi – cerpen penuh inspirasi

  5. kumpulan cerita inspirasi – kisah sumber inspirasi – cerpen penuh inspirasi
    ==============================

    Manusia dan Akal
    Sabtu, 02/04/2011 07:03 WIB | email | print

    Oleh Silvani

    Manusia adalah makhluk Allah yang mulia. Allah memuliakan manusia dengan memberinya akal. Dengan akal manusia diangkat menjadi khalifah Allah di muka bumi. Dengan akal kita berpikir, memahami, dan mengambil pelajaran. Betapa banyak ayat tentang akal dalam al-Qur’an. “…Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada orang-orang berpikir.” (QS. Yunus [10] : 24). “….Maka apakah mereka tidak memikirkan?” (QS. Yasiin [36] : 68)

    Namun sungguh sangat aneh, yang terjadi sekarang adalah setelah manusia menggunakan akalnya, dengan congkaknya manusia berkesimpulan bahwa Al-Qur’an tidak tepat!

    Akal adalah ciptaan Allah, dan Al-Qur’an adalah wahyu Allah, tidak mungkin tak ada kesesuaian antara akal dan wahyu Allah. Logiskah kesimpulan manusia?

    Ada seorang muslimah yang makan daging babi dan minum minuman keras. Ketika saya bertanya padanya mengapa dia melanggar larangan Allah yang jelas telah mengharamkan babi dan minuman keras, apa jawaban muslimah tersebut? Dia katakan bahwa larangan Allah memakan babi tidak masuk akal!

    Pernah pula dalam suatu majelis ta’lim, seorang peserta menyatakan bahwa manusia harus bersikap kritis terhadap Al-Quran, karena Al-Quran sifatnya kontekstual, hanya sesuai dengan zamannya. Dan perbedaan yang sekarang terjadi di dunia adalah bukan suatu yang sesat, melainkan rahmat dari Allah. Astaghfirullah…

    Betapa sering kita mendengar ucapan “Ayat ini tidak cocok lagi untuk zaman sekarang!”, “Hukum Islam ini tidak adil untuk wanita!”, atau ucapan “Ayat ini hanya diperuntukkan untuk masyrakat Arab, hanya cocok untuk budaya Arab saja!”

    Sungguh aneh. Akal, perangkat penting yang diciptakan Allah untuk manusia hanya dipergunakan manusia untuk mengingkari ayat-ayat Allah, membuat manusia jauh dari Allah, membuat manusia berpaling dari Allah!

    Bagaimana mungkin, kita mau Islam tapi kita mengingkari ayat Allah. Kita mau Islam, tapi kita tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar. “Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar.” (QS. al-Haaqqah [69] : 30-33)

    Dr. M. Ratib al-Nabulsi dalam bukunya memberikan perumpamaan sebagai berikut: Apabila kita membeli perangkat elektronik yang sangat canggih, mahal, dan memiliki fungsi yang besar, maka kita akan melihatnya dengan sangt antusias, dan sangat antusias pula membaca buku manual yang diterbitkan oleh pihak produsen. Kita sangat serius membacanya, menerjemahkannya, memahaminya dan mempraktekkan petunjuk-petunjuknya dengan sangat detail. Dengan sangat hati-hati kita menjaga alat elektronik yang canggih tersebut.

    Demikian pula manusia. Manusia adalah perangkat tercanggih di seluruh alam semesta. Di dalam sel-sel, struktur tubuh, organ tubuh manusia terdapat kerumitan dan kecanggihan yang luar biasa. Di dalam manusia terdapat jiwa dengan berbagai insting dan dan perasaanyang teramat rumit. Ilmuwan paling jenius sekalipun tidak akan mampu memahami cara kerja tubuh dan jiwa manusia yang sangat rumit dan canggih ini.

    Dan sekarang, manusia, membutuhkan buku manual dari Pencipta-Nya! Buku manual sebagai pegangan hidupnya, dan buku manual itu adalah Al-Qur’an! Al-Qur’an diturunkan Allah untuk kemaslahatan manusia, ciptaan-Nya!

    Al-Qur’an adalah kebenaran mutlak, ia datang dari Allah yang Maha Sempurna. Hasil berpikir akal yang bertentangan dengan Al-Qur’an jelas salah. Allah SWT berfirman “Yang tidak datang kepadanya (Al-Qur’an) kebatilan baik dari depan maupun belakangnya, yang diturunkan dari Rabb yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” (QS. Fushshilat [41] : 42)

    Manusia adalah hamba Allah. Tugas seorang hamba adalah menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segalalarangan-Nya. Allah menegaskan dalam firman-Nya, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. az-Zariyaat [51] : 56)

    Tapi sekarang manusia bersikap seakan manusia bukan hamba Allah. Ketika Allah memerintahkan dan melarang suatu hal, manusia berpaling dan ingkar, padahal sejatinya perintah dan larangan Allah adalah untuk kebaikan manusia.

    Tidak cukupkah bagi kita ketika Allah berfirman kuperintahkan hal ini kepadamu, lantas kita segera menaati-Nya? Tanpa perlu lagi kita bertanya Mengapa? Apa alasannya? Apa relevansinya?

    Saudaraku, gunakan akal kita untuk mengenal-Nya, untuk merenungi hasil ciptaaan-Nya. Gunakan akal kita untuk bersungguh-sungguh mendekat kepada-Nya, hingga iman kita kepada Allah semakin bertambah. Gunakan Al-Qur’an untuk memvonis akal, bukan sebaliknya.

    Wallahu a’lam bishshawaab.

    Daftar Pustaka

    * Al-Qur’an Al Karim
    * Al-Nabulsi, M. Ratib. Muqawwi maa tu taklif. Diterjemahkan oleh: Mohammad Muhtadi dengan judul: 7 Pilar Kehidupan. Jakarta: Gema Insani.2010.

    ==============================
    kumpulan cerita inspirasi – kisah sumber inspirasi – cerpen penuh inspirasi

  6. kumpulan cerita inspirasi – kisah sumber inspirasi – cerpen penuh inspirasi
    ==============================

    Children Trafficking: “In Yogya? I don’t Believe It”
    Jumat, 01/04/2011 06:39 WIB | email | print

    Oleh Syaifoel Hardy

    Saya selalu jalan jalan kaki sewaktu sekolah di SMP dulu. Kadang-kadang naik truck nya pegawai Rumah Sakit, yang antar jemput karyawan. Tidak kurang dari tiga kilometer jaraknya.

    Pada kilometer pertama setelah keluar dari desa, kami memasuki pertigaan, jalan raya besar. Begitu masuk jalan raya utama ini, di seberang jalan, biasanya selalu terlihat beberapa orang perempuan yang dandanannya seronok.

    Pemandangan itu kami temui nyaris setiap hari. Baik pagi saat berangkat sekolah, atau siang, kala pulang. Begitu bertahun-tahun.

    Setelah beberapa saat saya baru tahu, bahwa perempuan-perempuan yang sering berlalu-lalang dan berdandan ‘norak’ tersebut ternyata wanita tuna susila (WTS), singkatannya begitu.

    Entah apa yang melatar-belakanginya, istilah itu kemudian ‘diperhalus’ lagi. Yang saya tahu, kini disebut sebagai PSK (Pekerja Seks Komersial).

    Orang kita memang senang sekali utek-utek singkatan. Sampai-sampai tamu saya orang Amerika Serikat waktu berkunjung ke Indonesia bilang: “Indonesians love abbreviations,…. huh?” ya! Orang kita apa yang nggak disingkat? Lebih halus lagi, diambil jalan pintas atau tidak mau repot!

    Alhamdulillah, tempat pemukiman WTS tersebut pada akhirnya ditutup. Saya tidak tahu hari dan tanggal pastinya. Yang penting, waktu itu kami penduduk, penghuni di sekitarnya merasa lega. Kendaraan-kendaraan yang semula ramai di daerah tersebut, jadi sepi. Orang tidak lagi lalu-lalang.

    Bukan hanya pemandangan seperti ini saja yang kemudian hilang. Para WTS yang suka mandi di sungai yang terletak persis di jalan raya, di depan pemukiman tersebut juga habis.

    Lantaran mereka yang mandi di sungai tersebut, sementara kami, tetangga desa, yang terletak di ‘bawah’, sempat khawatir. Tidak terkecuali saya. Jangan-jangan kami bisa ketularan penyakit menular para perempuan ‘nakal’ ini.

    Sesudah kompleks tersebut ditutup, kegembiraan kami nyatanya tidak berlangsung lama. Karena Pemerintah Daerah kami lebih ‘cerdas’. Tutup lokasi yang kecil…buka yang lebih besar….biar.

    Mungkin, supaya terkesan lebih professional barangkali. Berjarak sekitar 20 km dari tempat tinggal kami, berdiri lokasi PSK baru. Lebih luas, lebih besar dan lebih banyak daya tampungnya. Astaghfirullah hal adzim…!!!

    Membaca artikel berjudul ‘Changing Attitudes Key to Ending Child Sex Trade’ (Johanna Son, 1995) boleh dibilang sudah ketinggalan jaman. Karena tulisan itu dibuat lebih dari lima belas tahun silam.

    Dari kaca mata riset, ok lah. Memang sudah kedalu warsa. Namun dari sudut pandang history, bagi saya ada kaitan. Kalau waktu itu jumlah perdagangan anak mencapai angka satu juta. Kira-kira berapa jumlahnya saat ini?

    Saya yakin, mereka yang turut aktif pendirian kompleks maksiat seperti di atas pasti tahu statistik nya.

    Jika pada saat itu, negara-negara yang disebut oleh Son hanya sepuluh negara, di mana Indonesia tidak disebut. Hari ini, bulu kuduk saya merinding.

    Karena, bukan hanya hanya tertulis di atas kertas yang namanya protitusi anak-anak di Bumi Pertiwi ini.

    Di Yogya pun, teman saya menemui dengan mata kepala sendiri. Dan itu terang-terangan. Lebih buruk lagi, menimpa pada usia anak-anak!

    Inilah yang saya kutip dari catatannya di Facebook (FB): “Tadi sempat makan siang bareng suami & si sulung di salah satu rumah makan dekat perempatan Rejowinangun. Abis makan rasanya lemess….di depanku dg jelas aku menyaksikan traksaksi prostitusi anak di bawah umur (anak perempuan manis seusia sulungku, berpakaian kaos ketat celana pendek sekali, ditemani wanita muda berhadapan dengan 2 lelaki dewasa). Masya Allah ….ampuni hamba yg tak kuasa berbuat apa2 ketika itu…”

    Ya Allah….

    Apa benar, lantaran himpitan ekonomi yang penat ini, hingga menjerumuskan orang-orang kita pada bisnis yang sangat merusak tatanan moral dan sosial ini? Apakah sudah tidak ada lagi jalan ke luar untuk mencari nafkah, hingga orang-orang dewasa, kita, sudah tidak lagi peduli dengan tatan atau nilai-nilai agama dan sosial? Sehingga, kalau dulu, barangkali harus sembunyi-sembunyi, kini, orang melakukannya secara terang-terangan? Sampai kapan ya Allah?

    Guna menanggulangi ‘bencana’ di atas, memang, berdoa saja tidak cukup. Harus ada langkah-langkah konkrit. Langkah-langkah itu harus dimulai dari bawah. Dari masyarakat sendiri, dari keluarga.

    Dari kita-kita ini, setiap diri pribadi. Baru naik, ke atas. Ke level pemerintah. Masuk ke individu-individu yang duduk di parlemen. Mau diapakan? Dikurangi, dicegah, ditambah atau dilipat-gandakan jumlahnya?

    Bila pribadi-pribadi ini sudah berkurang niatan untuk mengajar nilai-nilai agama, moral, sosial kepada anak-anak. Jika guru-guru yang mulai dihargai lebih, secara profesi dan finansial, hanya peduli pada ilmu dan teori saja di sekolah.

    Jika masyarakat luas sudah mulai acuk tak acuh terhadap dekadensi moral yang ada di sekitar. Atau, jika pemerintah menganggap, bahwa ini dampak biasa dari era globalisasi. Maka, apa lagi yang kita tunggu barangkali, kecuali murka Allah?

    Pembaca…..

    Saya, seperti anda….bisanya cuma menulis keluhan….Tapi, salahkah jika saya ingin membeberkan ketidak-beresan yang terjadi di tengah-tengah kita? Secara pribadi, saya tidak ingin, adzab Allah, terlebih Tsunami ke tiga menimpa kita, lantaran transaksi-transaksi asusila seperti di atas merajalela.

    Semoga kita terhindar dari mala-petaka yang lebih besar, ketimbang sekedar children trafficking yang saya yakin, tidak hanya terjadi di Indonesia yang katanya terkenal amat sopan dan santun di seantero jagat ini.

    Semoga pula, yang terlibat dalam jaringan maksiat ini, diberikan kesadaran untuk kembali ke jalan yang benar.

    Bahwa, benar, masih ada sejuta cara lain, untuk memulai bisnis GILA. Tetapi tidak dengan jalan menjual belikan anak-anak bangsa! Generasi penerus kita.

    Wallahu a’lam

    Doha, 24 March 2011

    Shardy2@hotmail.com

    ==============================
    kumpulan cerita inspirasi – kisah sumber inspirasi – cerpen penuh inspirasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s