kumpulan cerita motivasi islami – kisah sumber motivasi islami – cerpen penuh motivasi islami

kumpulan cerita motivasi islami – kisah sumber motivasi islami – cerpen penuh motivasi islami
==============================

Cinta Lama Bersemi Kembali

Sabtu, 26/03/2011 14:35 WIB | email | print

Oleh Silvani

Sejak maraknya situs jejaring sosial seperti Facebook, Cinta Lama Bersemi Kembali (CLBK) nampaknya ikut menjadi tren. Kalau yang melakoni CLBK sama-sama masih lajang sih tidak ada masalah, tapi yang menjadi masalah yang melakoni adalah mereka yang sudah menikah! Facebook menggoyahkan dan mengahancurkan pernikahan sungguh bukan rumor, tapi nyata, nyata, dan nyata.

Ada seorang istri yang meninggalkan suaminya, kemudian menikah lagi dengan teman SD yang ditemuinya kembali lewat Facebook. Ada seorang suami yang kerap kali mengirim pesan dan rayuan mesra kepada wanita lain yang masih dicintainya, lagi-lagi lewat Facebook. Ada wanita, sudah menikah, rajin sekali menulis di Wall Facebook seorang lelaki yang bukan suaminya untuk memberikan sejuta perhatiannya. Nauzubillahi minzaliik…

Diawali dengan perjumpaan kembali di Facebook, meninggalkan pesan di inbox, chatting, reuni, terus berlanjut dan berlanjut. Di mata si laki-laki si dia terlihat semakin cantik, menarik, semakin memesona. Di mata si perempuan si dia terlihat sukses dalam karir, mapan, dan semakin dewasa. Cinta lamapun bersemi kembali.

Saling menyapa mesra, memberikan perhatian istimewa, berbagi cerita, curhat, bernostalgia. Apalagi jika perpisahan yang dulu terjadi bukan karena hal yang sangat prinsip, misalnya hanya karena pisah atau pindah sekolah. Ditambah lagi mereka menemukan banyak kekurangan pada pasangan sekarang (baca: suami/istri). CLBK menjadi kian tak terelakkan. Hanya si dia yang kini bertahta di pikiran kita.

Ketika cinta lama bersemi kembali maka semua terasa indah, hidup menjadi lebih bergariah, ada sensasi yang luar biasa. Benar sekali, karena setan menjadikan segalanya terasa indah buat mereka, ada khannas yang bersembunyi dan membisikkan ke dada mereka, dan khannas yang terus melancarkan tipu dayanya! Sehingga diterjangnya norma sosial, diterjangnya norma agama, semata-mata demi hawa nafsu.

Tak ada rasa takut lagi kepada Allah yang Maha Mengawasi setiap perbuatan kita. Tak dipikirkannya lagi perasaan sang suami atau istri yang bila tahu perbuatan mereka,akan terkoyak dan terluka hatinya. Padahal saat asyik bersama si dia, mungkin sang suami sedang bekerja keras, bekerjauntuk mewujudkan harapan dan impian istri tercintanya. Atau istrinya sedang kelelahan mengurus anak-anaknya di rumah, menyuapi, memandikan, menggendong anak-anak…

Sungguh, Allah membenci orang yang berbuat khianat. Allah Swt berfirman, ”Sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang berkhianat.” (Q.S Al-Anfal [8]: 58)
Rasulullah Saw bersabda, “Orang yang paling di antara kalian adalah orang yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik perlakuannya terhadap keluargaku. Tiada yang memuliakan seorang istri, kecuali orang yang mulia. Dan, tiada seorang yang menghinakan seorang istri, kecuali orang yang hina.”

STOP, Berhenti, Jangan teruskan CLBK! Sebelum semua terlambat. Pikirkan lagi dengan hati yang jernih. Cinta seperti itu tidak akan berakhir bahagia, sebaliknya akan berakhir penyesalan dan duka.

Buang jauh-jauh cinta lama kita. Jangan biarkan cinta lama bersemayam di hati, jangan biarkan cinta itu bertunas, lalu tumbuh merekah!

Lihat di samping kita… Pasangan yang bertahun-tahun setia di samping kita, tak pernah sedetikpun meninggalkan kita walau bagaimanapun sulitnya hari-hari kita, dia yang berjuang bersama kita, dia yang telah menerima segala kekurangan kita, diaibu dari anak-anak kita.

Tatap anak-anak kita…amanah Allah kepada kita. Hati mereka harus dijaga dengan sekuat tenaga, jangan sampai terkoyak maupun terluka. Tegakah kita meruntuhkan kebahagiaan mereka demi nafsu kita? Kebahagiaan yang didapat bila ayah bunda lengkap ada bersama mereka. Sungguh, tak akan ada yang melebihi kasih sayang ayah dan ibu kandung mereka , orang tua terbaik untuk mereka. Ayah Bunda… Kebahagiaan anak-anak ada di tangan kita.

Wallohu ‘alam bishshowaab. Bangkok, 25 Maret 2011.

Daftar Pustaka :
Nadia, Asma. Sakinah Bersamamu. Depok: AsmaNadia Publishing House. 2010

Tharsyah, Adnan. Madza Yuhibbuhullahu wa Yabghadhuhu. Diterjemahkan Oleh Anita Vivi Sofia dengan judul : Manusia Yang Dicintai Dan Dibenci Allah. Bandung: Mizania. 2008.

==============================
kumpulan cerita motivasi islami – kisah sumber motivasi islami – cerpen penuh motivasi islami

About these ads

About sesungguhnya pacaran dan musik itu haram hukumnya ( www.jauhilahmusik.wordpress.com , www.pacaranituharam.wordpress.com )

pops_intansay@yahoo.co.id
This entry was posted in cerita eramuslim.com. Bookmark the permalink.

8 Responses to kumpulan cerita motivasi islami – kisah sumber motivasi islami – cerpen penuh motivasi islami

  1. kumpulan cerita motivasi islami – kisah sumber motivasi islami – cerpen penuh motivasi islami
    ==============================

    Jangan Bentak Anak Itu !
    Sabtu, 26/03/2011 05:45 WIB | email | print

    Oleh M .jono AG

    Adzan Magrib baru saja berkumandang. Walaupun seharian ini hujan terus mengguyur, tak menyurutkan minat anak–anak sore itu untuk mendatangi musholla dekat tempat tinggal mereka. Sebagian ada yang didampingi orang tuanya, sebagian lagi berangkat sendiri dengan terlebih dahulu mampir ke teman sepermainan.

    Halaman musholla yang tadinya sepi sekarang ramai dengan riuhnya bocah–bocah kecil itu. Ada yang masih memanjat pagar, ada yang bermain kejar-kejaran dan beberapa lagi nampak berwudhu walaupun masih jauh dari sempurna. Paling tidak tangan, wajah dan kaki sudah dibersihkan. Kalau kebetulan disampingnya ada orang dewasa biasanya mulai benar wudhunya. Mereka akan ikuti dari awal sampai akhir. Maklum usia mereka sebagian masih sekitar empat tahunan.

    Sekitar sepuluh menit kemudian iqomahpun terdengar dikumandangkan. Mereka berlari berlarian masuk musholla agar bisa menempati shaft ke dua minimal. Tapi kadang-kadang mereka menempati shaf pertama kalau kebetulan jamaah dewasanya agak kurang. Kulihat salah seorang jamaah mulai mengatur anak-anak itu dengan sabar. Satu per satu diatur rapatnya badan dan kaki dengan teman disebelahnya. Itupun masih harus ditambah dengan nasehat tidak boleh ramai kalau sedang sholat.

    Begitu imam mengumandangkan takbiratul Ihram suasana menjadi hening. Anak- anakpun terdiam karena baru mulai takbir. Begitu Al-fatihah dibaca secara jahr, mulailah mereka yang sedikit hafal bacaan tersebut ikut mengeraskan bacaannya mengikuti imam. Satu anak ikut membaca yang lain sepertinya tidak mau kalah, lebih nyaring lagi malah. Jadilah bacaan Al-fatihah itu seperti koor. Dan koor itu baru berhenti ketika imam membaca surah pendek yang mereka belum kenal apalgi hafal. Sholatpun kembali tenang dan hening.

    Rokaat kedua dimulai. Saat Al-fatihah kembali dibaca oleh imam dengan tartil, mulailah anak–anak itu kembali mengikuti. Salah satu dari mereka menegur dengan pelan maksudnya : “jangan ribut , biar pak imam saja yang baca !” Rupanya dengan usia yang memang belum sampai, diapun menimpali : “aku bisa kak , alhamdulillahi robbil ‘alamin …” Diteruskannya bacaan tadi sampai batas dia hafal. Kakaknya yang lebih besar mencoba menenangkan suasana dengan member kode supaya anak itu diam. Itupun tidak mempan karena memang belum faham. Bahkan dia mulai berlari kekanan dan kekiri sambil mengganggu kakak-kakaknya yang mulai belajar khusyu.

    Suasana gaduhpun tak terhindarkan. Syukur pak imam tidak terpengaruh dengan gaduhnya anak-anak itu. Rupanya ada satu jamaah yang merasa risih dengan kondisi tersebut. Dia bangkit, keluar dari shaf kemudian membentak anak–anak itu : ’ Diam… , kalau nggak mau diam nggak usah sholat, di luar saja !’’ Aku sempat kaget juga dengan teguran itu. Beberapa jamaah mengatur shaf agar tidak bolong setelah ditinggal olehnya. Suasana menjadi hening dan tentu menegangkan bagi anak-anak itu.

    Suasana sholatpun kembali tenang pada rokaat ke tiga. Dalam hati akupun bersyukur suasana sholat Magrib itu kembali tenang. Justru aku tersentak ketika mengucapkan salam pertama. Tak satupun anak-anak yang tadi ikut berjamaah di belakangku tersisa di situ. Semua kabur rupanya…. Pantesan sepi, pikirku. Dan semua jamaah dewasa saling diam tanpa aku mengerti jalan pikirannya.

    Sepanjang jalan sepulang jamaah aku merenung, adakah yang salah ? Dulu waktu kecil sepertinya aku mangalami hal yang sama. Atau bahkan lebih dari itu. Yang jelas seingatku dulu rasanya nggak afdhol kalau nggak ikut membaca Al Fatihah dengan nyaring yang kadang–kadang lebih nyaring dari imam. Atau merasa kurang ramai kalau sujud nggak sambil menggelitik kaki jamaah di depanku. Yang aku tahu bahwa sholat berjamaah itu mengasyikkan dan menyenangkan. Ramai ketemu teman-teman, rukuk sambil menoleh kanan kiri, atau sujud sambil mendengarkan bacaan sujud teman sebelahku yang juga belum hafal seluruhnya. Ahh … dasar anak–anak.

    Tanpa bermaksud menyalahkan siapapun tentunya suasana diatas memang harus diluruskan. Barangkali caranya yang harus diperhalus. Wajar kalau anak–anak dengan usia dibawah 5 tahun masih belum faham tentang sholat yang baik. Diperlukan kesabaran yang luar biasa memang menghadapi mereka. Bahkan nasehat yang sama agar tertib kalau sholat tetap saja di perlukan setiap menjelang sholat .

    Adalah hal yang sulit kalau kita yang dewasa berharap dengan satu kali nasehat mereka akan pakai seterusnya. Karena usia mereka memang usia bermain, dan barangkali waktu kecil kita juga melakukan hal yang sama.

    Ada contoh yang indah dari Rasulullah SAW mengenai jamaah bersama anak–anak. Suatu saat saat Rasulullah menjadi imam tiba–tiba cucu beliau Umamah binti Zaenab menangis dan digendongnya sambil tetap menjalankan sholat tanpa terganggu dengan tangisan cucunya. Begitupun dengan para sahabat yang menjadi makmum. Ada kesejukan disana, si anak terpenuhi kebutuhan emosionalnya sementara Rasulullah SAW dan para sahabat yang sedang sholat tetap khusyu menghadap Rabb nya. Bahkan pernah juga cucu beliau naik ke punggung saat beliau sujud dan Rasulullah SAW sujud dengan cukup lama sehingga pada saat selesai sholat sahabat bertanya apakah yang terjadi ? Dengan sabar Nabi junjungan kita itu menjelaskan keadaan yang barusan terjadi. Dan itulah Allah menghendaki agar hal tersebut jadi tuntunan bagi kita umatnya. Semuanya diselesaikan setelah sholat, bukan pada saat sholat berlangsung.

    Akupun ingat cerita beberapa warga yang mengetahui sejarah berdirinya musholla di lingkungan kami itu. Konon musholla itu didirikan untuk menampung anak-anak belajar ngaji dan sholat berjamaah setelah beberapa kali orang tua mereka mendapati anak- anaknya selalu dimarahi bahkan dibentak–bentak ketika ikut sholat di masjid. Akhirnya anak-anak itupun jadi takut ke masjid. Dan wargapun mulai membuat musholla untuk pembelajaran anak-anak mereka. Kalau masjid atau musholla sudah menjadi momok bagi anak–anak, rasannya tidak berlebihan kalau kita harus merasa ketakutan tentang hilangnya generasi muslim yang akan datang.

    Adalah hal yang sangat sulit ketika kita berharap pada saat dewasa kelak mereka menjadi generasi yang cinta masjid dan sholat berjamaah kalau tidak dimulai dari kecil. Atau kita boleh merasa iri apabila di hiruk–pikuknya pasar masih banyak saudara–saudara kita yang bisa melaksanakan sholat dengn khusyu dikios kecilnya tanpa terganggu dengan lingkungan sekitarnya. Nasehat bagi mereka tetap harus dilakukan sebelum sholat dimulai atau ditegur setelah sholat selesai. Pada saat setelah kita membantu mengatur shaf mereka, maka serahkanlah urusan selanjutnya kepada “Yang menguasai dan yang bisa membolak-balikkan hati manusia”. Karena mereka semua adalah anak-anak kita ……

    masjono@telkom.co.id

    ==============================
    kumpulan cerita motivasi islami – kisah sumber motivasi islami – cerpen penuh motivasi islami

  2. kumpulan cerita motivasi islami – kisah sumber motivasi islami – cerpen penuh motivasi islami
    ==============================

    Ikhtiar Dulu, Baru Tawakal!
    Jumat, 25/03/2011 14:09 WIB | email | print

    Oleh Abi Sabila

    Gerimis. Sudah pukul setengah tujuh, namun hujan yang turun sejak subuh tadi belum menunjukan tanda-tanda segera berhenti. Reda sebentar, lalu rintik lagi. Kalau bukan karena hari ini jadwal putriku piket kebersihan kelas, tentu lebih baik aku menunggu sampai hujan agak reda, baru berangkat ke tempat kerja. Takut yang lain sudah pada datang sementara kelas belum selesai dibersihkan, putriku memaksa untuk diantar saat itu juga.

    Meski tidak terlalu deras, aku tetap menggunakan jas hujan lengkap. Berbeda dengan putriku yang tidak mau membawa payung atau mengenakan jas hujannya. Kekhawatiranku akan kesehatannya, tak mampu menggugah kesadarannya. Tak ada waktu lagi untuk berdebat, dari pada benar-benar terlambat, akhirnya aku bonceng dia tanpa payung ataupun jas hujan. Sampai di sekolah, barulah kutahu mengapa putriku bersikeras tak mau memakai jas hujannya. Tidak hanya dia, sebagian besar teman-temannya memang lebih memilih datang ke sekolah dengan seragam agak basah ketimbang harus membawa payung atau mengenakan jas hujan.

    Dari sekolah aku tidak kembali lagi ke rumah, tapi langsung menuju ke tempat kerja. Di ujung jembatan, tak jauh dari sekolah, seorang laki-laki menghentikan laju motorku. Meski kukatakan aku tidak membawa helm dan jas hujan cadangan, laki-laki yang baju seragam kerjanya mulai basah itu tetap ingin membonceng. Kebetulan tempat kerjanya searah dengan tempat kerjaku.

    “Hati-hati kalau meninggalkan motor, Mas. Kalau perlu, kasih kunci tambahan. Semalam, motor tetangga saya hilang!” laki-laki itu membuka pembicaraan setelah kami melaju di jalan.

    “Terima kasih sudah diingatkan. Ngomong-ngomong, hilang dimana Pak?”

    “Di depan minimarket, dekat kantor kelurahan”

    “Motornya tidak dikunci?”

    “Hanya dikunci setang saja. Dia pikir hanya sebentar, beli rokok dan minuman. Tapi pas keluar, motornya sudah tidak ada lagi. Kebetulan malam tadi pengunjung minimarket memang sedang sepi.”

    Sebenarnya masih ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan, tapi kemacetan yang cukup parah menyebabkan kami harus berpisah. Setelah mengucapkan terima kasih, laki-laki yang tak sempat kutanya siapa namanya ini memilih melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Tempat kerjanya tinggal sekitar seratus meter lagi.

    Dari seorang pengendara motor yang datang dari arah berlawanan, aku mendengar bahwa didepan sana terjadi kecelakaan antara sesama pengendara motor. Satu di antaranya menderita luka cukup parah di bagian kepala. Ia terpental dari motornya dengan posisi kepala lebih dulu menyentuh aspal. Naas, ia tidak mengenakan helm. Innalilahi wa ina ilaihi rojiuun.

    ***

    Sedikitnya ada tiga kejadian yang menyadarkanku akan satu hal penting, namun sering diabaikan. Pertama, putriku yang tidak mau membawa payung atau jas hujan. Dengan alasan hanya gerimis, ia memilih basah ketimbang harus membawa payung atau memakai jas hujan. Bukan hanya ia, tapi sebagian besar teman-temannya juga melakukan hal yang sama. Satu yang menjadi alasan mereka. Mereka malu dikatakan seperti anak mami, sama gerimis saja takut! Astaghfirulloh!

    Yang kedua, laki-laki yang membonceng motorku. Entah karena memang tak punya atau beralasan yang sama dengan putriku dan juga teman-temannya, di tengah gerimis ia berangkat kerja tanpa membawa payung ataupun jas hujan. Cerita tentang tetangganya yang kehilangan motor di depan minimarket dekat kantor kelurahan, mengingatkanku akan seringnya kejadian serupa yang bermula dari si pemilik motor yang kurang waspada.

    Peringatan yang terpampang di area parkir, agar pengunjung yang membawa kendaraan selalu waspada, seringkali diabaikan pemilik kendaraan dengan berbagai alasan. Hanya sebentar, terlalu repot kalau harus mengunci ganda segala. Itulah alasan mereka. Bahkan ada yang karena alasan gengsi, malu terlihat kuno, akhirnya meninggalkan motor dengan pengamanan yang sekedarnya saja. Setelah kejadian motornya hilang, barulah menyesal. Mau menyalahkan siapa, kenyataannya parkir gratis memang tidak dijaga petugas keamanan. Menyalahkan pemilik minimarket tentu tidak mungkin. Mereka sudah membuat peringatan, kenapa diabaikan?

    Yang ketiga, kecelakaan yang terjadi antara dua pengendara motor yang bersenggolan hingga menyebabkan satu diantaranya menderita lukak parah di bagian kepala, ternyata korban tidak menggunakan helm. Banyak alasan mengapa orang enggan mengenakan helm. Diantaranya jarak yang dekat, atau tidak melintas di jalan utama yang banyak dijaga polisi. Seakan-akan, helm hanya dibutuhkan untuk perjalanan jauh dan menghindari berurusan dengan polisi yang sedang bertugas di jalan. Fungsi helm untuk alasan keselamatan justru sering diabaikan.

    Benar bahwa segala sesuatu yang terjadi pada diri kita adalah atas ijin dan kehendak Allah. Kita sakit, kita kehilangan kendaraan ataupun mengalami kecelakaan di jalan memang sudah tertulis dengan rinci kapan, dimana dan bagaimana kejadiannya.

    Kehujanan atau tidak, kalau sudah takdirnya sakit ya sakit saja. Ada yang sudah menggunakan jaket, payung atau jas untuk melindungi badan dari hujan, tapi terkena batuk dan pilek juga. Sebaliknya, meskipun badan dan pakaian basah kuyup oleh hujan, tapi tetap sehat wal afiat. Semua tergantung pada kehendak Allah. Tidak salah memang, tapi bagaimanapun kita berkewajiban untuk melakukan ikhtiar. Gunakan payung atau jas untuk melindungi badan dari air hujan. Ikhtiar dulu, baru tawakal!

    Demikian juga motor yang dicuri orang. Dikunci atau tidak, kalau memang sudah takdirnya, tetap saja hilang. Banyak yang tidak dikunci tapi tidak hilang, tapi tidak sedikit pula yang sudah diamankan dengan kunci tambahan, bahkan ada di dalam rumah, tetap saja hilang. Bagaimanapun takdir yang menentukan. Betul, tapi kita diwajibkan untuk berikhitar. Amankan kendaraan kita, tambahkan kunci pengaman bila diperlukan untuk mengantisipasi kemungkinan dicuri orang. Ikhtiar dulu, baru tawakal!

    Pun menggunakan helm atau tidak, bila sudah tiba ajalnya, tetap saja maut akan menjemput. Meskipun pakai helm, bisa saja helm itu terpental saat kecelakaan terjadi. Ada pengendara motor yang selamat dari maut meskipun tidak pakai helm karena kebetulan ia terjatuh di tempat dan dalam posisi yang aman. Tapi, lagi-lagi kita berkewajiban untuk berikhitar. Gunakan helm untuk keselamatan di jalan. Ikhtiar dulu, baru tawakal!

    Jadi, jangan langsung mengatakan tawakal sebelum berikhtiar. Pendapat saya, ikhtiar dulu baru tawakal. Bagaimana dengan anda? Wallohualam.

    http://abisabila.blogspot.com

    ==============================
    kumpulan cerita motivasi islami – kisah sumber motivasi islami – cerpen penuh motivasi islami

  3. kumpulan cerita motivasi islami – kisah sumber motivasi islami – cerpen penuh motivasi islami
    ==============================

    Berhenti Mengajari Allah
    Jumat, 25/03/2011 06:01 WIB | email | print

    Oleh Ahmad Syukri

    Dalam sebuah atsar diriwayatkan oleh Wahb bin Munabbih disebutkan bahwa Allah berfirman: “Hamba-Ku! Taati sajalah apa yang sudah Aku perintahkan kepadamu, dan jangan (sekali-kali) mengajari-Ku terhadap apa saja yang baik untukmu.”

    Bagi seorang mukmin sejati yang memiliki ketajaman nurani, tentulah terhindar dari sikap “lancang” dengan mengajari Allah terhadap segala hal yang baik untuknya. Karena memang manusia manapun di dunia ini tidak akan pernah tahu rencana dan skenario Allah ketika Dia menimpakan segala musibah dan masalah kepada hamba-Nya.

    Rasanya sudah terlalu sering kita mengajari Allah bahkan terkadang harus menyalahkan-Nya saat harapan-harapan dan cita-cita kita yang kita nantikan dan tunggu tidak kunjung datang atau malah hanya kegagalan yang kita raih. Prasangka-prasangka buruk terhadap Allah melintas di fikiran kita tanpa bisa kita cegah, karena kebodohan dan kelemahan kita dalam memahami hakikat keberadaan kita di dunia ini.

    Allah berfirman dalam surah al-Baqarah ayat 216: “Dan boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui”

    Banyak hal di dunia ini yang berada diluar kekuasaan kita, dan kita tidak pernah mampu menghindar dan menolaknya. Hal yang demikian karena memang kita diciptakan hanya untuk tunduk dan patuh terhadap perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Saat manusia menderita dengan rezeki yang serba kekurangan (menurutnya) seharusnya bersyukur karena Allah sedang membimbingnya agar selalu menggantungkan harapan dan memohon kepada-Nya. Saat seseorang nestapa karena kehilangan apa saja yang dicintainya selayaknya berbahagia karena pada saat yang sama Allah sedang menuntunnya agar tidak mencintai apapun melebihi cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

    Selama paru-paru ini masih bernafas, jantung ini masih berdetak, darah ini masih mengalir, manusia tidak akan pernah terlepas dari deraan cobaan dan ujian. Karena memang dunia diciptakan sebagai tempat ujian dan akhirat sebagai tempat balasan. Kesenangan sejati hanya akan diraih jika kita sudah menginjakkan kaki di surga. Jika memang dunia ini diciptakan untuk tempat bersenang-senang, maka para nabi seharusnya yang paling berhak mendapatkannya. Lantas, kenapa malah merekalah yang paling banyak dan sering mendapatkan rentetan cobaan dan cabaran.

    Semoga sebuah hadits ini akan membuat kita sadar, bersimpuh dan tertunduk malu dihadapan-Nya dan berhenti mengajari-Nya atau menyalahkan ketentuan-Nya saat doa-doa belum terpenuhi dan harapan-harapan yang gagal diraih. Karena memang tidak ada kebetulan dalam kehidupan ini. Sebuah hadits yang riwayatkan oleh imam al-Baihaqi dari sahabat Anas bin Malik RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Malaikat Jibril AS berkata: Wahai Allah, hamba-Mu si fulan penuhilah segala keperluan (yang diminta)nya. Allah pun menjawab: (sudah) biarkan saja hamba-Ku (itu), Sungguh Aku senang mendengar suaranya (saat bermunajat kepada-Ku).

    Semoga kita termasuk hamba yang mencintai Allah dan dicintai oleh-Nya. Amin!
    Wallahu a’la wa a’lam.

    Kairo, 23 Maret 2011

    http://sjoekrie.multiply.com

    ==============================
    kumpulan cerita motivasi islami – kisah sumber motivasi islami – cerpen penuh motivasi islami

  4. kumpulan cerita motivasi islami – kisah sumber motivasi islami – cerpen penuh motivasi islami
    ==============================

    Give Him a Chance
    Kamis, 24/03/2011 13:46 WIB | email | print

    Oleh Syaifoel Hardy

    Saya masih ingat dalam suatu riwayat, disebutkan salah seorang Sahabat Rasulullah SAW, yang rumahnya sedang diintip maling. Namun gagal dijarahnya. Sang maling yang semalaman menunggu pemilik rumah tertidur lelap, perhitungannya salah. Sang pemilih rumah, di luar dugaan, mengetahui, bahwa dia tidak sendirian. Ada orang ‘asing’ bersamanya.

    Bagaimana jika kejadian di atas menimpa kita? Pada saya apalagi! Kontan nggak bisa bayangkan bagaimana harus mengontrol diri. Barangkali mulai dari, teriak: “Maliiingggg…..!!!!” hingga mencari pentungannya Cricket. Akan tetapi tidak demikian yang beliau lakukan. Sahabat Rasulullah SAW ini. Beliau tetap menjalankan salat malam.

    Melihat sikap tuan rumah yang demikian, si maling tentu saja tidak sabar dan geregetan. Maling yang satu ini memang cukup kuat menahan niat, untuk menjarah barang-barang yang ada di dalam rumah secara gegabah.

    Saya tidak mau berpanjang lebar tentang cerita di atas yang pada akhirnya, sang Maling bercerita pada rekan-rekannya, bahwa dia mendapatkan hasil ‘jarahan’ melebihi yang dia harapkan.

    Pesan Islam yang diterima dari si empunya rumah kepadanya, yang membuat dia bahagia. Nasihat sang pemilik rumah membuat dia sadar akan yang diperbuatnya selama ini saja. Dia kembali ke jalan yang benar!

    Subhanallah…..

    ***

    Saat rumah saya sedang dalam tahap bangunan. Pimpinan ‘proyek’, sebut saja begitu, biar tampak seperti keren, ‘Real Estate’, saya serahkan kepada seorang keponakan. Dia selama ini banyak mengerti tentang seluk-beluk bangunan. Terutama perumahan. Dia pernah menangani sejumlah kontrak pembangunan. Tanpa berpikir panjang, bagi saya pikir, dia lah ahlinya.

    Dalam perjalanannya, saya tidak pernah menanyakan berapa barang-barang/material bangunan yang telah dihabiskan. Juga tidak pernah bertanya mengapa ini ada yang kurang, kenapa itu ada yang lebih, dan lain sebagainya. Prinsip percaya manjadi modal. Demikian pula yang dia perlakukan terhadap para tukang bangunan.

    Kepercayaan merupakan landasan yang amat penting dalam bekerja. Bekerja butuh ketenangan. Tanpa didasari unsur kepercayaan ini, bagaimana kita bisa bekerja dengan tenang? Apapun bentuk dan macam pekerjaan serta jabatan kita. Apakah manajer atau buruh paling bawah, semuanya membutuhkan kepercayaan. Saya bisa bayangkan, betapa menderitanya orang yang dalam setiap langkahnya selama kerja tidak/kurang dipercaya oleh supervisornya.

    Saya melihat, keponakan saya, sebut saja Ahmad, bisa memegang amanah. Karena itulah saya percaya. Hal yang sama dia terapkan kepada para tukang yang bekerja dibawah supervisinya. Saya pun puas terhadap hasil kerjanya.

    ***

    Malam itu, dia melapor kepada saya. Memberikan evaluasi, sejauh mana garapan ‘proyek’ ini telah berlangsung. Saya biasanya tidak terlalu serius menanggapi, kecuali menekankan bahwa saya mendukung serta menghargai pola kerjanya selama ini.

    Yang membuat saya lebih bangga lagi adalah, ketika dia cerita bahwa siang tadi. Dia ddidatangi oleh salah seorang buruh bangunanya. Orangnya kecil dan namapak kumuh. Dia bilang: “Pak, ada yang perlu saya sampaikan. Boleh minta waktu?” Pintanya. Yang tentu saja di jawab ‘ya’, oleh Ahmad.

    “Saya mau mengembalikan sejumlah duit yang saya dapat dari hasil mencuri sejumlah barang material bangunan ini. Tanpa sepengetahuan Bapak.” Katanya tersendat, memohon.

    “Ini duitnya sebesar Rp 300 ribu. Masih kurang Rp 200 ribu lagi. Sisanya tolong dipotong dari gaji mingguan saya.” Lanjut sang tukang. “Saya lakukan semua ini karena memang desakan kebutuhan keluarga, yang saya tidak tahu harus dari mana mendapatkannya. Oleh sebab itu, saya curi barang-barang Bapak.”

    Mendengar pengakuan jujur si tukang, Ahmad tersentuh. Di jaman seperti ini, pikirnya, masih ada juga orang-orang yang berbuat jahat, kemudian mengaku, serta mengembalikan sesuatu yang bukan hak nya, dengan ikhlas. Subhanallah…..

    ***

    Hikmah yang bisa dipetik dari kejadian di atas adalah: hidup pada dasarnya adalah proses pembelajaran. Selama belajar itulah, manusia dalam perjalan hidupnya bisa berubah. Kesalahan yang telah diperbuat dan diikuti dengan pengakuan yang tulus sudah semestinya mendapatkan ‘penghargaan’ dengan kata maaf serta diberinya kesempatan untuk membuktikan bahwa mereka akan menjadi lebih baik. Sebagaimana guru yang memberikan kesempatan mengulang kepada anak didiknya yang banyak kesalahan dalam mengerjakan soal-soalnya.

    Memaafkan, merupakan perbuatan yang amat mulia di sisi Allah SWT. Memaafkan kesalahan orang yang telah menyakiti hati kita atau mencuri barang-barang kita, bukanlah hal mudah. Namun yang lebih sulit lagi adalah mengungkapkan kesalahan kita, kepada mereka yang kita sakiti, yang sangat berisiko.

    Memberi kesempatan kepada orang lain untuk menjadi lebih baik hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang berjiwa besar. Dan memberikan maaf akan menumbuhkan kelegahan bagi si pemberi serta mampu melahirkan semangat baru kepada mereka yang dimaafkan.

    Dan guna melakukan itu semua, kita tidak harus kembali ke abad ke 14, di jaman Rasulullah SAW… Sebaliknya, cukup meneladani perbuatan mulia beliau-beliaunya….

    Wallahu a’lam.

    Doha, 23 March 2011
    Shardy2@hotmail.com

    ==============================
    kumpulan cerita motivasi islami – kisah sumber motivasi islami – cerpen penuh motivasi islami

  5. kumpulan cerita motivasi islami – kisah sumber motivasi islami – cerpen penuh motivasi islami
    ==============================

    Ramalan Oh Ramalan
    Kamis, 24/03/2011 05:52 WIB | email | print

    Oleh bidadari_Azzam

    “Mau tahu Ramalan Bintang atau Ramalan Zodiak harian kamu ? Buka halaman 38 yah”, kalimat itu biasanya tertera di halaman depan sebuah majalah remaja.

    Atau iklan operator ramalan, ketik XYZ untuk bintang Scorpio, ketik CBA buat bintang Aries, kirim ke nomor 0000, kamu akan menerima ramalan zodiakmu sehari-hari, jangan lupa yah…!

    Hewan-hewan juga sempat “beken” jadi peramal, bahkan yang minta diramal adalah para sarjana, juga dulu ada berita seorang dokter tertipu ramalan oleh dukun yang akan melipatgandakan uangnya, ohw!

    Atau bertaburannya aplikasi ramalan zodiak di berbagai situs jaringan sosial, serta “jualan ramalan” di berbagai web, dengan kalimat seperti : “Saya akan membaca nasib dan peruntungan Anda, bisa dari bintang-gemintang anda, bisa dari shio, bisa dari hari, tanggal dan bulan lahir anda.

    Bagaimana kelanjutan nasib anda hari ini, esok, per-minggu, per-bulan, per-tahun, dst…” (ada bumbunya pula, “gratis satu bulan pertama!”, hehehe). Apa yang kalian rasakan dari kalimat beragam iklan ramalan tersebut ? Ingin tertawa ? Sedih ? Atau campur aduk barangkali, miris dan tersenyum iba? Karena tak lain dan tak bukan, semua itu adalah Penipuan! Dan yang tertipu bisa saja orang-orang yang sudah sangat berpendidikan (formal) sampai S3 atau orang yang sudah diberi-Nya petunjuk keimanan yang baik. Lho, kok bisa ? Kenapa yah ?

    Jawabnya begitulah ‘halusnya’ setan memasuki hati manusia, kita sering tak menyadari hal ini, sebab itulah kita memohon kepada Allah SWT untuk senantiasa melindungi diri ini dari segala godaan setan yang bersembunyi, dalam firman-Nya:

    “Yang membisikkan (kejahatan) dalam dada manusia,dari (golongan) jin dan manusia.” (QS. An-Naas [114] : 5-6)

    Belasan tahun lalu, sebut saja si nona, tiap weekend, selalu membaca peruntungannya melalui zodiak, “kesehatan : minggu ini kamu sedikit flu, jangan lupa bawa payung supaya tidak makin parah kalau kehujanan.

    Keuangan : dapat tambahan uang jajan, pastikan punya waktu buat traktir teman-teman! Asmara : si dia jadi ngambek karena kamu cuekin. Karier : kamu kurang tegas sih, jadinya harus punya tambahan tugas dari boss.” Si Nona yakin betul akan kalimat ramalan itu, sampai-sampai ia sendiri bergumam, “hmmm… emang iya nih, agak flu gue sekarang.

    Asyik juga besok mungkin papa ngasih tambahan uang jajan, trus gue harus ati-ati nih jangan sampe’ si dia ngambek lama, kalo’ githu gak boleh dicuekin. Kalo’ karier, kan gue belum kerja ya, oooh…mungkin emang disamain sama tugas-tugas dari dosen nih…gitu ‘kali ya…”, kesimpulan yang lucu, memangnya seluruh dunia yang sama zodiaknya pasti sama pula “hal yang bakal dialami” di minggu itu ?

    Dan anehnya, si nona yang saat ini sudah menikah dan punya anak pun, masih setia dengan ‘kebiasaan mempercayai ramalan’ seperti itu, “Buat bintang anda minggu ini, kesehatan : kepala pusing tujuh keliling, keuangan : bangkrut di minggu ini, lain kali harus punya tabungan dong! Asmara : kacau, jangan terlalu curiga, tapi harus tetap waspada.

    Karier : kalau tidak kuat lagi, buat apa bertahan, masih banyak jalan lain.” Lalu si nona berkomentar, “aaah, masa’ sih jelek banget buat bintang gue minggu ini! Bikin bad-mood aja, padahal gue lagi seneng kok hari ini…”, (secara tidak sadar, kalimatnya toh mengakui diri secara sadar juga sudah tertipu! Tapi anehnya kok ya cuma menggerutu tanpa ada perubahan yang berarti).

    Buat nona-nona yang lain pula, apakah hari-harimu tidak berjalan dengan indah jika tak membaca ramalan bintang atau tak mendengarnya di radio kesukaanmu? Apakah si ramalan ini merupakan motivasi diri (sehingga engkau mempercayainya kalau isinya bagus dan mengabaikannya jika isinya jelek)?

    Lantas, dimanakah posisi Allah ta’ala dalam motivasi diri, bukankah kita tau bahwa Sang Maha Penyayang telah memberitakan segala motivasi dalam ayat-ayat indahNYA yang selalu kita lantunkan setiap waktu, cukuplah Al-Qur’an dan Hadits RasulNYA sebagai pegangan hidup hingga selamat tiba di akhirat. Insya Allah.

    Allah SWT berfirman yang artinya: “Alif laam miim. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (QS. Al Baqorah [2] : 1-3)

    Teman Nona yang lain, sebut saja Fulan punya cerita. Sejak es-em-pe, Fulan ini punya pacar dan gonta-ganti beberapa kali, katanya sih sebagai persiapan buat pilih-pilih calon istri.

    Selulus D3 dan bekerja, Fulan memiliki pacar yang baginya sudah mantap di hati, mereka menjalin hubungan akrab sejak masih kuliah dan bekerja di perusahaan yang sama. Gaya pacaran Fulan “komplet” seperti remaja Amerika.

    Bahasa anak mudanya nih ye, Bukan cuma belaian tangan, bo’, ada istilah cipok-cipokan, French-kisses, dan obok-obokan lah ya. Menurut “ramalan” yang dipercayai si Fulan, tanggal sekian adalah tanggal yang pas buat pernikahan mereka.

    Juga tuntutan adat dan kreasi pesta pernikahan modern yang mengharuskannya menyiapkan dana lumayan besar untuk hari H itu. Akhirnya hari H tersebut dipersiapkan setahun lebih, dan hubungan Fulan&pacarnya makin lengket ibarat amplop dan prangko.

    Tiba-tiba beberapa bulan sebelum hari H, saat 85% persiapan telah matang, kabar mengejutkan terdengar, Fulan mengalami kecelakaan di lokasi kerjanya. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.

    Sekejap mata, sekarang Fulan telah ‘almarhum’. Fulan meninggalkan dunia saat usia masih belia, meninggalkan calon istri yang amat berduka, serta setumpuk ramalan yang masih dinantikannya.

    Tidak ada yang perlu disesali, pengalaman orang lain dapat dipetik sebagai pelajaran hidup pula. Beruntunglah duhai pemuda-pemudi pilihan-Nya, yang menjaga masa remaja dengan mempelajari dan memperdalam Islam secara keseluruhan sehingga kenangan remaja tak ada yang dikesali.

    Dahulu sewaktu kami masih kanak-kanak, ada nenek tetangga yang sangat akrab dengan semua orang dan sering bermain dengan anak-anak. Suatu waktu, anak-anak mengelilingi si nenek, sebut saja Nek Ijah. Beliau menasehati agar kami jadi anak yang patuh pada orang tua, sesekali beliau memegang tangan kami, termasuk diriku.

    Nek Ijah memperhatikan garis tanganku. Garis-garis pada telapak tangan kanan dan kiri dilihat lekat-lekat. Kemudian beliau tersenyum dan bergumam, “hmmm, bagus…bagus sekali… Harus selalu bersyukur yah sayang…”, tentu saja aku ikutan tersenyum dan menganggukkan kepala menyetujui nasehatnya.

    Pada teman-teman lain, Nek Ijah bergumam hal lain seperti, “hmmm, nanti kalau tambah ramah, pasti makin banyak teman…”, atau “oooh, terbukti suatu hari kesabaran kamu memang manis hasilnya…”, dll, hanya sepotong-sepotong kalimat yang kesemuanya diucapkan dengan wajah optimis.

    Entahlah prihal apa yang dilihat beliau di garis-garis tangan itu, namun beliau memang tak mengumbar ramalan dan tak juga menjual jasa ramal-meramal. Pada hari-hari kini kami menyadari bahwa perjalanan hidup setiap orang adalah berbeda, dan semua itu ada kaitannya dengan segala skenario terbaik dari Allah ta’ala.

    Tak mungkin setiap hari mengalami kesenangan melulu atau bersedih melulu, tak ada manusia yang dapat memahami segala didikanNYA jika tanpa dianugerahi segala peristiwa hidup sehari-hari.

    Beberapa tahun lalu ada seorang remaja SMP yang berdiskusi denganku. Ceritanya, adik ini bertanya karena dia merasa bersalah. Sebut saja namanya Irwan. Ia pintar dan ramah, tapi sedikit pemalu, terutama pada teman cewek.

    Irwan menyukai seseorang, Lila. Pada suatu hari, ada bazaar di sekolah, Irwan punya siasat khusus untuk mengetahui tentang Lila secara diam-diam, maka dia ikutan buka tenda di bazaar itu. Judul penjualan jasa di tendanya adalah “Bagaimana peruntungan, jodoh, dan nasibmu menurut si Robo?”, Si Robo adalah komputer Irwan.

    Ia membuat sendiri program ramalan di komputernya. Teman-temannya yang berkunjung ke bazaar sama sekali tak mengetahui maksud hati siasat Irwan, fokusnya yah si Lila. Rata-rata pengunjungnya puas akan “hasil ramalan Robo”, misalnya si A dan si B : arti namanya bla bla bla, peruntungannya bla bla bla, kalau kamu bersatu, nanti 70% bahagia, bla bla bla. Contoh lain si C dan si D, peruntungannya bla bla bla. Mungkin nanti akan berhubungan jarak jauh, tapi kalau bersatu kalian 100% cocok, punya anak sekian, bla bla bla. dll.

    “Lumayan, nambahi uang jajan juga dari koin-koin setoran pengunjung bazaar”, begitu kata Irwan. Lalu yang diincar masuk perangkap, Lila ikutan meramal nasibnya, Lila menuliskan nama cowok yang disukainya, ada beberapa nama yang “ditest” si Lila, keluarlah hasil print-an si Robo.

    Setibanya di rumah, Irwan mengecek “hasil program Robo”, tentu dia mau tau siapakah cowok yang disukai Lila. Ternyata nama Irwan juga ada dalam daftar cowok yang disukai Lila dan disukai oleh teman cewek lainnya pula. Namun untuk result Lila, malah Irwan Tidak berjodoh dengannya! Wah, mangkel deh Irwan. Programnya harus di up-grade lagi nih, semestinya Lila dibuat yakin oleh Robo supaya pilihannya jatuh pada Irwan doang, pikirnya.

    Kusempilkan kalimat pada Irwan, “waaah, adik ini beberapa tahun lagi bisa jadi programmer handal euy! Masih es-em-pe aja udah bisa bikin program kayak githu… pintar sekali…Subhanalloh, kalau diasah dan makin banyak ilmu, kepandaian ini dapat diarahkan dan bermanfaat besar…”, ia sebenarnya tak hanya merasa kesal dengan program Robo, ia merasakan hati amat bersalah karena ulahnya itu adalah mengorek-ngorek rahasia orang lain.

    Begitulah secuil peristiwa Irwan sebenarnya adalah contoh banyaknya rekayasa lain yang lebih besar di sekitar kita saat ini, para pejabat dan penguasa memanfaatkan ‘ilmunya’ untuk membodohi rakyat kecil bahkan merampok harta rakyat secara komputerisasi pula.

    Ada seorang kakek yang malu sendiri gara-gara ramalan “palsunya”. Empat tahun lalu saat suamiku bertugas, pada hari libur akhir minggu, ia ikut serta travelling ke suatu suku pedalaman di Afrika-Selatan. Pertemuan diawali dengan tarian pembuka dari si kepala suku dan anak buahnya.

    Lalu sebagai simbol kedamaian, para tamu dan kepala suku meminum air bergantian dari satu wadah yang sama. Wadah airnya sangat kuno, terbuat dari batu berukir-ukir, dan air itu adalah minuman keras, sehingga suamiku yang satu-satunya muslim disana tidak meminumnya. Teman yang berbahasa lokal memberikan penjelasan bahwa suamiku meminta maaf karena tak boleh meminum air itu, it’s fine, kepala sukunya tetap ramah.

    Selanjutnya mereka semua memakan daging bakar, karena ragu dengan kehalalannya, suamiku juga tak ikut memakannya. Suamiku hanya asyik jeprat-jepret kamera saja, termasuk ikutan mencoba busana pedalaman itu yang terbuat dari kulit binatang. Pengalaman yang seru.

    Kemudian kepala suku menyuruh suamiku dan salah satu temannya untuk masuk ke tenda milik seorang kakek. Usia si kakek sudah jauh lebih tua daripada kepala suku, mungkin kakek ini adalah semacam penasehat yang paling dituakan di suku tersebut.

    Kemudian tangan kiri kakek itu memegang tangan suamiku, tangan yang kanan memegang kening suamiku, seraya komat-kamit, bla bla bla sambil memejamkan mata dan membakar sesuatu.

    Suamiku hanya senyum saja dan mulai berpikir, “hmmm…sepertinya sesi ramalan nih nkali yah…?” Ternyata betul, si kakek bilang dalam bahasa Lokal, “oooh, anak muda, kamu tak lama lagi, yaaah beberapa tahun lagi akan menikahi wanita yang cantik, bakal punya anak-anak yang lucu, kamu akan bahagia, nikmati saja dulu masa bujangan…”, karena temannya menerjemahkan ke bahasa Inggris, suamiku sontak malah ketawa, dan bilang ke temannya, “woooi, salah lah ramalannya… setidaknya itu ramalan yang telat lah, saya bukan bujangan, sudah ada istri, sudah ada anak, hahaha…”

    Sang teman yang juga menjelaskan kepada si kakek ikut tertawa, “kakek ini telat ramalannya, dia udah punya keluarga, kek…” Si kakek terkejut, tak menyangka disikapi lucu begitu, “masa’ sih..?!”, katanya belum percaya.

    Kakek itu memeriksa jemari tangan suamiku, “mana cincin kawinnya?”, ujarnya lagi. Oalah, ternyata kakek itu ‘mendeteksi’ cincin kawin, pantas saja ia mengira suamiku masih bujangan, lagi pula memang penampilannya masih sama dengan saat zaman anak kos-kuliahan.hehehe.

    “Saya tidak suka pakai cincin dan tidak terbiasa”, ujar suamiku, temannya mengangguk-angguk, sementara si kakek nampak malu, pertama kalinya dia punya tamu “ajaib” kayak begini, mungkin kira-kira begitu pikirnya.

    Hadis riwayat Barra’ bin Azib ra., ia berkata : Rasulullah SAW memerintahkan kami untuk melaksanakan tujuh perkara dan melarang kami dari tujuh perkara. Beliau memerintahkan kami menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, mendoakan orang bersin (mengucap yarhamukallah), melaksanakan sumpah dengan benar, menolong orang yang teraniaya, memenuhi undangan dan menyebarkan salam. Beliau melarang kami dari cincin atau bercincin emas, minum dengan wadah dari perak, hamparan sutera, pakaian buatan Qas (terbuat dari sutera) serta mengenakan pakaian sutera baik yang tebal dan tipis. (Shahih Muslim)

    Jadi, bagaimanakah dengan para Nona dan Fulan lainnya, masihkah sebegitu antusias mempercayai ramalan ? Bahkan sebuah film ‘hasil ramalan’ pun bisa begitu hot dibicarakan berita dunia, astaghfirrulloh…

    Prediksi atas cuaca saja masih banyak kesalahannya, termasuk minggu lalu ternyata Krakow diguyur salju dan angin kencang lagi, padahal ‘prediksinya’ adalah sunny-day. Namanya juga prediksi manusia, makhluq yang masih banyak keliru dan khilaf, janganlah menjadi acuan.

    Apalagi ‘prediksi’ kiamat 1 tahun lagi, hanya kebetulan tambah banyak ‘bukti yang membetulkan’ isi-isi ramalan tersebut, gempa bumi dan guncangan tanah ini sesungguhnya terjadi terus-menerus, sama dengan kondisi di atas langit, di bawah lautan terdalam, keadaan alam ini tidak statis, petir-petir membuat keseimbangan posisi-posisi di sekitarnya pula, Allah ta’ala adalah Sang Maha Ahli Memelihara atas segala yang telah diciptakanNYA.

    AyatNya mengingatkan kita, masih milyaran misteri IlmuNYA yang memang tak terjangkau oleh kajian ilmu manusia, “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).” (QS. al-An’am [6] : 59)

    Jalani saja hari-hari dengan optimis padaNYA, dengan tuntunan rasulNYA, “Barangsiapa yang mendatangi seorang peramal lalu mempercayai apa yang diramalkan, maka ia telah kufur terhadap wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR.Tirmidzi, Ahmad, dll)

    Allah ta’ala juga mengingatkan bahwa segalanya adalah “Kun Fayakun”, bahwa orang yang percaya pada ramalan berarti dia telah syirik, perkara ini adalah membahayakan diri kita. Dalam wasiat rasulNYA, ”Barangsiapa membatalkan maksud keperluannya karena ramalan mujur-sial maka dia telah syirik kepada Allah. Para sahabat bertanya, “Apakah penebusannya, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ucapkanlah: “Ya Allah, tiada kebaikan kecuali kebaikanMu, dan tiada kesialan kecuali yang Engkau timpakan dan tidak ada Tuhan kecuali Engkau.” (HR. Ahmad)

    Ramalan mujur-sial adalah syirik, (Beliau mengulanginya tiga kali) dan tiap orang pasti terlintas dalam hatinya perasaan demikian, tetapi Allah menghilangkan perasaan itu dengan bertawakal. (HR. Bukhari dan Muslim)

    Ya Allah, jadikanlah kami senantiasa bertaubat dan bertawakal hanya kepadaMU, jauhkanlah kami sekeluarga dari siksa api neraka, amiin Yaa Robbi.

    “Robbana aatina milladunka Rahmatan…Wa hayyi’ Lanaa min Amriina Rosyadaa”, semoga Allah SWT memberikan kesabaran dan samudera keikhlasan bagi saudara-saudari yang dirundung gempa bumi di Jepang, dll…

    (bidadari_Azzam,@Krakow, malam 14 maret 2011)

    ==============================
    kumpulan cerita motivasi islami – kisah sumber motivasi islami – cerpen penuh motivasi islami

  6. kumpulan cerita motivasi islami – kisah sumber motivasi islami – cerpen penuh motivasi islami
    ==============================

    Blame Culture
    Rabu, 23/03/2011 14:11 WIB | email | print

    Oleh Syaifoel Hardy

    Blame culture. Budaya menyalahkan orang lain, bukan hal baru bagi kita. Terjadi di mana-mana, hampir di setiap lini kehidupan kita. Bagi profesi, tentu saja kebiasaan ini tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Jika kita sudah ‘keenakan’ karenanya, dampaknya besar. Di antaranya, mengakibatkan keterpurukan reputasi pribadi juga organisasi. Artikel ini berusaha memaparkan contoh serta kiat mengatasi kebiasaan yang tidak sehat ini.

    ***

    Beberapa waktu lalu, saya menyelenggarakan pelatihan IELTS Preparatory Program bagi teman-teman yang membutuhkan. Saya katakan mereka yang membutuhkan, karena tidak semuanya memang butuh. Layaknya orang berdagang keliling, saya menjajakan barang-barang atau makanan yang ‘barangkali’ diperlukan oleh pelanggan.

    Semurah apapun barang dagangannya, misalnya : pisang goreng, tidak lantas membuat semua orang tertarik. Bahkan, bagi orang yang melarat sekalipun. Demikian pula, betapapun mewah, menarik dan mahal barangnya, pula bukan jaminan yang kaya, membelinya.

    Saya sangat menyadari, di tengah kehidupan kita yang kompleks, padat aktivitas, apalagi kita yang bekerja, tidak mudah meluangkan waktu mengikuti kegiatan-kegiatan ekstra seperti yang sedang berlangsung di apartemen saya. Oleh sebab itu, saya sangat mengagumi sekaligus menghargai mereka yang begitu bersemangat mengikuti kegiatan ini, dua kali sepekan, ba’da Maghrib.

    Beragam alasan rekan-rekan, mengapa harus melibatkan diri dalam kegiatan seperti ini. Ada yang pingin melanjutkan belajar. Ada yang demi perkembangan profesi. Ada pula yang berambisi memperbaiki kualitas Bahasa Inggrisnya. Kalau mau, sebenarnya setumpuk hikmah yang bisa dipaneni dari hasil kegiatan-kegiatan semacam ini.

    Sesudah memasuki pekan ke tiga, saya tidak melihat tanda-tanda bahwa nama-nama yang terdaftar dalam data yang masuk, bisa secara ajek mengikuti kegiatan. Saya cukup maklum. Jangankan untuk kegiatan ektra semacam ini, di mana harus mengeluarkan pikiran, tenaga bahkan biaya (setidaknya transport dan foto kopi). Dibayarpun, terkadang kita melihat orang-orang masih ada saja yang ‘ogah’ untuk datang. Maka, sudah selayaknya, apabila kita menempatkan persoalan ini sebagai sesuatu yang ‘wajar’. Tidak ada yang perlu digelisahkan.

    Yang namanya manusia, seperti anda, saya, juga tidak lepas dari hal-hal, apakah itu positif maupun negatif. Teori atau omongan saja terkadang tidak cukup. Oleh sebab itu, terkadang saya merasakan ‘sedih’ apabila ada rekan-rekan yang tidak datang atau, agar tendensinya positif, berhalangan hadir dalam pertemuan kami.

    Sebagai instruktur, bisa saja dengan seenaknya dengan bertolak pada pada otoritas saya, mengatakan: “Toh bukan saya yang butuh? Ngapain harus saya urusin? Bukankah mereka yang perlu?” Simply, saya bisa salahkan mereka, para peserta yang malas-malasan datang!

    Benarkah sikap yang demikian itu?

    ***

    Manusia dilengkapi dengan dua kontradiktif karakter: baik dan buruk, positif dan negatif. Mana yang bakal lebih dominan, tergantung dari sudut pandang mana kita mengasahnya. Tidak bedanya dengan kegemaran atau hobi. Sepanjang suatu kegiatan itu memberikan kesenangan dan kepuasan, maka tidak ada istilah ‘lelah’ di dalamnya. Orang tidak bakal merasa capek sama sekali, manakala mereka menjalani kegiatan itu, meski berjam-jam, jika disukai. Sebaliknya, lima menit pun terasa seperti lima jam, jika kita membencinya.

    Pemikiran seperti inilah yang kemudian muncul berkali-kali dalam pikiran saya. Jangan-jangan mereka tidak datang karena ‘kesalahan’ sikap saya. Bisa saja, karena pembicaraan saya yang suka ceplas-ceplos. Atau mereka tersinggung. Atau saya yang kurang ramah menjamu. Metode penyampaian materi yang kurang pas, variasi belajar-mengajar yang monoton, tidak ada unsur belajar siswa aktif, kurang memberikan perubahan yang bermakna dan lain-lain alasan yang saya coba analisa.

    Saya coba pula menggali dan menggali, apakah memang ini dari saya sebagai pelaku utama yang menyebabkan ketidak-hadiran mereka. Saya tetap berkeyakinan, bahwa peserta yang semuanya bekerja shift, bukan lantas saya jadikan ‘kambing hitamnya’. Betapapun perubahan jadwal dinas yang ketat, sepanjang kita berminat dan serius, segala-sesuatunya bisa direncanakan.

    Makanya, saya melihat sebenarnya bukan kesalahan peserta apabila tidak datang. Justru saya, sebagai instruktur lah yang nampaknya kurang pandai memotivasi kelancaran kegiatan ini.

    Saya kemudian mencoba menghubungi salah satu peserta yang berhalangan datang dua kali, menanyakan apa sebenarnya kesalahan saya yang membuat dia tidak hadir. Jawabannya, membuat saya tidak percaya. Katanya, bukan saya penyebabnya. Saya tetap sedih mendengarnya.

    ***

    Dalam banyak peristiwa kehidupan, kita sering dihadapkan kepada kejadian yang membuat kita berada di tengah-tengah dan tidak mampu berbuat apa-apa. Seolah-olah harus menjadi hakim yang siap mengadili: bagaimana harus mengambil keputusan ini?

    Kesalahan-kesalahan yang ada di rumah, di sekolah, di jalan ketika mengendarai mobil, di pasar saat tawar-menawar barang, di kantor telepon waktu antri membayar rekening, di bank ketika mengisi formulir, di bioskop saat antri beli karcis, di bandara manakala menuju pesawat yang akan terbang, dan lain-lain. Segala bentuk kejanggalan yang bertentangan dengan harapan kita, akan berusaha mencari: siapa yang salah.

    Pertanyaan yang timbul kemudian: “Siapa lagi kalau bukan…..?”; “Tuh…lihat!”; “Dasar….Indian….!”; “Asal tahu saja kelakuan mereka…..!”; “Kayak nggak hapal dengan orang Filipina saja!”; atau…”Itulah watak orang kita…!”; dan lain-lain.

    Ungkapan-ungkapan di atas tendensinya memojokkan seseorang dan memiliki kecenderungan kita untuk menyalahkan pihak atau orang lain. Istilah lainnya ‘berburuk sangka’. Padahal belum tentu benar penilaian kita.

    ***

    Suatu hari, saya sempat berdebat agak ‘panas’ dengan salah seorang rekan kerja saat membicarakan suatu tugas yang saya kurang setuju dilibatkannya dalam beberapa aspek di kantor tempat saya kerja. Katanya, ada resisten dari saya. Sesudah berdebat yang tidak ada akhirnya, kami pisah. Rekan saya satunya, menganggap bahwa kami sama-sama bertemperamen ‘keras’, sehingga tidak membuahkan hasil.

    Esok harinya, seperti halnya sebagian besar warga kita yang ‘sulit’ melupakan ‘konflik’, saya masih merasakan ada ‘jarak’ di antara kami. Hari-hari yang biasanya diisi dengan: assalamu’alaikum atau good morning, jadi hambar.

    Ketika dia berlalu di depan kantor saya, di mana saat itu saya sedang berbicara dengan seorang klien, tidak terdengar kata ‘sapa’ darinya. Apalagi yang namanya senyuman. Ada rasa kurang nyaman dalam batin saya.

    “Why is this happened?” Perasaan semacam ini sudah tentu mengganggu. Amat kikuk saya dibuatnya. “Apa karena sikap penolakan saya kemarin ya?” Begitu saya pikir. Hampir satu jam ke depan sesudah saya melihatnya berlalu di depan kantor saya, batin ini jadi tidak tenteram.

    Apa yang saya lakukan kemudian adalah berpikir: “Jangan-jangan saya yang terlalu berperasaan?” “Ah…tidak juga!” Kembali saya berusaha membela diri. Saya tetap paksakan untuk mampu mengidentifikasi keganjilan-keganjilan ‘musuh’ saya di atas, agar analisa saya terhadapnya benar, bahwa dia memang ‘membenci’ saya.

    Kembali lagi, naluri saya berkata: “Bagaimana seandainya dia tidak mengalami perasaan seperti yang saya duga?”

    Ketika saya bertemu dia bersama seorang rekan kerja lainnya di koridor kantor, sekitar 2 jam kemudian, dengan bertekad bulat, kayak film-film perang melawan penjajah, saya pegang lengannya. “What happened…? I did not see you smiling since morning…?” Sambi saya coba menutupi mimik yang sebenarnya saya paksakan untuk bisa tersenyum senormal mungkin.

    “My neck is pain…”Jawabnya ringan, agak lesu.

    “Are you sure…..?” Tanya saya lagi, pura-pura kaget dengan keluhannya.

    “Yes!!!” jawabnya membebaskan keraguan saya.

    Oooppsss…..

    Sesudah peristiwa pagi itu, baru saya merasakan lega sekali. Seperti orang sesak nafas, kemudian mendapatkan kembali oksigen yang telah hilang.

    Ternyata saya yang salah….!!!

    ***

    Budaya menyalahkan orang lain, atau Blame Culture, ada di mana-mana. Penyakit ‘hati’ dan ‘pikiran’ yang tidak bedanya dengan Virus Flu ini, amat mengganggu. Dampaknya besar, baik terhadap diri sendiri, keluarga, teman, rekan kerja, orang lain, masyarakat hingga organisasi.

    Kalau kita mau sedikit saja meluangkan waktu dengan berpikir jernih, setiap masalah atau konflik, relatif mudah diselesaikan. Dengan menghapuskan ‘budaya menyalahkan orang lain’, kita akan mendapatkan kepuasan bahkan kebahagiaan.

    Dari contoh beberapa pengalaman di atas, bisa simpulkan bahwa budaya menyalahkan orang lain ini dapat tanggulangi dengan: pertama, jangan menjeneralisasi pelaku kejadian karena individu hakekatnya adalah unik. Kedua, setiap kejadian adalah proses yang bisa jadi kita berperan aktif di dalamnya sehingga siapa tahu justru kita pelaku utamanya. Ketiga, mengenal waktu dan tempat kejadian. Dan, yang terakhir: tanamkan kepercayaan diri, bahwa anda adalah aktor utama, yang sanggup menyelesaikan persoalan. Bukannya detektif yang siap mengincar, siapa yang salah!

    Doha, 20 March 2011 (Revised)

    Shardy2@hotmail.com

    ==============================
    kumpulan cerita motivasi islami – kisah sumber motivasi islami – cerpen penuh motivasi islami

  7. kumpulan cerita motivasi islami – kisah sumber motivasi islami – cerpen penuh motivasi islami
    ==============================

    Allahumma Paksain!
    Rabu, 23/03/2011 08:23 WIB | email | print

    Oleh Syaripudin Zuhri

    Terkadang si Amat, sebut saja begitu, mau mengerjakan apa saja malesnya bukan main, mau olah raga males, takut keringatan nanti bau! Mau kemping males, nanti kesasar di jalan. Mau belajar kursus apa gitu, juga males. Habis waktunya maelm sih, sudah lelah duluan habis kerja seharian.

    Mau ngaji juga males, baru berapa ayat sudah jatuh terlelap di bangku! Mau nulis di internet, sekedar berbagi kepada kawan-kawan di dunia maya, juga malesI “Ngapain nulis, di blog, sudah banyak yang nulis, bahkan semua yang ngeblog, biasanya yang nulis, lalu siapa yang baca?” Bgeitu pikir si Amat, jadi dianya tambah males nulis.

    Begitu juga dengan si Amit, mahasiswa yang lagi males-malesnya, padahal baru saja tingkat pertama, eh penyakit malesnya kambuh! Penyakit males sejak SMA dulu, maunya hura-hura terus! Mau kerja apa saja males, apa lagi belajar atau membaca buku, susahnya minta ampun! Si Amat baru giat bila buka computer…. Untuk main game! Coba waktu itu di sudah SMA, sudah menjelang ujian SMA,yang dibaca di internet bukan materi yang berhubungan dengan pelajaran, yang di baca email dan chatingan dengan teman-temannya di dunia maya.

    Nah penyakit itu masih di bawa samapai dia kuliah, padahal kuliah itu bukan lagi seperti anak-anak ketika di SMP atau di SMA yang masih “disuapin” terus oleh gurunya, Mahasiswa itu harus mandiri dan belajar sendiri mencari materi-materi yang berhubungan dengan mata kuliah yang sedang diambilnya, bukan malahan main game atau bersantai-santai dan baru belajar ketika masuk semesteran mau ujian, maka lahirlah apa yang diesbut SKS ( Sistem Kebut Semalam!) Kalau begitu caranya, ya apa bedanya ketika si Amit di SMA dulu, tak ada perubahan! Si Amit tetap males-malesan belajarnya, males-malesan kuliahnya.

    Lain lagi dengan Dewi, kita sebut saja begitu, Mahasiswi tingkat dua pada sebuah fakultas yang beken di Ibu Kota, juga punya penyakit yang sama, seperti si Amat dan si Amit, penyakit males. Iya males ngapain-nggapain, Dewi males baca diktat, males ke perpustakaan , males kuliah, sebel ngeliatin dosennya yang itu-itu juga, malas membantu orang tua, apa lagi membantu ibu di rumah memasak,” wah mau muntah mencium bumbu-bumbunya,” katanya bersemangat. Diskusi dengan teman-teman di kampus, dia juga tak mau, “males” katanya!

    Dan mungkin banyak sekali orang yang dhinggapi rasa males tersebut, kebanyakan manusia memang inginnya,ya berleha-leha, ingin santai, ingin rilex dan inginya “tidur-tiduran” saja atau ingin duduk di kursi malas, sambil minum kopi tubruk membaca koran di beranda rumah. Wah pokonya yang enek-enak saja, sementara hidup itu tidak seenak yang dibayangkan.

    Banyak sekali masalah yang timbul dalam hidup dan kehidupan ini yang mesti diselsaikan. Dan itu bukan hanya menimpa atau mengena orang-orang yang memang berkerja sebagai pimpinan, baik pimpinan tingkat paling rendah dipemerintahan, seperti kepela Desa atau Lurah samapai ke tingkat paling tinggi di pemerintahan yaitu seorang Presiden!

    Dan persolan juga buka hnay menimpa orang-orang miskin yang untuk mencari”sesuap dua suap nasi” Saja susahnya bukan main. Begitu juga orang-orang yang sedang mencari pekerjaan alias pengangguran, sudah mencoba mencari ke sana ke mari, ngelemar kerjaan ke berbagai perusahaan, mengirim lamaran pekerjaan berbagai perusahaan, bukan hanaya satu dua lamaran pekerjaan, bukan hanya sepuluh dua puluh lamaran pekerjaan, tapi ratusan bahakan mungkin ribuan lembar surat lamaran pekerjaan yang sudah dikirimkan, satupun tak ada jawaban! Jika adapun, hanya pemberitahuan” MAAF, TAK ADA LOWONGAN PEKERJAAN “

    Iya, mencari pekerjaan bagitu sulitnya di tengah-tengah krisis ekonomi yang berkepanjangan sekarang ini. Dan seandainyapun diterima pekerjaan, itu hanya menjadi pegawai kontrakan yang hanya enam bulan saja, itupun masih harus “ memberi sesuatu” pada pihak ke tiga sebagai perantara, sebuah yayasan yang menjadi perantara pekerja dengan perusahaan!

    Aneh, ngelamar pekerjaanpun harus pakai perantara, padahal pihak pencari kerja bisa dating sendiri ke perusahaan yang dituju, namun entah peraturan dari mana, sekarang ini sebuah perusahaan baru mau menerima pekerja via sebuah yayasan, ada apa ini? Sesuatu yang semula mudah, sekarang ditambah lagi dengan jalur birokrasi melalui sebuah yayasan penyalur tenaga kerja! Sehingga sang pencari kerjapun akhirnya di buat males dengan system yang ada!

    Ya pengangguran menjadi tambah banyak dengan system sekarang ini dan pekerjapun seperti sapi perah yang tak punya hak bersuara! Mereka hanya bekerja, bekerja dan bekerja, padahal nasib mereka seperti berada di ujung tanduk, karena kapanpun sang majikan, dalam hal ini penguasa, memecatnya, sang pekerja hanya bisa gigit jari, tak bis menuntut ke mana-mana. Dan kaluapun di tuntut sang majikannya, bisa jadi pihak pengusaha yang akan menang di”meja hijau”.

    Bagitu juga yang sudah bekerja dan banyak orang yang sudah bekerja menjadi tambah males, padahal sebelum bekerja atau ketika sedang mencari pekerjaan begitu bersemangat dan mengapa setelah bekerja, apa lagi setelah bekerja di tempat yang sama dalam hitungan tahunan, penyakit males menjadi bertambah-tambah, makanya adalah istilah” sindrom Monday” Situasi yang membuat males, ketemu hari Senin, karena Senin adalah hari pertama bekerja atau hari pertama kuliah atau sekolah.

    Lalu bagaimana mengatasinya? Bagaimana mencari solusi dari penyakit males tersebut? Saya kemukan cara-cara berikut ini, semoga bermanfaat:

    1. Allahumma Paksain

    Ini kedengerannya seperti main-main, lucu! Kok berdoa seperti? Ya Tuhan … paksakan! Ya itulah doa yang tak ada dalam Al Qur’an atau hadist, tapi bisa mujarab! Kok bisa? Mari kita coba, ketika anda bangun tidur, apa lagi lagi dingin-dinginnya musim dingin di Rusia, wah bisa-bisa alasan untuk tidak sholat subuh bertambah-tambah. Dalam silumut tebal dan dengan penghangat ruangan, karena di luar suhu mencapai minus 25⁰ C!

    Bisa anda bayangkan betapa mengigilnya bila di luar dan di dalam kamar selimut tebal menghangatkan badan, adazan subuh tak terdengar, memang tak ada adzan jauh dari Masjid, maka bertmabah alasan untuk tidak bangun sholat subuh!
    Lalu bagaimana caranya? Ya itu tadi, “ Allahumma paksain!” Singkirkan selimut, jika perlu lompat dari tempat tidur, bangun ! Paksakana untuk bangun dan minta pertolongan pada Allah agar dibangunkan! Mengapa untuk sholat subuh bangun saja susah?

    Karena sholat subuh disaksikan malaikat dan ada pengiring sholat subuh, yaitu sholat fajar dua rokaat, atau sholat qobliyah subuh, sholat yang satu ini tak pernah ditinggalkan rosulullah, karena menurut beliau ganjarannya melebihi luasnya langit dan bumi, karena sangat besarnya pahala yang diberikan, maka tantangnyapun berat! Yitu tadi, susah sekali bangunnya, perlu pemaksaan diri untuk bangun!

    2. Bersyukur banyak pekerjaan

    “Apa-apain sih, banyak pekerjaan kok di suruh bersyukur? Mungkin ada yang berpendapat itu. “Orang sudah lelah dengan berbagai macam pekerjaan, eh malah di suruh bersyukur, ada-ada saja!” Mungkin ada juga yang komentar demikian.

    “Males ah… orang lagi pusing mikirin banyak kerjaan, eh pakai disuruh bersyukur lagi, macem-macem saja!” Mungkin B protes begitu.

    “Au ah. Capek-capek nih kerjaan numpuk!” si C ngamuk-ngamuk, karena di mejanya kerjaan bertumpuk-tumpuk!

    “Sana nyingkir jauhan, gue lagi sibuk nih, pekerjaan gue banyak banget!” Kata si D ketika temanya mendekati mau diajak jalan-jalan.

    Wah pakoknya anda bisa menemukan kalimat itu sebanyak-banyaknya, baik yang bekerja di kantor-kantor pemerintah, BUMN atau BUMS, juga yang bekerja disektor-sektor lainnya. Banyak sekali yang mungkin saja putus asa karena diserbu oleh pekerjaan yang sedemikian banyaknya. Lalu bagaimana menghapainya, solusinya? Ya bersyukur!

    Kenapa haru bersyukur dengan pekerjaan yang banyak atau bertumpuk-tumpuk? Alasanya:

    a. Alhamdulillah, anda masih punya kerjaan, coba lihat di luar sana, berapa banyak orang yang menganggur, bukan ribuan orang tapi jutaan orang anggur di Indonesia! Bayangkan… betapa banyak orang yang menganggur dan anda sekarang sedang bekerja, apa bukan kebahagiaan namanya? Apa bukan nikmat Tuhan namanya? Maka sukurilah ketika anda banyak pekerjaan.

    b. Alhamdulillah, dengan banyak pekerjaan pahala anda akan semakin bertambah, karena pekerjaan adalah ibadah. Apa lagi kalau yang bekerja adalah bapak-bapak. Sebagai kepala keluarga seorang bapak adalah wajib mencari nafka untuk anak istrinya, seorang bapak wajib bekerja untuk keluarganya. Bukankah pengertian hukum wajib adalah fikih berarti sesuatu yang apa bila dikerjakan mendapat pahala dan kalau ditinggalkan malah berdosa! Jadi otomatis bila anda bekerja, apa lagi pekerjaannya banyak ya pahalanya juga bertumpuk-tumpuk!

    c. Alhamdulillah,anda berkerja, karena bekerja juga adalah ibadah, bekerja adalah rasa sukur yang nampak dalam kehidupan sehari-hari. Allah SWT dan para malaikatnya menjadi saksi ketika anda bekerja karena Allah, lillahi ta’ala! Bekerja adalah ibadah, dengan motovasi tersebut semoga anda semakin giat bekerja!

    3. Bahagialah

    Apapun yang anda kerjakan bahagialah, sukurilah. Karena dengan bekerja selaian mendapat hasil berupa uang, kerjaan juga menghasil sesuatu diluar materi! Orang yang mempunyai pekerjaan akan bahagia, dia sudah bisa mengaktualisasikan dirinya dihadapan manusia lain. Orang bekerja akan bahagia, energy, akal, pikiran ,perasaannya ikut bersatu padu membentuk sebuah keharmonisan karya Illahi yang ada pada dirinya.

    Orang yang berkerja yakin akan kebahagiaan hidup yang telah dijanjikan olehNya, apa lagi bekerja pada tempat yang halal. Coba anda bayangkan selain anda mendapat materi, anda juga mendapat kebahagiaan dan mendapat pahala dariNya? Coba apa yang kurang?

    Nah berhentilah mengeluh banyak pekerjaan, berhentilah mengeluh mendapat pekerjaan yang menumpuk, berhentilah mengeluh “disuguhi” atasan pekerjaan semeja! Sambutlah dengan senyuman, katakanlah“ Alhamdulillah rezeki datang lagi!” Sambutlah dengan kebahagiaan, katakanlah”Alhamdulillah pahala datang lagi!” Ayo senyum… tuh lihat pekerjaan datang lagi, Alhamdulillah!

    ==============================
    kumpulan cerita motivasi islami – kisah sumber motivasi islami – cerpen penuh motivasi islami

  8. situs mantan kyai NU: http://www.mantankyainu.blogspot.com

    situs yg menjelaskan haramnya musik, termasuk musik religi juga haram: http://www.jauhilahmusik.wordpress.com

    ketahuilah bahwa pacaran itu haram, jadi jangan pacaran: http://www.pacaranituharam.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s