kumpulan cerita religi islami – kisah sumber religi islami – cerpen penuh religi islami

kumpulan cerita religi islami – kisah sumber religi islami – cerpen penuh religi islami
==============================

Meraih Kekayaan Hakiki

Selasa, 22/03/2011 13:49 WIB | email | print

Oleh Muhammad Rizqon

Kaya dan miskin adalah fenomena sosial yang selalu menjadi topik perbincangan dan perhatian setiap orang. Kaya atau miskin adalah laksana status yang wajib melekat pada diri setiap orang meskipun secara formal tidak wajib dicantumkan dalam bentuk kartu identitas apapun. Sesuatu yang lazim, orang menilai dari apa yang dimiliki secara materi atau kasat mata. Dan biasanya penghargaan orang dipengaruhi oleh status kekayaan yang dimilikinya itu.

Menilai dan membanding-bandingkan adalah fitrah manusia. Dengan cara itulah manusia belajar menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Hal serupa dialami juga oleh anak saya bernama Robbani (7 tahun). Suatu ketika dia bertanya kepada saya,

“Abi, kita ini kaya atau miskin?”

“Emangnya kenapa? Kok tiba-tiba tanya begitu?”

“Iya, Bang Farhan (kakak sepupu) itu kan punya mobil, punya komputer, punya macem-macem, berarti dia orang kaya ya, Bi? ”

“Kaya itu kalau kita bermanfaat bagi orang lain, bisa memberi kepada orang lain. Misalnya bersedekah, menolong orang, dan berbuat baik kepada orang. Kebaikan yang kita lakukan itu adalah tanda bahwa kita ini kaya. Punya rumah bagus boleh, tapi lebih bagus lagi jika bermanfaat. Punya mobil, mobilnya dipakai buat menambah kebaikan dan mempermudah silaturahim. Punya komputer, dipakai buat memudahkan urusan bukan sekedar buat main game. Jadi kaya itu kalau kita banyak memberi manfaat dan kebaikan.”

Diskusi berlanjut dengan membanding-bandingkan apa yang dia miliki. Meski masih kecil, nampaknya Robbani bisa diberi pengertian bahwa kaya itu bukanlah sekedar mengacu dan berhenti kepada hal-hal yang bersifat fisik. Dibalik yang kelihatan, harus ada nilai manfaat yang tidak kelihatan. Terlalu naif rasanya jika kita hanya melihat dari satu sisi saja. Sebagai contoh, Negara kita adalah negara yang secara fisik adalah kaya raya. Potensi sumber daya alamnya sangat luar biasa. Sumber-sumber pajak yang dikumpulkan juga sangat luar biasa. Namun apalah artinya status tersebut jika pada kenyataannya masih banyak rakyat yang hidup menderita dan tidak menikmati kekayaan negara tersebut. Sungguh ironis, memiliki tetapi tidak menikmati, ada tetapi tidak bermanfaat.

Pemahaman demikian rasanya perlu ditanamkan karena banyak orang terjebak dengan dichotomi kaya dan miskin, lebih dari dichotomi manfaat (maslahat) dan mubazir (mafsadat) atau dichotomi kebaikan dan kemaksiatan. Sangat mungkin bahwa sumber masalah bukanlah kaya atau miskin, tetapi lebih pada ada atau tidaknya dan sedikit atau banyaknya orang yang mau berbuat manfaat dan kebaikan. Kekayaan di tangan orang yang culas, tidaklah berarti. Ia akan mencapai manfaat yang optimal, jika dikembalikan kepada orang-orang yang baik dan berilmu.

Sebagai manusia biasa, adakalanya saya juga menilai dan membandingkan kekayaan diri dengan dengan orang lain. Muatannya adalah muhasabah agar bisa menjadi lebih baik. Ukurannya bukan sekedar terhadap apa yang dimiliki seperti rumah, mobil, tanah, emas, dan lain-lain melainkan kebaikan-kebaikan apa yang telah dihasilkan.

Alangkah bersyukurnya jika termasuk muslim yang rajin sholat fajar, karena disebutkan dalam sebuah hadits bahwa dua rakaat sholat fajar adalah lebih baik dari dunia dan seisinya. Alangkah bersyukurnya jika termasuk muslim yang rajin tilawah Quran, karena berarti telah menginvestasikan sepuluh kebaikan dari setiap huruf yang dibaca. Alangkah bersyukurnya jika rajin sholat berjamaah di masjid, bersedekah setiap hari, membantu orang dalam kesulitan setiap hari, banyak berdzikir, dan lain sebagainya.

Semua itu Insya Allah menjadi jalan menuju kekayaan, meski kita sendiri tidak tahu berapa nilai kekayaan atau kapitalisasi dari setiap kebaikan tersebut. Allah yang Maha Tahu dan memiliki hikmah atas disembunyikannya nilai kekayaan itu.

==

Suatu ketika saya membaca sebuah blog. Disebutkan di situ bahwa blog itu bernilai sekian rupiah. Iseng-iseng karena penasaran saya masuk pada halaman penilaian blog dan menuliskan nama blog pribadi saya. Berapa nilai blog pribadi saya? Meski mungkin dibanding rekan yang lain nilainya masih dibawah, namun saya cukup terkejut juga. Nilanya pada saat itu adalah USD 159,04 Juta dollar. Atau dengan kurs 1 USD=Rp 9.000 setara dengan Rp 1.431, 36 Milyar. Artinya jika blog itu ada yang beli, saya akan mendapatkan uang sejumlah itu. Jadi bermimpi, siapa yang mau beli ya?

Saya baru menyadari bahwa tulisan seseorang di blog bisa dikapitalisasi berdasarkan keunikan dari blog yang bersangkutan. Terlepas apakah penilaian dari tim penilai itu akurat atau tidak, saya mengambil sebuah pelajaran bahwa karya itu memiliki nilai berdasarkan jumlah penerima manfaatnya.

Nah, kebaikan yang kita produksi adalah karya kehidupan. Hikmah dari simulasi penilaian itu adalah teruslah berbuat kebaikan tanpa memikirkan bahwa Anda bisa kaya atau tidak dari kebaikan tersebut. Secara nominal saya tidak bisa menjamin Anda akan mendapatkan kekayaan berapa, tapi secara instrinsik, Insya Allah Anda akan mendapatkan kekayaan yang sungguh melimpah. Seperti saya, dari kebaikan menulis saja, saya kini mendapatkan kekayaan instrinsik 1,4 trilyun rupiah menurut penilain manusia. Padahal kebaikan yang bisa diproduksi oleh seorang beriman tidaklah sekedar menulis. Banyak hal dan sangat beragam.

Namun setidaknya, ini menjadi pemacu diri sendiri dan rekan-rekan untuk terus menulis hal-hal yang bermanfaat bagi kehidupan. Tanpa berpikir apakah nanti bisa dibukukan, diterbitkan, atau menghasilkan uang.

Selamat bekerja dan berbuat kebaikan. Wallahua’lam.

muhammadrizqon.multiply.com

==============================
kumpulan cerita religi islami – kisah sumber religi islami – cerpen penuh religi islami

About these ads

About sesungguhnya pacaran dan musik itu haram hukumnya ( www.jauhilahmusik.wordpress.com , www.pacaranituharam.wordpress.com )

pops_intansay@yahoo.co.id
This entry was posted in cerita eramuslim.com. Bookmark the permalink.

10 Responses to kumpulan cerita religi islami – kisah sumber religi islami – cerpen penuh religi islami

  1. kumpulan cerita religi islami – kisah sumber religi islami – cerpen penuh religi islami
    ==============================

    Potensi Diri Kita Jauh Lebih Besar
    Selasa, 22/03/2011 05:06 WIB | email | print

    Oleh Evi Andriani

    Terlalu banyak orang yang mengeluh ‘aku tidak bisa’ padahal belum juga ia mencobanya. Banyak alasan yang mengatakan bahwa semuanya di mulai dengan sebuah bakat, padahal bakat itu hanya 10 % saja. Sisanya adalah bagaimana usaha kita membangkitkan potensi yang ada dalam diri kita.

    Ada juga yang mengatakan, “Ilmuku sedikit jadi aku tak mampu melakukannya.”

    Padahal dengan kemauan dan kesungguhan yang bulat di barengi dengan niat yang baik dan jernih untuk meraih ilmu maka semuanya akan menjadi bisa.

    Kebanyakan orang sukses itu berawal dari sesuatu yang sulit, berjuang terus bergerak mulai dari nol sampai ia mengukir prestasi gemilang. Bahkan sesuatu yang tidak pernah ia sangkakan akan terjadi padanya menjadi sebuah kenyataan yang membahagiakan.

    Hal ini juga yang terjadi pada diriku sendiri. Aku tidak suka dengan pelajaran Fisika tapi kusuka dengan sesuatu yang berhubungan dengan Psikologi, Biologi, penelitian-penelitian, Kimia, Matematika dan Kedokteran.

    Tapi saat itu aku gagal memasuki dunia kedokteran karena orangtuaku tidak punya biaya yang cukup banyak untuk memasukkan aku ke universitas kedokteran. Bahkan hingga sekarang. Semua olok-olokan masih di terima oleh orangtuaku dan diriku sendiri dari orang lain. Apakah aku bersedih sahabatku? Ya, aku bersedih. Tapi kesedihanku itulah yang aku jadikan semangat untuk terus mempelajari ilmu kedokteran. Bahkan hingga sekarang aku selalu menyisakan uangku untuk membeli buku-buku kedokteran ─yang begitu mahal harganya─ tapi demi ilmu, aku harus sanggup.

    Aku yakin suatu saat ilmuku akan berguna. Alhamdulillah, saat ini sedang berusaha membuat buku yang berhubungan dengan kesehatan atau ilmu kedokteran. Sulit kurasakan mencari data dan fakta, tapi dengan kerja keras dan do’a maka kuyakin semua akan menjadi mudah.

    Di luar dugaanku, aku memilih bidang yang sama sekali aku kurang sukai yaitu Teknik Elektro─lebih dominan ke pelajaran Fisika. Saat itu, aku tertantang mengambil Teknik Elektro karena aku yakin bisa menaklukannya, walaupun perlu usaha keras untuk mempelajarinya. Kuliahku di bidang matematika pun akhirnya kulepaskan (padahal universitasnya negeri juga).

    Alhamdulillah, skripsiku dulu bisa berada pada bidang penelitian elektro kedokteran. Aku senang banget. Dan nilai yang kuperoleh juga cukup membanggakan dan tidak memalukan. Sungguh Allah itu selalu baik kan sahabat. Pasti ada hikmah di balik sesuatu yang kita jalani.

    Aku juga kurang suka Sastra Indonesia ─karena trauma sejak SMP karya puisiku dibilang guruku tidak bagus─ membuatku mundur dan sulit untuk menyukai apalagi berimajinasi. Akan tetapi, sejak Allah memberikan nikmat sakit padaku ─penyakit kelainan darah─ aku menjadi bangkit untuk menulis. Mulai suka membaca buku-buku sastra, mulai menulis puisi dan apa saja yang aku sukai. Saat ini aku berusaha untuk meningkatkan kemampuan menulisku.

    Alhamdulillah, penyakitku pun berangsur semakin sembuh. Aku berterimakasih pada semua sahabatku di dunia maya Facebook─selalu memberi motivasi dan dukungan bagiku untuk mengikis dan menghilangkan sisi negatif tersebut menjadi sisi positif.

    Aku akan berkomitmen pada diriku akan terus menuntut ilmu, tidak menyerah dalam menulis ─walaupun kegagalan sering menghampiriku─ aku tetap bergerak maju, tidak mempersempit pikiran dengan berbagai masalah yang menyebab hati gundah gulana, sedih, dan segala hal yang menghancurkan impianku.

    Sahabatku, pikirkan selalu bakat apa yang belum kita maksimalkan. Jangan pernah takut mencoba, jangan pernah takut gagal, jangan takut pada sakit dan jangan pernah menolak sebuah peluang yang ada karena merasa tidak yakin membawakannya. Bisa jadi inilah peluang terbaik yang akan membuat diri kita menjadi besar dan luar biasa.

    Aku selalu ingat bahwa Allah selalu ada dalam prasangka hamba-Nya. Oleh sebab itu yakinlah dan percayalah selalu dengan potensi yang kita miliki. Semakin baik dan jernih niat kita, insya Allah semakin besar barakah yang diberikan Allah kepada kita. Bersungguh-sungguhlah dengan niat untuk impian kita di masa depan.

    Allah akan menyempurnakan apa yang kita niatkan, sekalipun kita tidak bisa melaksanakannya.

    Berbahagialah dengan niat kita, sebab Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. bersabda, innamal a’malu binniyyati. “Sesungguhnya amal perbuatan itu (dinilai) hanya berdasarkan niatnya ─di dalam riwayat lain: berdasarkan niat-niatnya─ dan sesungguhnya setiap orang hanya memperoleh apa yang ia niatkan; barangsiapa yang hijrahnya (diniatkan) kepada Allah dan Rasul-Nya maka (nilai) hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa hijrahnya (diniatkan) kepada dunia yang ingin diraihnya atau perempuan yang ingin dinikahinya maka (nilai) hijrahnya adalah kepada apa yang menjadi tujuan hijrahnya itu.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Turmudzi, dan An-Nasa’i, shahih)

    Sahabatku, masih terasa sulitkah menemukan dan menggali potensi yang ada pada diri kita? Jika kita masih mengalami kesulitan maka kita harus kembali melihat niat kita ─jangan sampai kita menyangka memiliki niat, padahal hanya angan-angan yang tidak jelas, yang kemudian kita jelaskan dengan akal─ akhirnya menjadikan kita terkelabui (ghurur).

    Tapi jika niat kita telah baik akan tetapi masih sulit dalam eksplorasi potensi diri kita maka perhatikan diri kita ─bisa jadi semua tertutupi oleh perbuatan maksiat kita, dosa-dosa kita atau terselimuti syahwat yang menggelora─ semua masih bisa di atasi dengan taubat. Kembali bertakwa menata iman di hati sehingga Allah akan memudahkan segala aktivitas kita dan Dia mengajari kita banyak ilmu, memberi kita rezeki yang berkah dan membukakan semua potensi yang terpendam di dalam diri kita. Jadilah kita menjadi mutiara yang indah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    “Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lainnya”

    “Sebaik-baiknya kalian adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalnya”

    “Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling baik akhlaknya”

    “Sebaik-baiknya kamu adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya kepada orang lain”

    Sahabatku yang kusayangi karena Allah, semoga sekelumit kisah saya ini menjadikan diri kita menjadi semangat kembali mengukir prestasi. Maafkan Evi bila selama ini memiliki salah kata-kata dalam ucapan atau tulisan yang menyinggung perasaan sahabatku semua. Karena Evi bukanlah insan ang sempurna, sesungguhnya kesempurnaan hanya miliki Allah semata.

    Marilah kita sama-sama memperbanyak kematian sahabatku karena dengan mengingat kematian maka kita akan terus mempersiapkan diri untuk menata hari-hari kita dengan kebaikan, prestasi dan amalan shalih yang terpuji. Mohon selipkan selalu namaku di do’amu ya sahabatku, aku pun selalu mendo’akanmu.

    Haqaa-iqul yaumi ahlaamul amsi
    wa ahlaamul yaumi haqaa-iqul ghadi
    kenyataan hari ini adalah mimpi kemarin
    dan mimpi hari ini adalah kenyataan esok hari
    (Hasan Al Banna)

    Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
    ~Evi A.~

    http://eviandrianimosy.blogspot.com/

    ==============================
    kumpulan cerita religi islami – kisah sumber religi islami – cerpen penuh religi islami

  2. kumpulan cerita religi islami – kisah sumber religi islami – cerpen penuh religi islami
    ==============================

    Kisah Dua Karpet
    Senin, 21/03/2011 14:23 WIB | email | print

    Oleh Hanif Sang Pemberontak Suci

    Di dunia ini ada dua karpet yang mengukir sebuah cerita. Satu karpet yang indah dan mahal ada di istana Negara dan satunya lagi karpet murahan dan lusuh ada di sebuah mushola tua. Dua karpet yang beda kualitas dan harga namun merangkai kisah yang berbeda.

    Karpet yang ada di istana Negara walaupun mahal dan berkualitas nomer satu namun menjalani kehidupan yang hina. Diinjak-injak oleh kaki yang memakai sepatu hasil korupsi disetiap harinya, dilalui oleh para pengkhianat Negara disetiap ada pertemuan dalam menyusun makar demi makar menjarah negara. Kasihan sekali nasib si karpet.

    Dan karpet yang kedua walaupun murahan dan lusuh yang ada di mushola namun semua kepala sujud kepada Rabb diatasnya. Alas kaki semahal apapun dilepas ketika akan menginjaknya, ada rasa takzim ketika akan melangkah melaluinya. Sebuah derajat yang sangat tinggi untuk sebuah benda murahan dan lusuh itu.

    Begitu juga seperti ulama dan intelektual, ketika mereka mengitari para penguasa lambat laun mereka hanya menjadi alas kaki para penguasa. Kebenaran hanyalah bagian dari masa lalu yang harus dilupakan karena itu bukan selera tuan mereka. Harga diripun hanya dihargai seberapa tebal amplop yang diterima dan sebarapa nikmat fasilitas yang diberikan. Karena menjilat kepada penguasa, kebenaranpun bisa disesuaikan, tergantung pesanan dan kemauan yang memberi para ulama dan intelektual itu kenikmatan duniawi.

    Walaupun sudah banyak ulama dan intelektual menjadi alas kaki penguasa, masih ada ulama yang berjuang di masjid-masjid, di mimbar-mimbar menerangkan kebenaran dan mencahayai jalan yang telah gelap oleh orang-orang yang kehilangan agama dan harga diri. Mereka adalah ulama Robbani yang menolak tunduk dan patuh kecuali kepada Rabbnya. Mereka adalah yang tersisa dari bencana tsunami yang menerjang tauhid dari segala penjuru mata angin. Ya merekalah yang membuat langit menurunkan hujan dan rahmat Allah masih menyapa setiap insan karena doa-doa tulus mereka.

    Temuilah mereka yang masih bersih jiwanya, lurus tauhidnya dan benar kata-katanya. Temuilah mereka di masjid-masjid samping rumah, di depan kantor dan di sela-sela keramaian dunia. Jangan pernah menemui manusia yang telah berjalan beriringan dengan penguasa, sedikit banyaknya mereka telah memaniskan kata-katanya dihadapan penguasa untuk menarik hati si penguasa dan menikmati apa yang dimiliki oleh penguasa. Curigailah mereka karena hati yang bersih tak akan pernah bertemu dengan jiwa kotor berlumpur syirik.

    Bila engkau bertemu mereka dan telah mereguk manisnya tauhid, nikmatnya madu sunnah dan melihat kesesuaian jalan mereka dengan Al-Quran dan Sunnah, titipkan salamku kepada mereka dan mintalah kepada mereka, “jangan lupakan kami orang-orang lemah di negeri tertindas ini dalam doa-doa tulusmu”.

    Kemuliaan hanya milik Allah,Rasul dan orang-orang beriman tapi orang-orang munafik itu tidak mengetahuinya… Wallahu A’lam!

    Hanif Abdullah
    Redaktur Majalah Online
    ansharullah.com

    ==============================
    kumpulan cerita religi islami – kisah sumber religi islami – cerpen penuh religi islami

  3. kumpulan cerita religi islami – kisah sumber religi islami – cerpen penuh religi islami
    ==============================

    Kebaikan Pak Kiki
    Senin, 21/03/2011 05:42 WIB | email | print

    Oleh Mira Kania Dewi

    Sepuluh menit lagi mendekati pukul delapan malam. Taksi yang kami tumpangi melaju dengan kencang membelah gelapnya malam kota Bangkok. Suami dan gadis cilikku ikut menemani. Malam itu kami berniat mengunjungi Melati, salah satu sahabatku sekaligus ustadzahku yang telah hampir delapan bulan lamanya kami tak bersua.

    Vista Condominium belum juga kami temukan, padahal kami sudah berada di jalan Srinakarin sesuai petunjuk Melati. Ah, susah juga ternyata mencari alamat di malam hari apalagi kami betul-betul buta dengan daerah tersebut. Padahal di sisi lain kami ingin segera sampai di rumah Melati, khawatir datang kemalaman.

    Bergegas Mr. Chunchan (supir taksi) menginjak rem dan menghentikan taksinya. Dengan berlari-lari kecil ia keluar dari taksi dan bertanya kepada beberapa orang yang sedang berdiri menunggu bus di halte.

    Alhamdulillah, baik sekali supir taksi kali ini. Pria separuh baya yang berwajah ramah. Kami dengan tenang duduk di dalam mobil sedangkan ia sibuk bertanya ini-itu kesana-kemari mencari alamat Melati.

    Semula Mr. Chunchan tak terlalu peduli dengan kami penumpangnya. Namun tak berapa lama setelah aku dan suami duduk dan berbincang ringan dalam bahasa Indonesia, ia pun akhirnya tergelitik juga mendengar percakapan kami yang tentunya berbeda jauh dengan bahasanya sendiri.

    Seperti biasa, supir taksi awalnya hanya menanyakan dari mana asal negara kami. Wajah kami memang hampir sama dengan orang-orang Thailand belum lagi warna kulit yang juga sama-sama sawo matang.

    Mr. Chunchan sangat gembira setelah mengetahui bahwa kami berasal dari Indonesia. Aku tak menyangka, biasanya orang menganggap rendah dengan negaraku, kali ini tidak demikian. Ada apa gerangan?

    Mr. Chunchan mencoba menceritakan sesuatu kepada kami. Aku berusaha dengan keras untuk memahami cerita dari Mr. Chunchan. Maklumlah bahasa Thaiku sangat pas-pasan. Hanya layak dipakai di pasar untuk tawar menawar harga. Aku coba memasang kuping lebar-lebar dan ekstra tajam agar tidak terkecoh dengan intonasi bahasa Thai yang beraneka ragam. Kurang lebih beginilah aliran ceritanya.

    “Saya punya teman namanya Mr. Kiki dari Indonesia. Dia baik sekali. Dulu dia tinggal di Bangkok selama empat tahun bersama istrinya yang berwarga negara Singapura dan dua orang anak perempuannya. Dia dulu tinggal di Condominium Sommerset di jalan Ruamrudee. Tempat tinggalnya mewah dan bersih.”

    Mr. Chunchan melanjutkan ceritanya. “Saya tahu, orang Islam punya bulan yang disebut Ramadhan. Setiap Ramadhan kamu puasa, tidak makan dan minum. Nah, setiap bulan Ramadhan datang, Mr. Kiki selalu memberikan saya uang yang banyak.”

    “Sayangnya, Mr. Kiki sekarang sudah pindah ke Brunei. Chan kitheung Mr. Kiki maak (saya kangen sekali dengan Mr. Kiki). Dua tahun saya tidak berjumpa dengannya. Pernah suatu hari Mr. Kiki menelepon saya, saya menangis mendengar suaranya. (lagi-lagi Mr. Chunchan berkata) Chan kitheung maak.”

    Dari cerita singkat Mr. Chunchan, ada benang merah yang dapat kita ambil hikmahnya. Kesan yang begitu mendalam tentang kebaikan Pak Kiki.

    Mr. Chunchan begitu terkesan dengan uang zakat yang ia terima secara rutin setiap tahun dari Pak Kiki di bulan Ramadhan. Secara tidak langsung Pak Kiki telah berdakwah melalui budi perkerti beliau. Pak Kiki memperlihatkan kepada Mr. Chunchan tentang indahnya Islam. Dalam benak Mr. Chunchan, ia beranggapan bahwa orang Islam adalah orang yang peduli dengan sesama, suka berbagi, tak pandang ras dan agama.

    Mr. Chunchan dapat mengingat dengan baik bahwa setidaknya ada satu bulan yang sangat istimewa dalam Islam yaitu bulan Ramadhan. Ya, ternyata memang bulan Ramadhan yang mulia itu tidak hanya istimewa bagi umat Islam saja tapi ia pun istimewa bagi umat yang lain (dalam hal ini Mr. Chunchan yang mendapatkan zakat di bulan Ramadhan yang penuh berkah).

    Satu hal yang tak kalah berkesan tentang Pak Kiki bahwa walaupun sudah jauh berada di negeri lain, tapi Pak Kiki tidak lupa mengabarinya lewat telepon. Ia tetap menjaga silaturrahmi dengan Mr. Chunchan yang berbeda agama dengannya. Semoga melalui kebaikan Pak Kiki, Mr. Chunchan segera mendapat hidayah untuk memeluk Islam, aamiin.

    Tak hanya itu, Pak Kiki telah memberikan sesuatu yang sangat berkesan bahwa orang Indonesia adalah orang yang baik hati dan dermawan.

    Aku tidak kenal siapa gerangan Pak Kiki. Aku juga tidak pernah berjumpa atau bahkan mungkin tidak akan pernah tahu siapa Pak Kiki yang dimaksud Mr. Chunchan dalam ceritanya. Ada beratus-ratus nama Kiki yang berasal dari Indonesia.

    Yang aku tahu bahwa Pak Kiki yang diceritakan Mr. Chunchan adalah orang yang sebangsa denganku, seiman denganku dan seagama denganku.

    Walaupun aku tidak mengenal Pak Kiki tetapi aku masih bisa merasakan kebaikan beliau. Tutur kata yang ramah dari Mr. Chunchan serta tak segannya ia menolong kami mencari alamat, semua itu menurutku merupakan refleksi dari rasa hormat Mr. Chunchan kepada Pak Kiki. Jazakalloh khoir atas kebaikanmu, Pak Kiki.

    “Sesungguhnya Alloh memasukkan orang-orang beriman dan mengerjakan amal sholeh ke dalam surga-surga…” (QS 22 : 23)

    “Barang siapa yang mengerjakan amal sholeh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik…” (QS 16 : 97)

    Mr. Chunchan berlari-lari kecil menuju taksi setelah berhasil mendapatkan informasi tentang lokasi Vista Condominium dari orang-orang di sekitar halte. Walaupun sudah larut malam, senyum masih terukir di wajahnya.

    “Kita sebentar lagi sampai,” sahutnya ramah.

    Kami berbelok memasuki gerbang Vista Condo. Tak lama kemudian kami dijemput oleh Melati di lobby.

    Keesokan harinya pesawat boeing 747-400 lepas landas meninggalkan negeri yang sempat kami singgahi enam tahun lamanya. Puji syukur kupanjatkan ke hadirat Illahi Rabbi yang telah memberikan aku kesempatan bersilaturrahmi lagi dengan sahabat-sahabatku di Muang Thai.

    Walaupun berjumpaan kita hanya sebentar namun sangat bermakna buatku. Setelah 3 jam 20 menit di udara, Thai Airways yang kami tumpangi mendarat dengan mulus di Bandara Soekarno-Hatta, alhamdulillah.

    Wallohua’lam bishshowaab

    (mkd/bintaro/15.03.2011)

    ==============================
    kumpulan cerita religi islami – kisah sumber religi islami – cerpen penuh religi islami

  4. kumpulan cerita religi islami – kisah sumber religi islami – cerpen penuh religi islami
    ==============================

    Bila Datang Seorang Saleh
    Minggu, 20/03/2011 13:51 WIB | email | print

    Oleh Anung Umar

    Setelah mengetahui bahwa pria yang ia idam-idamkan tak tertarik dengannya, gadis itu pun duduk dan terdiam. Tiba-tiba seorang pria berkata dengan penuh kesungguhan, “Wahai Rasulullah, nikahkan saja aku dengannya, kalau memang engkau tidak tertarik dengannya.” Rasulullah pun bertanya, “Apakah kamu mempunyai sesuatu yang bisa dijadikan mahar untuknya?” Pria itu menjawab, “Aku tak mempunyai apa-apa kecuali izar (kain sejenis sarung)ku ini.”

    Beliau pun berkata, “Kalau kamu memberikan izarmu kepadanya, kamu akan duduk dalam keadaan tak ada izar yang menutupimu badanmu. Carilah selain ini (izar)..” Ia pun berusaha untuk mendapatkan sesuatu yang bisa dijadikan mahar pernikahannya. Namun ia kembali dengan tangan kosong. “Wahai Rasulullah, aku tidak mendapatkan apa-apa,” ujarnya.

    Beliau bersabda, “Carilah lagi (untuk maharmu itu) walaupun cincin dari besi.” Ia pun kembali berusaha mencari dan mencari untuk mendapatkan itu, namun kembali, ia datang dengan tangan kosong. Melihat keadaannya seperti itu, beliau pun tergugah untuk membantunya. Beliau bertanya, “Apakah kamu memiliki hafalan Al-Quran?” Ia menjawab, “Ya.” (dalam riwayat Abu Daud disebutkan bahwa ia hafal surat Al-Baqarah dan setelahnya). Beliau pun bersabda, “Aku menikahkanmu dengannya, dengan mahar berupa hafalan Al-Quran.” Akhirnya pria itu menikah dengan gadis itu. (HR. Bukhari No. 5135 dan Muslim No. 1425) Dalam riwayat lain beliau SAW bersabda, “Pergilah, aku telah menikahkanmu, ajarkanlah ia Al-Quran.”

    Dalam hadits di atas terdapat isyarat bahwa kufu (kesetaraan) yang dituntut Islam dalam suatu pernikahan adalah dari sisi din (agama) bukan nasab, harta, dan rupa. Karena itu, menerima pinangan seorang yang saleh, yang baik dari sisi agamanya, merupakan sesuatu kepatutan yang harus diperhatikan seorang muslimah dan walinya meskipun yang meminang ini memiliki kekurangan dari sisi lainnya (yang bersifat duniawi). Dan itulah yang diisyaratkan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya yang masyhur di tengah-tengah kita, “Pilihlah yang memiliki din, niscaya kamu beruntung.” (HR. Bukhari No. 5090 dan Muslim No. 1466)

    Shahabiyah di atas membuat kita terpegun, mengapa ia rela dinikahi seorang pria fakir yang tidak memiliki harta kecuali pakaian yang melekat di badannya? Apa yang ‘menyihir’nya sehingga mau menikah dengan seseorang yang tidak memiliki sesuatu yang bisa ‘dibanggakan’, kecuali ‘hanya’ ketakwaan dan penjagaannya terhadap Al-Quran?

    Begitu pula ada shahabiyah lain yang karena perhatiannya yang lebih terhadap din calon suaminya, membuatnya ‘lupa diri’ sehingga rela menikah dengan mahar berupa sandal. Rasulullah bertanya kepadanya, “Apakah kamu rela diri dan hartamu ‘seharga’ dua sandal?” ia menjawab, “Ya.” Beliau pun merestui pernikahannya. (Musnad Abi Daud Ath-Thayalisi No. 1227)

    Dan Rasulullah SAW juga memberi tuntunan kepada Fathimah binti Qais, tatkala ia mengadukan kebimbangannya dalam memilih diantara dua orang shahabat yang meminangnya. Muawiyah bin Abi Sufyan ataukah Abu Jahm? Beliau menyarankannya untuk menikah dengan seorang yang justru di luar perkiraannya, yaitu Usamah bin Zaid. Apakah seorang hitam, anak bekas budak akan menikahi seorang wanita cantik dan terhormat dari kalangan Quraisy, kabilah terhormat di jazirah Arab? Lantas apa yang akan dikatakan orang-orang tentang pernikahannya nanti?

    Ia pun ‘berontak’, “Aku tidak menyukainya.” ceritanya. Namun beliau SAW berkata lagi, “Nikahlah dengan Usamah bin Zaid.” Ia pun akhirnya menikah dengan Usamah bin Zaid. Setelah menikah dengan pemuda saleh itu, ternyata ia merasakan berkah melimpah dari pernikahannya. Ia merasakan keharmonisan rumah tangga yang tidak dirasakan oleh pasangan manapun selain mereka berdua. Ia berkata, “Aku menikah dengannya (Usamah), maka Allah menjadikan kebaikan di dalam pernikahan tersebut dan aku pun merasa bahagia.” (HR. Muslim No. 1480)

    Dan sejarah juga mencatat, bagaimana Bilal bin Abi Rabah, muadzin Rasulullah SAW, seorang bekas budak dari Ethiopia ternyata menikah dengan Halah binti Auf, saudara perempuan dari Abdurrahman bin Auf, seorang saudagar kaya raya dari kalangan sahabat Nabi SAW.

    Dan bagaimana juga Umar bin Khattab menawarkan putrinya kepada Salman Al-Farisi, bekas budak dari Persia. (Subulussalam hadits No. 939-941)

    Atsar-atsar di atas menunjukkan disyariatkan bagi seseorang untuk menawarkan kepada seorang yang saleh, yang baik agamanya untuk menikahi seorang wanita yang ada dibawah tanggungannya meskipun tidak ada kufu’ (kesetaraan) dari sisi nasab, harta dan rupa, maka apalagi menerima pinangannya tentunya!

    “Jika datang kepada kalian seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya (untuk meminang wanita kalian), maka hendaknya kalian menikahkan orang tersebut dengan wanita kalian. Bila kalian tidak melakukannya niscaya terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. Tirmidzi No. 1084)

    Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami tetap menerimanya walaupun pada diri orang tersebut ada sesuatu yang tidak menyenangkan kami?” Beliau menjawab pertanyaan ini dengan mengulangi kembali perkataan di atas sampai tiga kali.

    Begitu pentingnya pertimbangan agama, sebab, kebaikan agama seseorang akan membawa keberkahan yang melimpah bagi kehidupan pasangannya, keluarganya serta keturunannya. Keberkahan yang tidak didapatkan dalam harta, nasab dan rupa seseorang.

    Namun, apakah atsar-atsar di atas sudah sampai di telinga para muslimah beserta wali mereka di zaman ini? Seandainya telah sampai, akankah tetap ada seorang saleh yang tertolak untuk menikahi seorang wanita karena ia “belum mapan”, tidak “sederajat”, “bukan pegawai negeri” dan alasan duniawi lainnya?

    Padahal, yang hendak melamar ini, hartanya bukan hanya pakaian yang melekat di tubuhnya, mahar yang akan diserahkan bukan berupa sandal dan ia pun bukan keturunan budak. Akankah mereka menutup pintu bagi kebaikan yang ada di depan mata mereka di masa-masa orang yang saleh makin jarang ditemui, sedangkan orang-orang fasik makin merajalela dan jumlah kaum hawa makin meningkat berlipat-lipat?

    Jakarta, 14 Rabi’u Ats-Tsani 1432/19 Maret 2011
    anungumar.wordpress.com

    ==============================
    kumpulan cerita religi islami – kisah sumber religi islami – cerpen penuh religi islami

  5. kumpulan cerita religi islami – kisah sumber religi islami – cerpen penuh religi islami
    ==============================

    Cintailah Dengan Sepenuh Hatimu
    Minggu, 20/03/2011 05:24 WIB | email | print

    Oleh Silvani

    “Siapakah yang paling kita cintai?” Apabila kita ditanya dengan pertanyaan seperti itu mungkin sebagian kita menjawab, “saya paling cinta kepada anak-anak, saya sangat mencintai istri, saya teramat cinta kepada suami, saya cinta kepada ibu yang telah membesarkan saya, atau mungkin saya paling cinta pada diri sendiri…

    Adakah yang menjawab Saya paling cinta kepada Allah! Atau jawaban Hanya Allah yang ada di relung hatiku!”

    Tentang cinta kepada Allah, Allah berfirman: “Katakanlah jikalau bapak-bapak , anak-anak, saudara-saudaar, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya, dan dari berjihad di jalan-Nya. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. At-Taubah [9] : 24)

    Dalam ayat tersebut jelas bahwa Allah memerintahkan kita untuk mengutamakan cinta kepada-Nya. Allah memberikan ancaman kepada mereka yang mencintai segala sesuatu melebihi cinta kepada Allah “…maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya …” Sungguh mengerikan… Allah merahasiakan siksa apa yang akan menimpa kita, sementara kita tahu betul bahwa siksa Allah amatlah keras! Allah juga memberi gelar fasik kepada mereka, dan mereka tidak diberi petunjuk oleh Allah! Astaghfirullahal aziim… Ampuni hamba-Mu Yaa Rabb…

    Sejenak kita renungkan betapa Allah sangat mencintai manusia…

    Allah sangat memuliakan manusia. Ketika nabi Adam AS, manusia pertama, selesai diciptakan, Allah memerintahkan semua makhluknya untuk bersujud kepada Adam AS. Dan ketika iblis menolak untuk bersujud, Allah mengusir iblis dari surga.

    Allah menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk, disempurnakan-Nya bentuk manusia. Diberi-Nya manusia akal, penglihatan, pendengaran, tubuh yang sempurna… Lalu ditiupkan ruh kepada manusia, ruh dari-Nya.

    Dibentangkan-Nya bumi dengan segala isinya hanya untuk kebutuhan manusia. Kekayaan alam, tumbuhan, hewan, air, udara, semua untuk manusia.

    Manusia diangkat oleh Allah sebagai khalifah di muka bumi.

    Allah menciptakan surga untuk manusia, di surga terdapat bidadari-bidadari jelita yang sebelumnya tidak pernah disentuh oleh siapapun.

    Allah telah menjamin rizki untuk setiap manusia, rizki yang telah tertulis dalam kitab yang nyata, lauh mahfudz.

    Allah menciptakan manusia berpasang-pasangan supaya manusia merasa tentram.

    Siapa yang menanamkan rasa cinta dan kasih sayang dalam hati orang tua, suami, istri, dan anak-anak kita kalau bukan Allah?

    Kitapun dipilih oleh Allah dari 6,5 miliar manusia yang ada di dunia sebagai umat Islam, umat dari satu-satunya agama yang diridhai Allah!

    Subhanallah… Betapa banyak nikmat yang Allah berikan kepada kita, niscaya kita tidak akan sanggup menghitungnya… “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” Demikian berkali-kali Allah bertanya dalam surat Ar Rahman…

    Lalu… Apa yang sudah kita lakukan untuk membalas cinta Allah yang begitu besar kepada kita? Apakah pantas ada yang lebih kita cintai selain Allah? Seberapa sering kita mengingat Allah? Melafazkan zikir kepada-Nya ? Sudahkah kita menjadikan Allah sebagi ‘denyut’ setiap perbuatan kita? Mengapa kita masih malas sholat ke mesjid? Mengapa kita kikir berinfaq dan bersedekah? Mengapa kita malas membaca Al Qur’an? Mengapa kita berbuat zalim? Mengapa kita tidak menjaga Islam yang telah diperjuangkan Rasulullah dengan cucuran darah dan air mata? Mengapa…?

    Lihatlah betapa besar cinta Rasulullah SAW dan para sahabat RA ajmain kepada Allah… Mereka merelakan harta dan jiwa demi agama Allah.

    Abu Bakar RA menginfakkan seluruh hartanya di jalan Allah. Ketika ditanya apa yang ia tinggalkan untuk keluarganya, Abu Bakar menjawab bahwa ia meninggalkan janji Allah dan Rasul-Nya.

    Sahabat lain, Abu Ayyub Al-Anshary RA selalu rindu berangkat perang. Ia tidak pernah absen dalam setiap perang membela agama Allah. Semboyan hidupnya adalah “Berangkatlah kamu dalam keadaan ringan maupun berat dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah.” (QS. At-Taubah [9] : 41)

    Dengarkanlah lantunan doa Rasulullah SAW yang menggambarkan kecintaan beliau kepada Allah: “Ya Allah, berilah aku cinta-Mu dan cinta orang-orang yangmencintai-Mu, serta segala yang mendekatkanku pada cinta-Mu. Ya Allah, jadikan segala rezeki yang Engkau karuniakan dari apa-apa yang aku sukai, kekuatan bagiku yang dapat aku pergunakan dalam mencintai-Mu. Ya Allah, jangan jadikan apa yang kumiliki itu selalu ada di sekitarku, ambillah ia untuk apa yang Engkau sukai.”

    Semoga kita semua termasuk orang-orang yang mencintai Allah dengan sepenuh hati, menjadikan Allah sebagai ‘denyut’ setiap perbuatan kita, kita terhindar dari siksa Allah yang amat keras, selalu berada di jalan-Nya, dan bukan termasuk ke dalam golongan orang fasik yang tidak mendapat petunjuk Allah… Amiin yaa Rabbal alamiin.

    Wallahu ‘alam bishshawaab. Bangkok, 20 Maret 2011.

    Daftar Pustaka:

    * Al-Qur’an dan Terjemahnya. Jakarta: CV Darus Sunnah, 2007.
    * Ghanayim, Ahmad Muhammad. Allah azza wa Jalla, Kaifa Nuhibbuhu wa Limadza Nuhibbuhu wa Hal Nuhibbuhu Haqqan. Diterjemahkan oleh Faisal Mukhtar, dengan judul: Ujian Cinta kepada Allah. Jakarta: senayan Abadai, 2006.
    * Khattahab, Abdul Mui’izz. Ashhab an Nabiy Shalallahu ‘Alayhi wa Sallam Min al-Muhajirin wa al Anshar. Diterjemahkan oleh: H. Nabahani Idris, dengan judul: Profil 70 Sahabat Nabi. Jakarta: studia press, 2007.

    ==============================
    kumpulan cerita religi islami – kisah sumber religi islami – cerpen penuh religi islami

  6. kumpulan cerita religi islami – kisah sumber religi islami – cerpen penuh religi islami
    ==============================

    Jangan Hanya Membeo!
    Sabtu, 19/03/2011 18:43 WIB | email | print

    Oleh Usup Supriyadi

    Al A’raf : 179

    Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat, dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar. Mereka itu bagaikan binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

    Bismillaah, adakah yang tidak tahu seperti apakah burung beo itu? saya kira semuanya hampir pernah tahu dan bahkan melihat wujud dari burung beo. Namun, alangkah lebih baiknya jikalau saya coba memberikan pengulangan agar kita memiliki kesamaan persepsi. Merujuk kepada Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi III, kata “beo” dijelaskan sebagai berikut :

    beo /béo/ n burung berbulu hitam berkilau yg dapat dilatih menirukan bunyi (kata-kata, nyanyian, dsb); Graculla religiosa;

    mem·beo v berbuat seperti burung beo dengan meniru saja perkataan (ucapan) orang lain (tanpa memahami maksudnya);

    pem·beo n orang yang suka membeo atau mengikuti (menirukan) perkataan orang lain

    Bagaimana? Sekarang kita, Insya Allaah telah memiliki pengetahuan yang sama tentang burung beo. Lantas apa yang sebenarnya ingin dibahas berkaitan dengan ayat di muka tulisan ini?

    Sahabat pembaca sekalian, banyak kini kita lihat bahwa umat lebih mirip dan bersikap layaknya burung beo. Mereka banyak menghafal, baik ayat-ayat Al-Qur’an, Hadist, dan berbagai fatwa para ulama. Apakah itu salah? Tentu saja tidak salah, malah banyak pula sunnah yang menganjurkan kita sebagai umat Muhammad untuk menghafal, khususnya menghafal Al-Qur’an. Hanya saja, apakah menghafal itu lebih utama dibandingkan dengan memahami? Haruskah menghafal dulu barulah kita memahami?

    Kalau saya bicara hafalan, saya jadi ingat masa sekolah dulu, waktu itu kebanyakan dari kami berusaha menghafal materi pelajaran, sebab dengan begitu biasanya pas ujian bisa ingat. Dan, terus terang hanya hafal demi mencapai kepuasaan nilai bagus, ngerti mah kagak, istilahnya. Apakah kita mau seperti itu? Bukankah kita ini makhluk yang berakal? Janganlah kita ibarat burung beo yang begitu fasih dalam meniru dan mudah dalam menghafal, namun begitu, ia sendiri tidak paham apa sebenarnya yang tengah ia ucapkan. Apakah itu yang dimaksud dengan ulul albab?

    Sebenarnya, saya ingin mengajak kita semua untuk jangan takut ketinggalan dalam hal menghafal apa saja yang ada dalam agama kita ini; Islam yang kita cintai sampai mati. Sebab, agama ini mudah, tidak sulit, dan sempurna, semua bisa menghafalnya, namun belum tentu bisa memahaminya. Maka, mulailah belajar memahami, sebagaimana muallaf yang mana mereka itu belajar perlahan sambil memahami agar hati mereka benar-benar paham dan teguh. Begitulah kita dalam belajar agama ini, dan alangkah indahnya jika generasi muda Islam sejak di PAUD misalnya, diberikan tidak hanya “menghafal” tapi juga diupayakan agar mereka paham, setelah paham langsung dilaksanakan. Bagi yang tidak paham namun hafal, terlihat jelas kok, biasanya hanya membeo tapi tidak mengamalkannya! Jadi, belajarlah dengan usaha agar kita paham, yang dengan kepahaman tersebut kita amalkan, dan dalam proses pengamalan itu secara tidak langsung kita sedang menghafalnya kok.

    Janganlah kita yang memiliki akal ini, sebagaimana bahasa Al-Qur’an, bagai binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Sebab kita lalai dalam memahami dan mengamalkan apa yang kita pahami! Semoga Allah menjauhkan kita dari hal demikian-amiin.

    saudaraku seaqidah, kita harus benar-benar menggunakan anugerah yang hanya diberikan kepada kita saja, tidak terdapat pada flora dan fauna, atau jin dan malaikat. Hanya kita yang diberikan kelebihan tersebut. Dan dalam hal ini, Ia Maha Berkehendak, tapi kita pun diberikan keleluasaan untuk berkehendak. Sebagaimana sering kita dengar, hidup adalah pilihan. Kalau boleh saya tambahkan, hidup adalah pilihan yang Allah telah memberikan berbagai pilihan dengan kejelasan “untung-rugi”-nya. Akan tetapi, di sini, sebagaimana kita ketahui dalam sebuah hadits, bahwa agama ini adalah nasihat, dan hanya mereka yang saling menasehati sajalah yang beruntung [baca : QS. Al Ashr], maka sudah kewajiban saya untuk menasehati kepada diri saya sendiri dan pembaca sekalian, agar berhati-hati dalam melangkah, takutlah wahai jiwa yang hanya “membeo” alias tidak mau memahami akan dikuncinya hati kalian, sebagaimana Allah berfirman :

    Al Hajj : 46
    maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.

    Ar Ruum : 59
    Demikianlah Allah mengunci mati hati orang-orang yang tidak (mau) memahami.

    Janganlah tergesa-gesa agar kita bisa menguasai segala tentang ilmu agama ini. Tapi perlahan, dengan upaya mempelajari, memikirkan, dan memahami sampai benar-benar paham, lantai mengamalkannya. Sebab bagaimana pun, kita harus beramal dengan ilmu (dalil) yang benar. Maka, belajarlah untuk paham bukan untuk sekadar hafal!

    Hanya orang berakal yang bisa memahami dan mengambil pelajaran dari apa yang ia pahami [baca : QS. 3 :7], Maka sudah semestinya, kita menggunakan akal kita. Namun, ketika kita menemui sesuatu yang kurang masuk akal dalam Al-Qur’an, atau yang biasanya kerap ditemui hal yang kurang masuk akal ialah dalam hadits, maka itu bukan karena tidak masuk akal, tapi kitanyalah yang kurang akal jadinya seakan tidak masuk akal! Agama ini untuk seluruh manusia dan mudah sekali dipahami jika saya mereka mau menggunakan hati dan akalnya secara seimbang, dan mengharapkan keridhaan Allah dan menjauhi motif selain dari-Nya.

    Demikianlah, maka pilihanya hanya dua, jadi muslim yang hanya memboe atau muslim yang sejati? yang tidak membeo! Kalau pesan saya, kepada diri sendiri dan semuanya, jangan hanya membeo!

    Wa Allaahu A’lam, semoga Allaah memberikan kemudahan kepada kita untuk mengerti akan agama-Nya ini….

    An Nisaa : 43
    Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan…

    Bogor, 19 Maret 2011

    http://degoblog.wordpress.com/

    email : usupsupriyadi@gmail.com

    ==============================
    kumpulan cerita religi islami – kisah sumber religi islami – cerpen penuh religi islami

  7. kumpulan cerita religi islami – kisah sumber religi islami – cerpen penuh religi islami
    ==============================

    The Hidden Beauty of Pakistan
    Sabtu, 19/03/2011 06:31 WIB | email | print

    Oleh Syaifoel Hardy

    Jika anda pernah berkunjung ke Abu Dhabi (United Arab Emirates-UAE), nyaris seratus persen sopir taksi di kota indah, hijau serta terletak di tengah gurun itu, adalah Pakistan. Sopir taksi ini didominasi oleh orang-orang suku Pathan. Sebuah suku yang terletak di wilayah Barat Laut, berbatasan dengan Afghanistan.

    Orang-orang Pathan ini, bagi yang kurang mengenalnya, terkenal dengan sikapnya yang (barangkali bagi sementara orang) tidak terpelajar, sulit diajak kerjasama serta seenaknya sendiri. Satu lagi, (konon) orang-orang Pathan ini susah jika diajak kompromi untuk masalah kebersihan. Orang-orang Pathan (katanya) juga jarang mandi.

    Jika demikian, mengapa Pemerintah UAE, getol merekrut mereka sebagai sopir taksi dalam skala besar? Padahal, jika banyak orang mengeluh masalah hygiene mereka yang kurang, tentunya, negeri UAE yang amat memperhatikan kesehatan warga serta pendatang, tidak rela reputasinya dicoreng oleh pendatang lain, seperti halnya orang-orang Pathan tersebut. Pasti, di balik semua ini ada nilai positif yang disumbangkan oleh orang-orang Pathan.

    Meski sering ‘tengkar’ dengan orang Pathan di Dubai, saya sendiri kurang percaya akan pendapat umum ini. Apalagi, opini jika Pakistan diidentikan dengan negara tempat para teroris berbenah dan tersebar.

    Setidaknya, orang Pathan yang pernah tinggal di apartemen di mana saya sewa, selama tidak kurang dari satu tahun, sebagai sebuah bukti. Pathan yang satu ini, memang bukan sopir taksi. Dia seorang insinyur IT. Selain terpelajar, sikapnya juga baik serta peduli terhadap kebersihan serta kesehatan. Makanya, seharusnya kita tidak mencap ‘semua’ orang Pathan, dengan predikat negatif.

    Bukan berarti lantaran latar belakang orang-orang Pathan ini yang mendorong saya untuk membuktikan kebenarannya. Saya percaya, Pakistan tidak sebesar ukuran televisi. Apalagi selebar daun kelor!

    Oleh sebab itu, beberapa larangan rekan-rekan saya untuk mengunjunginya, tidak mengurungkan niat saya berangkat. Saya ‘nekat’ ke sana. Saya ingin tahu, apa benar Pakistan, negeri yang dilanda konflik berkepanjangan dengan India ini, sudah tidak ada lagi sisa yang membawa hikmah?

    Disambut

    Mengajukan perolehan visa di Kedutaan Besar Pakistan untuk Kuwait (waktu itu saya di Kuwait), nyatanya mudah sekali. Sehari jadi. Saya hanya ditanya apa tujuan serta di mana bakal tinggal. Rencananya saya akan mengunjungi tiga negara bagian dari 5 yang ada di Pakistan. Yakni, Punjab, Sindh serta Northwest Province. Di Kedutaan juga terkesan tidak dipersulit. Datang ke kedutaan juga tidak perlu ditemani seorang warga Pakistan. Sepekan sesudah dapat visa, saya ‘terbang’.

    Tiba di Bandara Internasional Karachi, memang tidak seindah Juanda atau Cengkareng. Urusan juga lancar. Segala sesuatunya memang sudah saya siapkan. Kontak ada di mana-mana. Jujur, saya punya banyak kenalan orang Pakistan, yang bersedia membantu selama perjalanan di sana nanti. Tidak terkecuali saat mendarat di Karachi. Rekan-rekan saya yang terbanyak tentu saja yang se ‘aliran’ (baca: profesi kesehatan).

    Setelah masuk barisan antrian imigrasi, saya kaget. Ternyata dari sorong pengeras suara di Bandara, nama saya dipanggil. “Ini pasti bukan suatu kebetulan!” Pikir saya. Mana ada nama orang Pakistan yang seperti saya? Begitu lanjut pikiran ini, ‘bangga’. Nama mereka biasanya cukup ‘Saif’. Tidak diembel-embeli ‘UL’. Apalagi ada ‘Hardy’.

    Orang Pakistan, kesan saya sebelum berangkat, sangat konservatif untuk masalah nama dan agama ini. Senang sekali rasanya. Diperlakukan ‘istimewa’.

    Sebenarnya saya punya teman di Kuwait dulu, AzizurRehman namanya, yang bekerja di Central Blood Bank-Kuwait. Kakaknya, seorang Air Traffic Controller.

    Dari bandara Karachi, waktu itu awal Bulan Ramadhan, kami langsung menuju ke rumah ayah Aziz, sekitar hanya 30 menit dari bandara. Sudah sore, hampir memasuki adzan Maghrib. Pas!

    Tidak seperti di Indonesia, jika kita mertamu, umumnya dikenalkan kepada seluruh keluarga. Di keluarganya si Aziz ini tidak demikian. Hanya keluarga laki-laki saja yang keluar dan menemui saya. Saudaranya yang perempuan, tidak pernah kelihatan. Sesekali kedengaran suaranya. Atau, sesekali mereka mengintip saya dari kelambu yang membatasi antara ruang tamu dan ruang makan. Mereka ramah sekali.

    Makanan Pakistan (tepatnya di Provinsi Sindh) begitu lezat. Apalagi saya yang waktu itu berpuasa. Nikmat sekali rasanya. Berbuka dibuka dengan kurma, sejumlah jenis manisan serta aneka buah-buahan yang dipotong kecil-kecil. Wah….dari makanan pembuka ini saja sudah kenyang. Tapi tidak demikian bagi mereka.

    Ba’da Maghrib, kami makan lagi. Yang ini, luar biasa. Orang Pakistan memang postur tubuhnya besar-besar (masih ingat gambar-gambar Presiden Pakistan di TV?). Ya, begitulah rata-rata. Tinggi dan besar. Jadi, wajar kalaupun makanannya juga cukup banyak dibanding porsi kita. Lagi pula, favorit makanan mereka adalah susu atau daging bahan dasarnya. Di Karachi, susu dan daging ini (kayaknya) murah sekali. Lebih murah ketimbang di Indonesia. Buktinya, orang miskin pun, makan daging dan susu amat terjangkaua. Di sana juga banyak rumah yang memiliki sapi perah di halaman. Sehingga harga susu segar, selain murah, mudah di dapat. Saya cerita ini soalnya saya sempat ikut beli susu.

    Punjab

    Saya tidak bisa cerita panjang lebar tentang Karachi, termasuk menguraikan bagaimana keindahan taman kota, tempat di mana patungnya Ali Jinnah, Bapak Pendiri Pakistan, berdiri. Karena saya harus berangkat ke Punjab dua malam sesudah itu.

    Naik kereta api sendirian dari Karachi menuju Sarghoda. Sebuah kota setingkat kabupaten, tempat di mana seorang rekan saya, Nawaz namanya, sedang menunggu. Perjalanannya cukup lama, sekitar 970 km dari rumah Aziz. Sebelum berangkat, saya diwanti-wanti…untuk tidak menerima tawaran makanan orang lain. Juga diingatkan, hati-hati. Pokoknya, macam-macamlah nasihat baiknya. Maklum, karena saya travel sendirian. Tapi saya tidak kuatir. Berbekal sedikit perbendaharaan Bahasa Urdu, bahasa nasional Pakistan, serta keyakinan bahwa banyak orang Pakistan yang tahu bahasa Inggris, saya jalan terus.

    Saya mengenakan pakaian Shalwar-khamis, pakaian tradisi Pakistan, pemberian keluarga Aziz. Barangkali ‘lucu’ karena itu, di dalam kereta api, postur tubuh saya yang kecil dibanding kebanyakan mereka, serta ‘dibungkus’ dalam shalwar khamis, menjadi pusat perhatian. “Apa kelihatan aneh ya?” Tanya saya kepada diri sendiri. “Ah…biar aja!” Pikir saya, tak acuh!

    Saya orangnya tidak biasa tinggal diam. Jadi, tidak bicara selama dua jam saja, rasanya mulut ini ‘capek’. Mau ngajak orang lain omong, masih kuatir. Nah, dalam kondisi begini, ada sepasang (saya pikir suami istri) yang saya ketahui memperhatian saya dari tadi. Mengetahui barangkali saya orang asing. Makanya, setelah beberapa setasiun berhenti, dan tinggal kami di gerbong, nekat bertanya: “Whe are you going Sir?” kepada salah seorang di antaranya. “Sargodha!” jawabnya, bikin saya gembira.

    Sepanjang 12 jam perjalanan berikutnya, akhirnya saya dapat teman ngobrol. Pada akhir perjalanan sebelum ketemu rekan saya, Nawaz, yang sedang menunggu, saya ditawari mampir oleh Ziah, nama orang di kereta api tadi.

    Saya nyaris tidak percaya ketika melihat Nawaz yang kini sudah ‘berubah’. Sesudah beberapa tahun tidak ketemu, lantaran resigned dari tempat kerjanya di Kuwait. Dia tidak lagi ‘cleaned shave’, alias berewokan. Sargodha sedang diguyur hujan deras. Dari stasiun, kami naik taksi, kemudian diteruskan dengan andong, khas Punjab. Indah sekali…..kayak pemandangan di film-film India saja! Habis, Pakistan kan budayanya juga berdekatan dengan India?

    Sargodha terkenal dengan jeruknya. Kebetulan lagi musim jeruk. Nawaz, yang punya perkebunan jeruk, tinggal memetik di belakang rumahnya. Subhanallah…jeruk Pakistan muraahhh…sekali. Sekilo, tidak lebih dari Rp 2500. Percaya nggak? Makanya saya surprised, karena harga jeruk ini di Indonesia, bisa di atas dua puluh ribu. Sudah begitu, manis sekali…….dan..gratis lagi!

    Lahore dan Islamabad

    Dua hari di Sargodha, saya melanjutkan perjalanan ke Lahore, sebuah kota pusat budaya Pakistan. Indah serta banyak peninggalan. Saya suka taman-taman di Lahore, Menara Pakistan serta pasar-pasar tradisinya. Tidak ketinggalan makanannya yang lezat. Biryani adalah favorit saya. Semacam Nasi Uduk, diberi daging Ayam atau Kambing. Ada lagi minuman khas mereka yang saya juga menikmati sekali, Lassi namanya. Ekstra dari susu. Saya tinggal di pemukiman Madina Colony namanya.

    Orang Pakistan begitu ramah terhadap tamunya. Itulah yang saya rasakan di tiga kota: Karachi, Sargodha dan Lahore. Sebelum saya lanjutkan ke Islamabad-Ibukota Pakistan, saya melihat Lahore university, museum, serta Lahore Hospital.

    Di Islamabad, saya sempat berkunjung ke rumah kediaman Pak Dubes….wah…GR nih…kayak tamu besar saja. Ceritanya bermula dari staff KBRI di sana yang sering membaca artikel saya……jadilah saya dikenalkan dengan beliaunya. Alhamdulillah…

    Islamabad tidak seperti Jakarta yang padat penduduknya. Boleh saya katakan sepi! Kayak kota yang baru dibuat saja. Memang Islamabad tergolong ‘baru’. Cantik dan indah, dikelilingi bukit. Begitulah kesannya. Saya juga sempat bertemu dengan sejumlah mahasiswa kita yang belajar di International Islamic University (IIU). Bahkan saya ketemu dengan salah seorang dosen saya yang sedang study di sana, Pak Munir, ketika saya belajar di Universitas Muhammadiyah Malang dulu.

    Satu lagi yang saya nikmati adalah ketika berkunjung ke Faisal Masjid. Sebuah masjid terbesar di Asia Selatan serta salah satu yang terbesar di dunia. Selesai dibangun pada tahun 1986 oleh seorang arsitek asal Turki. Bentuknya seperti tenda orang Badui di gurun pasir Arab sana. Masjid ini memang merupakan usulan pendiriannya oleh Raja Faisal bin Abdul Aziz pada tahun 1966. Makanya, namanya Faisal Masjid.

    Sebelum melanjutkan perjalanan ke bagian barat, saya menyempatkan diri ke Marri, sebuah kota kecil dingin, di puncak bukit, di mana kita bisa melihat Kashmir yang terletak di India, dari kejauhan, di tengah putihnya salju. Pertama kali saya….mandi salju. Berada di Marri ini, seperti di Eropa saja.

    Parachinar

    Selama perjalanan dari Islamabad ke Peshawar, ibukota North West Frontier Pakistan, menarik sekali. Sepanjang sekitar 740 km, alam yang keras, bikin mata belalak. Malam baru sampai di sana. Langsung ke penginapan. Perut lapar sesudah turun dari kereta. Saya makan roti Pathan yang besar-besar dank eras. Enaknya, roti yang harus dilahap saat panas ini, bisa tahan lama di perut. Dimakan dengan Beef Curry atau Mutton Curry. Rasanya? Luar biasa….anda dijamin kenyang dalam 6-8 jam ke depan.

    Semalam di hotel, saya terus berangkat ke Parachinar. Sebuah kota dekat perbatasan Afghanistan. Subhanallah..indah sekali. Penuh salju dan batuan keramik. Lereng-lereng pegunungan yang mengelilingi kota Parachinar juga diselimuti salju putih. Memang masih musim dingin waktu itu.

    Oleh rekan saya, Sharif namanya, seorang Kepala Perawatan sebuah RS di kota itu, saya diajak keliling. Baik ke sanak saudaranya, toko-toko, pasar, pusat penyembelihan hewan, juga RS tempat dia pekerja. Makanan orang-orang di sini, juga budayanya, sedikit berbeda dengan orang orang di propinsi Sindh atau Punjab, tempat saya travel sebelumnya.

    Orangnya rata-rata berkulit putih kemerahan. Postur tubuh tinggi besar dan berhidung mancung. Seperti campuran orang Persia dan Arab. Pantas jika seorang penulis Barat (saya lupa namanya) dalam sebuah buku Guide to Pakistan pemberian Saifullah, rekan kerja saya, menyebutkan bahwa orang-orang Pathan ini: ‘The most beautiful people in the world!’.

    Balik

    Dalam perjalanan pulang, sebelum balik ke Karachi Airport, dari Islamabad, saya menyempatkan diri mampir ke rumah Ziah, orang yang saya temui saat di kereta api. Di sebuah kota Khanewal. Letaknya antara Islamabad dan Karachi.

    Seperti saya duga, mereka menyambut saya dengan ‘meriah’. Seluruh keluarganya menyambut saya layaknya tamu istimewa saja. Padahal kami baru kenal. Itupun di kereta api. Saya tidak pernah mendapatkan perlakuan semacam ini di Tanah Air. Namun di negeri yang kebanyakan orang menganggap Pakistan sebagai negeri yang tak ramah ini, nyatanya manusianya, bikin saya geleng-geleng kepala. Betapa tidak? Cara mereka menyambut tamu begitu baiknya. Bagaimana saya harus membalas budi baik mereka?

    Di Khanewal, saya diajak jalan-jalan ke sejumlah tempat peninggalan bersejarah. Ke pasar tradisional yang saya amat menyukainya. Makanannya terlebih lagi! Pendeknya, tidak ada satupun kejadian yang membuat saya menyesal. Rumah Ziah yang menurut saya sederhana, tapi penghuninya tidak sesederhana yang saya sangka. Hati, sikap dan pikiran mereka terhadap orang asing seperti saya, Subhanallah!

    Penutup

    Hampir sebulan di Pakistan. Begitu banyak pelajaran yang bisa saya petik. Tidak sekedar melancong. Mulai dari orang-orangnya, alam, budaya, bahasa, iklim, serta segudang lagi hal-hal yang tidak kuasa untuk saya tulis semuanya di atas kertas ini.

    Benar, Pakistan memang tidak selebar layar televisi. Pakistan, dalam pandangan banyak orang memang bukan negara kaya. Kemiskinan terlihat di mana-mana. Kebersihan juga perlu mendapatkan perhatian utama. Kualitas pelayan public juga tidak terlewatkan penting memperoleh perbaikan.

    Namun demikian, di tempat kami bekerja, banyak sekali orang yang berwajah Pakistan. Mereka Pakistani ber-passport Canada, Amerika Serikat hingga British. Mereka adalah orang-orang Pakistan yang terpelajar.

    Begitulah yang bakal anda jumpai manakala melancong ke Eropa, Amerika, Australia hingga Jepang yang baru terkena gempa. Orang Pakistan ada di mana-mana.

    Secara fisik, barangkali tidak secantik Indonesia. Tetapi melongok keberanian, kegigihan, ketekunan, kekuatan fisik serta kualitas manusia Pakistan yang mampu merambah dunia, bisa bikin kita bertanya-tanya: koq bisa ya?

    Doha, 17 March 2011

    Shardy2@hotmail.com

    ==============================
    kumpulan cerita religi islami – kisah sumber religi islami – cerpen penuh religi islami

  8. kumpulan cerita religi islami – kisah sumber religi islami – cerpen penuh religi islami
    ==============================

    Bukan Itu Yang Kumau
    Jumat, 18/03/2011 13:14 WIB | email | print

    Oleh Abi Sabila

    “Kami berteman cukup lama. Bahkan, kedekatan kami sudah seperti saudara”

    Rasanya, kita –saya dan anda– memiliki pendapat yang sama, sebuah nilai plus bagi mereka yang bisa melakukan, menjaga persahabatan layaknya saudara.

    “Kami selalu berbagi. Apa yang aku rasa, diapun merasakannya. Begitupun sebaliknya”

    Kembali kitapun sepakat, bahwa kita ingin menjalani persahabatan seperti mereka. Bersama, berbagi dalam suka maupun duka.

    Tapi akankah anda tetap ingin seperti mereka, setelah mereka menjelaskan ‘berbagi rasa’ yang mereka maksudkan? Sepertinya yang akan terjadi justru sebaliknya.

    Bagaimana mungkin kita ingin seperti mereka, bila kebersamaan mereka ternyata dalam ‘segala’ hal, di luar yang kita bayangkan.

    “Kami pulang lewat tengah malam. ‘Alhamdulillah’ rejekiku sedang lancar, giliranku mentraktir teman-teman. Tapi payah, baru beberapa gelas mereka sudah mabuk! Tidak seperti minggu kemarin, waktu si xx yang bayarin, sampai habis lima gelas mereka masih bisa joget-joget dengan penyanyi yang seksi-seksi itu!”

    Astaghfirulloh! Inilah kebersamaan yang mereka maksudkan. Jika salah satu dari mereka mendapatkan rejeki, bersama mereka nikmati di tempat hiburan, mabuk-mabukan dan memuaskan nafsu bejat mereka. Naudzubillah!

    **

    Manusia adalah makhluk sosial, saya tahu itu. Saya menyadari bahwa saya tak bisa hidup sendiri. Saya butuh keluarga, tetangga, sahabat, kerebat, pasangan dan juga teman. Tapi teman seperti apa yang saya inginkan? Tentu saja bukan teman seperti itu yang saya mau.

    Saya menginginkan teman yang ada saat suka maupun duka, bukan teman yang ada hanya saat suka tapi menghilang ketika duka melanda. Saya menginginkan teman yang merasa saling membutuhkan, bukan teman yang hadir saat dia butuh dan berlalu saat saya membutuhkannya. Saya menginginkan teman yang berani meluruskan bila saya keliru. Mengingatkan ketika saya lupa, melarang ketika saya salah melangkah, bukan membiarkan saya tersesat atau bahkan mengajak untuk bermaksiat. Dan, sayapun ingin menjadi yang seperti itu untuk teman-teman saya. Bukan seia sekata, seiring sejalan dalam ‘segala hal’, termasuk bermaksiat kepada Allah SWT.

    Tak ingin karena alasan persahabatan, muncul rasa tak enak hati untuk mengingatkan teman yang terlena tipu daya dunia. Jangan karena alasan kedekatan, lalu tak berani melarang teman yang mulai menyimpang jalan. Jangan karena alasan kebersamaan, kemanapun dan apapun yang mereka inginkan, kitapun meng iya kan. Kemanapun mereka pergi, kita ikuti. Di manapun mereka berada, di situpun kita ada. Tak peduli bermaksiat sekalipun, asalkan tetap bersama-sama. Bukan, bukan teman seperti itu yang kumau.

    Manusia tidaklah sempurna, pernah lupa, pernah khilaf dan mempunyai berbagai kekurangan lainnya. Sayapun mengakui hal itu. Barangkali apa yang saya harapkan dari seorang teman terlalu berlebihan, terutama bila dibandingkan dengan apa yang bisa saya lakukan dan berikan. Bukan bermaksud untuk mencari keuntungan, tapi memilah dan memilih teman adalah sebuah keharusan. Berapa banyak fakta di lapangan, orang-orang jauh dari agama, dari keluarga karena salah memilih teman dan pergaulan. Banyak orang-orang terjerumus ke lembah dosa bermula dari rasa setia kawan dan solidaritas yang membabi buta.

    Sudah semestinya bahwa sebagai saudara, tetangga, sahabat, kerabat, pasangan maupun sebagai teman, kita saling mengingatkan, menguatkan dan mendoakan. Karena kita tak luput dari khilaf dan lupa, tak lepas dari salah dan dosa, maka kita butuh untuk diingatkan. Karena kita lemah, karena ada kekurangan dibalik kelebihan yang kita miliki, maka kita butuh dukungan dan juga bantuan. Karena iman di dada sering naik turun, karena hati kita sering berubah tak pasti, maka kita perlu saling mendoakan.

    Ya Allah, aku mohon dekatkanlah aku dengan segala sesuatu yang bisa mendekatkanku kepada Mu. Termasuk orang-orang yang dekat dengan Mu. Dan jauhkanlah aku dari segala sesuatu yang bisa menjauhkanku dari Mu. Termasuk orang-orang yang jauh dari Mu. Amin, Ya Rabb.

    http://abisabila.blogspot.com

    ==============================
    kumpulan cerita religi islami – kisah sumber religi islami – cerpen penuh religi islami

  9. situs mantan kyai NU: http://www.mantankyainu.blogspot.com

    situs yg menjelaskan haramnya musik, termasuk musik religi juga haram: http://www.jauhilahmusik.wordpress.com

    ketahuilah bahwa pacaran itu haram, jadi jangan pacaran: http://www.pacaranituharam.wordpress.com

  10. ambil hikmahnnya………
    buang buruknx………
    subhanallah………^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s