kumpulan cerita religius penuh hikmah – kisah religius penuh hikmah – cerpen religius penuh hikmah

kumpulan cerita religius penuh hikmah – kisah religius penuh hikmah – cerpen religius penuh hikmah
==============================

Mutiara hikmah ujian-Mu

Jumat, 21/01/2011 14:50 WIB | email | print

Oleh Silvani

Ya Rabb… Jangan Engkau ambil nyawa anakku… demikian jerit batinku saat melihat anak sulungku terbaring lemah di rumah sakit saat dinyatakan positif terkena virus H1N1 (flu babi). Hati manakah yang tak sedih melihat sang buah hati sakit tak berdaya?

Semakin pedih karena harus meniggalkan si sulung di rumah sakit yang harus menjalani rawat inap, ia pasti membutuhkanku,ibunya. Kukuatkan diri ini, si sulung akan dijaga ayahnya, dan aku harus pulang bersama si bungsu yang masih berusia 12 bulan. Yaa Rahman .. Yaa Rahiim… kusebut asma-Mu tanpa henti dalam perjalanan pulang menuju rumah…

Kutatap si kecil dalam pelukan.. ia masih bergantung penuh padaku, aku pun masih menyusuinya. Tak boleh larut dalam kesedihan. Teringat perkataan guru agamaku dulu bahwa Allah tidak akan memberi beban yang tidak akan sanggup dipikul oleh hamba-Nya… sabar dan ikhlas, akan kujalani semua ini dengan pertolongan-Mu yaa Allah.

Siang itu tulang-tulang tubuhku terasa sakit, lutut ini rasanya lemas.. jangan-jangan aku terkena virus yang sama pikirku. Kutepis pikiran itu, namun badanku semakin melemah, kurasakan badanku mulai demam.

Segera aku ke rumah sakit dengan terlebih dulu menitipkan si kecil pada tetangga baikku. Aku tak mau membawanya ke rumah sakit. Kemungkinan besar aku juga terkena virus H1N1, dan aku diminta menjalani tes oleh dokter, demikian menurut dokter.

Astaghfirullah… aku takut luar biasa, Satu pikiranku, bagaimana nasib si kecil, siapa yang kan mengurusnya di kala aku sakit? Ya, kami tinggal di negeri orang, jauh dari sanak saudara. Segera kutelepon suamiku untuk mengabari keadaanku, dan ternyata suamipun merasakan gejala yang sama, sakit seluruh tubuh dan demam. Dia pun menjalani tes sepertiku…

Kami putuskan mendatangkan ibu dari Indonesia, alhamdulillah ibu akan usahakan datang secepatnya, esok hari dengan penerbangan pertama. Oleh dokter Aku diperbolehkan pulang dengan bekal obat, tapi dengan beberapa syarat , harus selalu memakai masker, dan diharuskan sering mencuci tangan terutama sebelum memegang si kecil.

Aku pun diminta menyapih anakku karena obat untukku tidak aman untuk ibu menyusui.. Malam itu kulalui dengan tubuh menggigil… Kusebut kembali asma-Mu, Yaa Rahman Yaa Rahiim… laa haula walaa kuwwata ila billah…

Pagi harinya kuterima kabar suami mengenai hasil tes laboratorium, aku dan suami positif terkena virus H1N1. Obat jangan sampai lupa diminum, begitu pesan suamiku. Tak lama kurasakan tubuh si kecil mulai demam.. jangan sakit Nak, bisikku sambil menangis… segera kubawa ia ke rumah sakit.

Si kecil harus menjalani rawat inap, kamar rawatnya besebelahan dengan kamar anakku yang pertama. Tak tega rasanya melihat jarum infus di tubuh anakku yang masih teramat kecil, tangisnya pun tak mau berhenti.. sabar anakku sayang.. mama usahakan yang terbaik untuk kesembuhanmu, bisikku padanya…

Hampir seminggu kami di rumah sakit. Sungguh berat memang ujian yang kuhadapi, tapi kuyakin akan pertolongan Allah.. Sujud syukurku kepada-Mu ya Allah… anak anakku sembuh dari virus yang mematikan dan diperbolehkan pulang. Kepulangan kami disambut dengan penuh kebahagiaan ibu di rumah.

Alhamdulillah kami bisa berkumpul bersama ibu tercinta. Kucoba mengambil mutiara hikmah dari ujian-Mu… Teringat satu ayat-Mu : Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji? (QS Al-Ankabut:2) Ya Allah… jadikanlah ujian ini sebagai penambah keimanan kami kepada-Mu aamiin.

==============================
kumpulan cerita religius penuh hikmah – kisah perawan cantik – cerpen religius penuh hikmah

About these ads

About sesungguhnya pacaran dan musik itu haram hukumnya ( www.jauhilahmusik.wordpress.com , www.pacaranituharam.wordpress.com )

pops_intansay@yahoo.co.id
This entry was posted in cerita eramuslim.com. Bookmark the permalink.

6 Responses to kumpulan cerita religius penuh hikmah – kisah religius penuh hikmah – cerpen religius penuh hikmah

  1. kumpulan cerita religius penuh hikmah – kisah religius penuh hikmah – cerpen religius penuh hikmah
    ==============================

    Kiamat; Antara Tangisan Dan seruling
    Jumat, 21/01/2011 07:28 WIB | email | print

    Oleh Abdul Mutaqin

    Pernahkah sahabat menemukan hal istimewa dari anak-anak kita? Aku yakin pernah, meskipun varian, intensitas, volume, segmen dan emosi yang berbeda-beda. Dan menyaksikan keistimewaan dalam kepolosan jiwa mereka, inilah yang aku katakan istimewa.

    Pernahkah menyaksikan anak-anak kita menangis? Pasti sering. Tapi, apa yang membuat mereka menangis? Pasti pula banyak macam ragamnya.

    Di suatu sore, diantara bau keringat sisa lelah mengajar. Debu masih menempel berbaur dengan minyak alami kulit wajahku. Kepenatan masih mencubit-cubit pinggang, punggung dan kedua belah tangan dari mengendalikan bebek besi yang setia mengantar pulang dan pergi mengais rizki. Baru saja kubenamkan bokong di atas kursi plastik, anakku; Rayyan bercerita.

    ”Ayah, tadi aku nangis”, hi hi hi, lucu. Melihat mimik wajahnya aku tersipu. Ya Tuhaan, aku seperti melihat bayangan wajahku sendiri. Seolah-oleh aku tengah diajak berdialog dengan jiwaku. Rayyan tak ubahnya aku diusianya sekarang. Mirip. Isteriku pernah mengadu padaku, banyak guru SDnya menyebut Rayyan dengan “Abdul Kecil”.

    “Nangis? Memang kenapa mas?”. Aku biasa memanggilnya dengan menambah kata mas; mas Rayyan, mengikuti budaya bundanya yang orang Jawa. Memang terdengar agak ganjil. Lazimnya, sebutan mas diakhiri nama dengan vokal o. Mas Parto, mas Joko, mas Tarmo, mas Trisno dan sebagainya. Lha ini, mas Rayyan. Ah biarlah, sing penting pantes.

    ”Itu, kakak Mikal cerita tentang kiamat. Kakak ceritanya sambil nangis. Aku ikut nangis. Rafi juga nangis”, lhaa…, tiga bocah kecil nangisin soal kiamat. It’s amazing.

    ”Coba-coba, ceritain lagi, ayah penasaran apanya yang bikin mas Rayyan nangisin kiamat”. Ahaaa …, tubuhku segar kembali seolah telah mandi. Rasa penatku bagaikan debu menempel di atas batu licin dihempas angin. Buzzzzzzzzzz …., hilang semua.

    Ini adalah golden opportunity meminjam istilahnya bu Neno Warisman. Tokoh yang dulu pernah sempat aku menjadi wali kelas anaknya; Ghiffari Zaka Waly, siswa cerdas yang jarang disadari kecerdasannya oleh gurunya sendiri waktu itu. Golden opportunity adalah kesempatan emas yang tidak boleh dilepas tanpa memberikan apa-apa kepada mereka. Saatnya mencelup jiwa Rayyan dengan warna celupan Allah melalui pintu kiamat. Aku tak ingin melewatkan tangisan kiamat anakku Rayyan menguap tanpa bekas. Harus. Hanya saja, kadang aku dan kita tidak terlalu peka menangkap golden opportunity yang diciptakan anak-anak kita. Kita sering abai walau tidak terlalu salah karena mungkin energi kita sudah habis diterkam lelah sepanjang waktu.

    Eh alaaa, Rayyan berkaca-kaca. Dia benar nangis lagi.

    ”Habis, aku takut. Ceritanya serem. Kata kakak, nanti langit pecah Yan, bumi bergoyang-goyang. Matahari engga ada sinarnya lagi. Hancur semuanya. Ayah sama bunda berpisah. Aku tidak kenal kakak lagi. Terus kakak nangis, ya aku nangis. Rafi juga nangis”, Aku tersentuh. Hatiku seperti melayang ke alam bawah sadar mengembara diantar oleh tiga anak kecil kelas 1, 2 dan 3 SD.

    “Mas Rayyan percaya, Allah sayang pada kita?”, kataku mulai mengarahkan nalarnya. Rayyan mengangguk dan mulutnya mengatakan ya. ”Jika Allah sudah sayang sama mas Rayyan, sayang sama mba Mikal dan Rafi. Sayang pada kita semua, kiamat itu tidak akan menyakiti kita. Kita akan diselamatkan oleh Allah yang menyayangi kita. Oke?”

    ”Aku ingin di sayang Allah terus”, anakku Rayyan bergumam. Nah … umpanku dicaploknya. Aku berbinar. Hatiku girang tidak alang kepalang. Ini yang aku tunggu-tunggu.

    ”Mas, kita semua bisa disayang Allah selamanya. Tetapi agar kita disayang Allah ada syaratnya”, aku pancing lagi ingin tahunya.

    ”Apa yah syaratnya?”, gooooooool. Aku mendapatkannya.

    ”Mas Rayyan sudah punya kok syaratnya, cuma masih harus ditambah. Kemarin, mas Rayyan sudah puasa Ramadhan sebulan kurang sehari karena sakit. Mas Rayyan sudah mau ngaji lagi. Allah pasti sayang. Tapi jika mas Rayyan solatnya juga rajin, hmmmm, Allah pasti sayang terus sama mas Rayyan. Tapi jika kita semua tidak mau puasa, tidak mau ngaji, tidak mau solat, Allah juga tidak mau sayang sama kita”. Ya Rabb, semoga ini membekas dalam kalbunya.

    Aku senang bisa melukis tauhid di atas kanvas jiwa Rayyan. Harapanku, semoga lukisan iman itu lebih mempertegas syahadat di hadapan Rabbnya saat ia di alam rahim. Dan semoga, lukisan itu akan dibawanya sampai mati, sampai dibangkitkan dan menjadi bekalnya saat kiamat nanti. Aku kira, semua orang tua akan senang melakukannya.

    Aku bersyukur masih ada anak yang menangis karena kiamat di zaman ini. Dunia sekarang adalah dunia lawakan, dunia sinteron dan dunia musik serta hiburan. Dunia seperti itu jarang mengajarkan tetesan air mata dan rasa takut pada Tuhan. Bahkan berita tentang kiamatpun diiringi gitar, gendang, perkusi, seruling dan goyangan. Pada akhirnya, berita tentang kiamat yang dihantarkan oleh musik tidak menggerakkan manusia mengingat kuburan, tetapi larut dalam kesyahduan suara seruling dan perkusi serta kesenangan.

    Aku sempat melihat di televisi sang raja musik khusyu membawakan lagu kiamat. Tetapi tak ada satupun yang menangis. Bahkan walau dengan malu-malu, masih ada juga yang bergoyang. Tapi mungkin masih nyerempet-nyerempet relevan, sebab nanti di hari kiamat manusia bergoyang seperti mabuk, padahal mereka tidak mabuk. Hiii, serem lagi.

    ”(Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat keguncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi adzab Allah itu sangat keras”.(terjemah QS. Al Hajj [22]: 2)

    Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua),

    pada hari ketika manusia lari dari saudaranya,

    dari ibu dan bapaknya,

    dari istri dan anak-anaknya.

    Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.(terjemah QS. Abasa [80]: 33-37)

    Bagaimana kita tidak tersentak memahami berita dahsyat di atas? Bagaimana mungkin dahsyatnya kiamat dihiburkan dengan seruling, gendang dan perkusi? Sedangkan generasi terbaik ummat ini tidak kering-kering air matanya membayangkan kerasnya yaumul qiyaamah. Astaghfirullah.

    Diriwayatkan dari Abu Dzar bahwa Rosulullah bersabda: “Sesungguhnya aku melihat sesuatu yang tak bisa kalian lihat, mendengar apa yang tak kalian dengar, yaitu langit telah retak dan sudah semestinya langit berderak. Di sana tiada suatu tempat untuk empat jemari kecuali telah ada malaikat yang menyungkurkan dahinya bersujud kepada Allah. Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui niscaya kalian pasti sedikit tertawa dan banyak menangis. Kalian juga tidak akan bersenang-senang dengan istri di tempat tidur, kalian tentu akan keluar ke jalan-jalan untuk memohon perlindungan kepada Allah” lalu mata Abu Dzar pun berlinangan tangis dan berkata: “demi Allah, seandainya bisa, lebih baik aku menjadi pohon saja yang diambil daunnya”(HR Tirmidzi: 2312).

    Mikal, Rayyan, Rafi, semoga tangis kalian tidak sia-sia.

    Depok, Januari 2011

    abdul_mutaqin@yahoo.com

    ==============================
    kumpulan cerita religius penuh hikmah – kisah perawan cantik – cerpen religius penuh hikmah

  2. kumpulan cerita religius penuh hikmah – kisah religius penuh hikmah – cerpen religius penuh hikmah
    ==============================

    Maukah Kamu Menikahiku?
    Kamis, 20/01/2011 13:37 WIB | email | print

    Oleh Anung Umar

    Gadis itu datang dengan rasa malu yang membuncah di dadanya, kemudian perlahan ia menghampiri pria itu, seorang pria yang gagah lagi tampan, serta idola orang-orang. Gadis itu menundukkan kepalanya lalu berkata, “Aku menyerahkan diriku padamu..”

    Siapa gadis itu dan siapa pria itu? Jangan salah paham, penggalan cerita di atas bukan diambil dari novel remaja dan bukan pula dari cerita roman, apalagi cerita ’17 tahun ke atas’. Penggalan cerita di atas bukan fiktif, itu kisah nyata yang dinukil oleh orang-orang mulia nan jujur. Tahukah Anda siapa gadis itu dan siapa pria itu?

    Gadis itu adalah seorang shahabiyah*, sedangkan pria itu adalah seorang pemimpin bagi kaumnya, dan selain kaumnya, bahkan pemimpin para utusan ilahi, pemimpin umat manusia, pemimpin makhluk Allah sejagat alam, yaitu Nabi kita Muhammad صلى الله عليه وسلم . Kelanjutan kisah di atas bisa dilihat di Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.

    Ada apa antara shahabiyah itu dengan Nabi kita? Dia mendatangi beliau untuk menawarkan dirinya untuk dinikahi! Lho memang boleh wanita ‘agresif’ seperti itu? Tentu saja boleh, karena siapa yang melarang wanita untuk ‘agresif’ dalam hal ini? Begitu sangat berdosakah kalau wanita ‘seagresif’ ini?

    Kalau itu memang perbuatan dosa dan pelanggaran terhadap syariat Islam, tentu Rasulullah صلى الله عليه وسلم akan menegur shahabiyah tersebut dan beliau juga tentunya akan menjelaskan larangan tentang hal itu kepada para sahabatnya, sebagaimana kebiasaan beliau tatkala menyaksikan kesalahan yang dilakukan beberapa sahabatnya. Akan tetapi, dalam kasus di atas, ternyata tak ada sepatah kata pun yang keluar dari lisan beliau صلى الله عليه وسلم kepada shahabiyah tersebut apakah teguran, nasihat apalagi hardikan atas apa yang diperbuatnya. Sebab kelanjutan dari kisah di atas, setelah beliau memandanginya, beliau terdiam (karena tidak tertarik dengannya). Melihat gelagat seperti itu, sahabat yang ada di sisi beliau berkata dengan penuh semangat, “Wahai Rasulullah, nikahkanlah aku dengannya, kalau engkau memang tak berminat dengannya.” Di akhir hadits, beliau pun menikahkannya dengan wanita tersebut.

    Kalau begitu bukanlah aib dan bukan pula suatu yang dimakruhkan apalagi diharamkan bila seorang wanita menawarkan diri untuk dinikahi kepada pria yang ia pandang baik akhlak dan agamanya. Hanya saja, yang perlu digaris bawahi dan digaris atasi di sini yaitu kalimat untuk dinikahi. Boleh seorang wanita menawarkan dirinya kepada seorang pria untuk dinikahi, bukan untuk dipacari dan bukan pula dicandai apakah dengan alasan “ta’aruf”, “maslahat dakwah” dan lain-lain.

    Seorang wanita memang diberi kelebihan, keistimewaan dan kemuliaan oleh Allah berupa sifat malu yang sangat dominan dalam perilakunya, akan tetapi apakah sifat malunya tersebut menghalanginya untuk menggapai kenikmatan yang disyariatkan Allah?

    Shahabiyah di atas mencontohkan kepada kita, betapapun lekatnya sifat wanita pada dirinya dan betapapun besarnya rasa malu yang ada pada dirinya, itu tidak menghalanginya untuk mendapatkan apa yang dihalalkan untuknya oleh Rabbnya.

    Di satu sisi ia ‘nekat’ dan ‘agresif’, akan tetapi di sisi lain ia adalah seorang shahabiyah yang tentunya lebih mulia, lebih suci hatinya, lebih banyak ibadahnya dan lebih menjaga kehormatan daripada wanita manapun, dan dimanapun setelah masanya. Ia termasuk deretan wanita-wanita terbaik umat ini, sangat jauh melampaui kita! Nabi kita bersabda, “Sebaik-baik generasi adalah generasiku (Para sahabat dan shahabiyah) kemudian setelahnya (tabi’in) kemudian setelahnya(tabi’ut tabi’in).” (HR. Bukhari Muslim)

    Jadi termasuk cara yang diperbolehkan oleh islam bagi wanita untuk mendapatkan jodoh adalah dengan menawarkan dirinya kepada pria yang disukainya. Dan itu termasuk bentuk ikhtiar yang diperbolehkan dalam Islam.

    Sebab, jodoh itu tidak bisa didapatkan hanya dengan menengadahkan tangan ke langit dan tidak cukup pula dengan menghiasi malam-malam dengan air mata yang terurai di tempat sujud. Sebab, “langit itu tidak menurunkan hujan berupa emas”. Demikian kata mutiara dari sahabat Nabi yang mulia, yaitu ‘Umar bin Khaththab. Kata ini keluar dari lisannya tatkala menyaksikan seorang yang seolah-olah ingin mendapatkan rezeki akan tetapi ia hanya menyibukkan dirinya dengan ibadah di masjid dan tidak bekerja.

    Demikian pula, untuk menggapai jodoh tak cukup hanya dengan mengandalkan kemampuan kita sendiri atau bantuan orang lain, tanpa mengingat bahwa di tangan-Nya lah jodoh seluruh makhluk. Bila Dia berkehendak untuk memberikan jodoh kepada seorang hamba, maka Dia akan memberinya walaupun ia ‘lari’ darinya. Sebaliknya, kalau Dia tak menghendaki, maka jodoh tak akan ia temukan meskipun ia berusaha mencarinya ke seluruh penjuru dunia, menembus laut, membelah gunung. Jodoh itu di tangan-Nya.

    Oleh karena itu, dalam menjalankan segala usaha, di antaranya mencari jodoh, seorang muslim dan muslimah dituntut menjalankan dua hal : berikhtiar dengan mencari dan menjemputnya, kemudian bertawakkal kepada-Nya dengan berdoa dan menyerahkan hasilnya kepada-Nya.

    Jadi jika seorang wanita telah mengerahkan segala usahanya untuk mencari jodoh (di samping dengan berdoa kepada Allah juga tentunya), entah dengan dijodohkan orang tua, atau dengan perantara comblang atau cara lainnya yang tidak melanggar syariat, akan tetapi belum pula mendapatkannya, kenapa tidak coba saja cara yang ditempuh shahabiyah di atas? Itu salah satu bentuk ikhtiar yang diperbolehkan, siapa tahu melalui sebab itu Allah mengantarkannya menuju pelaminan. Bukankah itu lebih baik daripada waktu memakannya hari demi hari?

    Maka, tak mengapa, meskipun darahmu berdesir, hatimu bergetar, tubuhmu menggeletar, cobalah datangi pria saleh itu, katakanlah, “Akh/ Mas/ Bang/ Kang, maukah kamu menikahiku?”

    Jakarta, 4 Dzulhijjah 1431/9 November 2010

    *Shahabiyah adalah wanita yang hidup di zaman Nabi, pernah bertemu dengan beliau dan beriman kemudian ia mati di atas islam. Shahabiyah itu dikategorikan sebagai sahabat Nabi صلى الله عليه وسلم yang tentunya memilki keutamaan yang banyak lagi mulia dan itu telah banyak disebutkan dalam kitab-kitab aqidah.

    anungumar.wordpress.com

    ==============================
    kumpulan cerita religius penuh hikmah – kisah perawan cantik – cerpen religius penuh hikmah

  3. kumpulan cerita religius penuh hikmah – kisah religius penuh hikmah – cerpen religius penuh hikmah
    ==============================

    Kesenangan Lenyap Seketika
    Kamis, 20/01/2011 07:06 WIB | email | print

    Oleh bidadari_Azzam

    Satu keluarga itu bernyanyi riang gembira di musim semi tahun lalu, masuk ke mobil mereka, kemudian tampak anak-anak menikmati beberapa snacks, dan orang tuanya mengobrol mesra. Tak sampai semenit kemudian saat mereka memasuki jalan raya, “gedubraak!”, tabrakan maut terjadi, entah kenapa mobil itu menabrak tiang besar lalu ‘menyenggol’ bus panjang yang sedang melaju dari arah berlawanan. Pemandangan itu sangat meyeramkan, kami segera berlalu dari riuhnya situasi jalan raya tersebut, seraya menyebut nama-Mu, ya Allah…

    Senyuman, tawa, cerah ceria dapat lenyap seketika atas izin dan kuasa-MU.

    Sama halnya kala kuingat tentang seorang tante Laura, usianya sangat muda, masih belum kepala empat. Tahun lalu di kala beliau berlibur dari sumatera ke Bandung, Jakarta dan sekitarnya, tiba-tiba tawa lenyap dari wajahnya saat merasakan nyeri dan lemas badan, langsung ke emergency, beberapa jam kemudian tubuhnya sudah membiru, malaikat maut telah menjalankan tugasnya. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un… tak ada suami yang mendampingi, juga anak dan keluarga lainnya, persis seperti nasehat ustadzahku dahulu, “Bahwa tak ada tempat kita bergantung setiap waktu, kecuali Allah SWT. Di kala maut menghampiri, kita harus menghadapinya sendirian, tiada mama papa, tiada suami, anak-anak, saudara, siapa pun tak dapat menolong, kita hanya ditemani oleh belaian-NYA. Cuma Dia yang dapat memudahkan jalan menuju kesana, begitu pun saat memasuki alam kubur, hanya amalan di dunia yang kita bawa.”

    “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran [3] : 185), dulu kalimat itu sudah tak asing di telinga Rara. Namun saat karirnya melesat bersama suami, ia malah lupa pada semangat juangnya, ia malah lalai mengingatNYA. Target-target amal jariyyah yang biasa ia buat sudah terkubur seiring menumpuknya target proyek kerja di kantornya, ia lebih teliti pada tampilan fisik atau zahir dibandingkan dengan berkaca diri atau muhasabah atas kualitas pribadi. Ia lebih banyak mengontrol baby-sitter dari pada menemani hari-hari sang buah hati. Tiba-tiba di hari itu, teman Rara mengabarkan padaku, “Ri… Kamu tau Rara, kan…? Sekarang ia janda, kemarin suaminya meninggal dunia karena kecelakaan tragis,” Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un… Ya Allah, secepat itu suatu kesenangan hidup lenyap. Anak-anak yatim jadi bertambah, perencanaan alur hidup jadi berubah. Sungguh Maha Kuasa, duhai Robbi…

    Sebagai hamba-Nya yang telah menikmati keindahan Islam, orang-orang beriman diberikan hiburan tentang kematian. Walaupun kenikmatan dunia hilang, sungguh kehidupan abadi telah menanti, dan kita antri menuju kesana. Insya Allah. Tidak seperti orang kafir yang selalu saja berusaha untuk menghindari kematian, mencari segala obat anti-penuaan, pil-pil berkhasiat panjang umur misalnya, naudzubillahi minzaliik, Orang beriman sangat dipengaruhi oleh pesan Baginda Nabi shollallahu ’alaih wa sallam yang bersabda, “Banyak-banyaklah mengingat penghapus kenikmatan, yakni kematian.” (HR. Tirmidzi, No. 2229)

    Juga pada hadits lainnya, Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda, ”Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” Dan dalam hadits lain disebutkan, ”Kematian adalah hiburan bagi orang beriman.” (HR. Ibnu Abi ad Dunya dengan sanad hasan)

    Sehingga disamping tetap optimis menghadapi skenario-NYA, harus pula mengingat bahwa belum tentu nafas ini masih berhembus di menit kemudian. Selain harus optimal berusaha dalam beramal, sekaligus harus mengingat bahwa antrian menuju alam kubur-Nya makin dekat. Dengan mengingat kematian, otomatis hati yang tadinya masih penuh rasa iri, dapat berubah menjadi hati yang bersyukur. Dengan mengingat bahwa kesenangan pasti bisa lenyap, maka sesungguhnya kita akan melaksanakan amanah-amanah dengan sebaik-baiknya. Tak perlu diawasi oleh para polisi, KPK, atau manusia-manusia lainnya, cukuplah Allah SWT yang mengawasi gerak-gerik kita, apakah sudah mengerjakan amanah dan segala tugas sesuai peranan masing-masing, ataukah malah berbuat curang dengan mengabaikan amanah dan hak-hak orang lain? Sesungguhnya jika hanya mementingkan kesenangan pribadi dan melanggar hak orang lain, tak lain dan tak bukan bermakna telah melanggar aturan Allah, sungguh beraninya, telah menipu Allah SWT!

    Beberapa tahun lalu kita dikirim-NYA hikmah, atas sebuah peristiwa memalukan, seorang karyawan level tinggi di sebuah perusahaan, ditemukan telah meninggal dunia dalam mobilnya, di sudut kota J, bersama seorang wanita yang bukan mahromnya, astaghfirrulloh, dalam keadaan (maaf) setengah bugil pula. Semua orang dewasa mengerti ‘sedang apa mereka’, dan sungguh malangnya, sakaratul maut di kala berzina, bahkan meninggalkan ‘warisan malu dan sakit hati’ bagi istri dan anak-anak yang tadi mengira sang ayah sedang mengerjakan tugas di kantor.

    Kalaulah akal kita memang bekerja dengan baik, tentu kejadian tersebut bisa jadi pelajaran buat semua pihak. Siapa pun kita, saat ini sedang memegang amanah, memiliki peranan dalam kehidupan yang berkualitas, sehingga bila ingin ‘akhir yang baik’ kala ajal menjemput nan tiba-tiba, jangan pernah menipu Allah SWT. Jadilah pejabat atau penguasa yang amanah atas tugas-NYA yang merupakan amanah dari rakyat pula, jadilah mahasiswa rantau yang amanah walaupun orang tua berada jauh di kota lain, jadilah orang tua yang amanah, guru yang amanah, dokter yang amanah, manajer yang amanah, dan lain sebagainya. Sebab menjalankan amanah-amanah itu adalah berat, namun juga tetap ada godaan dan kesenangan di berbagai sisi, dan kita harus hati-hati, penghujung kesenangan yang dapat lenyap seketika, saat raga terbujur kaku, tangan tak dapat lagi meliuk-liuk mencari celah korupsi, mata terpejam dan mulut tak lagi dibungkam makanan enak, melainkan terkubur tanah. Siapkah kita mempertanggungjawabkan amanah-amanah ini ?

    Wallahu a’lam bishowab.

    (bidadari_Azzam, Krakow, malam 20 jan. 2011)

    ==============================
    kumpulan cerita religius penuh hikmah – kisah perawan cantik – cerpen religius penuh hikmah

  4. kumpulan cerita religius penuh hikmah – kisah religius penuh hikmah – cerpen religius penuh hikmah
    ==============================

    How Do You Feel?
    Rabu, 19/01/2011 13:38 WIB | email | print

    Oleh Mamah Hikmatussa’adah

    Pernahkah anda dihujani pertanyaan “kapan nich mengakhiri masa lajang?” atau mungkin pertanyaan seperti ini, “udah hamil belum?”, “kapan tambah momongan?” dan bla bla bla. Saya yakin anda semua pasti pernah mendapatkannya.

    Kini saya yang berbalik bertanya pada anda, pernahkah anda memikirkan perasaan orang yang ditanya demikian? pernahkah memperhatikan gejolak psikis dari orang yang anda tanya? Nah, kalau ini saya pun yakin anda tidak akan pernah mau tahu bagaimana rasanya dan mungkin bisa jadi anda melupakannya.

    Seperti yang terjadi pada saya. Sore itu seperti biasa saya dan teman-teman yang lain berkumpul dalam sebuah agenda rutin, karena saya bertugas menjadi MC maka saya pun bertanya kepada teman-teman saya satu persatu. Kali ini giliran AF yang saya tanya. Meski kami tinggal satu kota namun karena kesibukan kami masing-masing, kami hanya bisa bertemu satu pekan sekali, itu pun kalau dia bisa hadir.

    Sore itu saya bertanya kabar dan pertanyaan basa basi lainnya dan sampailah pada pertanyaan, “Gimana nich AF sudah hamil belum?” AF pun sontak menjawab dengan raut muka tak seramah biasanya “Belum mbak”. Deg. Saya pun merasa bingung. Astaghfirulloh! Saya segera beristighfar sebanyak mungkin, saya telah melakukan kesalahan pikir saya.

    Saya pun terdiam. Kemudian teman saya yang lain mengingatkan, “Pertanyaan begitu suka bikin BT ya kan?” AF pun mengangguk. Ya Alloh apa yang telah saya lakukan pada saudara saya, saya telah menyinggung perasaannya, gumam saya dalam hati. “Saya juga dulu gak suka kalau ada yang tanya begitu.” Ujar teman saya yang lain. “Iya mbak, memangnya kita menikah itu hanya untuk membuat anak?” kata AF menambahkan. Deg. Ya Rabbi. Makin dalam tertunduk saya menyesali pertanyaan yang saya lontarkan tadi.

    ***

    Secara psikologi pertanyaan seperti yang sebutkan di atas memang sangat terdengar tidak nyaman bagi yang ditanya. Saya pun dulu sebelum menikah pernah membaca artikel tentang itu di sebuah majalah yang saya temukan di rumah. Belum tentu orang yang kita tanya demikian merasa senang ketika diberi pertanyaan seperti itu.

    Mungkin ketika ditanya bisa saja raut muka kita tersenyum saat menjawab namun dalamnya hati orang siapa bisa ditebak? Ada tipikal orang yang cuek ketika ditanya demikian, saking cueknya bahkan menganggap itu pertanyaan yang sudah jadul, tapi saya yakin secuek-cueknya, pasti orang tersebut akan merasa tidak nyaman juga dengan pertanyaan tersebut. Dan akan terngiang terus hingga ke alam bawah sadarnya.

    Namun tak dipungkiri juga bahwa bertanya seperti itu seakan menjadi kebiasaan, adat istiadat di kalangan kita. Bahkan sampai dibuat iklan. Alangkah baiknya, pertanyaan tersebut diganti dengan kalimat positif yang berupa doa. “Semoga lekas menggenapkan diennya ya..” atau “Semoga segera diberi momongan ya?” dan doa yang lebih baik lagi. Agar tak ada hati yang tersakiti akibat lisan yang mungil ini.

    Astagfirulloh! Ampunilah lisan hamba Ya Rabb, ketika tanpa sadar dan tanpa sengaja bertanya hal seperti itu kepada saudara-saudara hamba. Dan berilah kelapangan pada hati ini untuk menjawab pertanyaan tersebut, hingga tak bermuka masam bahkan menangis secara sembunyi-sembunyi ketika merasa tidak nyaman.

    Semoga kita semua bisa saling memahami dengan kondisi saudara-saudara kita yang berbeda satu sama lainnya. Wallohu ‘alam bis showab….

    ==============================
    kumpulan cerita religius penuh hikmah – kisah perawan cantik – cerpen religius penuh hikmah

  5. kumpulan cerita religius penuh hikmah – kisah religius penuh hikmah – cerpen religius penuh hikmah
    ==============================

    Jika Tempat Kerja Berubah Jadi Gudang Derita
    Rabu, 19/01/2011 07:29 WIB | email | print

    Oleh Syaifoel Hardy

    Saya pindah-pindah kerja sebanyak delapan kali. Di sektor pemerintahan ataupun swasta. Dari satu lembaga ke lembaga lain. Dari satu kota, ke kota lain. Dari satu negera, ke negara lain. Sebanyak itu pula saya jumpai tidak ada organisasi yang sempurna, setidak-sempurnanya diri saya. Tidak ada yang perfect memang dalam dunia ini. Bisa jadi saya terlambat mengetahui falsafah kerja dalam hidup. Tetapi itulah kenyataannya.

    Jutaan orang mengalami hal yang sama. Mereka cari tempat yang lebih baik dan lebih baik. Meloncat ke sana-ke mari, menengok ke kanan-ke kiri. Siapa tahu barangkali ada tempat berteduh yang lebih sejuk. Akan tetapi apa lacur? Banyak mereka yang beruntung, meski tidak sedikit pula yang jadi hancur.

    Melihat selembar foto yang nyangkut di Facebook (FB) tadi pagi, membuat lamunan saya hanyut. Pandangan saya tertuju pada sosok Anas, begitu saya biasa sebut namanya. Salah satu seorang kerabat, tidak kurang dari lima belas tahun pengalaman kerjanya. Sosoknya terpampang dalam foto tersebut. Dia masih nampak segar, bugar dan tampan. Saya, waktu itu, berharap bahwa dia kelak bisa berhasil dalam kariernya. Mengangkat derajat dan martabat keluarganya. Membuat kami semua bisa bangga. Setidaknya, ada yang bisa diharap darinya.

    Lima belas tahun berlalu sudah. Begitu cepat. Lebih cepat saya rasakan dari perjalanan Bus Patas Malang-Surabaya yang biasa saya menjadi pelanggannya di kala kerja. Secepat itu pula perubahan yang saya rasakan terjadi dalam diri Anas. Bukannya lebih baik. Namun sebaliknya. Itu dalam pandangan saya. Bukan darinya.

    Perubahan yang ada pada Anas, saya rasakan bukan hanya dari aspek fisik saja tentunya. Bahkan dalam tinjauan sosio-psikologis, saya tidak melihat adanya perbaikan yang significant dalam diri Anas. Ah…..saya jadi ikut merasakan betapa tidak nyaman perjalanan hidupnya. Sebuah penilaian sepihak memang.

    Tahun ini, dia bertambah usia, sekaligus berkurang jatah umurnya. Sama seperti saya. Tahun lalu, dia sempat empat kali harus mondok di sebuah rumah sakit. Dua kali di antaranya saya diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk bisa melihat dari dekat kondisinya. Ada rasa bersalah dalam diri saya, karena dia tidak bisa membantunya maksimal meraih sesuatu yang menurut ukuran saya mampu diciptakannya, guna merubah dirinya. Betapa malang nasibnya.

    Saya memang tidak pernah tahu bagaimana dan seperti apa tempat kerjanya. Siapa rekan-rekannya. Serta bagaimana lingkungan di mana dia berada. Yang saya banyak dengar darinya adalah, bahwa Anas senantiasa menikmati perjalanan profesinya. Bahagia di antara rekan-rekannya. Serta diterima di lingkungan di mana dia tinggal. Sebuah cerita sepihak yang justru membuat saya jadi bertanya-tanya. Ada apa dengan Anas?

    Sayangnya, Anas tidak mampu meyakinkan saya bahwa dia seharusnya tidak berada dalam situasi dan kondisi seperti sekarang ini bila ditunjang oleh kondisi tempat kerja, tempat di mana dia tinggal, serta rekan-rekan kerja dan masyarakat sekelilingnya. Saya hanya ingin tahu, bahwa peran tempat di mana seseorang bekerja, berpengaruh amat besar dalam perkembangan diri seseorang, bukan hanya karier. Bahkan sosial, spiritual serta professional.

    Anas bekerja sebagai guru, di sebuah sekolah dasar negeri di sebuah pelosok desa di Pasuruan, Jawa Timur. Anas meniti kariernya dari sana. Tidak kurang dari lima belas tahun silam. Di tengah ketidak-berdayaannya di atas sebuah tempat tidur di rumah sakit, saya berusaha membantu untuk menyelesaikan urusan administrasi di tempat kerjanya. Saya pun meluncur ke sana.

    Terdapat tiga persoalan mendasar yang bagi saya bisa menjadi himah dan pelajaran berharga. Bahwa fisik yang sudah melemah, teman tidak ada, harta pun tak punya, erat kaitannya dengan kerja. Sebuah kenyataan yang saya kurang yakin apakah Anas menyadarinya. Dalam kondisi sakit waktu itu, sudah tentu dia tidak mampu melakukan itu semua.

    Saya tidak ingin berlagak kayak FBI agent yang sangat getol mencampuri urusan orang lain serta seluk beluknya. Saya hanya tergelitik ingin tahu lebih jauh, mengapa dia ‘tumbuh dan berkembang’ seperti ini? Tidak seperti kebanyakan guru-guru yang pernah saya kenal. Sebuah profesi yang sebenarnya menjanjikan perbaikan kondisi finansial jika digelutinya dengan baik.

    Dalam segi sosial, kita tidak harus menjadi seorang Ketua RT agar kita bisa bergaul dengan masyarakat sekitar. Kita juga tidak harus keluar setiap hari anjang sana, melongok tetangga, mengunjungi sanak keluarga. Bisa jadi, keterlalu-seringan bertandang ke sana-ke mari, malah jadi bahan ngrumpi, bukannya mendapatkan ‘isi’.

    Pula dari sisi fisik, kesehatan, kita tidak harus membeli makanan yang mahal agar tubuh ini bisa sehat. Apalagi di desa, di mana sayuran serta tumbuhan lain yang segar guna dikonsumsi untuk kepentingan tubuh ini umumnya tersedia. Intinya, untuk hidup dan berbadan sehat, tidak harus mewah.

    Saya ketemu dengan pimpinan Anas, sang Kepala Sekolah. Saya ketemu teman-teman sejawat Anas, para guru, hampir semuanya. Saya juga ketemu salah satu rekan kerja Anas, yang menurutnya ‘paling dekat’ meskipun dalam pandangan saya ‘begitu jauh’. Ketidak-dekatan Anas dengan rekan-rekan kerja membuat saya prihatin. Karena yang saya dengar, dari empat kali dirawat, hanya sekali rekan-rekan kantor nya menjenguknya. Betapa sepi rasanya. Dari para guru yang berbicara di depan mata kepala saya, Anas bukan seorang sosok guru sebagaimana yang Anas gembar-gemborkan pada saya selama ini. Kembali, saya bertanya dalam diri saya: apakah Anas salah pilih?

    Penghasilan sebagai guru mestinya menempatkan Anas dalam posisi ekonomi yang lebih baik dari kebanyakan orang. Apalagi Anas golongan IIIA. Tapi kenapa dia selalu kekurangan? Hutang pun di mana-mana. Padahal anak dan keluarga juga tidak? Perabotan rumah tangga apalagi. Ketika saya lihat di rumah sakit, kartu Asuransi saja juga belum klar. Sementara si Rupiah tidak terlihat di dalam dompetnya. Kondisinya yang lemah, dihimpit badan yang kurus kering, keberangkatan Anas ke rumah sakit bukannya diantar oleh orang-orang sekitar atau rekan kerjanya. Bagaimana semua ini bisa membuat Anas betah?

    Pembaca……

    Semua orang mendambakan tempat kerja yang nyaman. Semua orang menginginkan imbalan yang setimpal. Semua orang juga memimpikan lingkungan kerja yang ideal. Namun guna mewujudkan persyaratan itu semua, nyaris tidak mungkin, kecuali jika kita sendiri yang bertindak sebagai pengelolanya.

    Ada banyak hal-hal yang dalam jangkauan dan genggaman kita. Tidak terhitung pula yang di luar control atau kendali kita. Ini semua lantaran keterbatasan yang kita miliki sebagai manusia.

    Karena itu, beberapa rumusan dalam memilih atau mengantisipasi persoalan kerja itu penting. Sayangnya, acapkali kita tidak dalam posisi untuk memilihi. Sebaliknya, sering terjadi di mana kita ‘terpaksa’ untuk mengambilnya, bukannya memilih.

    Bagaimana jika hal ini yang terjadi?

    Yang pertama, adalah penting sekali mengenal sisi positif diri sendiri. Mengidentifikasi berbagai segi positif itu penting sekali karena mengedepankan sisi positif akan menempatkan ‘kelebihan’ yang di anak tangga teratas. Apakah itu bakat, pengetahuan maupun ketrampilan, baik itu soft skils atau hard skills. Hasil dari identifikasi potensi membuat kita dalam wining position, bukannya kalah dalam tawar-menawar.

    Yang kedua, tanamkan pemikiran bahwa duit bukan menjadikan prioritas utama dalam pencarian kerja. Tempat di mana saya bekerja saat ini (bukan dalam satu departemen), seringkali saya temukan senior hingga manager yang jelas-jelas gajinya amat besar hanya bertahan beberapa bukan saja. Sesudah itu mengundurkan diri, alias berhenti.

    Hal ini menunjukkan bukti bahwa duit bukan motivasi utamanya. Sebaliknya, jika kita menempatkan prestasi (mutu) dalam kerja pada urutan pertama, yang namanya uang akan mengikuti di belakang kita. Kalau tidak dalam waktu dekat, percayalah, tidak bakalan lama.

    Ketiga, utamakan keseimbangan sosial. Ingat, bahwa pekerjaan yang baik adalah amalan yang ilmiah. Syukur kalau ditunjang dengan ilmu yang ilmiah. Artinya, pekerjaan kita menyumbangkan nilai manfaat bagi masyarakat. Syukur jika bisa diimplementasikan di tengah-tengah masyarakat. Guru, tukang kayu, seni bela diri, perawat, dokter, insinyur, teknisi komputer, semuanya bisa membawa hikmah bagi masyarakat luas. Persoalannya, kita terkadang malu ‘mengumumkan’ kepada masyarakat bahwa kita bisa dan bersedia membantu mereka sekaligus mengamalkan ilmu kita.

    Tiga hal di atas, jika diterapkan dalam praktik di tempat kerja, bakal membantu kita paling tidak, merasa betah atau kerasan. Toh tempat kerja, apalagi jika kita di luar negeri, sifatnya selalu sementara.

    Terlebih lagi jika diniatkan ibadah, subhanallah. Kerja pun nikmat. Wallahu a’lam!

    Doha, 14 January 2011

    Shardy2@hotmail.com

    ==============================
    kumpulan cerita religius penuh hikmah – kisah perawan cantik – cerpen religius penuh hikmah

  6. kumpulan cerita religius penuh hikmah – kisah religius penuh hikmah – cerpen religius penuh hikmah
    ==============================

    Cinta Ibu Sepanjang Masa
    Selasa, 18/01/2011 13:54 WIB | email | print

    Oleh Galih Ari Permana

    Kasih ibu, kepada beta

    Tak terhingga sepanjang masa

    Hanya memberi, tak harap kembali

    Bagai sang surya menyinari dunia

    Syair lagu diatas saya dapat ketika duduk di bangku taman kanak-kanak. Lagu diatas mengajarkan sekaligus menceritakan kepada anak-anak tentang cinta dan sayang seorang ibu kepada buah hatinya. Cinta yang akan selalu mengiringi setiap langkah anak dalam menggapai cita-citanya.

    Seiring bergulirnya waktu saya semakin meyakini bahwa cinta seorang Ibu kepada anaknya adalah sebuah ketulusan. Apapun yang terjadi pada anak-anaknya seorang Ibu akan setia mendampingi mereka. Tidak perduli betapa besar kedurhakaan seorang anak dalam batin seorang Ibu cinta dan sayangnya tidaklah sirna.

    Ibu tidak pernah pamrih atas apa yang ia berikan dalam membesarkan anak-anaknya. Ibu juga tidak pernah menyimpan dendam atas sikap-sikap anaknya yang selalu menyayat hatinya. Sebaliknya, untaian doa tidak pernah terputus dia panjatkan semoga Allah membimbing setiap langkah anak-anaknya. Luasnya maaf tidak terbatas ia berikan untuk keselamatan anaknya karena seorang Ibu tahu jika ridha Allah itu tergantung ridhanya kepada buah hatinya.

    Ibu tidak pernah malu dengan sosok anaknya. Entah anaknya cacat, kelainan mental, atau ketidaknormalan lainnya. Bahkan Ibu orang pertama yang membesarkan hati anak-anaknya untuk tetap tegap berjalan. Dengan sabar Ibu mengajarkan segala sesuatu hingga anak-anaknya bisa.

    Ibu adalah orang yang berada di belakang para tokoh-tokoh itu. Namun, cinta seorang Ibu tidak putus ketika buah hatinya berada dibalik teralis. Kedua tangan Ibu masih terbuka lebar bagi anak-anaknya yang ingin kembali tidak perduli seberapa kelam diri anak-anaknya.

    Besarnya cinta seorang Ibu ternyata masih saja tidak cukup bagi anak-anaknya untuk berbakti kepadanya. Dengan otaknya yang cerdas seorang anak masih menghitung-hitung untung rugi berbagi dengan Ibunya seolah tulusnya pengorbanan seorang Ibu terhadapnya hal yang tidak pernah ada. Lemah lembutnya tutur kata seorang Ibu sering ditimpali dengan teriakan-teriakan kasar yang menyayat hati.

    Bersyukurlah bagi anak-anak yang memahami bahwa surga itu ada di telapak kaki seorang Ibu. Menjadikannya sebagai ladang amal menuju kampung akhirat.

    “Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku dan kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”

    ==============================
    kumpulan cerita religius penuh hikmah – kisah perawan cantik – cerpen religius penuh hikmah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s