kumpulan cerita seru wanita – kisah seru wanita – cerpen seru wanita

kumpulan cerita seru wanita – kisah seru wanita – cerpen seru wanita
==============================

Melatih Diri Agar Senantiasa Berprasangka Baik

Rabu, 09/02/2011 06:20 WIB | email | print

Oleh Endang TS Amir

Belum lama ini, aku mendengar berita miring tentang sikap tidak amanah seorang ikhwan. Atas berita itu, aku merasa kecewa kepada ikhwan tersebut. Aku menjadi tidak respek padanya. Aku terus ‘ngedumel’ dalam hati. Kok bisa ya, padahal jenggotnya panjang, istrinyapun memakai jilbab lebar. Aku terus berpikir, penampilan dan cara berpakaiannya menunjukkan sang ikhwan paham agama. Kok sampai?…

Cukup lama aku tenggelam dalam pikiran buruk tentang ikhwan itu. Hingga akhirnya, Allah mempertemukan kami dan kami terlibat perbincangan cukup lama. (Tentu saja ikhwan tersebut didampingi istrinya). Dari perbincangan itu, rasa respekku yang memudar akibat berita miring itu, perlahan-lahan tumbuh lagi. Dan tak henti-hentinya aku beristighfar di dalam hati di sela-sela perbincangan kami.

Akupun bersyukur kepada Allah. Dengan skenarioNya, Allah melindungiku dari prasangka buruk yang berkelanjutan terhadap saudara seiman. Dan atas kehendakNya, Allah bersihkan ikhwan tersebut dari segala dugaan-dugaan yang tidak benar melalui ‘perbincangan’ kami. Karena dari perbincangan itulah, aku jadi lebih paham tentang dirinya, bahwa sesungguhnya orang-orang salah sangka terhadap ikhwan ini.

***

Aku memiliki tetangga yang sudah bertetangga denganku lebih dari satu tahun-tetangga tesebut baru pindah ke komplek tempat kami tinggal. Jarak rumah kami sungguh dekat. Tapi aku belum pernah bertemu dengan penghuni rumah tersebut, apalagi ‘ngobrol’. Dan setiap aku lewat di depan rumahnya, kulihat pintu gerbangnya selalu di gembok. Kadang aku lihat mobilnya wara-wiri di depan rumah, dan kami hanya saling berlambaian tangan, dan itulah ‘komunikasi’-ku dengan tetanggaku itu. Terbersit dalam hati, kok begitu ya caranya bertetanggga. Sepertinya nggak mau ‘kenal’ orang. Nggak pernah ‘nenangga’, rumah juga tertutup rapat terus.

Seminggu yang lalu, tetanggaku ini menghubungiku, ia minta tolong agar dicarikan tenaga pembantu plus guru ngaji di rumahnya. Karena urusan tersebut, aku jadi berkesempatan berkunjung ke rumahnya. Dan dari kunjungan itulah, aku jadi lebih paham, mengapa ia tidak pernah ‘nenangga’, mengapa pintu rumah tertutup rapat dan pintu gerbang senantiasa digembok. Ternyata, si ibu ini memiliki 4 anak. 1 sudah belasan tahun dan 3 orang masih balita. Dan anak kedua yang berumur 5 tahun, berkebutuhan khusus. Masya Allah, pantas saja, ia tidak bisa bebas keluar rumah, pantas saja, rumah harus terus tertutup rapat (anaknya yang berkebutuhan khusus, tidak bisa melihat rumah terbuka).

Alhamdulillah…aku bersyukur, sekali lagi, Allah melindungiku dari prasangka buruk yang berkelanjutan. DiciptakanNya scenario, yang membuat aku dapat silahturrahim ke tetanggaku tersebut sehingga aku mendapat jawaban atas prasangka-prasangka burukku.

***

Dua pengalaman berharga yang membuat aku tersadar diri. Kita memang benar-benar tidak boleh berprasangka buruk. Jikapun kita menyaksikan sikap atau sifat seseorang “yang tidak mengenakkan”, kita tetap harus berpikir positif. Menyikapinya dengan cara pandang yang positif. Berusaha melihat, mungkin ada alasan yang dapat diterima, mengapa si A bersikap begini atau begitu.

Sebagai contoh, ada seorang ummahat yang kemudian diberi label “keras dan mau menang sendiri”. Pada mulanya aku sendiri agak tidak nyaman dengan sikapnya. Berangkat dari kesadaran tidak ingin berpikir buruk tentang orang lain, aku sedikit-sedikit mencari tahu tentang dirinya, berusaha lebih dekat dengannya. Walhasil, terjawablah teka-teki, kenapa sang ummahat yang terlihat paham agama, lulusan pesantren, tetapi “keras dan mau menang sendiri”. Ternyata, Ummahat ini berasal dari sebrang. Orangtuanya hingga kini masih hidup dan bukan penganut agama islam. Kemudian ia tinggalkan keluarganya demi memeluk islam. Sebagaimana diketahui, orang sebrang memiliki hubungan kekerabatan yang kuat dan erat. Bukan perkara mudah “pergi” meninggalkan orangtua dan kemudian berpindah agama. Justru dengan sikap keras dan mau menang sendirinya itulah yang membuat sang ummahat “kuat” meninggalkan orangtua dan agama nenek moyangnya demi Islam. Artinya, secara pribadi memang ia typical orang yang “keras”. Jika dilihat dari latar belakangnya, justru sifat “keras” itu yang menjadi kelebihannya.

Pada umumnya kita semua tahu bahwa berprasangka buruk itu dilarang. Tetapi, dalam keseharian kita, betapa sulit menghindar dari perilaku ini. Prasangka artinya membuat ‘keputusan’ sebelum mengetahui fakta yang relevan mengenai objek tersebut. Padahal Allah berfirman,”Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka! Karena sebagian dari prasangka itu adalah dosa.” (QS. Al-Hujurat [49] : 12)

Dan Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, ” Jauhkanlah dirimu dari prasangka buruk, karena sesungguhnya prasangka itu adalah perkataan yang paling bohong.” (HR. Muttafaq’alaih)

Mustinya peringatan Allah tentang dosanya berprasangka buruk cukup membuat kita berhenti dari perbuatan tersebut. Berprasangka buruk, berkaitan erat dengan pola pikir negatif. Ketika menyikapi sebuah masalah atau kejadian, mindset kita tertuju kepada hal-hal yang buruk. Jadi hasilnya adalah prasangka-prasangka buruk yang berkembang. Dan ini harus dibenahi.

Saya menulis artikel inipun dengan niat, semoga tulisan ini menjadi tausiah pribadi. Semoga tulisan ini menjadi pengingat bagi saya ketika, prasangka-prasangka buruk memenuhi hati dan pikiran.

Wallahu’alam.
Ummuali.wordpress.com

==============================
kumpulan cerita seru wanita – kisah wanita – cerpen seru wanita

About these ads

About sesungguhnya pacaran dan musik itu haram hukumnya ( www.jauhilahmusik.wordpress.com , www.pacaranituharam.wordpress.com )

pops_intansay@yahoo.co.id
This entry was posted in cerita eramuslim.com. Bookmark the permalink.

5 Responses to kumpulan cerita seru wanita – kisah seru wanita – cerpen seru wanita

  1. kumpulan cerita seru wanita – kisah seru wanita – cerpen seru wanita
    ==============================

    Understanding Others
    Selasa, 08/02/2011 13:46 WIB | email | print

    Oleh Syaifoel Hardy

    Bin Omron, begitu nama pemukiman di salah satu sudut kota Doha-Qatar, tergolong cukup banyak jumlah masjidnya, meski kecil daerahnya. Tidak lebih dari 1 km panjang dan 500 meter lebarnya. Jumlah masjidnya sekitar 10 buah.

    Di situ, boleh dikata padat akan masjid-masjid kecil. Tempat saya tinggal tidak terkecuali. Jika mau ke arah barat, timur, utara atau selatan, nyaris sama jaraknya, masjid dengan mudah di dapat, hanya dengan jalan kaki. Tidak seperti di Dubai di mana masjid rata-rata terpelihara dengan baik, di Bin Omron ini tidaklah demikian. Meski begitu, memiliki keunikan tersendiri. Yang saya maksudkan adalah jamaah masjidnya.

    Suatu hari, saya pergi ke masjid sebelah selatan gedung kami. Pertama kali saya Salat Maghrib di sana, beberapa saat usai salam, terdengar acapan ‘Salam’ cukup keras. Berasal dari salah satu jamaah: ”Assalamu’alaikum”. Yang kemudian dijawab oleh sebagian orang: “wa’alaikum salam…”

    Saya mencoba mencari dari mana suara tadi bermuara. Gagal. Hal tersebut berulang kali terjadi. Saya memang tidak selalu mengerjakan salat di masjid tersebut. Rasa ingin tahu siapa pemilik suara salam tadi pun berlalu.

    Di kali lain, di dalam masjid yang sama, saya berada di baris kedua. Kembali, sesudah selesai mengucap salam, selang beberapa saat, terdengar ‘Salam’ dari orang yang sama, yang bukan asing, karena pernah mendengarnya. Saat itulah saya mengetahui siapa pemilik sejatinya, meski belum jelas sekali wajah pemiliknya. Yang pasti, orang tua. Hal ini saya ketahui lewat postur tubuhnya.

    Sesudah itu, saya penasaran ingin mengetahu lebih lanjut……hingga…

    Sore tadi, bapak tua, sang Pengucap Salam, yang saya percaya asli Qatar, bangkit dari tempat duduknya. Beliau selalu menempati baris pertama setiap salat. Subhanallah…ternyata orangnya tidak dapat melihat..alias buta. Saya ketahui, bukan hanya karena tongkat yang digenggamnya saja. Tetapi ketika saya tatap kedua mata beliau, memang cacat.

    Jarak dari tempat duduknya ke pintu tidak lebih dari empat-lima langkah. Sepertinya beliau hapal benar liku-liku masjid ini. Namun segera, sesudah mendekati pintu ke luar masjid, secepat itu pula seorang anak muda, berkebangsaan India, menjemput tangan kiri orang tua ini. Membantu membimbingnya, guna mencari sandalnya.

    Saya posisikan tubuh saya persis selangkah berada di belakang bapak tua ini. “Assalamu’alaikum ya Hajj….” Sapa saya. “Wa’alaikum salam…!” Jawabnya, disertai senyuman yang tersungging di bibirnya. Menunjukkan kegembiraan.

    “Ada apa?” Katanya dalam Bahasa Arab. “Tidak ada apa-apa!” Jawab saya. “Hanya ingin menanyakan kabar anda saja!” Tegas saya.

    “Siapa nama baik Bapak?” Kata saya lagi, meneruskan. “Jassim…” Jawabnya sambil berjalan dituntun pemuda India tadi. “Selamat jalan….” Saya menutup pembicaraan. “Terimakasih!” Dia pun pergi.

    ***

    Pemandangan yang saya temui di atas tentu acapkali terjadi di banyak tempat dan di berbagai keadaan. Di mana seorang pemuda membantu orang tua yang buta, cacat, lumpuh dll. Saya yakin, pemuda tersebut dibayar untuk itu. Dia hanya lakukan pekerjaannya. Selesai.

    Bisa saja rutinitas ini berlangsung sudah lama sekali. Bisa jadi pula, si pemuda ini tidak lagi merasakan apa-apa, tidak sebagaimana yang saya rasakan apabila saya menjadi pemuda tadi, yang harus menuntun bapak tua setiap saat. Pekerjaan yang dilakukan guna membantu Pak Tua ini, saya pula yakin, bukan hanya ke masjid. Bisa juga kala ke kamar mandi, makan, mengenakan pakaian, dan lain lain keperluan hidup. Beragam kegiatan, berbagai kemungkinan.

    Satu hal yang saya pasti: pemuda tadi, memilki sesuatu yang tidak semua orang punya. Sesuatu yang saya maksudkan di sini adalah kemampuan untuk ‘memahami’ sesama, mengerti kebutuhan orang lain. Sesuatu yang nilainya sungguh tinggi dan amat mulia dari sisi kemanusiaan dan agama.

    Kenapa saya katakan tidak semua orang memiliki kemampuan ini? Karena tanpa dibekali kemampuan memahami sesama, barangkali sudah dari dulu dia keluar dari pekerjaan ini. Atau, melarikan diri, lantaran betapa tersiksanya melakukan sesuatu yang tidak dia sukai.

    Kalaupun dia terpaksa melakukannya, pasti bakal berdampak buruk. Bukan hanya pada diri orang lain, juga pada dirinya sendiri. Jika demikian, apa gunanya dia membimbing Pak Tua ini ke masjid setiap hari untuk ibadah yang dia pula bersujud dihadapanNya?

    Kejadian ini menyisipkan sebuah pelajaran, bahwa agar bisa memahami sesama, kalaupun diniatkan sebagai lahan kerja, dibutuhkan ketegaran, tekad dan iman. Jika sekedar keinginan untuk mendapatkan imbalan semata, tentu akan menderita!

    Doha, 6 February 2011

    shardy2@hotmail.com

    ==============================
    kumpulan cerita seru wanita – kisah wanita – cerpen seru wanita

  2. kumpulan cerita seru wanita – kisah seru wanita – cerpen seru wanita
    ==============================

    Jangan Sampai Konflik ke Luar
    Selasa, 08/02/2011 07:10 WIB | email | print

    Oleh Anung Umar

    “Pokoknya ana mau ta’adud (poligami) nih, Dul.” Dengan wajah berseri-seri ia ucapkan kembali perkataan yang ia ulang-ulang selama beberapa hari sebelumnya. “Semangat amat sih ta’adud…” saya menimpali ucapannya dengan sedikit bosan. “Antum sih nggak ngerasain, kalau udah kayak ana gini mah (setelah nikah beberapa lama), bawaannya nggak puas cuman istri satu, apalagi istri ana, ah… hitem! ”

    Tercenganglah saya. Awal ucapannya sih, saya maklumi. Namun akhir kata-katanya itu lho, membuat telinga jadi panas. Kalau mau poligami kenapa harus menyebutkan ‘aib’ istrinya segala di hadapan orang lain?!

    Ada lagi seseorang yang berkata entah kenapa, “Istri doyan banget makan. Keluarganya juga mirip kayak dia, banyak makan. Makanya badannya pada bengkak-bengkak [baca: gemuk], pantes aja nggak pada laku.” Ada lagi yang berkata dengan ‘berapi-api’, “Ah, dia orangnya manja!” ,”Udah jadi akhwat tapi kayak orang awam! ”

    Apa maksud dengan perkataan itu semua? Curhat? Curhat sih sah-sah saja, tapi kenapa harus disebutkan pula ‘aib-aib’ seseorang? Apakah orang yang dibicarakan itu rela bila mendengarnya?

    Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “Tahukah kalian apa itu ghibah? Para shahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Beliau berkata, “(Ghibah) yaitu engkau menyebutkan tentang saudaramu apa yang ia benci. ” (HR.Muslim)

    Tidakkah tahu bahwa seluruh perkataan manusia dicatat oleh Raqib ‘Atid?

    “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qs. Qaaf [50] : 18)

    Sadarkah, bisa jadi dengan ucapan ‘ringan’ seperti itu bisa mencampakkannya ke dalam neraka sejauh timur dan barat? “Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang dia tidak tahu apakah itu benar atau tidak ternyata itu menjerumuskannya ke dalam neraka melebihi jarak antara timur dan barat.” (HR. Bukhari No. 6477 dan Muslim No. 2988)

    Terlupakan kah apa yang dikabarkan Nabi SAW kita, “Tatkala aku diangkat ke langit (Mi’raj), aku melewati suatu kaum yang mencakar wajah dan dada mereka dengan kuku mereka yang terbuat dari tembaga. Aku berkata, ‘Siapa mereka wahai Jibril? ‘ Ia menjawab, ‘Merekalah orang-orang yang memakan daging manusia (ghibah) dan menjatuhkan kehormatan mereka.” (HR. Abu Daud No. 4878)

    Kalau menggunjing orang lain saja terlarang dalam Islam, lantas apakah boleh menggunjing orang terdekat yang masih dalam satu ikatan, satu atap, dan satu… yaitu pasangannya?

    Lho, yang kami sampaikan kan, apa adanya, tidak ditambah dan tidak dikurang, ia memang hitam, doyan makan, manja, kayak orang awam?!

    Justru itulah hakikat ghibah sebenarnya. “(Ghibah)Yaitu engkau menyebutkan tentang saudaramu apa yang ia benci. Ada yang bertanya, ‘Bagaimana kalau kenyataannya memang seperti yang saya katakan?’ Rasulullah bersabda, ‘Kalau yang kau katakan sesuai dengan kenyataan, maka kamu telah mengghibahinya. Akan tetapi jika tidak sesuai dengan kenyataan sebenarnya, maka engkau telah berdusta atasnya’.” (HR.Muslim No. 2589)

    Oh, kami paham kok tentang ghibah. Yang kami lakukan itu ghibah yang diperbolehkan, karena tujuannya untuk menyelesaikan masalah dan menghentikan konflik. Apa itu terlarang?

    Kalau memang itu termasuk ghibah yang diperbolehkan, untuk menyelesaikan konflik, lantas apakah harus didengar semua orang? Apakah tidak cukup orang-orang terdekat yang bijak dan berilmu saja yang mendengarkan unek-unek itu? Beratkah seandainya curhat itu disampaikan hanya kepada orang-orang yang berkompeten saja? Begitu susahkah menutup konflik hingga tak perlu sampai ke luar rumah?

    Rasulullah صلى الله عليه وسلم dengan posisi beliau yang mulia, tetap saja rumah tangga beliau tak luput dari badai konfik. Akan tetapi pernahkah Rasulullah صلى الله عليه وسلم curhat kepada setiap shahabatnya tentang permasalahan rumah tangga beliau? Adakah orang yang mengetahui bila konflik sedang terjadi di rumah Nabi SAW ketika itu?

    Tak ada yang tahu kecuali orang-orang terdekat dengan beliau (istri-istri Nabi) dan beberapa gelintir shahabat yang memiliki hubungan dengan rumah tangga beliau, seperti Abu Bakar dan Umar رضي الله عنهما, yang tidak lain adalah mertua beliau juga (bapak dari Aisyah dan Hafshah ).

    Sedangkan para shahabat lainnya, mereka tidak mengetahui konflik terjadi pada rumah tangga Nabi kecuali setelah Allah turunkan wahyu tentang itu. Seperti turunnya surat At-Tahrim, itu terjadi setelah munculnya konflik antara beliau dengan Aisyah dan Hafshah.

    Atau mereka (para shahabat) mengetahui bahwa konflik pernah terjadi di rumah Nabi SAW, sepeninggal wafatnya beliau melalui lisan para istrinya yang menceritakan hal tersebut karena adanya maslahat tertentu (seperti menjelaskan hukum-hukum syar’i yang terdapat di dalam konflik tersebut).

    Kalau begitu, adakah lagi alasan untuk membongkar ‘aib’ di dalam rumah tangga sendiri, lalu ‘mempublikasikannya’ ke luar?

    Ya, tak ada lagi alasan untuk itu. Saya yakin hadits-hadits di atas cukup untuk mematahkan lalu merontokkan hujah-hujah lemah tadi. Akan tetapi jika mereka ‘menyerang’, “Antum ngomong sih gampang, coba rasain setelah nikah!” barulah saya angkat tangan, saya akui mereka ‘menang’, saya pun bungkam.

    Jakarta, 3 Rabi’ulawwal 1432/6 Februari 2011

    anungumar.wordpress.com

    ==============================
    kumpulan cerita seru wanita – kisah wanita – cerpen seru wanita

  3. kumpulan cerita seru wanita – kisah seru wanita – cerpen seru wanita
    ==============================

    Menuju Cinta Sejati
    Senin, 07/02/2011 13:47 WIB | email | print

    Oleh SusWoyo

    Berkali-kali aku kandas dalam menjalin hubungan dengan seorang perempuan. Terakhir kali aku sempat kecewa sangat berat ketika adik kelasku di sekolah juga memutuskan pilihannya kepada seorang prajurit muda yang masih menjalani latihan kemiliteran di suatu kota. Peristiwa ini menambah deretan panjang kekecewaanku dalam sejarah hubunganku dengan mahluk yang bernama perempuan.

    Sejak itu aku tak betah di rumah. Sejak itu aku merasa bahwa semua mahluk yang ada di sekelilingku membenci. Orang-orang yang lewat, hewan-hewan piaraan, rumpun-rumpun bambu, tanaman padi yang sedang menguning, seperti memandangku tak bersahabat.

    Aku melangkah pergi. Kukatakan “selamat tingal” kepada kampung yang amat kusayangi. Kutinggalkan aroma pedesaan yang akrab sejak aku dilahirkan. Rasanya berat sekali meninggalkan tanah kelahiran. Tapi apa boleh buat, karena semua mahluk di kampungku seolah tak henti-henti untuk membenciku.

    Kucoba menenggelamkan diri dengan menjadi “mahasiswa” di universiatas kehidupan. Aku “kuliah” di pasar, terminal, pabrik-pabrik, tempat-tempat pelacuran, dan terahir aku sempat “ngangsu kawruh” di Malioboro, sebuah tempat yang makin hari makin terkenal karena penghuninya sangat heterogen.

    Aku berguru kepada para pedagang asongan, pedagang kaki lima, penjual koran, tukang becak, seniman jalanan, pengemis, mahasiswa, orang cacat dan juga para dosen. Tak lupa juga kutemui teman-teman yang ada di pesantren-pesantren dan di bangku-bangku perguruan tinggi.

    Sampai suatu saat aku bertemu dengan seseorang yang mengenalkanku dengan orang-orang shaleh, dengan para pemburu cinta Illahi. Dia memperkenalkanku dengan sahabat Rasul, para Imam Madzab, tokoh-tokoh pergerakan Islam, bahkan juga dengan para Sufi yang kadang agak kontroversial dalam memandang cinta dan kehidupan, seperti Rabi’ah Al Adawiyah dan Abu Yazid Al Bustami. Sampai tak tanggung-tanggung, ia bahkan menyelipkan puisi Rabi’ah kepadaku.

    Engkaulah Sahabatku, Kerinduanku dan keselamatanku
    Tanpa Diri-Mu, wahai hidup dan cinta-Mu
    Takkan pernah aku mengembara melintasi
    negri-negri tak terbatas ini

    Betapa banyak rahmat, anugrah, karunia dan nikmat
    telah Kau tunjukan padaku
    Cinta-Mu-lah yang kucari
    Dan di dalamnya aku menemukan berkat

    Aku mulai belajar untuk menghilangkan kekecewaan karena cinta yang kandas. Aku mencoba terus belajar dan belajar memburu cinta sejati, cinta pada Illahi seperti yang dicontohkan para “pemburu” Illahi Rabbi.

    Bertahun-tahun aku menenggelamkan diri dalam aktifitas usaha. Lama aku mencoba melupakan cinta kepada lawan jenis. Hingga seorang sahabat mengajakku ke rumah seseorang. Dan di tempat itu aku mendapati ada seorang gadis muda sedang sakit. Tubuhnya amat lemah, sorot matanya tak bersemangat dan seolah sudah tak ada harapan menyenangkan baginya seperti teman-teman seusianya yang sedang indah-indahnya menapaki masa-masa remaja.

    Aku iba melihatnya. Bahkan hampir saja air mata ini tumpah di depannya. Dalam hati aku berdoa padaNya. Semoga ia cepat sembuh dan cepat-cepat di karunia jodoh seseorang yang bisa menghiburnya. Itu doa singkatku dalam hati.

    Lama kemudian aku tak bertemu dengan gadis itu. Dan ketika bertemu kembali, aku mendapati dia sudah sembuh dari penyakitnya. Alhamdulillah, aku besyukur. Ia sudah kembali beraktifitas seperti layaknya remaja masa itu. Bahkan dengan semangat ia masih mau meneruskan sekolahnya yang sempat terbengkalai.

    Entah kenapa, kami makin akrab. Entah kenapa ahirnya timbul kembali hasrat dalam hati ini untuk mencintai lawan jenis, setelah sekian lama kutenggelamkan bahkan ingin kukembalikan saja pada pemilik cinta itu sendiri. Sebab aku masih trauma, bahwa setiap kali aku mencintai seorang perempuan, maka kekecewaanlah yang akan kudapat.

    Aku mencoba menghimpun kekuatan untuk mengatakan ”sesuatu” padanya. Harapan yang ada dalam benakku adalah: semoga aku diterima. Dan seandainya ditolak, aku sudah siap untuk menerimanya dan tak akan kecewa seperti masa-masa lalu.

    Alhamdulillah, aku diterima. Dan aku tak menyangka jika doaku ketika ia sakit, sekarang sudah terkabul. Dan sama sekali tak menyangka jika ternyata jodoh yang diberika Allah padanya adalah diriku sendiri yang mendoakan dia.

    Sekarang ia menjadi istriku, menjadi pendampingku dan sudah memberiku seorang keturunan. Aku tak menyangka kalau cintaku kepada seorang perempuan harus melewati proses yang pahit getir. Dan jika kehidupan itu bisa di refresh tentu aku tak mau mengulanginya lagi.

    Barangkali, jika dulu cintaku diterima dengan mulus oleh gadis pujaanku, aku belum tentu bisa mengenal para “pemburu” cinta sejati. Mungkin aku masih buta dengan sirah para nabi, tak tahu jejak indah para sahabat, tak akan mengenal bagaimana semangatnya para sufi mencintai Sang Khalik.

    Kejadian yang menimpaku di masa-masa lalu, mengajari dan mengajak diri yang lemah ini, agar tak pernah berhenti berproses dalam mendapatkan cinta yang sejati. Cinta kepada sekeliling, cinta kepada mahluk, cinta kepada suami, istri, anak, sahabat, saudara dan lain-lainnya adalah proses awal untuk menuju cinta yang sebenarnya. Cinta yang agung, cinta yang tiada batas, tak lain dan tak bukan adalah cinta kepada Sang Pemilik Cinta itu sendiri, yaitu Allah SWT.

    Purwokerto, 2011

    ==============================
    kumpulan cerita seru wanita – kisah wanita – cerpen seru wanita

  4. kumpulan cerita seru wanita – kisah seru wanita – cerpen seru wanita
    ==============================

    Pesan Terakhir
    Senin, 07/02/2011 07:27 WIB | email | print

    Oleh Silvani

    “Neng, ulah hilap ka nu sholat, ku Emak diduakeun ti dieu… sagalana nyuhunkeun ka Gusti Alloh, cing jadi jalma anu jujur “. (Neng, jangan lupa sholat, Emak dari sini mendo’akan… Mohonkanlah segala urusan hanya kepada Allah, dan jadilah orang jujur)

    Pesan terakhir Nenek untukku. Nenek bisikan saat aku pamit kepadanya untuk kembali ke negeri Thailand, tempat suamiku bekerja. Nasihat yang terdengar sederhana, tapi sungguh sarat makna. Kucoba menggali lebih dalam nasihat nenek.

    Kutemukan tiga value disana, sholat, tawakal, dan jujur. Dan Subhanallah…. pesan sederhana nenek kutemukan dalam Al Qur’an dan dalam hadis Rasulullah, diantaranya:
    “Sesungguhnya Shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Dan ketahuilah mengingat Allah (shalat) itu lebih besar keutamaannya dari ibadah lain. Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S Al-‘Ankabut: 45)

    “Dan bertawakallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pemelihara.” ( Q. S Al Ahzab:3)

    Rasulullah Saw bersabda, “Jika kalian menginginkan agar Allah dan Rasulullah mencintai kalian, tunaikanlah janji jika kalian berjanji, jujurlah jika berbicara, dan berbuat baiklah pada tetangga kalian.”

    Nenek… mengingatmu, air mata ini tak mau berhenti. Kucoba menuangkan rasa rindu padamu lewat sebuah tulisan.

    Nenekku orang desa, tak pernah menempuh pendidikan jenjang tinggi, tapi di mataku pribadi nenek sungguh luar biasa. Banyak kenangan indah bersama nenek, kenangan yang tersimpan rapi di sudut hatiku…

    Nenekku, seorang perempuan yang giat bekerja. Walau memiliki beberapa buruh tani, nenek turun tangan sendiri bekerja menggarap sawahnya. Berangkat ke sawah selepas shubuh, dan pulang menjelang zuhur menjadi rutinitas nenek. Dinginnya udara shubuh yang mengigit, serta terik panas matahari di kala siang sepertinya tak dirasakan oleh nenek. Bertani dan kemudian menjual hasil panen ke pasar terus dilakukan nenek selama puluhan tahun, hingga nenek merasa tenaganya sudah tidak kuat lagi, karena nenek semakin tua. Sawahnya kemudian ia sewakan kepada orang lain, dan nenek memulai usaha lain, membuka warung kecil di rumahnya.

    Kala aku masih anak-anak, liburan ke rumah nenek selalu menjadi favoritku. Aku betah di rumah nenek yang asri, ada kolam ikan yang luas, dan ada “taman” bermain untukku, yaitu sebuah mushola kecil yang dibangun nenek di atas kolam. Jika cucu-cucunya datang, nenek selalu menyambut kami dengan pelukan hangat. Ahh… masih kuingat lembutnya pipimu dan wangi baju hangatmu itu Nek… Tak lama, minuman teh panas buatan nenek telah tersedia untuk kami. Rasa teh yang istimewa, yang kudapatkan hanya di rumah nenek. Nenek selalu menawarkan kepada kami berbagai makanan kecil yang ada di warungnya. Kami semua langsung berlari ke warung nenek, berebut mengambil makanan yang kami suka, tak mengerti kalau makanan yang kami ambil adalah dagangan nenek, yang hanya sedikit keuntungannya.

    Aktivitas sehari-hari nenek dimulai sejak dini hari. Seusai sholat shubuh biasanya nenek sibuk di dapur. Pertama kali nenek merebus air. Air itu bukan untuknya. tapi dibawanya ke seberang rumah, tempat mangkal para tukang ojek. “Kasihan , penghasilan mereka tak seberapa, kalau beli air minum kan mesti keluar uang lagi” ujar nenek kepadaku. Selesai memasak nenek menyiapkan beberapa rantang yang kemudian diisi makanan hasil masakannya, lalu dibagikannya kepada tetangga. “Apa nanti nenek tidak kekurangan makanan?” Tanyaku suatu waktu karena kulihat porsi yang diisi di rantang cukup banyak sehingga hanya tersisa sedikit untuk nenek. Nenek tersenyum, “Rezeki itu harus dibagi-bagi… kalau ada tetangga yang lapar, nenek berdosa. Nenek lebih takut berdosa daripada takut kekurangan makanan…

    Waktu ayah dan ibu pergi ke tanah suci , nenek tinggal bersama kami selama sebulan. Ibu menitipkan kami, empat cucunya kepada nenek. Nenek selalu bangun pagi sekali, menyiapkan sarapan untuk kami yang akan berangkat sekolah. Tak boleh aku berangkat sekolah tanpa sarapan dulu, nasi goreng gurih buatannya. Sungguh sebulan yang indah bersamamu Nek..

    Tak pernah sekalipun nenek mengeluh capek, tak pernah nenek memarahi kami walau kadang kami nakal, yang nenek berikan hanyalah kasih sayang kepada kami. Waktu itu aku sempat jatuh sakit , badanku demam tinggi. Nenek terlihat begitu khawatir, aku segera dibawanya ke dokter. Di ruang tunggu dokter aku berbaring di pangkuan nenek, nenek membelai rambutku dan tak banyak bicara. Tapi aku tahu Nek, hatimu penuh doa, lisan nenek tak henti berzikir, memohon kesembuhan untukku. Nenek… mungkin dulu aku lupa mengucapkan terimakasih padamu, dan belum kubalas semua kasih sayangmu Nek…

    Di usia nenek yang sudah lanjut, nenek tetap memiliki semangat ibadah yang luar biasa. Ya, nenek akhirnya berangkat ke tanah suci di usianya yang ke 80. Saat akan berangkat ke tanah suci nenek berkata lirih kepadaku “tolong jangan mengharapkan oleh-oleh dari Nenek, karena di sana Nenek hanya mau ibadah.. “Duhai Nenekku, aku tahu berangkat haji adalah cita-citamu sejak dulu…Tabungan yang sedikit demi sedikit engkau kumpulkan adalah untuk menunaikan ibadah ini.. jangan bawa apa-apa untukku Nek, aku hanya ingin engkau pulang kembali ke tanah air dan berkumpul lagi bersama kami…”

    Bulan November 2010… Sejak pagi pikiranku terus teringat akan nenek yang sedang sakit. Sudah seminggu nenek merasakan sakit di perutnya. Kukirim sms kepada ayah menanyakan keadaan nenek. Ayah membalas smsku, nenek terlihat semakin lemah, hanya bisa berbaring di tempat tidur. Ya Rabb… sembuhkan nenek…do’aku dalam hati.

    Tapi rupanya Allah berkehendak lain, hari itu, selepas ashar kuterima telepon dari ibu, mengabarkan kalau nenek telah meninggalkan kami… Inna lilahi wa inna ilaihi rojiuun, tak kuasa aku menahan tangis, aku menangis tersedu, teringat semua kebaikan nenek. Ingin rasanya aku menghambur lari ke rumah nenek, ingin aku dalam pelukannya, dan kukatakan padanya betapa aku sangat menyayanginya …

    Malam itu kutumpahkan segenap rasa rindu pada nenek dalam do’a “Ya Allah ampunilah dan kasihilah dia. Berilah keselamatan untuknya dan ampunilah dosa-dosanya. Muliakanlah tempat keluarnya. Luaskanlah tempat masuknya. Sucikanlah dia dengan air, es, dan embun. Bersihkanlah ia dari segala dosa dan kesalahan sebagaimana Engkau membersihkan pakaian putih dari kotoran. Berilah ganti untuknya tempat yang lebih baik dari tempatnya di dunia, keluarga yang lebih baik dari keluarga di dunia. Masukkanlah dia ke dalam surga. Peliharalah dia dari fitnah kubur dan siksa api neraka. Amiin… Nenekku tercinta… akan kujalankan sungguh sungguh pesan terakhirmu padaku …

    ==============================
    kumpulan cerita seru wanita – kisah wanita – cerpen seru wanita

  5. kumpulan cerita seru wanita – kisah seru wanita – cerpen seru wanita
    ==============================

    Jangan Pantang Air Penolak Neraka
    Minggu, 06/02/2011 19:02 WIB | email | print

    Oleh Ineu

    Sejak mengenalnya, raut muka perempuan separuh baya itu selalu terlihat murung. Garis- garis penuaan terlihat jelas di dahinya hingga mengesankan ia lebih tua dari usianya. Ia sering tercenung dengan tatapan mata yang kosong. Ah, saya begitu tak tega melihatnya namun terkadang muncul tanya di hati, gerangan apakah yang sedang ia pikirkan hingga muram selalu menyelimuti wajahnya?

    Atas izin Allah, rasa penasaran yang menggelitik hati saya akhirnya menemukan jawaban. Dalam suatu kesempatan, perempuan separuh baya itu mengajak saya berbincang. Ia tumpahkan apa yang selama ini telah menyesak di hatinya. Ia tengah merindukan sesuatu yang selama ini telah hilang dari dirinya.

    Ia bukan merindu suaminya yang telah lebih dahulu menghadap Rabb pemilik setiap jiwa sekalipun cintanya pada sang suami tak pernah pupus. Bukan pula merindu anak-anaknya yang telah besar dan mulai sibuk dengan dunianya masing-masing sekalipun mereka selalu ada di hatinya. Juga bukan merindu berada di tanah suci sambil mengucap Labbaik Allahuma labbaik, sekalipun ia sangat menginginkan suatu saat dapat ke sana…

    Lantas, merindu apakah ia sampai sedemikian rupa terlihat merana?

    Tak lain yang ia rindukan hanyalah tetesan AIR pelembut hati mengalir dari matanya! Dan, rasa rindu itu telah menyiksanya sejak bertahun-tahun lalu saat air jernih itu tak pernah menetes lagi walaupun ia mengalami hal yang sangat menyedihkan dalam hidupnya, sang air mata tak jua hadir merefleksikan apa yang dirasakan dirinya.

    Ia tak ingat kapan persisnya air mata itu tak lagi mengairi matanya. Namun, ia hanya ingat sejak berbagai beban penderitaan menerpa hidupnya, ia berusaha untuk menahan tangis keluar dari matanya. Ia tak ingin menangis untuk sesuatu apa pun yang dialaminya hingga akhirnya ia tersadar kini ia kehilangan sang air mata.

    Sungguh! baru pertama kali ini saya bertemu orang yang merindukan sesuatu yang tak lazim saya dengar dan tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Sesuatu yang saya juga mungkin Anda anggap biasa karena begitu mudah ia hadir dalam hidup kita hingga sering terlupa untuk mensyukurinya. Saya tak dapat membayangkan bagaimana tersiksanya hati perempuan separuh baya itu ketika ingin meneteskan air matanya untuk mengekspresikan bahagia, haru, sedih sebagaimana sering terjadi pada saya atau juga Anda.

    Apa yang dialami perempuan setengah baya itu saya rasakan sebagai sebuah pelajaran dari Allah dan menjadi pengingat diri bahwa air mata adalah bagian dari anugerah Allah yang patut disyukuri adanya. Karena terkadang sebagian orang menganggap air mata sesuatu yang tabu terurai dari matanya, terutama hal ini sering dialami kaum Adam, padahal Rasulullah sebagai suri tauladan kita pun tak pernah melakukan pantang pada air matanya, seperti yang diriwayatkan dalam beberapa hadits berikut.

    Dari Ibnu Mas’ud ra., ia berkata; telah bersabda Nabi saw. kepadaku: “Bacakanlah al-Quran untukku.” Wahai Rasul! Apakah aku harus membaca al-Quran untukmu, sedangkan al-Quran itu diturunkan kepadamu? Beliau saw. bersabda, “Aku sangat menyukai mendengarkan al-Quran dari orang lain.” Ibnu Mas’ud berkata; Maka aku membacakan al-Quran surat an-Nisa untuk Rasul, hingga aku sampai pada ayat: “Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).” (QS. an-Nisa [4]: 41). Kemudian Rasulullah saw. bersabda, “Cukup sampai di sini.” Aku menoleh kepada Rasul saw., ternyata kedua matanya mengucurkan air mata. (Mutafaq `alaih).

    Dari Anas ra., ia berkata; Rasulullah saw. pernah berkhutbah dengan khutbah yang selama aku hidup tidak pernah mendengarnya. Rasulullah saw. bersabda: Andaikata kalian mengetahui apa-apa yang aku ketahui, maka niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis. Kemudian sahabat menutupi wajah mereka dan menangis tersedu-sedu. (Mutafaq `alaih)

    Banyak hal tentunya yang menyebabkan seseorang menangis. Ada tangis bahagia karena sesuatu yang diharapkan mewujud, ada tangis kesedihan karena perasaan kehilangan sesuatu atau orang-orang yang disayangi, ada tangis haru mendengar kisah seseorang, ada tangis karena kesakitan dan sebagainya. Namun diantara sekian banyak sebab, ternyata hanya satu jenis tangisan yang dapat mendekatkan seseorang kepada keridhaan Allah, yakni tangisan karena takut kepada Allah.

    Rasulullah saw. bersabda: “Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena takut kepada Allah sehingga susu itu dapat kembali ke tempat asalnya. Tidak akan berkumpul debu fisabilillah itu dengan asap neraka Jahanam.” (diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, oleh At-Tirmidzi (hasan shahih), an-Nasa’i dan al-Hakim (shahih).

    Dari Abû Raihanah, ia berkata; kami keluar bersama Rasulullah saw. dalam satu peperangan. Kami mendengar beliau saw. bersabda: Neraka diharamkan atas mata yang mengeluarkan air mata karena takut kepada Allah. Neraka diharamkan atas mata yang tidak tidur di jalan Allah. Abû Raihanah berkata; Aku lupa yang ketiganya. Tapi setelahnya aku mendengar beliau bersabda, “Neraka diharamkan atas mata yang berpaling dari segala yang diharamkan Allah.” (HR. Ahmad, al-Hâkim dalam kitab Shahih-nya, disetujui oleh adz-Dzahabi dan an-Nasâi).

    Dari Anas ra. bahwa Nabi saw ia bersabda: Barangsiapa mengingat Allah kemudian keluar air matanya karena takut kepada Allah hingga bercucuran jatuh ke tanah, maka dia tidak akan disiksa di hari kiamat kelak. (HR. al-Hâkim dalam kitab Shahih-nya, disetujui oleh adz-Dzahabi)

    Apa yang dirasakan jika Allah mencabut dari diri kita nikmatnya menangis saat berkhalwat dengan-Nya padahal begitu banyak keutamaan-keutamaan seperti diterangkan dalam hadits di atas? Akankah kita sama merananya seperti perempuan separuh baya perindu air mata itu?

    Subhanallah! merenungi untaian hadits tersebut, saya baru menemukan salah satu hikmah kenapa Allah karuniakan kita sepasang mata yang dapat mengeluarkan air yang jernih itu. Air mata dapat menjadi salah satu saksi rasa takut seorang hamba pada Rabb-nya yang dapat menyelamatkan hamba dari api neraka.

    Oleh karena itu, patutkah kita berpantang atau ‘menolak’ karunia air mata ini padahal ia menjadi salah satu yang dapat mendatangkan keselamatan dunia-akhirat bagi seorang hamba?

    Saat menuliskan keadaan yang dialami perempuan tersebut, saya berharap semoga Allah mengabulkan doa yang selama ini dipanjatkannya hingga ia dapat merasakan kembali nikmatnya menangis.

    Dan, bagi kita yang masih dianugrahi air mata, semoga air jernih yang menetes dari mata adalah perwujudan rasa takut kita kepada Allah hingga Dia menjadikan kita termasuk dalam golongan orang yang mendapat naungan-Nya seperti yang diriwayatkan dalam sebuah hadits dari Abû Hurairah ra., ia berkata; Rasulullah saw. bersabda: Ada tujuh golongan yang Allah akan menaunginya pada saat tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. …. Orang yang mengingat Allah ketika sendirian sehingga bercucuran air matanya. (Mutafaq `alaih)

    http://www.ratnautami.com

    ==============================
    kumpulan cerita seru wanita – kisah wanita – cerpen seru wanita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s