kumpulan cerita sufi tasawuf penuh hikmah – kisah sufi tasawuf penuh hikmah – cerpen sufi tasawuf penuh hikmah

kumpulan cerita sufi tasawuf penuh hikmah – kisah sufi tasawuf penuh hikmah – cerpen sufi tasawuf penuh hikmah
==============================

Janji Tak Tertunai

Jumat, 07/01/2011 06:13 WIB | email | print

Oleh bidadari_Azzam

Suatu hari suamiku pernah merasa tak enak badan, tak berselera makan, terasa ada sesuatu yang mengganjal hati padahal tak ada sebab apapun yang terjadi. Setelah kucoba bantu mengingat-ingat, ternyata dia belum melaksanakan janjinya untuk berpuasa dua hari (nazar) atas suatu tugas yang telah selesai dengan lancar. Alhamdulillah, terasa lega seusai berpuasa, ternyata ‘janji hati’ yang belum ditunaikan dapat menyebabkan gangguan pikiran dan berpengaruh pada kesehatan.

Menepati janji adalah akhlaq mulia yang diperintahkan dalam syari’ah Islam. Dalam firmanNya, “(Bukan demikian), sebenarnya barang siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa.”(QS. Âli ‘Imrân : 76)

Ibuku mengisahkan salah seorang sahabatnya yang berusia jauh lebih tua dari ibu. Budhe Fulanah, dulunya dia pegawai bank yang sangat disegani masyarakat, penampilan necis, cantik, anggun dan bersuamikan seorang karyawan di perusahaan minyak ternama. Budhe Fulanah ini tak hanya sahabat ibu, ia masih saudara dekat ayah, yang sangat dihormati keluarga besar dan kerabat. Tadinya dia adalah orang yang sangat baik hati, gemar bersedekah dan selalu menolong sesama. Namun Saya jadi kurang menyukainya saat mengetahui bahwa ia pernah meminjamkan uang kepada ibuku, tapi dikenakan bunga alias riba 10%. Istilahnya ‘tega makan saudara sendiri’, padahal kalaupun tak ada bunga, pastilah dibayar lebih oleh ibu, sebagaimana kebiasaan membalas budi baik orang lain.

Tak disangka, dua puluh tahun-an lalu saat ia diwajibkan pensiun dini—akibat likuidasi bank tempatnya bekerja, ternyata awal merosotnya kesejahteraan rumah tangga sampai saat ini. Tadinya beliau berjanji ingin menyumbangkan dana untuk suatu yayasan panti asuhan dan memasukkan uang pensiunnya untuk tabungan haji. Namun kemudian dengan berbagai alasan, hal itu tidak ia tunaikan, apalagi saat suaminya merayu, “nanti aja tabungan hajinya, mi, pada saat papi pensiun kan bisa, sumbangan yayasan kan nanti-nanti juga bisa, sekarang anak-anak perlu uangnya buat jalan-jalan keluarga, kita juga bisa renovasi rumah…” Begitulah, lalu sekitar lima belas tahun lalu si papi juga mengajukan pensiun dipercepat—akibat termakan isu perusahaan saat orde baru hampir tumbang.

Namun kenyataannya si papi tak hanya berkhianat pada Sang Khaliq, janji untuk memasukkan uang ke rekening tabungan haji tetap tak ditunaikannya, bahkan ia juga malah terpergok oleh sang istri : secara nyata-nyata dia berselingkuh dengan janda di dekat rumah, dan ternyata telah berkali-kali berbuat zina, hancur, hancurlah hati Budhe Fulanah, hancurlah ‘cita-cita keluarga’ itu. Tiga anaknya pun mengalami kehancuran—dalam perkuliahan harus out, meniru prilaku sang papi, hingga berstatus mba (married by accident) saat menikah, Astagfirullah, na’udzubillahi mindzaliik.

Dana pensiun si papi telah habis untuk membangun beberapa tingkat rumahnya, menikahkan anak-anaknya, hingga membiayai persalinan para cucu mereka. Curhatnya pada ibuku, “naik haji sekarang sudah tinggal mimpi…” semacam nada putus asa, sebab raganya pun tak lagi sehat, keluar-masuk rumah sakit, kadang harus menggunakan tongkat untuk berjalan, penglihatan pun mulai kabur. Namun yang paling menyedihkan adalah bahwa dia terlalu sayang pada anak-cucu sehingga tak dapat membedakan hal yang benar dan yang salah. Satu persatu saudara kami mengadu bahwa Budhe Fulanah datang ke rumah mereka, meminta bantuan dana untuk berobat kaki, pinggang, dan lain-lain, selalu itu alasannya tapi ternyata si budhe tidak pergi berobat, uang itu malah dikirimkan buat anaknya yang pengangguran, atau bahkan malah dia sendiri yang tertatih-tatih berangkat ke ibu kota demi menjenguk para cucu. Janji dirinya untuk berangkat ke tanah suci bukan saja tertunda-tunda, melainkan sudah tak ada usaha untuk menunaikan ikrar suci itu.

Satu hal yang pasti, ibuku mengingatkan, ambil ibroh dari pengalaman orang lain seperti contoh budhe Fulanah tersebut, “Sesungguhnya Allah tidak menzalimi manusia sedikit pun, akan tetapi manusia itulah yang menzalimi dirinya sendiri.” (QS. Yûnus [10] : 44), adalah introspeksi diri sebagai solusi. Amanah dan janji yang dilanggar pasti berimbas pada kehidupan yang dijalani.

“Dan (sungguh beruntung) orang-orang yang memelihara amanah-amanah (yang dipikulnya) dan janjinya.” (QS. Al-Mukminûn [23] : 8), ayat indahNya mengingatkan kita untuk selalu menunaikan amanah dan janji. Jadi teringat pula nasehat para guruku, “kalau berjumpa teman lama, jangan hanya bertanya kabar atau anaknya sudah berapa…tanyakan juga apakah Saya punya janji yang belum tertunai padamu, wahai teman?” bisa jadi langkah kaki kita makin lancar dalam menjalani alur hidup saat janji tersebut telah tunai.

Sayangnya, para penguasa yang sekarang sedang ‘menikmati’ kekuasaannya di kursi-kursi empuk, banyak yang lupa pada janji-janji, saking kebanyakannya—mungkin mereka bingung mau menunaikan yang mana dulu kira-kira. Akhirnya malah sudah sibuk kasak-kusuk dengan pemilu selanjutnya (yang masih lama, euy!), alasannya “kalau nanti terpilih lagi, kan bisa menunaikan janji dan melanjutkan cita-cita…bla…bla…”Mungkin mereka lupa, “…Dan penuhilah janji; karena janji itu pasti diminta pertanggung-jawabannya.” (QS. Al-Isrô [17] : 34)

Contoh kisah pribadi Umar bin Abdul Azis, Sejak di angkat menjadi Khalifah Umar bertekad, dalam hatinya ia berjanji tidak akan mengecewakan amanah yang di embannya. (beliau tau diri bahwa yang menggajinya adalah rakyat, subhanalloh!). “aku memikul amanat umat ini dan aku tangisi orang-orang yang menjadi amanat atasku, yaitu kaum fakir miskin yang lemah dan lapar, ibnu sabil yang kehilangan tujuan dan terlantar, orang-orang yang dizalimi dan dipaksa menerimanya, orang-orang yang banyak anaknya dan berat beban hidupnya. Merasa bertanggung jawab atas beban mereka, karena itu, aku menangisi diriku sendiri karena beratnya amanat atas diriku…”beliau menangis akibat beratnya amanah yang dipikul—bukan malah berpesta dan bersiap dipilih lagi dsb.

Konon semasa ia menjabat sebagai Khalifah, tak satu pun mahluk dinegerinya menderita kelaparan. Tak ada serigala mencuri ternak penduduk kota, tak ada pengemis di sudut-sudut kota, bahkan tak ada penerima zakat karena setiap orang mampu membayar zakat. Keren!

Suatu hari Khalifah Umar bin Abdul Azis mendapat hidangan sepotong roti yang masih hangat, harum dan membangkitkan selera dari istrinya.

“Dari mana roti ini?” tanyanya.

“buatan saya sendiri,” jawab istrinya.

“Berapa kau habiskan uang untuk membeli terigu dan bumbu-bumbunya?”

“hanya tiga setengah dirham saja,” jawab istrinya.

”Aku perlu tahu asal usul benda yang akan masuk kedalam perutku, agar aku dapat mempertanggung jawabkannya di hadirat Allah SWT. Nah, uang tiga setengah dirham itu dari mana?” lanjutnya.

“setiap hari saya menyisihkan setengah dirham dari uang belanja yang anda berikan, wahai Amirul Mukminin, sehingga dalam seminggu terkumpul tiga setengah dirham. Cukup untuk membeli bahan-bahan roti yang halalan thayyiban,” kata istri Khalifah menjelaskan.

“Baiklah kalau begitu. Saya percaya, asal usul roti ini halal dan bersih. Namun, saya berpendapat lain. Ternyata biaya kebutuhan hidup kita sehari-hari perlu di kurangi setengah dirham, agar kita tidak mendapat kelebihan yang membuat kita mampu memakan roti atas tanggungan umat ini,” tegas Khalifah.

Dan sejak hari itu, Umar membuat instruksi kepada bendaharawan Baitul Maal untuk mengurangi jatah harian keluarga beliau sebesar setengah dirham.

“Saya juga akan berusaha mengganti harga roti itu, agar hati dan perut saya tenang dari gangguan perasaan, karena telah memakan harta umat demi kepentingan pribadi,” sambung Khalifah.

Pernah kubaca kisahnya lagi, suatu ketika Amirul Mukminin Umar bin Abdul Azis di kunjungi bibinya. Maksud sang bibi, ingin meminta tambahan tunjangan dari Baitul Maal. Ketika itu, Amirul Mukminin sedang makan kacang bercampur bawang dan adas, makanan rakyat awam. Lalu Umar menghentikan makannya, kemudian mengambil sekeping uang logam satu dirham dan membakarnya. Dibungkusnya uang itu dengan sepotong kain dan di berikannya kepada bibinya seraya berkata,”Inilah tambahan tunjangan uang yang bibi minta…”Bibi menjerit kepanasan ketika menyentuh bungkusan berisi uang logam panas itu. Umar berkata dengan yakin,”Kalau api dunia terasa sangat panas bagaimana kelak api neraka yang akan menbakar aku dan Bibi karena mengkhianati amanah dan menyelewengkan harta kaum muslimin?”Sungguh tersentuh nurani membaca kisah teladan seperti ini.

Masya Allah, kenapa pula di zaman ini malah kursi kepemimpinan diperebutkan, malah para penguasa berlomba-lomba mengumpulkan harta agar bisa tercukupi tujuh turunan, mencari-cari alasan “agar rakyat mengeluarkan uang lebih banyak” untuk proyek-proyek “yang aneh-aneh”, semacam pengadaan kolam renang, study banding ke benua lain, pengecatan bangunan baru, dana renovasi rumah anggota dewan, sekalian dana nge-laundri baju dan sepatu-lah, lucu! Padahal yang ngasih gaji—alias rakyat masih banyak yang kelaparan, yang di dalam negeri ‘tidak merasakan manfaat langsung dari pajak’, yang di luar negeri ‘ada rasa takut dipungli-in plus dirampok saat memasuki bandara di negara sendiri’.

Duhai Robbi, Tolong bukakan mata hati semua pemimpin dan penguasa negeri, ingatkanlah mereka akan janji-janji membawa kesejahteraan, keamanan bagi rakyat dan meningkatkan pemberantasan korupsi & kolusi yang sudah amat parah itu, dan selamatkanlah kami dari kezaliman-kezaliman mereka, amiin…
Wallahu ‘alam bisshowab…

(bidadari_Azzam, Salam Ukhuwah dari Krakow, 7 jan.2011)

==============================
kumpulan cerita sufi tasawuf penuh hikmah – kisah perawan cantik – cerpen sufi tasawuf penuh hikmah

About these ads

About sesungguhnya pacaran dan musik itu haram hukumnya ( www.jauhilahmusik.wordpress.com , www.pacaranituharam.wordpress.com )

pops_intansay@yahoo.co.id
This entry was posted in cerita eramuslim.com. Bookmark the permalink.

5 Responses to kumpulan cerita sufi tasawuf penuh hikmah – kisah sufi tasawuf penuh hikmah – cerpen sufi tasawuf penuh hikmah

  1. kumpulan cerita sufi tasawuf penuh hikmah – kisah sufi tasawuf penuh hikmah – cerpen sufi tasawuf penuh hikmah
    ==============================

    Terpatah Menekuni Ukhuwah
    Kamis, 06/01/2011 13:47 WIB | email | print

    Oleh Mukti Amini

    Menyimak uraian manisnya perilaku para sahabat, yang mendoakan pencuri usai menyatroni rumahnya, dengan doa yang indah:

    “Ya Allah… jika dia orang kaya, maka ampunilah dia. Dan jika dia orang miskin, jadikanlah ia orang kaya.”

    Sungguh membuat diri ini malu hati.

    Sudahkah aku berdoa untuk orang-orang di sekelilingku? Bukan hanya untuk orang-orang yang dekat denganku saja, tapi juga untuk semua orang, bahkan orang yang mencideraiku? Mampukah aku begitu?

    Mendengar cerita tentang sahabat yang menangis tersedu-sedu setelah hartanya dicuri, lalu ditanyakan kepadanya gerangan apa yang membuat ia menangis? Ia menjawab sendu, “Aku menangis karena kasihan dengan pencuri itu, atas dosa yang telah ia lakukan.”

    Wahai! Masih mampukah aku menangis untuk orang lain seperti itu? Jika saja aku menjadi korban pencurian, mungkin aku menangis karena hartaku yang hilang, bukan karena kasihan dengan si pencuri. Ya! aku masih sibuk dengan menangis untuk diriku sendiri….

    Membaca cerita tentang 2 karib, saat salah seorang dari mereka mengakui bahwa dia telah mengambil uang dari saku gamis sahabatnya itu tanpa ijin, karena kebutuhan yang sangat mendesak dan baru mengatakaan setelahnya, namun sahabatnya itu justru memeluknya erat dan berkata, “Alhamduulillah, selamat, selamat. Dengan ini kau benar-benar telah menjadi saudaraku, karena sesungguhnya hartaku adalah juga hartamu.”

    Duhai, apa yang akan kulakukan jika ada orang yang mengambil uang dariku tanpa ijin? Merobek buku kesayanganku yang dia pinjam? Merusakan netbukku yang dia pakai sementara? Apakah aku masih bisa mengucapkan tabaruk padanya, tanpa kalimat omelan atau makian? Mampukah aku berlapang dada atas itu semua?

    Apatah lagi akan mampu bersikap itsar seperti gambaran sahabat anshor dalam surah Al-Hasyr, sedang untuk bersikap salamatus sadr sebagai serendah-rendahnya ukhuwah saja, ternyata begitu sulitnya. Astaghfirullah..

    Ta’aruf – Tafahum – Takaful, rukun ukhuwah yang indah, tapi ternyata sangat tidak mudah.

    Jangankan tafahum apalagi takaful. Ta’aruf saja rasanya masih begitu jauh kugapai. Masih terbata-bata aku mengeja maknanya.

    Aku tak hafal nama semua anak-anak temanku. Tak mampu menyebutkan dengan lengkap alamat rumahnya. Bahkan kadang lupa hari ulang tahunnya. Aku tak tahu apa yang menjadi hobbynya, tak tahu dengan jelas dimana dia bekerja. Belum pernah sekali pun datang ke rumahnya.

    Astafghfirullah…

    Sementara itu, aku sedih saat diri ini sakit dan hanya sedikit sahabat yang menjenguk. Menangis berhari-hari saat ibuku meninggal dan beberapa orang sahabat dekat ternyata tak kunjung mengucapkan sekedar turut berduka cita, hari demi hari kutunggu sampai aku kembali ke ibukota. Mudah tersinggung saat ada kata-kata dari sahabat yang kurang tertata (padahal cuma kata-kata, bagaimana jika luka fisik?)

    Allahu, masih saja aku menuntut banyak hak dari ukhuwah, sementara tak kutunaikan dengan baik kewajiban ukhuwah pada diriku.

    “Mbak itu orangnya kurang perhatian, jarang menanyakan kabar pada kami. Kalau telepon, maunya langsung to the poin.”

    Astaghfrullah, kenapa aku jadi seperti robot? Bukankah orang lain juga ingin diperhatikan, tak hanya dibebani kewajiban?

    “Gimana sih Ning? Kamu kalau aku cerita kok diam saja gak ada komentar? Mbok ngomong apa gitu, yang bisa menghiburku.”

    (dan aku terperangah karena sebenarnya sedang memikirkan solusi dari apa yang dia ceritakan. Oh, ternyata dia bercerita padaku hanya butuh didengarkan dan dihibur, sementara aku berpikir dia butuh solusi. Maafkan, maafkan aku tak pandai memahami)

    “Mbak itu terlalu tegas dan galak, jadi saya agak takut mau cerita yang sebenarnya dari kemaren.”

    Innalillahi, begitu ya? Apa tampang saya mirip monster, atau algojo? Sampai orang pun enggan untuk sekedar bercerita?

    Rabbana, ternyata sungguh tak mudah menekuni rukun ukhuwah.

    Maafkan, maafkan diriku yang lengah

    Namun, meski diri ini belum sempurna menekuninya

    semoga ia-nya tetap menuai keberkahan yang indah

    dan selalu ingin kukatakan pada sahabat2-ku

    uhibbukum fil-Lah…

    ~pondok cabe, 6 jan 2011
    masih harus banyak berkaca… T_T

    ==============================
    kumpulan cerita sufi tasawuf penuh hikmah – kisah perawan cantik – cerpen sufi tasawuf penuh hikmah

  2. kumpulan cerita sufi tasawuf penuh hikmah – kisah sufi tasawuf penuh hikmah – cerpen sufi tasawuf penuh hikmah
    ==============================

    Belajar Dari Badai Salju
    Kamis, 06/01/2011 07:11 WIB | email | print

    Oleh Syaripudin Zuhri

    Badai telah memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi jiwa manusia, tak ada manusia yang mau merenung yang tak menyadari akan kelemahan dirinya, badai telah memberikan pelajaran yang sangat berharga untuk meluluhlantakan jiwa-jiwa manusia yang sombong atau meluluhlantakkan penyakit-penyakit manusia yang tak mau juga menyadari keberadaan sang pencipta, manusia-manusia angkuh itu masih saja berdalih, akh itu kejadian alam , akh itu biasa, akh itu memang maunya alam dan komentar yang sejenisnya, tak ada kerendahan hati dalam komentar tersebut, tak ada pengakuan diri bahwa manusia itu lemah dan tak ada pengakuan bahwa ada Dia di balik badai salju yang menimpa Rusia dan berbagai negara lainnya.

    Saya jadi teringat ketika bencana Merapi dan Menatawai tahun lalu ( tak terasa yakh kita sudah melawati tahun 2010 dan sudah berada di awal minggu pertama 2011 ) ada seorang tokoh, tapi rasanya tak pantas disebut tokoh, panggil aja si X, yang berani-beraninya bilang bencana Mentawi dan Merapi hanya kejadian alam biasa, tak ada urusan dengan Allah, padahal si X ini dibesarkan pada sebuah organisasi Islam yang besar, namun sekarang termasuk di dalam sebuah jaringan yang membuat tokoh Islam yang moderat sering kali harus mengelus dada, karena pernyataan-pernyataannya, akh sudahlah, mari kita lanjutkan telaah kita mengenai badai salju.

    Cuaca ekstreem terjadi mana-mana, termasuk di Rusia, khususnya Moskow, ini kejadian langka, belum pernah separah ini di tahun-tahun sebelumnya, tak pernah kejadian seperti hari Minggu, 26 Desember 2010 lalu. Di saat saya melihat TV dan internet di mana Indonesia sedang “gibol” gila bola karena Timnas kita masuk ke final AFF dan di Aceh sedang memperingati bencana Tsunami yang terjadi tepat 6 tahun lalu, nah di Rusia sedang terjadi badai salju yang menggila.

    Badai salju telah menyebabkan jalan-jalan yang tadinya salju mendadak sontak menjadi es yang licin. pohon banyak yang bertumbangan dan diantara batang dan ranting telah membeku dan dilapisi es! Hingga bila terlihat dari jauh pohon ini seperti kabel-kabel listrik putih mengkilap atau seperti ulat-ulat putih yang mengelantung di dahan atau ranting-ranting, kelihatanya malah jadi unik dan menarik. Dan anda bisa memegang dahan-dahan atau ranting-ranting yang diselimuti es! Ajaib, benar-benar ajaib, hanya karena suhu yang mendadak turun di malam minggu, pemandang berubah total, dari putih menjadi seperti kaca!

    Dan itu terjadi di mobil-mobil, termasuk mobil saya, yang kebetulan parkirnya di tempat parkir yang tidak di bawah tanah atau bukan di garasi “keong” sebuah garasi kecil yang memuat satu mobil dan persis seperti keong yang bisa dipindah ke sana kemari. Ya mobil di apartement tempat saya tinggal parkirnya lapangan yang di aspal dan di ruangan terbuka. Maka yang terjadi adalah ketika suhu tiba-tiba turun drastis di malam Minggu lalu, maka salju yang turun di hari Sabtunya mendadak menjadi es semua, membekukan salju-salju yang menempel di mobil-mobil.

    Nah mobil sayapun kena imbasnya, mendadak seluruh kaca dilapisi es dengan ketebalan hampir 2 cm! Bayangkan betapa susahnya mengerok salju-salju tadi, lebih repot lagi pintu-pintu mobilpun tertutup es dan hampir di seluruh badan mobil terbentuk stalactit-stalactit, es-es runcing yang kalau kena tangan yang bisa luka tergores dan berdarah, karena tajamnya. bahkan kalau stalactit yang menjadi besar tadi jatuh dari atas gedung apartement dan mengenai mobil, badan mobil besak penyok bahkan bisa berlubang dan bayangkau kalau kena manusia!

    Luar biasa, salju yang lembut kini telah membeku dan menjadi es yang sukar di lepaskan atau dikerok di kaca-kaca atau di badan-badan mobil! Butuh kesabaran untuk mebersihkan es dari seluruh badan mobil. Oya agar proses pencairan es tadi, masin harus dipanaskan, namun ketika membuka pintu butuh perjuangan dan ke hati-hatian, bila tidak penarik pintu mobil bisa patah! Rusia-rusia, iklim saja telah membuat manusia menjadi repot, itu belum menyalakan mobil, baru mau masuk ke mobil dan membersihkan mobil agar mobil saat dikendarai bisa kelihatan jalanan, karena tidak tertutup es lagi.

    Namun usaha untuk membersihkan es tadi butuh perjuangan lagi di tengah suhu minus 15 derajat C! Sudah dingin, mobil di tutup es, di kaca-kaca mobil terbentuk lempengan-lempengan es! Dikeraskan mengeroknya, badan mobil bisa banyak goresan-goresen, dilema, tidak di kerok, jalanan tak akan terlihat, karena tertutup es. Ya akhirnya harus sabar dengan heater mobil yang akan memanaskan kaca-kaca tersebut dan itu butuh waktu, antara 30 menit sampai 1 jam!

    Memang repot hidup di Rusia, tak punya mobil berisiko alias ke mana-mana berjibaku dengan suhu yang dingin membekukan, punya mobilpun harus berjuang dengan salju dan es! Di tambah dengan kemacetan total, karena pengendara harus berhati-hati mengendari mobilnya disebebkan jalanan yang licin. Makanya di Rusia selain kemacetan tadi, mobil mendadak jelek semua, kotor semuanya! Ya karena kecipratan salju, salju yang bukan lagi berwarna putih, tapi sudah kecoklatan! Ya sudah bila anda ke Moskow di musim dingin seperti sekarang, akan akan melihat bahwa orang-orang Rusia terpaksa jorok semua.

    Mengapa? Karena kalau mobil di cuci akan membahayakan, bisa-bisa sisa-sisa air bekas cucian akan membeku, lebih bahaya lagi kalau air tadi masuk ke lobang-lobang kunci, maka lubang kunci tadi akan tertutup oleh es, otomatis tak bisa dibuka pintu mobil tadi dan bila di paksa, kuncipun bisa patah! Itulah mengapa mobil-mobil di Rusia di musim dingin seperti sekarang kotor semua, jelek semuanya. Bahkan kalau tak mau repot yang punya mobil memarkirkan mobilnya di jalanan dan dibiarkan begitu saja, maka bila anda melihatnya, mobil tersebut akan di urug oleh salju sampai tak kelihatan bentuknya, padahal bukan mobilnya jelek!

    Itulah hidup di Rusia, jangankan ada badai salju, tak ada badaipun, melawan dinginnya suhu sudah suatu resiko sendiri! Jadi di balik keindahan salju, banyak problem di dalamnya. Kejadian badai salju dua minggu lalu menyebabkan bandara Sheremetyevo dan bandara Domodidovo lumpuh total, akibatnya ada warga KBRI yang mau pulang ke tanah air hari itu di tunda, pesawat dilarang terbang! Loh gimana mau terbang kalau baling-baling pesawat membeku dan tak dapat digerakan, karena penuh dengan es! Setelah membaca tulisan di atas ada beberap hal yang dapat kita pelajari dari adanya badai salju tersebut, diantaranya ialah:

    Pertama, badai salju adalah salah satu dari kekuatan alam yang dapat memporak porandakan apa saja, badai ini menimpa apa saja, tak pandang orang baik dan orang yang buruk, tak melihat sisi manusia soleh dengan manusia salah, semuanya dihantamnya.

    Kedua, Allah sedang menunjukkan kekuatanNya pada manusia-manusia yang selalu mengandalkan rasionalitasnya, otaknya, ternyata dengan salju yang dibuat badai sedemikian rupa olehNya membuat manusia “matikutu” manusia, tak mampu melawan badai tersebut, manusia menyerah kalah, manusia tak mampu menghalau badai salju tersebut.

    Ketiga, badai salju yang menimpa negara-negara di Eropa, Amerika dan Rusia telah menyadarkan manusia yang mau berpikir, bahwa ada kekuatan lain di balik alam ini, ada kekuatan metafisika yang tak terjangkau oleh akal manusia, bayangkan hanya dengan menurunkan suhun sekian derajat C dari titik beku, telah membuat salju yang tadinya lembut mendadak sontak semuanya menjadi es yang keras membatu! Dialah yang merubah itu semuanya, Dialah, Allah Yang Kuasa atas segalanya.

    Keempat, bila manusia tak mau juga merendahkan dirinya kepada Yang Maha Tinggi, Yang Maha Besar, Dialah, Allah SWT, bisa saja Dia akan menunjujjkan kekuatanNya yang lebih besar, sekarang saja manusia tak habis pikir, di Australia yang mestinya sedang musim panas, salju tiba-tiba turun, Allahu Akbar. Manusia menyebut akibat global worming, pemanasan global, lagi-lagi tidak melihat apa yang terjadi penyebab di balik pemanasan global tersebut, lagi-lagi disebut kejadian alam saja, tidak mengaitkan ada Dia dibalik semua fenomena alam! Masih sombong juga rupanya manusia!!!

    Kelima, bagi manusia-manusia yang beriman, jangankan badai salju yang melanda dunia, perubahan air menjadi salju dan salju berubah menjadi es, kemudian es berubah menjadi cair lagi, hanya karena suhu yang naik turun, sudah begitu takjub, itu bukan suatu yang biasa, itu sudah suatu keajaiban dunia, keajaiaban alam! Semua perubahan air, salju dan es dalah suatu tanda-tanda kekuasaanNya. Allahu Akbar. Terakhir, badai salju melumpuh Rusia, lagi manusia -manusia dipaksa untuk mengakui keperkasaan alam, tak boleh sombong, karena bagaimanapun manusia hanya makhluk lemah, tak berdaya, menghadapi badai salju saja manusia sudah “matikutu”, jadi apa yang mau kau sombongkan wahai manusia? Sadarlah, sujudlah, rendahkan hatimu pada Dia Yang Maha Besar, Allah SWT !

    Bila badai salju tak juga bisa menyadarkan manusia tentang kelemahan dirinya, Allah bisa saja mendatangkan badai-badai dalam bentuk lainnya, bisa badai keuangan, politik, ekonomi, social budaya dan sebagainya, bahkan bisa saja terjadi badai untuk seluruh aktivitas manusia, bahkan bisa saja bukan badai, tapi penghancuran alam semesta, itulah yang terjadi dalam kiamat kubro. Kalau badai salju baru kiamat sugro, juga bencana Mentawi, Merapi dan lain-lain, itu baru kiamat sugro, kiamat kecil.

    Badai salju insya Allah pasti berlalu, karena biasanya salju hanya terjadi di musim dingin, bila musim semi tiba, salju mulai hilang sedikit demi sedikit, apa lagi musim panas, tak ada salju satu tetespun, ajaib! Benar-benar ajaib, salju yang menutup seluruh daratan Rusia, Eropa dan Amerika Utara di musim dingin, bisa hilang lenyap pada musim panas! Kecuali memang di Kutub Utara atau Kutub Selatan, kalau di dua kutub ini mencair malah memang banjir besar akan melanda dunia!

    Sekian, lain kali kita sambung dengan peristiwa yang lain. Salam.

    ==============================
    kumpulan cerita sufi tasawuf penuh hikmah – kisah perawan cantik – cerpen sufi tasawuf penuh hikmah

  3. kumpulan cerita sufi tasawuf penuh hikmah – kisah sufi tasawuf penuh hikmah – cerpen sufi tasawuf penuh hikmah
    ==============================

    Menanti Kabar
    Rabu, 05/01/2011 14:08 WIB | email | print

    Oleh Fiyan “Anju” Arjun

    Menunggu. Itulah yang sedang aku lakukan saat-saat ini. Menunggu menurutku sebuah pekerjaan yang mejemukan sekaligus membuat benak selalu dipenuhi oleh sebuah jawaban yang tak pasti. Dan itulah yang sedang aku alami. Menunggu.

    Bicara menunggu aku jadi teringat sahabatku Majid, sahabat kecil masa itu. Ia adalah satu-satunya orang paling sabar dan setia menunggu aku jika akan berangkat sekolah. Ia pasti selalu standby di teras rumah. Dengan pakaian merah putihnya ia setia menunggu aku agar bisa berangkat ke sekolah bersama-samanya kala itu.

    Namun anehnya sahabat kecilku plus teman sekelasku itu tak ada raut marah sekali pun di rona wajahnya ketika setiap hari menungguku. Entahlah terbuat dari apa hati sahabat kecilku itu. Aku tak tahu. Atau, karena usia kami masih bau kencur saat itu sehingga kami tak tahu rasanya menunggu dan ditunggu. Hingga akhirnya aku pun merasai juga bagaimana rasanya orang menunggu itu. Halnya saat ini yang aku rasakan. Betapa tidak enaknya orang me-nung-gu itu! Selalu diliputi ketidakpastian….

    Lalu apakah seperti itu yang dirasakan sahabat kecilku Majid itu? Entahlah. Sayang sekarang ia tidak satu kampung denganku. Ia sudah pindah rumah setelah mendapatkan selembar ijazah SD yang diraihnya. Dan aku tak tahu dimana rumahnya itu! Betapa sayangnya….

    Ya, sejak pertemuan itu usai berjalan dengan sukses aku bagaikan Qais. Qais, Sang Pecinta yang selalu menantikan kedatangan balasan sepucuk surat dari kekasihnya bernama Laila tanpa memperhatikan kondisi diri. Hingga akhirnya maut pun menjemputnya di atas pusara kekasihnya saat ia mengetahui bahwa Lailanya telah tiada lebih dahulu. Ia tiada karena ingin merawat cinta sucinya kepada Sang Pecinta itu ketimbang harus berlama-lama menanggung diri untuk menerima perjodohan dari kedua orangtuanya. Sebaliknya Sang Pecinta pun sama. Ia lebih baik merana dan meregang nyawa untuk cinta sucinya itu di pusara kekasihnya. hingga maut pun menjelang ketimbang ia hidup seorang diri. Ironi sekali.

    Sejak awal aku hidup disini.[1]

    Aku masih ada di sini.

    Dan sampai kiamat aku masih di sini.

    Sebab tak ada kalimah pamungkas untuk lara-lara nelangsaku yang nyeri.

    Sayang aku bukan Qais. Aku bukan majnun yang begitu setianya menjaga cinta sucinya. Tapi aku? Aku…Aku…Entahlah, aku berharap cintaku juga bersemi dan tersemai pada tempatnya. Itu saja.

    Hari ini kota Jakarta sudah seminggu diguyur hujan. Tak tahu kapan pastinya usai aku tak bisa menerkanya. Apalagi aku bukan ahlinya dalam mengetahui perubahan cuaca di kota ini. Padahal September sudah berlalu. Namun hujan masih terus mengguyur. Sehingga mempengaruhi segala aktivitasku saat-saat ini. Aku terhambat. Apa pun yang kulakukan terpaksa tertunda sementara waktu sambil menunggu hujan reda.

    Tapi sampai kapan? Aku tak tahu! Apalagi menerka kapan hujan reda. Akhirnya terpaksa aku bermalasan-malasan di rumah. Tapi bermalas-malasannya aku berbeda daripada kebiasaan orang-orang kebanyakan. Bermalas-malasannya aku di rumah bernilai mutiara. Salah satunya adalah meneruskan novelet[2] yang sedang aku kerjakan ini!

    Sambil menunggu hujan berhenti mengguyur aku pun mencoba menghidupkan notebook-ku yang berukuran 10 inch itu. Walau kecil tapi banyak manfaat dan gunanya, terlebih aku sebagai seorang perangkai kata-kata. Benda satu ini sangat-sangat aku butuhkan. Tapi ingat aku bukan menuhankannya! Apalagi dalam waktu ini. Sedang menunggu kabar. Hal yang paling asyik adalah bercumbu dengan benda elektronik imut yang selalu menemaniku saat aku dikungkung kegelisahan. Daripada aku harus bertopang dagu saja. Tak ada aktivitas sama sekali.

    Kunyalakan benda tersebut. Dan mengeluarkan pantulan cahaya putih hingga membuat mata minusku menjadi silau. Tapi itu tak separah saat aku melihat keanehan alam belum lama ini terjadi di kotaku. Mungkin dua bulan yang—lalu terjadi ketika ada gerhana matahari cincin[3] di siang bolong terjadi. Tanpa kacamata minus aku pun melihatnya hingga mata ini terasa berkunang-kunang.

    Kini jemariku mulai menari-nari dan bermain di atas tombol notebook. Tapi belum sempat aku berlama-lama bermain kata tiba-tiba hapeku berbunyi.

    Azza… azza… azza…

    Azza azza azza

    Azza azza azza

    Ku rasakan kasihmu

    Sungguh ku rasakan

    Ku rasakan sayangmu

    Sungguh ku rasakan

    Ku rasakan cintamu

    Azza….

    Suara Rhoma Irama[4] yang ada di hapeku terus menembang. Ia terus bernyanyi. Meminta agar aku segera mengangkatnya.

    Kulihat sepintas.

    Nomor asing.

    Tak dikenal.

    Belum tersimpan dalam memori hapeku.

    Kudiamkan sementara waktu.

    Ternyata hapeku itu masih menerima nomor itu kembali. Hapeku terus menembang lagu itu milik Sang Raja Dangdut. Meronta-ronta seperti ingin dibebaskan dari getaran itu.

    Kuangkat benda kecil yang mengeluarkan suara itu. Lagi-lagi dari balik benda itu kudengar suara manusia bertanya kepadaku.

    “Benar ini dengan Mas Awwam?” tanya suara itu.

    Aku diam sementara waktu.

    “Ya, saya sendiri. Ada perlu apa ya, Mas,” jawabku ramah memanggil sapaan itu dengan menyebutnya “Mas”. Dan itulah yang aku lakukan jika belum mengenal orang. Baik wajah, rupa maupun bentuknya. Aku lebih sreg memanggil Mas ketimbang Bapak agar yang mendengarnya lebih senang dikatakan seperti itu dan agar bisa muda terus. Mudah-mudahan!

    “Bisakah kami menawarkan kepada Mas Awwam jika nanti bersedia. Boleh kami menerbitkan naskah novelet yang Mas sedang kerjakan maupun yang lainnya untuk bersedia kami terbitkan di penerbit kami,” jawab suara di balik telepon.

    Aku tergugu.

    Kembali diam sementara waktu.

    Aku kembali mengingat apa yang baru aku dengar tadi. Aku tak percaya. Memastikan aku tidak dalam keadaan tidur panjang. Tapi ternyata itu bukan khayalan. Ini nyata!

    “Bagaimana Mas bersedia jika naskah yang Mas tulis kami terbitkan di tempat kami?!”

    Suara itu kembali meyakinkanku.

    Ini bukan mimpi.

    “Ma-maaf Mas tadi ada gangguan sedikit,” ucapku mencari alasan yang masuk logika.

    “Baiklah, Mas! Kapan bisanya saya menyerahkan naskah-naskah saya ini. Kapan batas deadline-nya untuk saya itu,” lanjutku menanyakan kepastian waktu yang harus aku rampungkan.

    “Kalau bisa awal tahun, Mas. Tapi kalau cepat dari waktu yang ditentukam itu lebih baik Mas. Bagaimana Mas setuju dengan tawaran kami ini?”

    Tak menunggu panjang. Tak lama harus berpikir. Aku pun mengatakan “Iya”

    “Baiklah, Mas! Kalau begitu jangan lupa catat nomor ini ya, Mas. Kemungkinan kami sering menghubungi, Mas Awwam. Terima kasih ya Mas atas kesempatannya ini. Kami tunggu nanti kabar selanjutnya…”

    “Baik, Mas! Saya akan usahakan. Saya juga mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada Mas!” tukasku lagi kepada suara dari balik benda kecil itu.

    Klik.

    Hubungan SLJJM (Saluran Langsung Jarak Jauh Mendadak) pun usai.

    Aku kembali mematut di notebook-ku. Namun sebelum jemariku asyik bermain ekor mataku tertuju pada kalender duduk yang sedang duduk manja dihadapanku. “Berarti aku cukup punya waktu lumayan lama,” kataku bergumam.

    Hingga hal itu mengingatkan aku pada yang semestinya sedang kualami saat-saat ini. Aku sedang menunggu kabar. Kulihat disalah satu angka di kalender itu—yang tercoret berwarna hitam. Terlihat dengan jelas. Terlingkar warna spidol hitam.

    Ya, aku pernah melingkarinya saat aku usai pulang ke rumah—dan aku melingkari angka itu. Ternyata tinggal sehari lagi aku menunggu dan menanti kabar itu. Kabar yang membuat seluruh tubuhku akan menambah reaksi yang tak menentu. Halnya saat pertama kali aku berhadapan dengan seorang laki-laki tinggi sedang. Tak lain adik laki-laki perempuan yang akan memberiku kabar nanti. Perempuan Bertahi Lalat di Atas Bibir tetapi bukan Elvy Sukaesih seperti lelucon kawanku Salman itu. Tapi aku berharap kabar itu bisa membuat aku bernafa lega….Ahhh… Pun kalau tidak. Pahit seperti empedu atau sebaliknya semanis madu mau tidak mau aku harus menerima itu.

    Aku kembali memainkan jemariku di atas notebook.

    **

    Q sdh istikharah tnyt kaulah laki-laki pilihan itu. Q sdh yakin kaulh leleki itu…

    Esoknya kuterima pesan singkat itu. Aku menerimanya saat kutidak sedang membawa hapeku. Hape itu tertinggal di kamarku saat aku sedang keluar rumah sejenak. Aku keluar untuk membeli kopi bungkus sachet di warung terdekat. Dan setiba aku kembali pulang dari warung kulihat pesan iru. Ternyata ada pesan dari seseorang. Dan itu sangat penting! Apalagi aku yang sejak kemarin menanti kabar itu. Ya, kabar dari seorang perempuan yang tiga hari lalu—aku temui dalam sebuah pertemuan di rumahnya bersama aku, Salman kawanku beserta Ibu dan adik laki-laki perempuan yang memiliki tanda tahi lalat di atas bibir.

    Aku tak percaya jika kumenerima pesan itu. Terlebih saat aku baca. Akhirnya karena aku tak percaya dengan pesan itu kucoba mengulang kembali membaca pesan itu.

    Q sdh istikharah tnyt kaulah laki-laki pilihn itu. Q sdh yakin kaulh laki-laki itu…

    Benarkah itu?

    Apakah aku tidak salah baca?

    Atau, hanya de’javu[5]-ku saja?

    Tapi itu nyata. Apalagi saat kulihat nomor pengirim itu. Tak lain seorang perempuan yang memang aku tunggu bersama kabar yang akan ia sampaikan untukku. Aku dibuat bisu dengan pesan itu. Aku membeku. Akhirnya karena ingin memastikan hal itu aku pun membalas pesan singkat itu kembali. Aku khawatir ia salah tulis. Ia salah kirim. Dan aku salah mengira….

    Tapi lagi-lagi ini benar kok untukku? Batinku menceracau kemana-mana.

    Kuhubungi orang yang memberi pesan singkat itu ke hapeku.

    “Assalamualaikum….”

    Akhirnya kusambungkan pesan singkat itu dengan menghubungi orang yang mengirimkannya.

    “……………………………………..”

    Tidak ada suara.

    Kusambung lagi.

    Tetap sama.

    Ups, tidak! Tidak! Ternyata yang ini bersuara tapi…sayang itu hanya suara operator yang memberitahukan akan keberadaan siempunya.

    Kusambung kembali. Ini yang ketiga kali jika tidak ada yang mengangkat—dan tidak ada suara kembali dari balik benda kecil mengeluarkan suara manusia itu terpaksa aku menyudahi.

    Benar!

    Tidak ada suara apa pun.

    Hening.

    Akhirnya aku berhenti untuk menyambungi ke si pengirim pesan singkat itu. Tak lain si pemberi kabar. Dan aku kembali meneruskan bermain di atas notebook. Tapi sebelum meneruskannya aku pun lebih dahulu mengirimkan pesan singkat balasan itu terlebih dahulu.

    Apkh km tdk slah mnuliskn itu utkku?

    Ah, begitu sentimentilnya aku saat itu.

    Pesan singkat yang kukirim itu akhirnya meluncur juga. Entah apakah terbaca olehnya langsung atau tidak aku tak peduli. Bagiku pesan itu sampai kepadanya. Dan aku sudah mendapatkan kabar itu. Kabar yang selama ini sedang aku tunggu. Menanti kabar darinya….

    November 2010-Januari 2011

    Teruntuk kenangan lama yang sudah menemaniku selama ini.

    Email:fiyanarjun@gmail.com

    FB:bujangkumbang@yahoo.co.id

    ==================================================================

    Nantikan kisah-kisah inspiratif selanjutnya tentang ta’aruf—yang InsyaAllah akan dibukukan yang ditulis dengan pengalaman dan kenyataan penulis. Nama dan tokoh semua disamarkan. Maklum kemaslahatan bersama baik saya sebagai penulis maupun tokoh-tokoh yang ada dalam kisah inspiratif ini.

    Dan inilah bagian-bagian kisah-kisah inspitarif ta’aruf itu.

    1. Izinkan Aku Mengentuk Pintu Hatimu

    http://www.eramuslim.com/oase-iman/fiyan-izinkan-aku-mengentuk-pintu-hatimu.htm

    2. Perempuan Bertahi Lalat di Atas Bibir

    3. Pertemuan Itu

    http://www.facebook.com/#!/note.php?note_id=478308047907&id=1298556971

    4. Menanti Kabar

    5. Janji Seorang Merpati

    6. Sang Perantara

    7. Lika-Liku Laki-laki

    8. Bukan Empat Mata [Biasa]

    9. Ini Realitis Bukan Apatis

    10. Terima Kasih Kau Sudah Mengenalku

    ===================================================================

    Keterangan:

    [1] . Dikutip dari puisi karya Kahlil Gibran: Sayap-sayap Patah

    [2]. Novelet yaitu novel pendek yang lebih panjang dari cerita pendek, roman adalah jenis cerita rekaan yang paling dulu muncul, disusul oleh cerita pendek dan baru kemudian muncul novel dan novelet. Bentuk novel ataupun novelet dan cerita pendek pada akhirnya merajai sastra di Indonesia.

    [3]. Gerhana cincin ini terjadi apabila piringan Bulan (saat puncak gerhana) hanya menutup sebagian dari piringan Matahari. Gerhana jenis ini terjadi bila ukuran piringan Bulan lebih kecil dari piringan Matahari. Sehingga ketika piringan Bulan berada di depan piringan Matahari, tidak seluruh piringan Matahari akan tertutup oleh piringan Bulan. Bagian piringan Matahari yang tidak tertutup oleh piringan Bulan, berada di sekeliling piringan Bulan dan terlihat seperti cincin yang bercahaya.(Wikipedia, Eksiklopedia Bebas)

    [4] . Raden Oma Irama yang populer dengan nama Rhoma Irama (lahir di Tasikmalaya, 11 Desember 1946;umur 63 tahun) adalah musisi dangdut dari Indonesia yang berjulukan “Raja Dangdut”.

    [5]. Déjà vu adalah sebuah frasa Perancis dan artinya secara harafiah adalah “pernah lihat”. Maksudnya mengalami sesuatu pengalaman yang dirasakan pernah dialami sebelumnya. Fenomena ini juga disebut dengan istilah paramnesia dari bahasa Yunani para (παρα) yang artinya adalah “sejajar” dan mnimi (μνήμη) “ingatan”.Menurut para pakar, setidaknya 70% penduduk bumi pernah mengalami fenomena ini.(Wikipedia Bebas)

    ==============================
    kumpulan cerita sufi tasawuf penuh hikmah – kisah perawan cantik – cerpen sufi tasawuf penuh hikmah

  4. kumpulan cerita sufi tasawuf penuh hikmah – kisah sufi tasawuf penuh hikmah – cerpen sufi tasawuf penuh hikmah
    ==============================

    Jangan Biarkan Mukenamu Terbang
    Selasa, 04/01/2011 14:01 WIB | email | print

    Oleh Najwa_fahrini

    Saat ini menjalankan syariat pun seperti ada trendnya. Pernah melihat mukena terbang, memiliki, bahkan memakainya? Menurut kacamata pemikiranku mungkin produk ini juga sedang menjadi icon mukena di pasaran. Mukena ini terbuat dari parasut dengan berbagai macam corak. Harganya relatif murah dan motifnya yang lucu mudah menarik minat pembeli. Bahan dasar mukena terbang ini ringan, mudah ditata lalu dimasukkan dalam tas kecil sehingga praktis untuk dibawa kemana-mana. Dan saat ini memang sedang menjadi trend mulai dari anak-anak sampai dewasa.

    Memang kurasakan ketika muncul fenomena mukena terbang ini, mushola jadi serasa lebih ramai dikunjungi para jamaahnya. Orang yang biasanya lebih suka mengulur waktu shalat, dikerjakan di rumah, atau bahkan ditinggalkan dengan alasan nggak bawa mukena, atau mukena yang tersedia bau, akhirnya pun mulai nimbrung berbondong-bondong berjamaah ke mushola dengan menenteng mukena terbangnya. Kalau dipikir-pikir, ada untungnya juga sih, kalau mukena ini bisa dijadikan sebagai salah satu solusi untuk menyiasati anak-anak yang enggan untuk sholat. Sebab ketika mereka memiliki barang pribadi, hal itu dapat melatih mereka agar lebih bertanggung jawab.

    Namun, ada beberapa rambu dan kaidah syar’i yang masih belum sesuai pada mukena terbang ini. Tentu yang kita sebut sebagai seorang muslimah adalah perempuan yang memeluk agama Islam, baik itu yang berkedurung maupun yang belum. Contohnya saja ketika sholat. Mukena sangat dibutuhkan terutama untuk mereka yang masih belum berkerudung untuk menutupi auratnya.

    Ketika di suatu mushola kampus, aku bingung memilih mukena karena yang disediakan kebanyakan mukena terbang. Aku kurang suka memakainya karena selain panas, kainnya yang tipis, dan sesuai dengan namanya mukena ini mudah sekali diterbangkan oleh angin, dan seringkali membuat konsentrasiku buyar ketika sholat.

    Siang itu usai aku shalat dhuhur, tampaklah berkibar-kibar mukena parasut yang dipakai salah seorang jamaah karena kipas angin yang ada di atasnya sedang menyala. Dari jauh terlihat kasat mata ia tak menutup kepalanya dengan kerudung sehingga nampak samar rambut panjangnya yang dibiarkan terurai. Selain itu, ia juga memakai kaos lengan pendek sehingga kulitnya terlihat. Dan lebih parah lagi ketika ia sujud, dengan serta merta bagian belakang mukena pun tersingkap. Begitu terjadi selama sujud saat shalat berlangsung. Aku hanya berusaha membantunya membetulkan. Nyamankah dia dengan keadaan seperti itu?

    Padahal kita semestinya tahu bahwa menutup aurat adalah syarat sah dalam shalat. Dalil atas kewajiban menutup aurat pada saat melakukan shalat adalah firman Allah SWT berikut ini, “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A`raf [7] : 31) Aku pun pernah mendengar sampai ada satu mushola yang memang hanya menyediakan mukena terusan untuk mengantisipasi kejadian tersebut, bahkan ada yang memberinya hukum wajib untuk dipakai.

    Duhai muslimah, bandingkan ketika pesta atau berangkat kuliah, semua “jor-joran” memakai baju yang paling wangi dan bagus. Namun, ketika kita menghadap Allah SWT pemilik segala apa yang ada di dunia ini mengapa hanya kita persiapkan ala kadarnya? Ridho siapa yang ingin kita raih? Mari merenung kembali. Boleh kita trendy asalkan syar’ie. Tidak ada yang salah dengan mukena terbang, hanya kita harus bijak dalam memakainya. Bukannya jadi korban mode. Oleh sebab itulah, mari perbanyak amalan yang kita lakukan dengan ilmu agar tidak tersesat kemudian.

    ==============================
    kumpulan cerita sufi tasawuf penuh hikmah – kisah perawan cantik – cerpen sufi tasawuf penuh hikmah

  5. kumpulan cerita sufi tasawuf penuh hikmah – kisah sufi tasawuf penuh hikmah – cerpen sufi tasawuf penuh hikmah
    ==============================

    Jatuh Cinta Atau Membangkitkan Cinta?
    Selasa, 04/01/2011 07:20 WIB | email | print

    Oleh Rifki

    Dari mana datangnya lintah
    dari sawah turun ke kali
    dari mana daangnya cinta
    dari mata turun ke hati

    Sebait pantun tersebut sudah sejak lama sudah dikenal. Sebuah bait yang menggambarkan bagamaina proses munculnya cinta. Dari sebuah pandangan mata kemudian memunculkan perasaan di hati. Mungkin karena berawal dari pandangan, maka muncullah istilah cinta pada pandangan pertama.

    Kenapa harus ada kata “jatuh” sebelum kata “cinta”? Padahal dua kata itu sangat berlawanan maknanya. Kata “jatuh” beraura negatif. Siapa pun yang terjatuh pasti akan terluka atau merasakan rasa sakit. Sementara kata “cinta”, beraura positif. Siapa pun yang merasakannya pasti akan bahagia.

    Kanapa kata “jatuh” dan “cinta” itu digabung? Apa mungkin untuk menggambarkan dua perasaan yang saling betolak belakang? Jika cinta seseorang berbalas cinta pula dari orang yang dicintainya, maka kisahnya akan berujung sebuah kebahagiaan. Namun sebaliknya, jika cinta seseorang bertepuk sebelah tangan, maka kisahnya mungkin berujung sebuah kesedihan yang mungkin akan berlanjut kisah pejuang cinta dengan semangat bahwa cinta harus diperjuangkan atau dengan kisah keikhlasan melepas sang pujaan dengan alasan bahwa cinta tak harus memiliki.

    Kembali ke bagian awal, bahwa cinta itu berawal dari pandangan mata, maka biasanya, yang menyebabkan jatuh cinta adalah segala sesuatu yang bisa dirasakan secara fisik semisal ketampanan atau kecantikan, kecocokan sifat, dan sebagainya. Namun sudah menjadi sunnatullah bahwa segala sesuatu di dalam hidup ini pasti berubah-ubah. Maka penyebab jatuh cinta yang berupa fisik itu pastinya akan berubah pula. Yang cantik dan tampan, lambat laun akan hilang. sifat dan sikap pun mungkin akan berubah secara perlahan mengikuti situasi dan kondisi. Karenya mungkin jatuh cinta akan jauh lebih mudah daripada mempertahankannya.

    Membangkitkan cinta mungkin kebalikan dari jatuh cinta. Jika jatuh cinta penyebabnya dari luar diri seseorang berupa apa yang dilihat atau dirasakan, maka membangkitkan cinta bersumber dari dalam diri seseorang tanpa terpengaruh apa yang dilihat dan apa yang dirasakan. Tak kan jatuh cinta seseorang yang tak menemukan keindahan dan merasakan keindahan. Sedangkan seseorang yang membangkitkan cinta akan selalu menemukan bahwa apa yang dilihatnya, apa yang dirasakannya adalah keindahan dan kebaikan. Jika tidak, dia akan berusaha untuk menjadikannya indah dan baik dengan cara yang indah dan baik pula.

    Seandainya kita sudah bisa membangkitkan cinta, mungkin kita kan mudah untuk mengamalkan bait-bait ini …

    aku mencintaimu, maka kau menjadi cantik
    tak perlu lagi aku melirik
    apalagi membidik
    bila ada yang datang pun pasti kutampik
    karena tak ada lagi ruang berbilik
    di hatiku dan di waktuku yang terus berdetik

    aku mencintaimu, maka kau terlihat anggun
    membuatku selalu tertegun
    menatapmu laksana tersiram embun
    yang terkumpul dari ujung-ujung dedaun
    pergi sudah gelisahku ke ilalang rimbun
    yang tinggal hanya kebahagiaan menahun

    aku mencintaimu, maka kau berparas jelita
    tanpa perlu ada mahkota
    tanpa perlu gaun para putri raja
    tanpa perlu riasan pipi merona
    karena apa yang kau punya
    menenggelamkan segalanya

    tak ingin aku mencintaimu karena kau cantik
    karena sang waktu akan membuatmu menarik

    tak ingin aku mencintaimu karena kau anggun
    karena aku tak bisa menikmatinya lagi ketika mataku rabun

    tak ingin aku mencintaimu karena kau berparas jelita
    karena perjalanan masa kan segera memudarkannya

    ****

    karena aku mencintaimu, maka kau menjadi tampan
    tak perlu aku mengalihkan pandangan
    apa lagi mengharap datangnya seorang pangeran
    bila ada yang datang pun pasti kusingkirkan
    karena tak ada lagi ruang yang tersisakan
    di hatiku dan di waktuku yang terus berjalan

    karena aku mencintaimu, maka kau terlihat sempurna
    tanpa perlu kau mengenakan pakaian kebesaran raja
    tanpa perlu kau bertahta di singgasana
    tanpa perlu kau tinggal di istana
    karena apa yang kau punya
    ibarat dunia seisinya

    karena aku mencntaimu, maka kau terlihat gagah
    membuatku selalu terperangah
    pandanganku seolah tak ingin berkedip atau pun pindah arah
    hilang semua gundah gelisah
    tersingkir jauh oleh air bah
    bersamamu segalanya menjadi indah

    tak ingin aku mencintaimu karena kau tampan
    karena sang waktu akan membuatmu tak lagi rupawan

    tak ingin aku mencintaimu karena kau sempurna
    karena kesempurnaan bukanlah milik manusia

    tak ingin aku mencintaimu karena kau gagah
    karena perjalanan masa kan segera membuatnya punah

    Yang ternyata sulit, tapi bukanlah mustahil…..

    http://jampang.multiply.com

    ==============================
    kumpulan cerita sufi tasawuf penuh hikmah – kisah perawan cantik – cerpen sufi tasawuf penuh hikmah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s