kumpulan cerita teladan islami – kisah sumber teladan islami – cerpen penuh teladan islami

kumpulan cerita teladan islami – kisah sumber teladan islami – cerpen penuh teladan islami
==============================

Menjadi Mulia Tak Perlu Menunggu Kaya

Kamis, 24/02/2011 06:29 WIB | email | print

Oleh Ineu

Hari Ahad lalu saya sekeluarga berkesempatan menghadiri undangan masjid dekat rumah yang tengah mengadakan launching sebuah program zakat bekerjasama dengan Rumah Zakat Indonesia.

Kegiatan launching tersebut ditutup dengan ceramah yang disampaikan seorang ulama ternama di kota Bogor. Beliau adalah orang yang sangat menguasai dan sering berbicara mengenai zakat. Tentu ada banyak pelajaran berharga yang dapat diambil dari tuturan beliau. Salah satunya adalah ketika sang ulama berbagi cerita saat ia berceramah seputar zakat di sebuah daerah.

Sang ulama mengisahkan di tempat tersebut ada dua orang wanita yang tinggal serumah. Keduanya selalu menyisihkan sebagian harta yang dititipkan Allah pada mereka dengan cara berinfak. Hal ini mungkin bukan sesuatu yang menarik untuk dibicarakan. Tetapi tunggu, ulama tersebut melanjutkan kisahnya. Siapakah kedua wanita yang tinggal dalam satu atap itu? Bagaimana kisah ini menjadi sebuah hal yang menarik perhatian yang hadir saat itu (khususnya saya)?

Ulama tersebut menyampaikan bahwa kedua wanita yang tinggal dalam satu atap itu bukanlah anak dan ibu atau kakak beradik. Lalu, siapakah gerangan mereka? Keduanya tak lain adalah seorang majikan dan pembantunya.

Tanpa diketahui oleh masing-masing, sang pembantu selalu menyisihkan rezeki yang diperoleh setiap kali menerima gaji, demikian pula dengan sang majikan. Secara logika kita pastinya berfikir bahwa penghasilan sang majikan lebih besar dari sang pembantu, maka infaknya pun tentu akan lebih besar.

Namun logika tak selalu sejalan dengan kenyataan, harta yang disisihkan sang pembantu setiap bulan untuk berinfaq ternyata lebih besar dari infaq sang majikan. Padahal ia memiliki banyak anak yang harus dinafkahi dengan penghasilannya yang pas-pasan itu. Meskipun demikian keadaannya, ia berhasil menghantarkan anak-anaknya sekolah hingga perguruan tinggi.

Hmmm… apa yang terpikirkan oleh kita setelah mengetahui hal di atas? Mungkin ada yang merasa heran dan terselip tanya, bagaimana dengan gaji tak lebih dari 500 ribu bisa menghidupi sebuah keluarga bahkan bisa menyekolahkan anak-anaknya sampai jenjang yang tinggi?

Tentu saja bagi orang beriman yang mengakui bahwa hanya Allah yang berkuasa memberi rezeki, tak kan pernah heran atau terlontar tanya seperti demikian. Karena sudah jelas tercantum firman-Nya dalam Al-Quran:

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2] : 261)

“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, akan dilipatgandakan (balasannya) bagi mereka, dan mereka akan mendapat pahala yang mulia.” (QS. Al-Hadid [57] : 18)

Demikianlah Allah telah menunjukkan salah satu contoh kekuasaan-Nya melalui kisah yang dituturkan sang ulama di atas sebagai sebuah pelajaran supaya cukuplah Allah tempat kita menyandarkan keyakinan sepenuhnya atas rezeki yang diberikan-Nya. Di samping itu kita tidak perlu merasa khawatir untuk bersedekah atau menginfakkan sebagian rezeki yang Allah titipkan tersebut karena janji Allah pastilah benar adanya. Kita pun tak perlu menunggu menjadi orang kaya untuk berbagi rezeki demi mendapatkan kemuliaan di hadapan-Nya. Sungguh, perilaku pembantu tersebut adalah suatu hal yang patut kita tiru.

Ada banyak cerita nyata yang senada dengan kisah tersebut di mana orang-orang yang dalam hitungan matematika kita berpenghasilan sangat minim dan diprediksikan tak kan sanggup memenuhi kebutuhan hidup, ternyata perkiraan tersebut tak dapat dibuktikan ketika orang-orang tersebut membelanjakan hartanya di jalan Allah. Akan selalu kita temukan kebenaran firman-Nya dalam kehidupan mereka.

Kembali pada kisah yang dituturkan sang ulama itu, kita pun dapat menemukan satu pelajaran lainnya, yakni untuk selalu menghormati sesama atau tidak meremehkan keadaan orang lain. Berbeda keadaan atau kedudukan dalam penilaian manusia tak mengurangi nilai kemuliaan seseorang di hadapan Allah SWT, seperti kisah berinfaknya dua orang wanita sebagai majikan dan pembantu tersebut. Karena kemuliaan seseorang di hadapan Allah bukanlah ia yang kaya, tampan atau cantik, memiliki sederet gelar dan atribut lainnya melainkan hanya satu saja, yakni yang paling takwa.

“…. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujuraat [49] : 13)

www.ratnautami.com

==============================
kumpulan cerita teladan islami – kisah sumber teladan islami – cerpen penuh teladan islami

About these ads

About sesungguhnya pacaran dan musik itu haram hukumnya ( www.jauhilahmusik.wordpress.com , www.pacaranituharam.wordpress.com )

pops_intansay@yahoo.co.id
This entry was posted in cerita eramuslim.com. Bookmark the permalink.

7 Responses to kumpulan cerita teladan islami – kisah sumber teladan islami – cerpen penuh teladan islami

  1. kumpulan cerita teladan islami – kisah sumber teladan islami – cerpen penuh teladan islami
    ==============================

    Harga Sebuah Kejujuran
    Rabu, 23/02/2011 14:03 WIB | email | print

    Oleh Mukti Amini

    Ini cerita tentang fragmen seorang anak kecil yang sedang diuji untuk menegakkan kejujuran. Menarik karena dari anak, dari jiwanya yang masih polos dan suci, betapa banyak hal kita bisa belajar.

    Bidadariku nomor 2, Adnin, kelas 3 SD, kemarin pagi seperti biasa bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Mandi, sarapan, memakai seragam sekolah…. Tapi tiba-tiba, kudengar suara isakan di kamar. Kutengok, lhooo…. Adnin sedang sesenggukan sambil bersandar ke lemari baju. Mungkin mau mengambil jilbabnya, tapi entah kenapa tak jadi.

    Langsung kutanya, “Lho kenapa ini, sudah rapi mau berangkat kok malah nangis? Adnin sakit? Atau kenapa? Berantem dengan kakak tadi?”

    Dia hanya menggeleng, tak menjawab apapun, tapi masih menangis. Aku tahu, tabiatnya selama ini jika menangis, akan makin sulit untuk bicara. Beda dengan kakaknya, Hurin, yang bisa tetap lancar bicara sambil menangis.

    Melihat dia masih tetap menangis, aku tak memaksa. Biarlah nangisnya tuntas dulu, tak terganggu dengan pertanyaanku.

    Kutinggalkan kamar, mengerjakan hal-hal yang lain. Tak lama, balik lagi ke kamar, eh Adnin malah sudah tertidur. Walah, piye to iki? Tapi tentu aku tak tega mengusiknya. Biarlah dia tidur dulu. Feelingku mengatakan ada suatu masalah yang menyebakan dia tak mau sekolah, tapi dia masih belum berani atau mau cerita padaku. Ya sudahlah, dia butuh waktu untuk menetralisir emosi.

    Karena aku sudah saatnya berangkat kerja, aku berpesan pada mbak yang di rumah, kalau siang nanti Adnin berubah pikiran mau berangkat ke sekolah, tolong diantar sampai kelas karena pasti terlambat beberapa jam pelajaran, takut dia jadi gak berani masuk kelas.

    Ternyata, siang-siang kucek dari kantor, anak itu masih di rumah aja, tidak mau ke sekolah. Wah, kalau begitu nanti malam harus ada investigasi nih! *sambil mikir-mikir caranya supaya dia mau cerita.*

    Malam hari, sepulang aku dari kantor, saat ketemu dia, langsung kusapa,” Eh Adnin.. Jadinya gak sekolah ya? Kenapa memangnya Nin? Mau gak cerita sama ibu? Ibu janji gak akan marah kok”

    Dia senyum-senyum dan bilang,” Iya, mau, Tapi nanti aaah.”

    Kakaknya yang kebetulan di dekat situ langsung sensi, “Yaah, pasti karena ada kakak nih, gak mau cerita.”

    Aku hanya senyum-senyum saja.

    Lalu aku menunggu jam-jam berlalu untuk mencari saat yang tepat mulai investigasi. Kebetulan ayahnya pun sudah pulang dari kantor, dan kulaporkan kejadian ini. Bertepatan saat itu waktuku untuk ‘ngelonin’ dede Hibban. Waduh repot nih gak bisa fokus investigasi deh :(

    Akhirnya si ayah, dengan caranya sendiri supaya Adnin merasa aman, lantas menggendong Adnin, membaringkannya di kamar, dan mulai mengajak ngobrol pelan-pelan sambil sama-sama berbaring santai.

    Ternyata, usut punya usut, kemarin dia mogok tak mau sekolah karena ketakuatan dengan hukuman harus belajar di kelas yang lebih tinggi, kelas 4. Ceritanya, wali kelasnya sedang melatih rasa kejujuran pada anak-anak muridnya, dengan cara self assesment. Bu guru sudah menyiapkan setangkai bunga matahari dari kertas cukup besar untuk tiap anak yang dipasang di tembok. Jika anak melakukan pelanggaran yang disepakati, maka anak itu harus memberikan titik/spot di tengah-tengah bunga matahari itu, yang sekaigus berfungsi sebagai hiasan. Pelanggaran yang disepakati cukup banyak: berlari di dalam kelas, makan minum sambil berdiri, jajan di luar sekolah, mengganggu teman, tidak mengerjakan tugas, dan terlambat datang ke sekolah.

    Adnin bercerita bahwa bunga mataharinya banyak titik spotnya karena dia sering lupa berlari saat bermain di luar ruangan, (ahaha, aneh juga kalo yang ini dianggap sebagai pelanggaran. Namanya anak segitu ya hobinya lari lah kalo bermain di luar. Kayaknya ini sih persepsi dia sendiri).

    Kutanya, “Ah, masak lari di ruangan gak boleh juga? Yang di dalam ruangan aja kali?”

    “Iya ibuuuu, lari di luar juga. Pokoknya kalau lari, kata bu guru” kata dia rada ngotot.

    Wedeww, jadi pengin konfirmasi segera ke gurunya :)

    Akibatnya, karena seringnya dia berlari, titik-titik yang dia miliki di bunga mataharinya jauh lebih banyak dari teman-teman putri lainnya. Sementara sosialisasi awal dari wali kelasnya yang dia tangkap adalah: bagi 1 anak putra dan 1 anak puteri yang ternyata hiasan titiknya paling banyak, akan dihukum dengan masuk sehari ke kelas yang setingkat lebih tinggi, yaitu kelas 4.

    Nah, ini rupanya yang membuat dia stress! Oalah, nduuk nduk.

    “Lho, kan malah enak Nin, jadi pinter duluan, dapet pelajaran kelas 4″ kataku mengjbur

    “Enggak ah! Takutnya nanti ditanya-tanya, aku kan nggak bsa jawab. Gak ngerti pelajarannya” jawabnya, sangat logis.

    Lalu tiba-tiba dia protes, “Tapi, teman-teman perempuan yang sebenarnya sering lari2 juga banyak lho bu, tapi mereka gak mau kasih titik di bunganya. Jadi titik-titiknya pada dikit-dikit.”

    Ayahnya spontan menjawab, “Waah, kalau begitu Adnin harusnya malah dapet hadiah nih, karena sudah bertindak jujur, meskipun tahu ada resiko dihukum. Tenang aja Nin, kan ada hadisnya tu, yang dulu sudah kamu hapalin: Innas shidqo yahdii ilal birri, wa innal birro yahdii ilal jannah. Kejujuran akan membawa kebaikan, dan kebaikan akan membawa ke surga. Jadi kalau kata ayah dan ibu, justru Adnin hebat!””

    Dia tampak mulai tenang, tersenyum-senyum.

    Kutanya lagi, “Jadi, besok gimana, mau sekolah gak? Atau masih takut kalau harus masuk kelas 4?”

    Dia menjawab diplomatis, “Mau aja tapi ibu ke sekolah dulu. Jelaskan ke bu guru kenapa aku tak masuk tadi. Terus kenapa cuma aku yang dihukum”

    Ehem, ternyata masih gak terima dia. Okelah nduk, ibu akan temui wali kelasmu besok :)

    Pagi2 tadi, Adnin mengingatkan aku, “Bu, jangan lupa lho ke sekolahku, cari solusi buat aku!”

    *hayah bahasanya kok tinggi amat to nduk* :D

    Aku tertawa, “Yuks. ibu sudah siap kok”

    Bersamanya, aku ke sekolahnya, bertemu dengan wali kelasnya. Kujelaskan duduk perkaranya pelan-pelan. Gurunya tampak geli. Pertama, karena anak putri yang paling banyak spotnya ternyata bukan Adnin, tapi ada teman lain yang lebih parah. Kedua, karena hukuman yang diberlakukan akhirnya bukan duduk di kelas 4, tetapi mencari buku tertentu di perpustakaan.

    Aku yang punya naluri kependidkan, langsung ingin tahu apa yang sebenarnya sedang dirancang bu guru. Beliau lalu menjelaskan media dan sistem kerjanya, termasuk sosialisasi tentang masuk ke kelas 4 itu untuk ‘pemecah rekor’. Waktu kutanya kenapa harus kelas 4, gak kelas 2 atau kelas 3 paralelnya? Alasan beliau, karena kalau kelas 2 kan pelajarannya malah jauh lebih mudah, sedang kalau kelas 3 paralelnya belum tentu guru di kelas tersebut memberlakukan sistem yang sama.

    Hmm, ada sesuatu that i have to do nih, eh i say :)

    Dengan pelan-pelan, aku mencoba memasukkan penerapan teori tentang punishment. Bahwa tidak semua jenis hukuman cocok untuk setiap orang. Mungkin hukuman naik/turun kelas ini pernah berhasil untuk salah seorang anak kelas 6 (seperti yang diceritakan kakak Hurin), tapi belum tentu cocok untuk anak lain, termasuk Adnin. Apalagi jika harus masuk kelas di bawahnya atau di atasnya, yang secara komunitas sangat asing baginya dan anak dipaksa keluar dari zona nyamannya, ini menjadi beban psikologis yang luar biasa berat bagi anak tertentu, mungkin termasuk Adnin.

    Alhamdulillah, beliau memahami penjelasanku *duh, sebetulnya aku juga rada takut kalau beliau tersinggung, tapi untunglah aku sejak lama cukup akrab dengan guru-guru di SD anak2 itu.*

    Lalu aku menyarankan beberapa hukuman yang memungkinkan dan lebih mendidik, seperti membuat prakarya, meringkas buku tertentu di perpustakaan, atau membuat tulisan/karya dengan komputer di lab komputer, dan lain-lain.

    Nah, pelajaran buatku sendiri adalah, kejujuran memang harus dilatih sejak dini. Meski dengan kejujuran kadang akan mendatangkan resiko (secara jangka pendek), tapi dalam jangka panjang, itulah yang paling nyaman dan aman :)

    *Pondok Cabe, 22 Pebrruari 2011

    muktiamini.blogspot.com

    ==============================
    kumpulan cerita teladan islami – kisah sumber teladan islami – cerpen penuh teladan islami

  2. kumpulan cerita teladan islami – kisah sumber teladan islami – cerpen penuh teladan islami
    ==============================

    Cinta Dalam Kepingan Masa
    Rabu, 23/02/2011 06:35 WIB | email | print

    Oleh Najwa_fahrini

    “Waktu Anda sudah habis, ini sudah lebih dari 2 semester,” saya remas proposal yang ada di tangan.

    “Ah, lagi-lagi soal waktu,” dan saya pun keluar dari bagian pendidikan fakultas dengan langkah gontai. Saya dekap proposal di dada dan menjauh dari komunitas yang seakan melihat dengan mata sinis ke arah saya.

    Saat itu keputusan pahit saya terima dari pihak pendidikan untuk melepaskan judul proposal skripsi yang telah diujikan. Saya harus rela menunda kelulusan, padahal sudah banyak waktu yang telah saya korbankan. Namun Allah berikan kepingan cinta yang lain setelah itu, dialah waktu.

    Berawal dari pertemuan saya dengan salah seorang dosen yang terkenal di kalangan teman-teman saya sebagai ibu peri, di saat saya bimbang kemana harus mengantarkan proosal skripsi. Beliau profesor yang telah menginspirasi saya selama satu setengah tahun belakangan. Ketulusan cintanya memang bukan dalam bentuk materi, tetapi cinta itu diwujudkannya dalam bentuk waktu.

    Ada 10 orang mahasiswa yang beliau bimbing. Setelah resmi diterima kami diwajibkan untuk mengikuti bimbingan setiap Senin pukul 3 sore di ruangan beliau. Senang karena selain langsung dibimbing oleh profesor, jarang sekali ada dosen yang selalu meluangkan waktu khusus untuk memimbing mahasiswanya. Kalau dipikir berulang kali, saya sendiri pun belum pernah menemukan ada dosen yang memiliki komitmen dan karakter seperti beliau. Saking panjangnya antrian tak ayal saya pun harus pulang lepas maghrib atau isya. Dan bagi mahasiswa seperti saya, meluangkan waktu untuk bimbingan adalah bentuk kepingan cinta terbesar seorang dosen kepada mahasiswanya, bukankah demikian?

    Semua mahasiswa bimbingan sudah dianggapmya sebagai anak sendiri. Setelah akrab kami memanggilnya bunda. Beliau telah mengajarkan arti persaudaraan yang begitu mendalam pada kami. Dari yang semula kami tak mengenal kini bisa menjadi sahabat.

    Di saat salah satu mahasiswa bimbingannya masuk rumah sakit, kami diminta untuk menjenguk dan menghiburnya. Jika satu teman ada yang tidak hadir, yang lain wajib tahu alasannya. Bukankah empati adalah kepingan cinta yang dibentuk oleh waktu?
    Kami tak hanya diskusi soal proposal skripsi. Beliau lebih sering bercerita tentang kisahnya semasa kuliah atau memberikan motivasi agar selalu semangat mengerjakan skripsi karena boleh jadi hari-hari ke depan akan melelahkan.

    Kadang merasa kasihan ketika banyak orang yang mulai tak suka melihat begitu banyak mahasiswa yang ingin dibimbing oleh bunda. Ini bukan soal uang karena selama satu setengah tahun bersama beliau tak pernah terucap satu kalimat pun berapa imbalan materi yang ingin beliau dapatkan.

    “Bunda heran, orang-orang yang berjalan pada jalur yang benar selalu dipermasalahkan? ditanya begitu saya hanya bisa menjawabnya dengan senyuman. Saya tak ingin bunda semakin bersedih. “Menegakkan kebenaran itu jalannya panjang dan berliku, Bun.” Ketika bimbingan telah usai bunda selalu mencium kening kami ketika kami pamit pulang. Bukankah kasih sayang adalah kepingan cinta yang dibentuk oleh waktu dan kebersamaan?

    Seiring dengan bergulirnya waktu, bunda memberikan amanah untuk saya. Yah, saya merasa bunda selalu memberi ekspektasi lebih kepada saya dibanding teman-teman yang lain. Mahalnya biaya penelitian yang akan dilakukan mengharuskan kami membuat proposal pendanaan ke Dikti.

    Saya tahu betapa banyak yang harus diurus namun beliau tetap mengusahakan agar proposal kami bisa sampai di Jakarta sebelum deadline. Selama 3 hari beliau menemani saya bersama 2 dosen yang lain untuk mengerjakan proposal itu hingga tak terasa matahari sudah berganti menjadi rembulan.

    Bahkan di hari terakhir beliau sendirilah yang mengantarkan dan memperbanyak proposal itu. “Saya akan berusaha memegang kepercayaan yang telah bunda berikan,” janji saya dalam hati. Bukankah kepercayaan itu adalah kepingan cinta yang telah dibentuk oleh waktu?

    Beliau meminta saya mendoakannya dalam setiap sholat agar Allah selalu memberi beliau kekuatan dan kesehatan untuk membimbing kami. Bunda sudah memasuki usia purna. Diabates Melitus telah menggerogoti tubuhnya. Dan tentu saja terkabulnya doa itu adalah soal waktu. Inilah definisi cinta untuk saya, waktu. Dan cinta saya kepada Bunda hanya bermodalkan waktu. Sederhana, bukan?

    Banyak orang yang memiliki waktu dalam hidupnya, namun ia tak pernah menyadari. Bahkan sengaja menghamburkannya seperti gelembung sabun untuk hal yang remeh temeh. Banyak pula kesempatan yang sebenarnya muncul dalam waktu-waktu tersebut, namun tak banyak orang yang bisa mengambil kesempatan itu untuk memberikan nilai tambah di dalam hidupnya. Karena tanpa sadar hati dan pikiran kita terlalu sempit dalam mendefinisikan sebuah cinta atau karena definisi cinta itu sendiri yang terlalu luas?

    Salah satu bentuk cinta Allah kepada makhluknya adalah waktu. Di malam gelap gulita, siapakah manusia yang dapat menegakkan kepala dan punggungnya, serta menjauhkan perutnya dari kasur yang empuk untuk bermunajat kepada Allah Sang Maha Cinta?

    Di waktu shubuh, siapakah manusia yang menyadari bahwa sholat fajar itu lebih baik daripada dunia dan seisinya? Pun ketika di pagi yang menerpa wajah, ketika matahari mulai naik sepenggalah, siapakah manusia yang sadar bahwa ia seharusnya memberikan sedekah pada anggota tubuhnya?

    Ini saja masih belum bisa mewakili definisi cinta tentang kepingan masa, lalu kenapa kita tak lekas sadar untuk belajar?

    Allah telah tuliskan tentang waktu dalam Al Quran, bahkan dalam bentuk sumpah. Bahwa masa adalah akumulasi dari waktu-waktu yang kita miliki. Masa adalah kepingan waktu yang terserak.

    Masa adalah sesuatu yang relatif. Barangsiapa yang bisa memanfaatkan waktunya (masa) dengan baik, maka dialah manusia yang akan berada dalam keadaan beruntung sepanjang masa hidupnya. “Demi masa, sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi, kecuali yang beriman dan yang beramal saleh.” Wallahua’lam bishshowab.

    Dalam kerinduan akan masa bimbingan
    Kota soto, 200211

    ==============================
    kumpulan cerita teladan islami – kisah sumber teladan islami – cerpen penuh teladan islami

  3. kumpulan cerita teladan islami – kisah sumber teladan islami – cerpen penuh teladan islami
    ==============================

    Jejak-jejak Di Hati
    Selasa, 22/02/2011 13:39 WIB | email | print

    Oleh Rifki

    Masa yang telah lalu pasti tidak akan pernah berulang. Ia akan pergi selamanya dan percuma untuk menantinya kembali. Namun, kebersamaan kita kepada orang-orang yang pernah singgah di masa lalu sepertinya tak akan hilang. Mereka akan meninggalkan jejak-jejak kenangan di hati. Dan hanya kenangan-kenangan indahlah yang senantiasa ingin dimunculkan kembali bersama senyum yang terukir meski sedang sendiri. Sementara kenangan-kenangan yang pahit sebisa mungkin untuk membuangnya jauh-jauh meski kadang kala ia kembali datang bersama luka lama yang tak kunjung sembuh.

    Fuad. Pertemanan saya dengannya bermula ketika kami sama-sama duduk di kelas satu sekolah dasar. Sejak saat itu, saya dan Fuad berteman akrab. Meski pernah terjadi sebuah perkelahian antara saya dengan dia dan menyebabkan kami berdua ‘marahan’, tapi itu hanya berlangsung beberapa hari dan tak pernah terjadi lagi.

    Mengenangnya, memori saya langsung tertuju pada masa-masa di mana dia selalu membonceng saya dengan sepedanya setiap kali kami berdua akan bermain ke rumah teman yang lain yang jaraknya lebih dari satu kilometer. Dia tidak pernah mengeluh kepada saya yang hanya enak-enakan duduk sementara dia harus mengayuh sepeda pergi dan pulang. Padahal, mungkin untuk mengayuh sepeda tanpa membonceng saya juga lumayan berat mengingat badannya yang besar. Tapi sekali lagi, dia tidak pernah protes atau meminta saya untuk gantian. Mungkin dia memaklumi keadaan saya saat itu yang memang belum bisa naik sepeda.

    Fahri dan Zia. Keduanya adalah kakak-adik, teman sekelas dan juga saudara sepupu saya. Rumah merekalah yang menjadi tujuan main saya bersama Fuad.

    Kedua orang tuanya boleh dibilang terpandang dan kaya. Setiap kali kami main ke sana, buah jambu biji yang masih berada di atas pohon di depan rumah merekalah yang menjadi sasaran kami. Kami memanjat pohonnya, kami petik buahnya, dan kami makan bersama-sama di atas pohon.

    Selain itu, ada sebuah mainan yang kerap kali kami pinjam dari Fahri secara bergantian. Mainan tersebut berupa gamewatch atau gameboy. Dengan memainkannya secara bergantian, kami berlomba-lomba untuk meraih nilai tertinggi.

    Ikbal. Teman SD yang satu ini, adalah orang yang pertama kali memperkenalkan saya dengan video game. Kala itu masa-masanya nintendo. Jika saya bermain ke rumahnya saya akan diajak ke rumah tetangganya yang menyewakan nintendo. Untuk satu kali permainan kami harus membayar uang sebesar seratus rupiah. Permainan yang sering kami mainkan adalah Super Mario, Space Contra, Kungfu, dan Galaga. Tapi karena saya tidak mahir, saya hanya membantu memencet tombol untuk menendang, memukul, atau menembaj saja, sedangkan yang memegang kedali adalah Ikbal.

    Syahrul, Fudhoil, dan Sanusi. Ketiganya adalah tetangga sekaligus teman sepermainan dan sekolah, baik di SD maupun SMP. Bersama mereka biasanya saya bermain kelereng. Bersama ketiganya juga, saya biasa berangkat sekolah bersama-sama dengan berjalan kaki, menempuh jarak yang lumayan jauh. Tapi karena ditempuh bersama-sama dan mengambil jalan pintas, kadang melewati sekolah lain, kadang melewati tempat pembuangan sampah, perjalanan tersebut tidak membuat kami lelah dan kami tidak pernah terlambat tiba di sekolah.

    Syahid, Muhiddin, Subhan, dan Hanafi. Kami duduk bersama di kelas tiga SMP. Dari mereka saya merasakan artinya berbagi. Khusunya ilmu. Di masa-masa persiapan menghadapi ujian kelulusan kami melakukan belajar kelompok, berpindah dari satu rumah ke rumah yang lain.

    Anuri. Teman saya ketika di SMA ini adalah orang yang pertama kali memperkenalkan saya dengan komputer. Darinya saya belajar bagaimana menjalankan program-program komputer. Atas bantuannya pula saya bisa memiliki sebuah komputer yang pada saat itu lebih bagus daripada miliknya. Namun tak lama kemudian, dia mengganti komputer lamanya dengan yang baru dengan sepesifikasi yang lebih canggih, sementara saya merasa cukup menikmati apa yang ada.

    Rizki. Dia adalah teman kuliah. Pengalaman yang paling berkesan dengannya adalah ketika bersama-sama mempersiapkan persyaratan dan dokumen untu membuat lamaran kerja. Dia membantu saya untuk membuat kartu kuning. Salah satu keluarganya yang bekerja di sebuah rumah sakit, memudahkan kami berdua untuk mendapatkan hasil rontgen dan surat keterangan bebas narkoba dengan mudah dan murah.

    Teguh. Setelah saya bekerja, saya melanjutkan kembali kuliah lagi. Teguh adalah salah satu teman seperjuangan di kampus untuk mendapatkan ijazah S1. Kantor kami terletak di tempat yang berbeda, namun rumah kami cukup dekat. Dia yang berjasa memberikan tumpangan motor vespanya setiap kai saya pulang dari kampus di malam hari.

    Mengenang mereka semua, memunculkan sebuah pertanyaan, jika begitu banyak orang-orang yang telah berbuat baik kepada diri ini, bagaimana dengan diri ini? Apa yang telah diri ini perbuat untuk orang-orang di sekitar sehingga bisa meninggalkan jejak-jejak kenangan indah di memori mereka?

    dari jiwa yang masih belajar untuk ikhlas.

    http://jampang.multiply.com/

    ==============================
    kumpulan cerita teladan islami – kisah sumber teladan islami – cerpen penuh teladan islami

  4. kumpulan cerita teladan islami – kisah sumber teladan islami – cerpen penuh teladan islami
    ==============================

    Ibu Imah
    Selasa, 22/02/2011 06:22 WIB | email | print

    Oleh Silvani

    Ibu Imah, aku bertemu dengannya dalam suatu kesempatan pengajian Masyarakat Indonesia di kota Bangkok. Kebetulan waktu itu ia duduk di sebelahku. Kamipun berkenalan. Saat itu kutangkap ada raut sedih di wajah ibu Imah. Ibu Imah kemudian menawarkan jasanya padaku, ternyata ia bisa menerima pesanan makanan. Tawaran ini kusambut gembira, karena aku tak pandai memasak, padahal seringkali kurasakan rindu terhadap makanan Indonesia. Lalu akumeminta nomer telponnya, dan hendak mencatatnya di daftar kontak dalamtelpon genggam. Namun tiba-tiba tangis ibu Imah pecah, ia menangis terisak. “Handphone Ibu sama persis dengan handphone almarhum suami saya,” katanya dengan suara parau. Ibu Imah mengusap air mata di pipinya dengan ujung jilbab, “Innaa lilahi wa innaa ilaihi rojiuun, tabah ya Bu…” Ucapku pelan. Terjawab sudah, kesedihan di wajah ibu Imah adalah dukanya kehilangan suami tercinta.

    Lalu mengalirlah ceritanya padaku. Ibu Imah bersama suami dan dua anak balitanya datang Ke Bangkok sekitar tiga bulan yang lalu. Sang suami mendapat pekerjaan di Bangkok. Rasa kebahagiaan menyelimuti keluarga Ibu Imah…hingga padasuatu hari sang suami meninggal dunia secara mendadak. “Padahal masih muda Bu, umursuami sayabaru 32 tahun.”Kata ibu Imah padaku.Sejak itu tak ada lagi kebahagiaan yang dirasakan oleh ibu Imah. Kini Ibu Imah bekerja keras menghidupi dua anaknya, ditambah lagi si sulung kini butuh biaya untuk sekolah. “Saya bersyukur Bu, ada yang mau nampung saya dan anak-anak, teman kantor suami saya. jadi saya engga usah bayar uang sewa rumah lagi,…” Alhamdulillah, sering ada pesanan dari orang KBRI. Sendirian saya Bu ngerjain semuanya, sampai engga tidur semalaman.” Allah.. saya sungguh kasihan padanya.

    Kedua kalinya aku bertemu dengan ibu Imah saat ia mengantarkan pesanan makanan ke rumah untuk acara pengajian. “Maaf ya Bu terlambat, supir taksinya engga tahu jalan, padahal saya sudah berangkat pagi-pagi.” Katanya padaku. “Oh iya Bu, kalau untuk snack pisang coklat jangan dibayar ya, itu bonus aja.” Ya Allah, aku tahu ia pasti lelah memasak semua pesananku, tapi dalam lelahnya ia masih berusaha memberi lebih padaku.. Semata-mata ingin berbuat kebaikan. Aku terharu, seharusnya aku yangmemberikan lebih pada ibu Imah, bukan sebaliknya.

    Suatu hari aku menerima telepon dari seorang teman pengajian, aku diberi tahu kalau Ibu Imah sedang dalam masalah besar. Sepeninggal suaminya ibu Imah terlilit hutang cukup besar kepada Ibu Lina, teman kantor almarhum suaminya. Sebenarnya ibu Imah merasa tidak nyaman tinggal di rumah ibu Lina, karena ibu Lina adalah seorang non-muslim yang sering kali membawa kedua anak ibu Imah ke Gereja. Dia pun acapkali membujuk ibu Imah untuk melepas jilbab. Ibu Imah sangat bingung, sebenarnya ia ingin pulang kampung saja, tapi ia tak punya cukup uang untuk ongkos pesawat, lalu bagaimana dengan hutangnya kepada ibu Lina, sungguh ia tak sanggup membayarnya… ia juga merasa berhutang budi kepada ibu Lina karena selama ini telah menumpang di rumahnya. Astaghfirullah, terbayang olehku kesusahan dan keresahan yang dialami ibu Imah. Kehilangan suami tercinta, terlilit hutang, dan kini keimanan dirinya juga keimanan dua buah hatinya terancam! Telah sering kudengar orangkeluardari agama Islamkarena himpitan ekonomi. Ya Allah jangan sampai ini terjadi pada ibu Imah.

    Kami anggota pengajian bertekad menolong ibu Imah. Satu tujuan kami, menyelamatkan iman Ibu Imah dan kedua anaknya. Segala puji dan syukur kepada Allah. Seminggu kemudian Ibu Imah dan kedua anaknya berangkatpulang ke tanah air diantar oleh ketua pengajian kami, setelah terlebih dulu membayar lunas semua hutangnya kepada ibu Lina.

    Kini kuyakin Ibu Imah telah bahagia. Pulang ke kampung halaman, berkumpul kembali dengan keluarga besarnya, dan bahagia karena masih merasakan indahnya nikmat iman dan islam, nikmat terbesar yang diberikan Allah Swt kepada hamba-Nya.

    “Sesungguhnya, Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat).” (QS. al-Mu’min [40] : 51)

    Wallohu’alam bishshowaab.
    Bangkok, 19 Februari 2011.

    ==============================
    kumpulan cerita teladan islami – kisah sumber teladan islami – cerpen penuh teladan islami

  5. kumpulan cerita teladan islami – kisah sumber teladan islami – cerpen penuh teladan islami
    ==============================

    Hujan Saat Pesta Pernikahan
    Senin, 21/02/2011 14:09 WIB | email | print

    Oleh M .jono AG

    Jam di rumahku baru menunjukkan pukul 08.00 pagi ketika ditelingaku sudah terdengar riuhnya musik di gang sebelah yang sedang menggelar hajatan pernikahan putrinya. Tenda besar juga sudah disiapkan beberapa hari sebelumnya. Maklum bulan Februari biasanya banyak turun hujan. Dan bukan tidak mungkin kalau hujan turun pada saat pesta bisa bikin stress bagi si empunya hajat.

    Kebetulan bulan ini dua kali aku mengikuti acara walimatul ursy. Yang pertama pada pernikahan adik kandungku yang kebetulan pas dengan hari raya Imlek, di mana bagi saudara-saudaraku etnis Tionghua yang merayakannya sangat-sangat berharap hujan turun. Menurut mereka hujan yang turun pada saat Imlek menandakan tahun itu rejeki akan berlimpah. Yang kedua kemarin saat salah satu mantan murid istriku melangsungkan pernikahan secara sederhana di depan rumah kedua orang tuanya.

    Ada pelajaran menarik bagaimana si empunya hajat menyikapi terjadinya hujan pada saat pesta berlangsung. Wajar kalau antisipasi terjadinya hujan ini harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya.Bukan hanya tenda yang harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya, tetapi banyak juga yang sampai menggunakan jasa pawang hujan segala. Maksudnya mungkin agar tamu tidak merasa terganggu dengan turunnya hujan. Benarkah hujan mengganggu ?

    Pertanyaan tersebut terus bergelayut di fikiranku. Sama seperti yang lain hari itu kami mempersiapkan tenda sederhana di depan rumah adikku sekedar melindungi panas atau hujan bagi tamu yang akan ikut mengantarkan adikku ke tempat mempelai perempuan. Tidak pakai ritual macam-macam. Kami hanya memohon yang tebaik saja dari Allah SWT. Ternyata masalah muncul ketika adikku yang baru di-‘Timung’ malam itu kepingin mandi. Semua yang hadir kompak tanpa dikomando melarang adikku untuk mandi. Alasan utamanya adalah kalau calon pengantin mandi pasti pas acara turun hujan. Saya lihat adikku berusaha memberikan alasan bahwa dia harus mandi karena sudah seharian ngurusin semuanya dan agar badan terasa segar. Sekali lagi semua tetangga yang rewang/membantu saat itu protes. Aku melirik bapakku yang kelihatan menahan nafas.

    Maklum di daerah orang tentu beda adat – istiadatnya. Aku mendekati bapak dan minta pendapatnya. Dalam diskusi kecil itu bapak tetap menyarankan adikku untuk mandi, “mandi aja, nggak apa-apa, kamu kan belum sholat juga, biar seger waktu sholat. Urusan hujan itu urusan ‘yang membuat hujan’ bukan urusan kita. Bisa jadi hujan itu justru barokah dari Allah untukmu.” Dengan penjelasan bapak kelihatan adikku tidak lagi bimbang. Tapi sekali lagi mereka lebih keras lagi melarang karena adatnya begitu. Aku coba menengahi. Kubisikki adikku agar menunda mandinya sampai para tetangga pulang. Benar saja, satu persatu mereka pulang pada saat jam menunjukkan pukul 22.00. Adikku pun akhirnya tetap mandi walaupun dilarang semua tetangganya. Toh bapak dan ibu justru menyuruh adikku untuk membersihkan badan walaupun menurut kepercayaan masyarakat setempat bisa mengakibatkan hujan pada saat resepsi. Naudzubillah min dhalik.

    Begitupun kemarin ditempat tetanggaku. Pas sebelum Dhuhur ternyata hujan turun. Saya lihat yang punya hajat sih santai saja. Justru tetanggalah yang pada sibuk komentar. Mulai dari ketidak patuhan terhadap adat, salah hitung hari bahkan ada yang mengomentari harusnya yang punya hajat memanggil pawang hujan agar, hujannya di tahan atau dipindahkan. Masya Allah.

    Untungnya si empunya rumah tidak merasa repot dengan hujan yang turun. Bahkan bersyukur karena cuaca menjadi dingin setelah beberapa hari panas. Sebuah keikhlasan menerima takdir. Mungkin mereka lupa seandainya mengundang pawang dan kebetulan hari itu hujan tidak turun itu semata-mata bi idznillah, dengan seijin Allah. Sama sekali bukan karena kekuatan si pawang. Mengapa kita kepingin ‘mengatur’ kehendak Allah ? Bahkan kalau kita mau jujur harusnya kita malu kepada Allah, seolah kita jauh lebih mengerti kepentingan kita dari pada Allah. Kadar kebutuhan air bagi lingkungan di sekitar kita yang tahu hanya Allah. Bisa jadi pada saat hujan turun yang menurut kebanyakan orang sangat mengganggu acara pernikahan yang dihadiri oleh ratusan orang itu justru sangat dinantikan oleh makhluk Allah yang lain baik binatang maupun tumbuhan yang jumlahnya bisa ribuan bahkan jutaan. Atau Allah sedang menurunkan rahmat-Nya kepada pengantin yang sedang melaksanakan sunnah Rasulullah atau bahkan Allah sedang menghendaki tambahan cadangan air di bumi untuk kita pergunakan dikemudian hari. Yang jelas Allah tidak pernah salah dalam memutuskan dan mentakdirkan sesuatu, kitalah yang sering salah mencerna takdir-Nya. Dan semestinyalah kita harus senantiasa menambah syukur dan prasangka baik kita kepada Allah.

    M. Jono AG

    masjono@telkom.co.id

    ==============================
    kumpulan cerita teladan islami – kisah sumber teladan islami – cerpen penuh teladan islami

  6. kumpulan cerita teladan islami – kisah sumber teladan islami – cerpen penuh teladan islami
    ==============================

    Lelaki Tua Di Persimpangan
    Senin, 21/02/2011 07:15 WIB | email | print

    Oleh bidadari_Azzam

    Ada kebiasaan-kebiasaan baik yang ditularkan masyarakat Krakow pada kami, mereka lebih disiplin, terutama saat Polandia telah bergabung dengan Uni Eropa beberapa tahun lalu.

    Untuk pembuangan sampah, ada kotak warna-warni yang tersedia di setiap blok appartemen, warna hijau, kuning, dan biru, kadang-kadang di tempat lain, warna kotak di cat berbeda pula.

    Di depan kotak, masing-masing bergambar sebagai petunjuk pembuangan : sampah kering berupa kertas, sampah plastik dan botol plastik, serta gambar botol kaca atau barang-barang yang terbuat dari kaca. Sedangkan sampah basah ditempatkan di “ruang sampah” masing-masing appartemen.

    Di persimpangan jalan setiap kali akan membuang sampah di kotak-kotak itu, saya sering bertemu seorang pak tua, ia mencari-cari botol di salah satu kotak berwarna itu. Penampilannya sederhana, tapi bersih. Sepedanya sudah berkarat disana-sini, seperti sepeda zaman tahun ’70-an kalau di Indonesia, namun beliau nampak bersemangat dengan kesibukannya setiap sore itu.

    Saya teringat sepeda miniku yang menemani hari-hari zaman sekolah, sepedaku masih lebih bagus dari sepeda beliau ini, tapi di Indonesia, waduh, setiap harinya sepedaku jadi bahan olok-olok teman, “idiiih, masih juga dipake’ sepeda bututnyeee, minta beliin babe donk, kan juara satu, harusnya ada hadiah dooonk…”, dan gurauan semacam itu, tapi Saya tidak marah pada si teman meski sakit hati, orang tuaku tetaplah kubanggakan, kasih sayang mereka tak bisa diukur dengan hadiah sepeda baru donk.

    Sebenarnya, di Krakow sini kadang-kadang ada pengemis, di sudut pintu galleria (mall), namun hanya satu atau dua orang, dan hanya “nongkrong” dua atau tiga jam, sebab di jam-jam keramaian turis, mereka langsung diusir oleh para polisi yang berjaga-jaga.

    Di antara yang sering “nongkrong” itu, Saya ingat wajah seorang nenek, sudah tua sekali mungkin 80-an usianya, tapi alangkah sedihnya nasib di usia setua itu, ia sering berdiri di sisi “sampah pembuangan puntung rokok”, di depan pintu galleria.

    Beliau tidak meminta-minta secara langsung, hanya matanya menampakkan permohonan seraya menengadahkan tangan ke setiap orang yang lewat di situ, dan jika orang tersebut hanya membuang puntung rokok, si nenek ini langsung mengambil puntung rokok tersebut sebelum apinya padam. Ia langsung menghisapnya!

    “Ya Allah… sebegitu kecanduankah si nenek terhadap rokok ? Naudzubillahi minzaliik”, bisik hatiku.

    Berbeda dengan lelaki tua di persimpangan itu, ia hanya sibuk mengumpulkan botol-botol di kotak, perhatiannya begitu serius pada apa-apa yang dipilihnya. Sehingga beberapa kali bertemu dengannya, anakku hafal dengan wajah bapak itu. Dan pernah beliau ikut membantu memasukkan botol-botol bekas yang kami buang ke kotak-kotak tersebut.

    Suatu hari sepulang menemaniku belanja, sulungku itu berbisik, “mi… boleh gak kita kasih satu roti ke pak tua itu?”,

    “Tentu boleh. Itu tadi kan roti pilihanmu kita beli dua, kasih ke bapak itu satu, dan minumannya juga. Siapa tau beliau belum makan yah nak…”, sambutku senang.

    Si sulung segera mengambil roti dan sebotol air minum dari kantong belanjaan kami, lalu ia berikan kepada pak tua itu, “dla Pana…”, sulungku berkata sambil tersenyum. (Untuk bapak, artinya dalam bahasa lokal).

    Pak Tua itu bingung, beliau menoleh kepadaku, “Ada apa ini, bu…?”, dia bertanya dalam bahasa Poland. Saya hanya menjawab singkat, “Anakku ingin berbagi roti dengan bapak”.

    Lalu pak tua itu mengembalikan roti ke tangan anakku, “Saya sudah makan nak, tak usah, terima kasih…”, anakku jadi bengong dan bingung,

    Kemudian Saya lebih mendekat pada keduanya, “Kalau sudah makan, dibawa pulang aja, pak… anak saya memang hanya ingin membagi roti ini, ambillah pak…”.

    Lalu pak tua tersenyum, “dzięki… dzięki”, (trims maksudnya), kemudian beliau meneruskan dengan kalimat, “lain kali, tidak perlu yah, nak… kamu harus makan banyak”, katanya pada sulungku.

    Setelah saling melambaikan tangan, kami pun segera masuk ke dalam appartemen, pikiranku dan anakku sama, kok pak tua itu menolak pemberian kami yah, hmmm, mungkin begitulah cara “menjaga harga diri”, toh dia memang bukan pengemis, dan jika sekali waktu pernah menolong kami, memang beliau lakukan dengan tulus. Ya Allah, semoga yang dilakukan sulungku juga adalah bersumber dari ketulusan hati, do’aku.

    Lantas Saya jadi teringat waktu pertama kali pindah kesini, ada petugas pemasangan kabel untuk keperluan “pilihan channel” televisi. Semua urusan pembayaran adalah murah dan mudah (dilakukan via internet), tapi ada kontrak tertulis yang harus dipatuhi, jika kami pindah sebelum masa pilihan channel itu habis, maka wajib membayar denda yang jumlahnya lumayan besar. Tentunya kami sudah memikirkan untuk menghabiskan masa kontrak itu, supaya tak didenda oleh jasa layanan pilihan channel tersebut.

    Pada saat dua orang petugasnya datang ke appartemen, badai salju sedang turun. Mereka datang tepat waktu sesuai yang dijanjikan. Lima menit beramah tamah sesaat sambil melepas sepatu dan mantel mereka. Lima belas menit, selesai tugas mereka.

    “Apakah kalian mau minum kopi atau teh dulu?,” tanya suamiku. Mereka menolaknya, dua petugas itu segera memakai jaket tebal dan bersiap-siap bersepatu untuk segera keluar.

    Saya hanya merasa ingin memberikan balasan yang lebih baik atas ketangkasan dan keramahan mereka dalam bekerja. Maka Saya berikan uang 10 zl (PLN) dua lembar ke tangan suami, “kasih tip aja bi…”, bisikku.

    Ternyata saat suamiku menyerahkan uang tersebut, dua petugas ini menolak mengambilnya. “kan anda sudah bayar pak…”, begitu kata salah satu petugasnya. Suamiku menjelaskan bahwa ini hanya tip atas kerja mereka. “Oh, no…kami tidak menerima tip, pak. Ini sudah tugas kami, gratis pak saat pemasangan kabel ini”, kata mereka.

    Suamiku menjelaskan lagi bahwa ia tahu kalau pemasangan kabel adalah gratis, dan sudah selesai tugas mereka, dan uang itu hanyalah tip saja buat mereka. (lumayan buat nambahi ongkos bus, kira-kira begitu biasanya kita berpikir). Namun ternyata dua petugas ini tetap menolak, “Maaf pak. Semua pelayanan kami gratis, yang dibayar resmi hanya yang bapak bayar via internet. Maaf, kami tak bisa menerimanya. Tidak boleh pak, semua tugas yang kami lakukan sudah digaji…”, seraya mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal, mereka bergegas keluar dari gedung appartemen.

    Saya dan suami masih melongo di depan pintu, berasa salut banget dengan mereka, sekaligus merasa bersalah, “Wah… jangan-jangan tip-tip yang seperti ini memang bisa jadi besar masalahnya, tak berbeda jauh dengan sogok-menyogok, yah…”, ujar suamiku.

    “Padahal kita khan cuma ingin ngasih infaq, yah sedekah aja yah bi…gak ada maksud apa-apa”, sahutku.

    “Iya, subhanalloh, mereka sudah disiplin sekali. Kita yang salah, sedekahnya kan harus menggunakan jalur resmi juga, hehehe, lain yah, say, beda banget waktu minta pasang servis meteran air, listrik, dan sebagainya di tanah air sendiri…”, ujarnya lagi.

    Yah…Ranah bekas komunis yang dulunya dihuni kumpulan orang berwajah sangar dan tercekik kemiskinan, yang hanya kota kecil, yang kemudian mempergunakan sarana-prasarana bantuan dari uni eropa namun kemudian justru mata uangnya tak ikut ambruk saat krisis mengancam Eropa, yang kemudian bisa tertib dan disiplin, yang kemudian bahkan ada banyak orang yang sangat mengamalkan sifat hati-hati menerima kebaikan orang lain, yang menolak “disedekahi”, yang walaupun bukan muslim namun mereka telah mengerti makna ayatNYA, “…Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib(keadaan) suatu kaum sebelum kaum itu sendiri yang mengubah keadaan yang ada pada diri mereka ”(QS Ar-Ra’d:11).

    Di tangan-tangan optimis serta kejujuran akan sikap professional, tentu sikap “obok-obok bongkar kasus sana-sini” di tanah air tak kan cuma jadi tontonan rakyat. Bangsa kita bisa berubah dari boroknya kolusi, jika semua pihak menjaga “harga diri” di hadapan Sang Pencipta, sebagaimana pak tua di persimpangan itu serta sikap dua petugas, mereka menularkan inspirasi.

    (bidadari_Azzam, Krakow, 19 feb 2011)

    Note : Maaf, akun di situs jejaring sosial dgn nama asliku, atau nama Bidadari Azzam, atau BidadariNYA Azzam bukanlah akun milik Saya. Hanya akun yang terhubung dgn profil suamiku, yang merupakan akun pribadi saya, trims.

    ==============================
    kumpulan cerita teladan islami – kisah sumber teladan islami – cerpen penuh teladan islami

  7. situs mantan kyai NU: http://www.mantankyainu.blogspot.com

    situs yg menjelaskan haramnya musik, termasuk musik religi juga haram: http://www.jauhilahmusik.wordpress.com

    ketahuilah bahwa pacaran itu haram, jadi jangan pacaran: http://www.pacaranituharam.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s