kumpulan cerita renungan islami – kisah sumber renungan islami – cerpen penuh renungan islami

kumpulan cerita renungan islami – kisah sumber renungan islami – cerpen penuh renungan islami
==============================

Seorang Pembantu Berperil Patut Ditiru

Minggu, 20/02/2011 18:59 WIB | email | print

Oleh Ineu

Hari ahad lalu saya sekeluarga berkesempatan menghadiri undangan masjid dekat rumah yang tengah mengadakan launching sebuah program zakat bekerjasama dengan Rumah Zakat Indonesia.

Kegiatan launching tersebut ditutup dengan ceramah yang disampaikan seorang ulama ternama di kota Bogor. Beliau adalah orang yang sangat menguasai dan sering berbicara mengenai zakat. Tentu ada banyak pelajaran berharga yang dapat diambil dari tuturan beliau. Salah satunya adalah ketika sang ulama berbagi cerita saat ia berceramah seputar zakat di sebuah daerah.

Sang ulama mengisahkan di tempat tersebut ada dua orang wanita yang tinggal serumah. Keduanya selalu menyisihkan sebagian harta yang dititipkan Allah pada mereka dengan cara berinfak. Tentu hal ini bukan suatu hal yang menarik untuk dibicarakan. Tetapi tunggu, ulama tersebut melanjutkan kisahnya. Siapakah kedua wanita yang tinggal dalam satu atap itu? Bagaimana kisah ini menjadi sebuah hal yang menarik perhatian yang hadir saat itu (khususnya saya)?

Ulama tersebut menyampaikan bahwa kedua wanita yang tinggal dalam satu atap itu bukanlah anak dan ibu atau kakak beradik, melainkan seorang majikan dan seorang pembantu (khadimatnya).

Tanpa diketahui oleh masing-masing, setiap menerima gaji, sang pembantu selalu menyisihkan rezeki yang diperoleh, demikian pula dengan sang majikan. Secara logika kita pastinya berfikir bahwa penghasilan sang majikan lebih besar dari khadimatnya.

Namun ternyata, besar harta yang disisihkan sang pembantu untuk berinfaq lebih besar dari infaq sang majikan. Padahal ia memiliki banyak anak yang harus dinafkahi dengan penghasilannya yang pas-pasan itu. Namun demikian, ternyata dengan kondisinya tersebut, ia berhasil menghantarkan anak-anaknya sekolah hingga perguruan tinggi.

Hmmm…apa yang terpikirkan oleh kita setelah mengetahui hal di atas? Mungkin ada yang merasa heran dan terselip tanya, bagaimana dengan gaji tak lebih dari 500 ribu bisa menghidupi sebuah keluarga bahkan bisa menyekolahkan anak-anaknya sampai jenjang yang tinggi?

Tentu saja bagi orang beriman yang mengakui bahwa hanya Allah yang berkuasa memberi rezeki, tak kan pernah heran atau terlontar tanya seperti demikian. Karena sudah jelas tercantum firman-Nya dalam Al-Quran:

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261).

“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, akan dilipatgandakan (balasannya) bagi mereka, dan mereka akan mendapat pahala yang mulia.” (QS. Al-Hadid: 18)

Demikianlah Allah telah menunjukkan salah satu contoh kekuasaan-Nya melalui kisah yang dituturkan sang ulama di atas sebagai sebuah pelajaran supaya menyandarkan sepenuhnya keyakinan pada Allah atas rezeki yang diberikan-Nya pada kita, disamping itu tidak perlu merasa khawatir untuk bersedekah atau menginfakkan sebagian rezeki yang Allah titipkan tersebut. Sungguh, perilaku pembantu itu adalah suatu hal yang patut ditiru.

Ada banyak cerita nyata yang senada dengan kisah tersebut dimana orang-orang yang dalam hitungan matematika kita berpenghasilan sangat minim dan diprediksikan tak kan sanggup memenuhi kebutuhan hidup, ternyata perkiraan tersebut tak dapat dibuktikan ketika orang-orang tersebut membelanjakan hartanya di jalan Allah. Akan selalu kita temukan kebenaran firman-Nya dalam kehidupan mereka.

Kembali pada kisah yang dituturkan sang ulama itu, kita pun dapat menemukan satu pelajaran lainnya, yakni untuk selalu menghormati sesama atau tidak meremehkan keadaan orang lain.

Berbeda keadaan atau kedudukan dalam penilaian manusia tak mengurangi nilai kemuliaan seseorang di hadapan Allah SWT, seperti kisah dua orang wanita sebagai majikan dan pembantu tersebut. Karena kemuliaan seseorang di hadapan Allah bukanlah ia yang kaya, tampan atau cantik, memiliki sederet gelar dan atribut lainnya melainkan hanya satu saja, yakni yang paling takwa.

“…. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”(QS. Al Hujuraat [49]:13).

www.ratnautami.com

==============================
kumpulan cerita renungan islami – kisah sumber renungan islami – cerpen penuh renungan islami

About these ads

About sesungguhnya pacaran dan musik itu haram hukumnya ( www.jauhilahmusik.wordpress.com , www.pacaranituharam.wordpress.com )

pops_intansay@yahoo.co.id
This entry was posted in cerita eramuslim.com. Bookmark the permalink.

5 Responses to kumpulan cerita renungan islami – kisah sumber renungan islami – cerpen penuh renungan islami

  1. kumpulan cerita renungan islami – kisah sumber renungan islami – cerpen penuh renungan islami
    ==============================

    Belajar Dari Revolusi Di Mesir
    Minggu, 20/02/2011 05:49 WIB | email | print

    Oleh Syaripudin Zuhri

    Sebelumnya saya harus minta maaf dulu pada redaksi eramuslim.com dan pembaca eramuslim.com, karena tulisan saya dua hari berturut-turut masuk di oase iman, Jum’at 11 Februari 2011 dan Sabtu, 12 Februari 2011 dengan judul: ”Belajar dari masa lalu” dan ”Pentingnya sejarah bagi keimanan dari Rusia hingga Mesir”.

    Loh mengapa harus minta maaf? Iya, sebenarnya dua tulisan itu urutannya terbalik, yang saya kirim terlebih dahulu adalah judul yang ”Pentingnya sejarah…”, namun dimuat lebih dahulu justru yang “Belajar dari masa lalu “ padahal aslinya adalah ringkasan dari “Pentingnya sejarah…”

    Nah dua tulisan memang menjadi tumpang tindih, tapi saling melengkapi, hasilnya memang terbukti! Sejarah membuktikan lagi, apa itu ? Ya mundurnya Husni Mubarok dari tahta kekuasaannya, hari Jum’at 11 Februari 2011 setelah didemo selama 18 hari berturut-turut, rupanya Mubarok bandel Mengapa akhirnya Mubarok mundur?

    Apa lagi kalau Mubarok tidak belajar dari Sejarah! Dia tidak belajar dari sejarah kejatuhan Soeharto, Sadam Husein, Ferdinan Marcos, Reza Fahlevi, Hitler, Musolini dan berbagai diktator lainnya di dunia, baik dalam sejarah modern, maupun sejarah kuno seperti jatuhnya Fir’aun dan Namrud!

    Manusia yang tidak mau belajar dari masa lalu atau tak mau belajar dari sejarah, sudah saya tulis pada dua judul di atas, akan mengalami kehancuran! Mengapa? Ya ibarat orang lain sudah jatuh, orang yang tak mau belajar dari sejarah tadi, jatuh pada tempat yang sama!

    Para diktator tadi tidak mau belajar pada kejatuhan dikatator sebelumnya, padahal mereka tahu, bahwa setiap pemerintahan apapun bentuknya entah parlementer atau presidensial, bentuk negaranya kerajaan, kesultanan dan lain sebagianya bila sang penguasa bertindak otoriter, satu saat baik cepat atau lambat akan jatuh dan dihancurkan oleh rakyatnya sendiri!

    Ini sangat berharga dipelajari untuk seluruh orang yang sekarang sedang menjadi pemerintah, baik di Indonesia ataupun di negara-negara lain, jangan mentang-mentang lagi berkuasa lalu bertindak semaunya, otoriter! Bahkan sudah mempersiapkan penggantinya dari keluarganya sendiri, entah istri, anak atau orang-orang terdekat dengannya! Padahal negara ini bukan miliknya, bukan milik keluarganya, bukan milik keluarganya, bukan milik partainya, tapi milik seluruh rakyat!

    Coba lihat, Soeharto juga jatuh ketika mempersiapkan anaknya menjadi penggantinya kelak di saat itu, caranya dengan menjadikannya Menteri social dulu, seakan tak ada lagi orang lain yang pantas menjadi menteri social, kecuali anaknya!

    Skenarionya bila anaknya berhasil di kekementrian social, satu langkah lagi menjadi presiden, kalau Soeharto turun! Namun apa lacur? Kekuasaan yang telah mencapai 30 tahun lebih dan masih juga tidak puas, masih ingin terus menjadi presiden sampai mati! Akhirnya rakyat turun tangan dengan demontrasi besar-besaran, akhirnya turunlah sang diktator dari kekuasaannya tanggal 21 Mei 1998! Maka lahirlah era reformasi.

    Begitu juga dengan Husni Mubarok, hancur dan kemudian turun dari kekuasaannya setelah 18 hari rakyat terus menerus melakukan demontarsi agar Mubarok turun, turun dan turun dan kekuasaanya, turun jadi presiden yang telah digenggamnya selam 30 tahun!

    Mengapa Mubarok akhirnya turun? Tak lain karena dia sudah mempersiapkan anaknya, Gamal Mubarok, menjadi penggantinya bila dia turun jadi presiden di tahun 2011 ini. Seakan Mesir itu miliknya, milik keluarganya, milik dinastinya! Padahal Mesir bukan kerajaan.

    Tapi memang seorang penguasa yang sudah bertahun-tahun bertahta cenderung akan otoriter! Dan lebih repot lagi biasanya korup! Agar hasil korupsinya tak dibongkar oleh penggantinya saat dia turun tahta, maka dipersiapkan anaknya menjadi penggantinya apapun caranya! Begitulah pola pikir para dikatator dalam mempertahankan kekuasaan dan kekayaannya. Dasar manusia rakus! Harta sudah melimpah, kekuasaan sudah puluhan tahun, masih saja kurang, kurang dan kurang!

    Diktator dimanapun sama, mengambil sebanyak-banyak harta rakyat dengan cara menekan rakyat sedemikian rupa, agar takut padanya! Maka biasanya siapapun yang menjadi penghalang akan disingkirkan, siapapun yang kritis akan dihancurkan, siapapun yang membantah akan dibantah, siapapun yang tak jera akan dipenjara.

    Begitulah para dictator menjalankan kekuasaannya. Namun dia lupa pada doa orang-orang yang teraniaya. Rakyat yang teraniaya mungkin tak berani berteriak dan melawan pengauasa yang diktator, namun rakyat punya doa!

    Dan perlu diketahui bersama doanya orang yang teraniaya langsung didengar olehNya, walau memang memakan waktu, baik cepat atau lambat doa itu akan dikabulkanNya. Nah buktinya tertera di hadapan kita, Husni Mubarok akhirnya mundur! Oya Mubarok lupa akan diktator yang mati dinegaranya, siapa?

    Reza Pahlevi, syah Iran, yang berhasil digulingkan oleh revolusi Islam Iran pimpinan Ayatullah Khomaini! Mubarok lupa, syah iran itu digulingkan juga karena kediktatorannya dan kabur dari negaranya, dan tidak diterima dikuburkan di negaranya sendiri! Akhirnya mati dan dikuburkan dipengasingan, Mesir!

    Nah kalau Husni Mubarok belajar dari terusirnya syah Iran yang lari ke negaranya dan mati di negaranya, mestinya dia turun bukan setelah 30 tahun berkuasa, itupun turun karena dipaksa!

    Ya mestinya kalu mau terhormat turun sebelum rakyat sendiri muak dan menurunkannya! Mubarok juga lupa pada kejatuhan Ferdinand Marcor, sang diktator dari Filipina, yang juga digulingkan dengan kekuatan rakyat” People Power” dibawah pimpinan Aquino, seorang ibu rumah tangga biasa!

    Hai para penguasa belajarlah dari sejarah pengausa lain yang sudah jatuh dan terjungkal oleh rakyatnya sendiri yang ditekan, ditindas, diintimidasi! Ibarat semut yang dinjak tarsus menerus, akhirnya semut kecil, namun banyak, akhirnya berani melawan sang gajah!

    Gajahpun terguling dan mati diserbu semut kecil yang banyak! Begitu kira-kira ibarat rakyat yang marah, rakyat yang semut kecil, tapi banyak dapat mengalahkan sang gajah yang besar! Hai para “gajah” hawai para penguasa ingat itu, bila memerintah, sejahterakan rakyatmu, bukan membuat rakyatmu sengsara! Rakyat yang sengsara dan tertekan, ibarat semut, yang satu saat nanti bisa saja bergerak dan bersatu melawan penguasa yang korup!

    Namun jangan takut, selama menjadi penguasa yang menjalankan amanah sebaik-baiknya, maka rakyat bukan akan menurunkan, bahkan mendukung! Apa lagi kalau punya niat dan tindakan yang bagus mebrantas korupsi sampai ke akar-akarnya! Mebrantas korupsi yang benar tegas dan berani, bahkan sampai hukuman mati sekalipun, pasti didukung rakyat.

    Karena bagaimanpun koruptor factor utama kesengsaraan rakyat! Faktor yang membuat rakyat dimiskinkan, sementara sang koruptor semakin kaya, kaya dan kaya. Lihat saja kasus gayus tambunan, kalau saja tak tertangkap, entah berapa trilyunan lagi uang rakyat yang dikurasnya.

    Sukur si gayus udah tertangkap, namun entah hartanya disita seluruh atau sebagiannya, saya tak tahu. Namun yang jelas gayus masih “teri”, sang koruptor yang “kakap-kakap” belum tertangkap!

    Pemerintah yang berani menindak sang koruptor akan didukung oleh rakyat, siapapun orangnya, dimanapun negaranya. Lihat Cina, walaupun negaranya beridiologi komunis, namun pemerintah mereka berani dan tegas menghukum mati para koruptornya! Apa hasilnya?

    Cina sekarang dalm segi ekonomi sudah mengalahkan Jepang! Cina punya cadangan devisa trilyunan Dollar! Itu betkat berani menindak koruptor dengan hukuman mati! Jadi siapapun orangnya akan takut untuk mencoba-coba korupsi. Lihat itu, Cina negara komunis, yang sebagian besar warganya tak percaya pada Tuhan, namun berani menindak koruptor dengan dengan hukuman mati! Dan rakyat mereka sejahtera , tak terdengar kemiskinan dan kelaparan di Cina! Padahal Cina punya penduduk terbesar di dunia, 1,3 milyar!

    Jadi mengapa pemerintah kita takut-takut dan ragu-ragu menindak para koruptor! Ayo “babat” para koruptor itu sampai ke akar-akarnya, yakinlah pemerintah pasti di dukung oleh rakyat jika berani menghukum para koruptor dengan hukuman maksimal.

    Jangan takut, rakyat akan mendukung pemerintahan yang bersih dan berwibawa, pemerintahan yang mensejahterakan rakyat akan di dukung rakyat, namun sebaliknya pemerintahan yang mensengsarakan rakyat, siap-siap akan diturunkan rakyat! Itu bukan ancaman, itu sudah menjadi sejarah dan tercatat dalam sejarah modern maupun sejarah kuno.

    Maka mari sekali lagi perhatikan “nasehat” dari sejarah, mari perhatikan dan belajar dari sejarah, sejarah dengan arifnya telah memberikan pelajaran yang mengabadi, karena bila sesuatu sudah menjadi sejarah, maka akan mengabadi sampai kimat tiba nanti!

    Itulah maka saya sering menulis, belajarlah dari sejarah, ingat sejarah dan jangan lupakan sejarah. Orang yang biasa belajar, ingat dan tak melupakan sejarah, biasanya menjadi lebih arif, lebih bijak, lebih memperhatikan akibat tindakan-tindakannya sekarang.

    Apapun namanya perbuatan sekarang akan berakibat pada masa datang, dan sekarang akan menjadi masa lalu, bila waktunya sudah lewat! Tiga dimensi waktu yaitu, masa lalu, masa kini dan masa akan datang akan terus berputar. Masa lalu telah lewat, masa sekarang sedang dijalani dan masa akan datang sedang menanti.

    Belajar dari tiga dimensi waktulah, maka nabi Muhammad saw, telah mengingatkan manusia 14 abad yang lalu, yang nasehatnya terus relepan dari masa ke masa yang bunyinya:”Beruntunglah orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, rugilah orang yang hari ini sama dengan yang kemarin dan celakalah orang yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin!” Pesan nabi begitu gamblang dan jelas, tiga dimensi waktu tercangkup di dalamnya dan dengan katagori yang begitu jelas!

    Manusia beruntung adalah manusia yang lebih baik hari ini dibandingakan kemarin, manusia merugi kalau hari ini sama dengan kemarin dan manusia menjadi celaka kalau hari ini lebih buruk dari kemarin!

    Bayangkan nabi sudah mengingatkan manusia sejak 14 abad lalu, namun nasehat beliau terus berlaku atau sesuai dengan jaman, tak lapuk kena hujan, tak lekang kena panas!
    Lalu apa yang bisa kita pelajari dari jatuhnya para dikatator dunia? Banyak, diantaranya:

    Pertama, tak ada kekuasaan yang abadi! Suka atau tak suka, mau atau dipaksa, kekuasaan akan lenyap dari tangan seseorang, siapapun dia, dimanapun adanya. Yang abadi hanya kekuasaan Allah SWT, Dialah yang mempunyai kekuasaan yang hakiki, tak tertandingi oleh siapapun.

    Makanya ketika di padang masyar nanti, setelah kiamat, para penguasa ditanya, mana penguasa itu? Mana raja itu? Mana presiden itu? Tak ada yang jawab, semuanya tertunduk lesu, para diktator ketakutan dan setanpun tertawa!

    Kedua, para penguasa harus amanah, jangan mentang-metang sedang berkuasa, sedang”di atas”, sedang jadi pejabat, sedang jadi penguasa di berbagai sektor, lingkungan, pemerintahan, lembaga dan sebagainya, lalu bertindak sewenang-wenang! Seakan lembaga itu punya pribadi, seakan dia akan menjadi pejabat selamanya, seakan dia akan memerintah selamanya, seakan bawah bukan manusia, tapi budak-budak yang bisa dimarahi sesukanya, semaunya, dimana saja, kapan saja dan siapa saja, tak melihat betapa malunya orang sedang dimarahi di depan umum!

    Ketiga, siapapun yang sedang memerintah suatu negara, jangan sampai lupa, kalau rakyat tak suka pada pemerintah bukan berarti membenci negara! Pemerintah dan negara berbeda! Pemerintah bisa turun naik, bisa berganti-ganti, tapi negara diusahakan agar tetap utuh!

    Jadi kalau rakyat mengkritik pemerintah bukan berarti anti negara, anti pemerintah Mesir, bukan berarti anti negara Mesir! Anti MUbarok, bukan berari anti Mesir! Anti pemerintah Indonesia kalau dinilai bobrok, bukan berarti anti Indonesia! Begitu juga anti pajabat negara yang koruptor, bukan berarti anti pada lembaganya!

    Keempat, para pejabat, siapapun dia harus ingat, jabatan itu amanah, bukan alat untuk mengeruk sebanyak-banyaknya keuangan negara, dengan berbagai alasan memanipulasi. Pejabat negara belum tentu pemimpin negara, para pemimpin negara, belum tentu negarawan!

    Dan setiap pejabat yang duduk dilembaga tertentu, bisa jadi bukan pemimpin, tapi badut-badut. Walupun lembaganya terhormat, belum tentu pejabatnya otomatis terhormat, apa lagi mulia! Terhormat atau mulianya seorang pejabat bisa dilihat dari tingkah laku dan perbuatannya sehari-hari, bisa saja sang pejabat berdasi tapi hatinya basi!

    Kelima, dimanapun pejabat yang otoriter, kejam, mudah mencaci maki bawahannya tak kenal waktu dan situasi serta kondisi, akan terkena “kutukan” yang dipimpinnya, akan terkena doanya orang yang teraniaya! Yang biasanya hanya tinggal menunggu kehancurannya, cepat atau lambat pasti pejabat yang otoriter akan binasa, ya kalau tidak di dunia ya di akherat!

    Keenam, kejadian di Mesir bisa terjadi di Indonesia dan memang sudah terjadi di jaman lengsernya Soeharto, namun bisa akan berulang lagi, kalau pemerintahan yang ada sekarang tidak belajar dari penyebab kejatuhan presiden Mesir dan lengsernya Soeharto dulu. Kejadian di Mesir bisa terjadi di Indonesia, kalau pemerintah sekarang hanya bisa janji-janji untuk mensejahterakan rakyat.

    Ketujuh, revolusi di Mesir sudah berhasil menurunkan Husni Mubarok dari kursi kepresidenan, kediktatorannya, terutama yang selalu memusihi Ikhwanul Muslimin, sudah tamat! Indonesiapun bisa terjadi seperti di Mesir, kalau pemerintah yang sekarang misalnya memusihi organisasi yang benar-benar membela Islam, rakyat yang mayoritas Islam akan bergerak bila Islam menjadi “sasaran tembak!”

    Nah itulah hikmah dari kejatuhan para diktator dunia! Loh kok diktator dipelajari atau kok belajar dari kejatuhan dikatator?

    Ingat, apapun yang terjadi di alam semesta tak ada yang sia-sia, semuanya punya hikmah, semuanya bisa diambil pelajaran, bagi yang mau mempelajarinya dan bagi yang mau berpikir, itukan tantangan Allah SWT pada hambaNya!

    Ayo pikirkan, ayo pelajari, ayo belajar dari semua ciptaanNya, Dia menciptakan sesuatu bukan main-main, ”Tuhan tidak bermain dadu!” kata Albert Einstein.

    ==============================
    kumpulan cerita renungan islami – kisah sumber renungan islami – cerpen penuh renungan islami

  2. kumpulan cerita renungan islami – kisah sumber renungan islami – cerpen penuh renungan islami
    ==============================

    Pertolongan Allah Setiap Saat
    Sabtu, 19/02/2011 07:26 WIB | email | print

    Oleh bidadari_Azzam

    Temanku menulis sms singkat, “wah ada bom di bandara Russia, untunglah tidak jadi kesana…”, sekilas nampaknya sederhana. Sama seperti rasa syukurku, “Alhamdulillah, training kemarin ke swiss, bukan ke Russia”, ada skenario penyelamatan dariNYA agar tidak menjadi korban dalam peristiwa tersebut, puluhan orang telah ditemukan tewas dan ratusan lainnya luka-luka. Kami menonton berita dan membaca surat kabar kota beberapa hari ini tentang hal itu.

    Ada-ada saja hal lain yang kalau kita renungkan, disitulah letak “waktu yang tepat” saat Allah SWT memiliki ketetapan dalam menyelamatkan kita. Saat kami ke Alexander Platz, Berlin beberapa bulan lalu, tiba-tiba di depanku ada orang berkursi roda yang menghalangi jalan, dia lamban sekali, Saya dan anak-anak kedinginan, makanya ingin jalan cepat-cepat agar segera tiba di hotel. Namun karena terhalang kursi rodanya itu, akhirnya lift penuh, kami antrian menanti lift naik kembali. Satu, dua, lima menit berlalu, lift itu tak bergerak, tidak bisa turun, tidak bisa terbuka pula. Oalah, ternyata seisi lift berteriak-teriak (dan kami yang di luar tak mendengarnya), lift itu stuck, kasian, setengah jam lebih mereka di dalam lift. Sinyal gawat daruratnya tak berfungsi. Suamiku berlari menuju pasukan berseragam dan dengan bahasa Jerman yang sedikit campur bahasa Inggris, ia jelaskan bahwa ada lift yang tak berfungsi sementara sekitar tujuh orang terperangkap di dalamnya. Karena salju masih turun lebat, jadi tim keamanan itu memang sulit dicari, tidak duduk di posko informasi misalnya, dan gerakan mereka juga agak lambat karena ramainya masyarakat dan turis yang sedang berada di area itu.

    Memang dalam hatiku, ada sedikit kesal karena makin lama untuk berbaring di hotel, dan saat itu dingin sekali, namun ada rasa bersyukur yang amat sangat, untungnya bukan kami sekeluarga yang berada di dalam lift tersebut. Alhamdulillah, Kami akhirnya perlahan-lahan menuruni eskalator (yang macet) dengan bersama-sama memegang kereta bayi dan travel bag.

    Pengalaman Fifi beda lagi, tahun lalu saat badai salju membuat semua maskapai penerbangan harus mengubah jadwalnya, saat gundukan salju membuat euro star stuck, semua traveler yang sedang berada di Eropa harus bersabar. Ada yang pesawatnya diubah jadwal 3 hari kemudian, ada yang tiduran di bandara dan menumpang berbaring di mal-mal terdekat, ada yang terpaksa menyewa kamar hotel karena jadwal perjalanan masih belum bisa ditentukan. Sedangkan Fifi terselamatkan dari keadaan itu, tadinya ia akan ikut paket hemat “travel bareng” teman-temannya ke beberapa negara uni eropa, namun ternyata sehari sebelum berangkat, ia mengalami kecelakaan lalu lintas dan harus dirawat di rumah sakit. Alhamdulillah lukanya tidak parah, bahkan tak separah orang-orang yang mati beku, kedinginan dalam gundukan badai salju tahun itu.

    Seorang sahabat lamaku bercerita pula, saat Allah SWT menyelamatkan dirinya dan keluarga tatkala tsunami 2004 yang mengiris hati kita semua. Mereka hanya berlibur disana, dan saat kejadian itu, mereka sedang menikmati pemandangan masjid terbesar di Aceh. Kala itu, baru saja akan mencari menu sarapan pagi dan ingin melaksanakan sholat dhuha. Ternyata aktivitas mereka di masjid itu adalah sebuah jalan selamat, atas ketetapan Allah SWT.

    Dalam hiburan dari-Nya, “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?

    Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, serta digoncangkan (dengan berbagai macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya : ‘Kapankah datangnya pertolongan Allah?’
    Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS. Al-Baqoroh :214)

    Dan hari-hari yang kita jalani, jika sebelum tidur kita sempat “mereviewnya”, sebagai bahan muhasabah diri dan menggali hikmahNYA, maka kita akan simpulkan bahwa jutaan bahkan milyaran pertolongan Allah SWT telah kita terima hari ini. Kita bernafas tak perlu membayar udara, kita memperoleh kehangatan mentari, kita merasakan senang dapat bersenda gurau bersama keluarga, panca indera berfungsi dengan baik, kesehatan lahir batin dan keimanan padaNYA adalah harta terindah. Apabila kita menghitung nikmat Allah, niscaya kita tidak akan sanggup untuk menghitungnya. Maka, nikmat Allah manakah lagi yang kita dustakan?

    Semoga aktivitas kebaikan apapun yang kita lakukan sehari-hari, baik itu mengajar mengaji anak-anak, membaca, shadaqah, shaum sunah, sholat malam, shalat dhuha, silaturrahim, dll, semuanya dalam rangka bersyukur atas berbagai nikmat serta pertolongan yang telah Allah SWT berikan kepada kita. Sebagaimana Rasulullah menjawab, tidakkah boleh jika Aku menjadi manusia yang senantiasa mensyukuri berbagai nikmat yang telah Allah berikan Kepadaku, Rasulullah mengatakannya ketika sedang melakukan shalat malam dengan kaki yang bengkak, sambil menangis ketika membaca surat Ali Imran : 190 sampai akhir.

    “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi kaum yang berakal, (yakni) mereka yang selalu mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, atau berbaring seraya berfikir tentang penciptaan langit dan bumi (kemudian berkata): Ya Rabb kami, tidaklah Engkau ciptakan segala sesuatu dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari adzab api neraka”.(QS. Ali-Imran:190-191).

    Suatu saat ketika Rasulullah SAW tengah shalat tahajjud, turunlah ayat ini dan beliaupun menangis. Bilal yang berada di dekat Rasulullah SAW melihat beliau menangis bertanya: “Mengapa engkau menangis, ya Rasulullah?” “Celakalah orang yang membaca ayat-ayat ini namun tidak juga mengambil pelajaran darinya”.

    Mari syukuri hadiah hari ini, kita masih bisa saling mengingatkan untuk tetap menjaga rasa optimis dalam bimbinganNya, walhamdulillah. Wallohu ‘alam bisshowab.

    (bidadari_Azzam, Krakow, 28 jan 2011)

    ==============================
    kumpulan cerita renungan islami – kisah sumber renungan islami – cerpen penuh renungan islami

  3. kumpulan cerita renungan islami – kisah sumber renungan islami – cerpen penuh renungan islami
    ==============================

    Jangan Asal Ikut
    Jumat, 18/02/2011 14:17 WIB | email | print

    Oleh Abi Sabila

    Kesal dan kecewa, malu tapi juga lucu. Begitu yang dirasakan Andi ( bukan nama sebenarnya ) saat itu. Dari cara ia bercerita, membayangkan ekspresinya, mau tak mau semua yang mendengar ceritanyapun jadi tertawa.

    Kejadian ini bermula ketika Andi dan teman-temannya pulang dari bepergian. Di tengah perjalanan, tiba-tiba terjadi kemacetan yang cukup parah. Celakanya, mereka baru dua kali melewati jalan itu, yang pertama tentu saja saat mereka berangkat pagi tadi. Tak satupun dari mereka yang tahu jalan alternatif untuk menghindari kemacetan yang mereka perkirakan bakal memakan waktu cukup lama. Entah apa penyebabnya, pasar tumpah, karyawan yang baru bubar, perbaikan jalan, atau mungkin sebuah kecelakaan, mereka sama sekali tak memiliki gambaran. Ingin bertanya, mereka ragu. Selain mereka ada puluhan bahkan mungkin ratusan pengguna jalan lainnya yang juga merasakan hal yang sama, kesal.

    Saat kekesalan semakin menjadi, Andi melihat melihat tiga orang pengendara motor berbelok ke sebuah gang kecil. Yakin bahwa ketiga pengendara motor itu tahu jalan alternatif untuk menghindari kemacetan, tanpa pikir panjang Andi dan teman-temannya langsung mengikuti. Mereka semakin yakin setelah beberapa pengendara motor dibelakang mereka juga mengikuti.

    Beberapa kali belok kanan dan kiri, tiba-tiba pengendara motor pertama berbelok ke halaman sebuah rumah dan berhenti di sana. Bagitupun kedua pengendara motor lainnya, tak lama kemudian mereka melakukan hal yang sama, masuk ke halaman sebuah rumah dan berhenti di sana. Andi dan teman-temannya baru menyadari bahwa ketiga orang yang mereka ikuti bukan sedang mencari jalan alternatif, tapi jalan itu memang menuju ke rumah mereka masing-masing.

    Terlanjur, Andi dan teman-temannya, juga beberapa pengendara motor di belakang mereka, mencoba meneruskan perjalanan. Tentu saja, kali ini mereka hanya mengira-ngira saja. Ingin bertanya, malu rasanya. Dan setelah keluar masuk gang sempit, mentok di gang buntu, berkali-kali belok kanan dan kiri hingga setengah jam lamanya, mereka baru tersadar bahwa mereka kembali berada di jalan semula. Bedanya kali ini jalanan sudah tak semacet tadi. Kemacetan sudah mulai terurai.

    Jangan asal ikut, jangan malu bertanya kalau tak ingin tersesat di jalan. Itu pelajaran yang kami dapat dari kejadian yang dialami Andi dan teman-temannya. Hal serupa juga kami dapatkan dari fulan. Asal ikut dan hanya berdasar sangkaan saja, apa yang dianggapnya ibadah, bukan saja tertolak tapi justru bisa menjadikannya sesat.

    Adalah fulan, meski usianya di atas tiga puluh tahun, masalah agama ia terbilang awam. Salah memilih teman dan pergaulan di masa muda, menyebabkan semua ilmu agama yang pernah dipelajarinya menguap entah kemana.

    Suatu saat, usai sholat Ashar berjamaah di mushola, beberapa jamaah yang masih tersisa heran melihat fulan berdiri dan sholat lagi. Semula kami mengira fulan ingin meng-qodho sholat-sholat yang selama ini ia tinggalkan. Tapi kami menjadi ragu setelah melihat fulan hanya sholat dua rokaat. Penasaran, dan daripada berfikir yang bukan-bukan, salah satu dari kami memanggil fulan. Dengan hati-hati -takut menyinggung perasaan- kami tanyakan sholat apa yang baru saja fulan kerjakan. Dengan mantap ia katakan bahwa ia baru saja sholat bada’ Ashar.

    Tidak mudah menjelaskan pada fulan bahwa sholat yang baru saja dikerjakan itu tidak diperbolehkan. Tidak ada sholat sunnah rowatib yang dikerjakan setelah sholat Ashar, sama seperti tidak ada sholat sunnah setelah sholat Shubuh hingga masuk waktu dhuha, saat matahari sudah mulai meninggi. Salah satu dari kamipun menyebutkan sholat sunah rawatib apa saja yang sesuai dengan tuntunan rosul. Tapi fulan tetap bersikeras bahwa yang ia lakukan itu benar. Ia katakan pernah melihat salah satu jamaah ada yang sholat lagi setelah solat Ashar, tidak hanya dua rokaat tapi malah empat. Hanya karena dia sedang buru-buru, ada pekerjaan yang harus ia selesaikan, maka ia hanya mengerjakan dua rokaat saja.

    Astaghfirulloh! Seperti yang kami duga, bahwa fulan melakukan itu bukan karena didasari ilmu, hanya berdasar sangkaan dan sekedar ikut-ikutan saja. Ini jelas tidak bisa dibiarkan, harus segera diluruskan, sebab satu ibadah selain harus diawali dengan niat dan dikerjakan dengan ikhlas, juga harus dilandasi ilmu yang benar, tidak bisa sekedar ikut atau berdasar sangkaan belaka. Yakin saat mengerjakan adalah termasuk unsur diterima tidaknya satu ibadah.

    Bagaimana bisa sampai tujuan, bila ibadah dilakukan hanya berdasar sangkaan, sekedar ikut apa yang orang lain lakukan, tanpa tahu apakah yang dilakukan itu benar dan sesuai dengan aturan syarat dan rukunnya. Bila asal mengerjakan, bukan saja amalannya akan tertolak, tapi lebih dari itu bisa menjadi sesat.

    Jangan malu bertanya, kalau tak ingin sesat di jalan. Jangan asal ikut-ikutan, kalau ingin selamat sampai tujuan. Jangan malas belajar, karena ilmu dan keyakinan akan didapatkan dengan jalan belajar. Belajar pada orang yang tepat, yang bukan saja luas ilmunya tapi juga tingkah laku dan perbuatannya sesuai dengan Al Quran dan yang nabi contohkan.

    http://abisabila.blogspot.com

    ==============================
    kumpulan cerita renungan islami – kisah sumber renungan islami – cerpen penuh renungan islami

  4. kumpulan cerita renungan islami – kisah sumber renungan islami – cerpen penuh renungan islami
    ==============================

    Perhatikanlah Aku!
    Jumat, 18/02/2011 08:03 WIB | email | print

    Oleh Anung Umar

    Ia terperangah dengan SMS yang dibacanya. Entah bagai mendapatkan durian runtuh atau justru tertimpa runtuhan durian. “Akhi, ana akhwat.. umur 23 tahun.. tinggi.. ativitas.. Apakah antum berminat menikah dengan ana?” Sedang mimpikah ia? Padahal siang itu matahari sangat terik dan cuaca sedang panas-panasnya. Meskipun tidak sepanas di gurun, namun suhu ketika itu sangat mendukung bagi seseorang untuk sulit memejamkan mata.

    Tanpa bersorak dan tanpa pula berjingkrak-jingkrak, ia balas SMS itu sekaligus menanyakan identitas si pengirim sms itu. Setelah berlalu beberapa waktu, entah berapa minggu atau bulan, usut punya usut, selidik punya selidik, akhirnya terkuaklah identitas si pengirim SMS yang sebenarnya. Ia ternyata istrinya sendiri! Ada apa dengan istrinya?

    ‘Makar’ apa yang ingin ia lakukan terhadap suaminya sendiri? Padahal suaminya seorang yang saleh, baik din dan akhlaknya (dan hanya Allahlah yang lebih berhak menilainya, saya tidak bermaksud mendahului Allah dalam memberikan tazkiyah terhadap seorang pun). Ia juga penuntut ilmu syar’i di suatu universitas dan seorang hafizh Al-Quran 30 Juz, meskipun saya tidak tahu berapa hafalannya yang tersisa setelah menikah.

    Dengan kondisinya seperti itu, ditambah padatnya rutinitas dia sehari-hari antara belajar dan mengajar, sangat kecil-menurut saya- peluang baginya untuk ‘ngelirik-lirik’. Kalau begitu, apa yang mendorong si istri ‘merelakan’ suaminya untuk ‘menduakannya’?

    Ia memang seorang mahasiswa, bukan PNS atau pengusaha atau orang yang memiliki profesi lain yang ‘menjanjikan’ dari segi finansial. Akan tetapi, bukan berarti ia suami yang tidak bertanggungjawab. Setiap bulan ia tetap memberi nafkah yang ia peroleh dari hasil mengajar kecil-kecilan dan tunjangan dari kampus kepada istri dan satu anaknya yang ada di kampung. Lantas, mengapa si istri ‘berharap’ suaminya ‘melirik’ kepada wanita lain?

    Kalau diperhatikan dari hari-hari sebelumnya, selalu ada ‘peperangan’ sengit antara mereka berdua di HP. Kalau hari ini ‘gencatan senjata’, besoknya ada ‘pertempuran’ lagi. Demikianlah. Itu terjadi hampir setiap hari. Sampai-sampai ia bertanya kepada saya, “Apa ana cerain aja dia ya?” Saya sarankan ia agar berkonsultasi saja dengan ustadz.

    Datanglah ia ke salah seorang ustadz. Ia ceritakan seluruh masalahnya. Setelah konsultasi, saya tanya apa yang dinasehatkan ustadz kepadanya. Ia menjawab, “Kata ustadz, intinya sih, itu karena dia kurang (maaf) dibelai aja.” Dibelai? Apa korelasinya antara cekcok dengan belaian? Saya tidak yakin dengan saran itu. Saya meragukannya!

    Suatu hari ketika sedang membongkar isi lemari buku di rumah, saya menemukan sebuah buku berjudul Mars And Venus On A Date karya John Gray, Ph.D. Entah buku siapa itu, apakah milik orang tua atau kakak. Pandangan saya tiba-tiba melekat di hal. 396 pada judul Mengapa Wanita Membutuhkan Pria.

    Di situ penulis menyebutkan perbedaan wanita di masa lalu dan zaman sekarang. Bila di masa lalu seorang wanita benar-benar membutuhkan perlindungan pria dan dukungan fisik darinya, sedangkan sekarang, wanita dapat mengurus dirinya sendiri (ini menurut penulis, mungkin berdasarkan kebiasaan wanita barat, seperti wanita karier), maka kebutuhannya pun berubah.

    Penulis berkata, “Wanita tidak lagi membutuhkan pria terutama untuk kelangsungan hidup dan perlindungan, melainkan untuk kenyamanan emosional dan mengemong. Semakin wanita ‘tidak’ membutuhkan pria dalam arti tradisional, semakin butuhlah dia akan perhatian dan kasih sayang pria yang bersifat romantis…Seluruh pemikiran wanita dalam tiga puluh tahun terakhir ini telah berubah secara dramatis. Roman merupakan hal yang paling utama.”

    Pikir saya, inikah korelasi antara “belaian” dengan percekcokan itu? Mungkin saja. Karena dari sisi finansial si istri tidak terlalu ‘bergantung’ dengan teman saya itu. Ia juga bekerja di kampungnya (tentunya di tempat yang tidak banyak percampurbauran antara pria dan wanita).

    Lalu pandangan saya terpaku lagi di hal. 403 pada judul Penyebab Kemurungan Yang Berbeda. Penulis menyebutkan, “Penyebab utama kemurungan pada wanita adalah merasa terisolasi. Ketika seorang wanita sedang dalam keadaan paling tidak bahagia, itu adalah ketika wanita merasa bahwa ia harus mengerjakan segala-galanya sendiri dan tidak seorang pun yang mendampinginya. Perasaan dibebani tanggung jawab untuk diri sendiri dan untuk orang lain ini menjadi sumber kemurungan.”

    Lalu di di halaman berikutnya penulis menyebutkan, “Ironisnya bagi pria adalah sebaliknya. Ketika seorang pria merasa bahwa ia bertanggungjawab untuk dirinya sendiri, ia merasa besar hati tentang dirinya. Ketika ia merasa dapat melayani orang lain, ia semakin merasa besar hati tentang dirinya…Pria senang bila bisa membantu dan ‘dimanfaatkan’ oleh wanita. Sebaliknya, wanita menjadi sedih bila dia terlalu banyak ‘dimanfaatkan’.”

    Saya berpikir lagi, mungkinkah ini korelasi antara “belaian” dan percekcokan itu? Sangat mungkin. Si istri mungkin MERASA seluruh beban tanggung jawab rumah tangga di antaranya membesarkan buah hatinya, ditanggung dia sendiri, tanpa ada perhatian suami.

    Dan kemungkinan itu makin mendekati kebenaran. Sebab, sebagaimana dikabarkan teman itu kepada saya, setelah ia menyelesaikan studinya lalu berkumpul kembali dengan istrinya, ‘dua faksi’ yang selama ini bertikai, ternyata bisa rukun dan hidup tentram lagi. Dan tentunya, tak ada lagi setelah itu ‘pertempuran’ sengit di HP dan tak ada pula “sms kejutan” yang menawarkan pernikahan.

    Benarlah apa yang dikatakan ustadz tadi. Konflik yang menimpanya bermuara dari kurangnya “belaian”, kurangnya perhatian, atau merasa kurang diperhatikan!

    Bisa jadi, -wallahu a’lam- sebab itu pulalah mengapa Nabi kita صلى الله عليه وسلم dengan padatnya aktivitas beliau dalam mengurus umat, bila usai shalat Ashr, meluangkan waktu untuk menemui istri-istrinya. Beliau menyempatkan diri untuk mengecup istrinya sebelum menunaikan shalat di masjid. Beliau juga berkumpul dengan para istrinya setiap malam di rumah istri tempat beliau bergilir. Semua itu agar mengharmoniskan hubungan beliau dengan mereka, agar mereka merasa diperhatikan dan tidak diacuhkan!

    Mungkin itulah yang perlu dipahami oleh para suami. Sebab jika seorang istri merasa kurang mendapatkan perhatian dari suaminya, bisa saja muncul darinya sesuatu yang ‘aneh bin ajaib’ demi mewujudkan keinginannya: “perhatikanlah aku!”. Entah dengan mengirim “sms kejutan” atau seperti yang dialami salah satu kerabat saya.

    Suatu hari istrinya mengeluh sakit perut. Ia muntah-muntah dan terkena semacam diare. Akhirnya si suami membawanya ke rumah sakit. Setelah diperiksa beberapa lama, ternyata tidak ditemukan penyakit apa pun, seluruh badannya normal. Padahal kelihatannya lemah lunglai istrinya itu.

    Seorang suster bertanya dengan penuh keheranan kepada si suami, apakah ada masalah sebelumnya. Si suami menjawab bahwa tidak ada masalah apa-apa, hanya saja ia baru berkumpul bersama istri dan anaknya setelah beberapa bulan belakangan disibukkan dengan pekerjaan di luar kota. “Oh, itu mungkin masalahnya, Pak!” demikian komentar suster.

    Walhasil, seorang suami memang harus tahu kebutuhan istrinya. Selalu memberikan perhatian serta sabar dalam meladeni tingkah lakunya yang mungkin saja bisa membuat manyun mulut, dahi berkerut, atau malah sakit perut. Itulah konsekuensi pernikahan. Bukan hanya “manis-manisnya” saja yang dirasakan, yang “pahit” pun perlu dicicipi. Makanya itulah ibadah, perlu pengorbanan dan kesabaran!

    Jakarta, 15 Rabi’ulawwal 1432/18 Februari 2011

    anungumar.wordpress.com

    ==============================
    kumpulan cerita renungan islami – kisah sumber renungan islami – cerpen penuh renungan islami

  5. kumpulan cerita renungan islami – kisah sumber renungan islami – cerpen penuh renungan islami
    ==============================

    Dokter Umat
    Kamis, 17/02/2011 13:51 WIB | email | print

    Oleh Ali Mustofa

    Sewaktu masih kecil, ketika masih tampak imut dan lucu-lucunya, banyak diantara kita saat ditanya oleh seseorang dengan pertanyaan, ‘kalau besar cita-citanya ingin jadi apa?’ maka sontan akan menjawab ingin jadi dokter. Ya begitulah, menjadi dokter memang merupakan profesi favorit kebanyakan orang.

    Namun ternyata setelah besar, impian itupun tak bisa terwujud dikarenakan sesuatu hal. Maka kita tak perlu khawatir, kita masih bisa kok menjadi dokter. Tapi yang ini bukan yang biasa nyuntik orang di rumah sakit, atau yang biasa menulis sebuah resep obat yang tulisannya dibuat agak acak-acakkan. Melainkan menjadi dokter umat alias pengemban dakwah.

    Menjadi dokter umat tidak perlu mengeluarkan kocek dalam-dalam, juga tidak memerlukan seleksi super ketat saat ujian masuk fakultas kedokteran. Cukup dengan membulatkan tekad untuk mengaji (halqah) serta memperdalam ilmu agama, dan siap menjadi pembela Islam, penjaga Islam yang terpercaya.

    Peluang terbuka selebar-lebarnya, negri ini masih banyak membuka lowongan menjadi dokter umat, hal ini mengingat sejatinya masyarakatnya Indonesia bisa dibilang masih banyak yang sakit. Yang dimaksud sakit disini bukan sakit sebagaimana pada umumnya, seperti: batuk, pilek, jantung, magh, tipes dan lain sebagainya. Melainkan sakit pada pemikirannya.

    Seperti diketahui, sudah lama masyarakat Indonesia semenjak ordelama hingga orde baru sampai sekarang ini terus dicekokin dengan virus-virus pemikiran barat, sebuah ajaran yang bertentangan dengan syariah Islam. Alhasil, sebagian diantara masyarakat yang kemudian kurang begitu paham akan keindahan Ideologi Islam, justru malah gandrung dengan ide-ide barat seperti halnya sekulerisme, pluralisme, kapitalisme, sosialisme, demokrasi, nasionalisme, dll.

    Korupsi semakin menggurita, angka kriminalitas merajalela, hamil diluar nikah menggejala, inilah buah ajaran barat tersebut. Ironisnya penguasa di negri ini malah menjadikannya sebagai standar untuk mengatur negara. Inilah letak pangkal kesalahannya. Karena memang, yang salah harus dikatakan salah, dan yang benar katakanlah benar. Sebagaimana ketika seorang dokter mendiaknosis, kemudian menemukan penyakitnya apa.

    Allah Swt berfirman: “Dan janganlah kamu campur adukkan yang haq dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu, sedang kamu mengetahui.” (QS. al- Baqarah : 42)

    Karena itu, siapa saja bisa menjadi dokter, kenapa kesempatan ini harus di sia-siakan?, kan sayang kalau tidak buruan memanfaatkan peluang emas ini. Tapi ingat, menjadi dokter umat memang tak akan mendapat upah yang begitu menggiurkan. Namun sekali lagi jangan khawatir, insyaAllah Dia Swt-lah yang akan memberikan upah yang lebih spesial.

    Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yg menyeru kpd (Al-Khair) kebajikan, menyuruh kpd yg ma’ruf dan mencegah dari yg mungkar; mereka ialah orang-orang yg beruntung. ” (QS. Ali Imran: 104)

    Imam At-Thabari menjelaskan ayat diatas, sebagaimana di dalam kitab tafsirnya: Al-khair di sini ialah Islam dan syariatnya yang disyariatkan Allah pada hambaNya. Al-Ma’ruf di sini ialah mengikut Nabi Shalallaahu alaihi wasalam dan dien Islam yang dibawanya. Al-Munkar di sini ialah kufur pada Allah, mendustakan Nabi Saw dan apa-apa yang dibawanya (At Thabari, 4/26)

    http://mustofa.web.id/

    ==============================
    kumpulan cerita renungan islami – kisah sumber renungan islami – cerpen penuh renungan islami

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s