kumpulan cerita rohani penuh hikmah – kisah rohani penuh hikmah – cerpen rohani penuh hikmah

kumpulan cerita rohani penuh hikmah – kisah rohani penuh hikmah – cerpen rohani penuh hikmah
==============================

Abah

Kamis, 13/01/2011 13:47 WIB | email | print

Oleh Sabrul Jamil

ABAH
Siang itu bukanlah seperti siang biasanya. Yang membuat jadi tidak biasa adalah karena saya harus berjalan kaki dari gerbang kompleks menuju rumah. Motor andalan saya baru saja dirawat di bengkel depan kompleks. Karena tidak nyaman menunggu di bengkel, saya memutuskan pulang, menunggu di rumah. Lebih nyaman, dan bebas asap rokok plus knalpot.

Dalam perjalanan pulang itulah saya bertemu Abah. Siapakah Abah? Nantilah saya ceritakan. Saat ini saya ingin bercerita dulu tentang pertemuan saya dengan orang tua itu. Abah saat itu berjalan bertelanjang kaki, dengan tas besar disampirkan di samping kirinya. Kami pun saling menyapa.

“Dari mana Mas, kok enggak bawa motor?” Sapanya ramah.

Setelah kujawab pertanyaanya, selanjutnya gantian aku yang bertanya, “Abah mau kemana? Kok sendalnya enggak dipakai?”

Abah tertawa. Dia bercerita bahwa berjalan kaki di aspal yang hangat adalah baik untuk terapi. Sebenarnya saya tidak terlalu sepakat kalau dibilang aspal ini hangat. Menurut saya, aspal menjelang siang lebih dari sekedar hangat. Tapi tidak saya bantah kata-katanya. Saya hanya memandangi telapak kakinya yang besar-besar. Lebih besar dari telapak kaki saya. Padahal ukuran sepatu saya 42-43. Entah berapa ukuran sepatu Abah.

“Terus Abah mau kemana ini siang-siang?”

Abah kembali tertawa seraya menunjuk ke arah tas besarnya yang sedikit terbuka.

“Ini, ngider, siapa tahu ada yang mau beli”, katanya sambil menunjukkan koleksi VCD dan MP3 yang cukup banyak di dalam tasnya.

Saya mengintip sekilas, dan tersenyum. Saya termasuk yang tidak suka membeli CD bajakan. Tapi saya diam saja, dan merasa kurang pas jika pada kesempatan itu berusaha menjelaskan kepada Abah bahwa menjual CD bajakan adalah dilarang oleh pemerintah, dan sudah diharamkan pula oleh MUI. Mungkin ada yang menganggap sikap saya itu keliru. Tidak apa-apa, saya hargai anggapan itu.

Abah kemudian bertutur bahwa dagangan ini lumayan buat nambah-nambah penghasilan. Dari pada cuma nganggur di rumah. Setelah beberapa obrolan singkat lainnya, kami pun berpisah. Lagi pula, tentu tidak nyaman ngombrol lama-lama di tengah jalan yang terik.

Nah, tadi saya sudah berjanji untuk menceritakan siapakah Abah itu.

Abah adalah pria yang sudah berusia sekitar 50-an. Tinggal di dekat perempatan jalan, hanya beberapa meter dari rumah saya. Rumahnya merangkap menjadi warteg alias warung tegal, walau dia bukan berasal dari Tegal. Abah dan istri asli dari Kuningan, Jawa Barat. Anak-anaknya sudah besar, dan tinggal bersama pasangan masing-masing. Jadi, Abah hanya tinggal bersama istrinya di rumah merangkap warteg tersebut.

Setiap hari, usai membantu istrinya memasak untuk warteg, Abah berjualan keliling. Jadi, Abah sebenarnya tidak nganggur seperti yang dia akui. Tapi memang wartegnya cukup dilayani oleh istrinya saja. Sisa waktu yang ada, Abah berkeliling menjual CD. Sore hari, dia sudah kembali ke rumah, duduk di bale-bale depan rumah. Bercengkerama bersama istri dan para tetangga yang sering mampir untuk sekedar duduk-duduk atau minum kopi.

Hubungan kami dengan Abah dan istrinya terjalin baik. Di samping karena kami bertetangga, istri saya termasuk sering berbelanja di warteg itu. Kami memang tidak ada masalah dengan makanan wartegan. Jaman kuliah dulu, warteg malah menjadi menu sehari-hari kami. Warteg memang solusi bagi mahasiswa berkantung pas-pasan. Sekarang, meski kehidupan kami sudah jauh lebih baik, makanan warteg tetap pas di lidah kami.

Setiap kali berbelanja, Abah atau istrinya tidak segan-segan memberikan bonus. Entah berupa bakwan, sayur atau gorengan lainnya. Pada saat lainnya, kadang-kadang kami mengirim beras, walau tidak banyak. Saling memberi hadiah memang indah bukan?

Di sekitar tempat tinggalku, banyak pasangan yang mirip-mirip Abah dan istrinya. Maksudnya, mereka, suami-istri, adalah pekerja keras, bahkan kasar dan kotor. Kok kotor? Iya, karena banyak di antara istri mereka yang berprofesi menjadi tukang cuci buat orang-orang kompleks, sementara suami mereka narik becak atau jadi tukang ojeg. Pendidikan yang rendah, tidak ada skill yang berarti, membuat mereka terpaksa memilih pekerjaan-pekerjaan seperti itu.

Mereka orang-orang terhormat, karena mencari nafkah yang halal, dan tidak merampas hak orang lain. Baik merampas seperti copet jalanan, atau merampas secara halus seperti yang diperbuat oleh sebagian pengusaha besar. Mereka menerima sesuai jasa yang mereka berikan. Mereka juga tidak meminta-minta, entah meminta-minta seperti pengemis yang banyak berkeliaran di jalan, atau meminta-minta dengan cara canggih dengan menyiasati anggaran Negara, seperti terkadang dilakukan oleh sebagian aparat Negara.

Mudah-mudahan anak-anak mereka bisa lebih baik dibandingkan mereka. Bisa meraih pendidikan yang lebih tinggi ketimbang orang tua mereka, sehingga mampu berbuat lebih banyak dan berarti.

Kami sendiri, tak banyak yang bisa kami lakukan. Paling sekedar menyediakan pendidikan dini yang murah berkualitas, di garasi rumah kami. Mencarikan beasiswa untuk satu – dua di antara mereka. Dan berdoa. Jangan pernah remehkan berdoa.

Mereka orang-orang yang mengingatkan saya kepada banyak hadits nabi.

”Siapa saja pada malam hari bersusah payah dalam mencari rejeki yang halal, malam itu ia diampuni”, (HR. Ibnu Asakir dari Anas)

”Siapa saja pada sore hari bersusah payah dalam bekerja, maka sore itu ia diampuni”. (HR. Thabrani dan lbnu Abbas)

”Tidak ada yang lebih baik bagi seseorang yang makan sesuatu makanan, selain makanan dari hasil usahanya. Dan sesungguhnya Nabiyullah Daud as, selalumakan dan hasil usahanya”. (HR. Bukhari)

”Sesungguhnya di antara dosa-dosa itu, ada yang tidak dapat terhapus dengan puasa dan shalat”. Maka para sahabat pun bertanya: “Apakah yang dapat menghapusnya, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: ”Bersusah payah dalam mencari nafkah.” (HR. Bukhari)

”Apabila kamu selesai shalat fajar (shubuh), maka janganlah kamu tidur meninggalkan rejekimu”. (HR. Thabrani)

”Berpagi-pagilah dalam mencari rejeki dan kebutuhan, karena pagi hari itu penuh dengan berkah dan keherhasilan.” (HR. Thabrani dan Barra’)

“Sesungguhnya Allah Ta‘ala suka melihat hamba-Nya bersusah payah dalam mencari rejeki yang halal”. (HR. Dailami)

“Sesungguhnya seseorang di antara kamu yang berpagi-pagi dalam mencari rejeki, memikul kayu kemudian bersedekah sebagian darinya dan mencukupkan diri dari (meminta-minta) kepada orang lain, adalah lebih baik ketimbang meminta-minta kepada seseorang, yang mungkin diberi atau ditolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Sebaik-baik nafkah adalah nafkah pekerja yang halal.” (HR. Ahmad)

“Sesungguhnya Allah SWT sangat menyukai hamba-Nya yang Mukmin dan berusaha”. (HR. Thabrani dan Baihaqi dari lbnu ‘Umar)

”Barangsiapa yang bekerja keras mencari nafkah untuk keluarganya, maka sama dengan pejuang dijaIan Allah ‘Azza Wa Jalla”. (HR. Ahmad)

Sabrul Jamil
Sabrul.jamil@gmail.com

==============================
kumpulan cerita rohani penuh hikmah – kisah perawan cantik – cerpen rohani penuh hikmah

About these ads

About sesungguhnya pacaran dan musik itu haram hukumnya ( www.jauhilahmusik.wordpress.com , www.pacaranituharam.wordpress.com )

pops_intansay@yahoo.co.id
This entry was posted in cerita eramuslim.com. Bookmark the permalink.

4 Responses to kumpulan cerita rohani penuh hikmah – kisah rohani penuh hikmah – cerpen rohani penuh hikmah

  1. kumpulan cerita rohani penuh hikmah – kisah rohani penuh hikmah – cerpen rohani penuh hikmah
    ==============================

    Jenak-Jenak Kehidupan
    Kamis, 13/01/2011 07:31 WIB | email | print

    Oleh Fathelvi Mudaris

    Kehidupan. Seuah kata sederhana yang amat sarat makna. Seperti apakah kita menamakan sebuah hidup itu? Seperti apa warnanya hidup itu? Hijaukah? Jingga kah? Atau violet? Apapun itu, yang jelas setiap kita punya lukisan kata sendiri untuk menamainya.

    Hidup. Mari sejenak menelik kembali masa2 dari segenap cuplikan episode kehidupan kita. Ya, kehidupan kita sendiri. Bukan orang-orang disekeliling kita. Seberapa panjangkah jalannnya? Seberapa beragamkah warnanya? Barangkali kita telah melukis sejuta warna, bukan?

    Saudaraku,
    Dahulu kita adalah calon masinis atas kereta yang saat ini tengah kita kendalikan saat ini. Barangkali, keterbatasandan kedhaifanlah yang membuat kita tak tahu bahwa ternyata kita dahulu berkompetisi. Ya, berkompetisi. Hanya untuk sebuah kereta kehidupan.

    Saudaraku,
    Barang kali kita juga lupa bahwa setelah salah satu dari sekian banyak pesaing-pesaing yang ikut berkompitisi, ada satu pemenangnya. Siapa? Yaitu kita sendiri! Ya, kita adalah pemenang kompetisi itu! Seyogiyanya sebagai pemenang, tentu ada banyak hal yang menjadi ’tuntutan’ untuk kita.

    Sebelum kereta kita melaju, kita tentu telah membuat kontrak terlebih dahulu dengan Sang Pemilik Kereta, sang Penentu Nasib Kereta. Karena kita bukan pemilik penuh atas kereta itu. Kita hanya masinisnya. Kontrak itu adalah ketika kita bersaksi bahwasannya hanya Allah lah sembahan kita. (ingat janji kita kpd Allah telah dinyatankan-Nya dg terang di Al Qur’an)

    Lalu, peluit pun dibunyikan. Pertanda kereta siap berangkat. Apakah itu sepuluh tahun yang lalu, dua puluh tahun yang lalu, tiga puluh, atau bahkan mungkin seratus tahun yang lalu kita mulai berangkat dari stasiun awal.

    Saudaraku,…
    Hari ini,.. kita adalah masinis kereta yg kita kendalikan ini. Akan kita bawa kemanakah kereta ini? Sedang diperjalannya begitu banyak potret yang kita temui. Lihatlah, jalan yang kita tempuh itu bukan hanya lurus saja, bukan hanya datar saja, dan tentu saja bukan hanya terang saja. Terkadang, ada tanjakan yang kita lalui, ada terowongan gelap yang membuat kita sulit meraba, ada cadas yang menghadang barangkali. Ah, itu adalah niscaya bukan? Sebab, kalau tidak dengan begitu, perjalanan ini tak pula indah.

    Namun, kereta yang kita bawa ini telah ditentukan dimanakah stasiun terakhirnya? Akan seperti apa kita nantinya berhenti distasiun? Atau, apakah kita menjadi salah satu sejarah dimana kereta kita berujung di jurang terjal.

    Ya, kitalah yang merancang akan bagaimana kita sampai distasiun nanti. Akan dengan mulus dan happy ending? Atau, dgn tabrakan atau Sad ending? Setidanya, kita telah dimodali oleh rambu2 jauh sebelum keberangkatan kita dahulu. Rambu yg jika kita tak mematuhinya, akan menggelincirkan kereta kita ke jurang. Rambu yang jika kita patuhi, insya Allah akan mengantarkan kita ke stasiun dgn selamat.

    Ya,… suatu saat, PASTI! Pasti kita akan menemui stasiun kita masing-masing. Stasiun yang akan menentukan nasib kita setelah itu. Sebab, ternyata, kereta yang kita tumpangi dan kita kendalikan ini hanya sepenggal perjalanan singkat. Kita hidup, ternyata bukan untuk perjalanan di kereta sesaat saja sampai kita menemukan stasiun. Tapi, ada tujuan kita setelah elewai stasiun itu bukan?ya, mulai dari sekarang, kitalah yang merancangnya!

    http://www.fathelvi.blogspot.com

    ==============================
    kumpulan cerita rohani penuh hikmah – kisah perawan cantik – cerpen rohani penuh hikmah

  2. kumpulan cerita rohani penuh hikmah – kisah rohani penuh hikmah – cerpen rohani penuh hikmah
    ==============================

    Maafkan Aku, Sahabat
    Rabu, 12/01/2011 14:17 WIB | email | print

    Oleh M .jono AG

    Sahabatku, mohon maaf kalau panggilanmu lewat HP semalam tak kujawab. Bukan aku mengabaikanmu, apalagi tidak menghargaimu. Sekali lagi tidak. Insya Allah aku akan tetap menjawabmu pada waktu dan situasi yang berbeda. Hanya karena aku malu kepada Allah saat itu karena aku sedang ingin menambah pemahamanku terhadap agamaku.

    Aku sangat malu kalau ustadz yang berdiri di depanku dan di depan semua jamaah sedang semangat-semangatnya menyampaikan beratnya hijrah Rasulullah tiba-tiba aku yang berada disampingnya keluar hanya untuk menerima telpon. Sungguh aku malu kepada Allah, saat ini aku baru bisa ikut ta’lim sebulan dua kali setiap jum’at minggu pertama dan minggu ketiga di musholla dekat rumahku. Padahal usiaku sudah diatas empat puluh, sementara setiap saat dosa- dosaku kian bertambah tanpa terbendung. Kadang aku merenung, kenapa tidak segera memperbaiki diri.

    Sahabatku, mohon maaf kalau panggilanmu lewat HP kemarin siang dan waktu-waktu siang sebelumnya tidak kujawab. Jujur saja bukan lagi aku tak mau jawab, tapi justru kumatikan begitu terdengar adzan. Karena saat itu aku kepingin bersama teman ikut jamaah sholat dhuhur di musholla kecil di kantor kita.

    Aku bersyukur setiap waktu sholat diseluruh ruangan dikantor kita dikumandangkan adzan dan himbauan kepada seluruh umat muslim untuk meninggalkan pekerjaan sejenak dan segera melaksanakan sholat. Aku ingin menjadikan saat itu istimewa. Karena saat itu yang memanggilku bukan lagi atasanku tetapi sang Pemilik diriku. Aku sadar sebagai karyawan yang mengelola operasional otomatis ada tuntutan bahwa setiap saat harus bisa dihubungi.

    Tetapi aku juga ingin waktu sholat justru menjadi panggilan terindah hari itu untukku. Mumpung Allah masih menitipkan nafas di tubuhku.

    Ada yang perlu diluruskan sepertinya. Istilah handphone tentu bukan barang yang asing bagi kita saat ini. Ada yang memaknai sebagai telpon genggam yang berarti setiap saat ada di genggaman kita. Ada lagi yang memaknai sebagai telepon bergerak sehingga kemanapun pergerakan kita tetap bisa dihubungi, sebuah lompatan teknologi yang cukup besar sehingga kemungkinan informasi hilang semakin kecil karena mobilitas yang dimiliki.

    Sebuah teknologi, tentu memilki sisi positif dan negative tergantung kita sebagai pemakainya.Kita lihat saja saat ini hampir di semua masjid ataupun musholla terdapat tulisan “UNTUK MENJAGA KEKUSYUKAN SHOLAT HARAP MATIKAN HP ANDA”. Belum lagi tambahan dari pak Imam yang dengan ‘terpaksa’ menambah aba-aba “Tsau sufuufakum, mari rapatkan dan luruskan shaf, dan tolong yang membawa HP harap dimatikan atau di silent!”. Astaghfirullah. Inilah fenomena saat ini yang sering kita jumpai di masyarakat kita.Seakan kita sangat takut kalau tidak ditemani HP.

    Dulu pada saat belum teknologi seluler belum berkembang di masyarakat pada saat menelpon dan kebetulan tidak diangkat kita hanya berfikir bahwa yang kita hubungi sedang tidak ada di rumah. Coba sekarang, begitu HP tidak diangkat, orang sudah berfikiran macam-macam. Mulai dari sengaja nggak ngangkat, nggak gaul karena udah jelas-jelas panggilan itu ditujukan kepadanya kok nggak diangkat, atau bahkan ada yang mengumpat kalau beberapa kali ngebel nggak juga diangkat.

    Tanpa mengurangi pengharagaanku terhadap teknologi yang semakin memudahkan kita, harusnya ada batasan-batasan agar kemajuan teknologi tetap saja bermanfaat untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan malah menjauhkan atau sedikitnya menghalangi orang lain yang ingin mendekatkan diri kepada Allah. Kita mungkin tidak menyadari pada saat sholat jamaah, tiba-tiba ada HP yang bunyi, tentu bukan saja jamaah di sekitarnya saja yang terganggu, bisa jadi sang imam juga terganggu konsentrasinya.

    Pernahkan anda membayangkan pada saat hening seperti itu tiba-tiba ada lagu rock, dangdut, atau bahkan lagu barat mengalun diantara lantunan ayat-ayat Qur’an yang sedang dibaca imam? Tentu dalam waktu sekejap konsentrasi kita akan buyar. Minimal kita mengumpat dalam hati “kenapa ini orang nggak tinggalkan saja HP nya dirumah?” Masih khusyukkah kita pada saat terlintas dihati kita umpatan kepada orang lain?

    Ada lagi yang berfikiran kenapa nggak di-silent saja. Padahal sama saja bagi pemakainya kalau itu dilakukan pada saat sholat. Pada saat HP bergetar, tentu perhatian kita akan terpikir “Siapa lagi ini, waktunya sholat kok ngebel ?” Memang yang terganggu hanya kita. Kenapa tidak sekalian saja di matikan atau ditinggal di rumah?

    Sahabatku, maafkan aku dan istriku kalau beberapa kali menghubungiku ketika magrib tiba justru istriku lah kadang-kadang yang mengangkatnya. Memang aku sering berpesan kepada istriku kalau lagi dapat dispensasi dari Allah untuk tidak sholat dan kebetulan ada yang ngebel di HP ku dan aku sedang ikut jamaah sholat magrib di musholla sepulang kerja untuk dijawab bahwa aku sedang jamaah.

    Bukan maksudku tidak respon terhadap panggilan padahal itu menyangkut pekerjaan dan tanggung jawabku. Insya Allah aku akan telpon balik sesudah sholat, meskipun kadang- kadang terbersit keinginan untuk melepaskan beban kerja setelah sampai rumah. Tapi rupanya Allah menghendaki, sejak awal aku harus menempati posisi operasional yang kadang-kadang tidak kenal waktu.

    Itupun sangat saya sadari bersama keluarga.Sehingga sering kali pada saat libur atau sedang jalan-jalan bersama keluarga harus belok dulu ke kantor untuk menyelesaikan gangguan atau balik kerumah, tergantung mana yang lebih dekat untuk segera bisa menyelesaiakan gangguannya. Di situlah seninya.

    Jadi kalau sering kali pada saat sholat aku tidak bisa sambil membawa HP, hanya karena aku memang belum bisa khusyuk seperti mereka yang sudah mencapai tingkatan khosyi’un. Aku masih sangat awam, masih perlu banyak berlajar dan berlatih khusyuk. Sekali lagi, aku hanya ingin menjadikan waktu sholatku adalah waktu yang sangat istimewa, karena aku yang hina ini dipanggil menghadap Rabbku.

    Aku hanya ingin waktu perjumpaanku itu tidak lagi dicampuri dengan urusan yang lain, termasuk pekerjaan yang aku yakin asal Allah masih menitipkan nafas di tenggorokanku berarti aku harus tetap bekerja sebagai ibadah kepadanya. Pasti itu.

    Satu hal yang aku tidak pernah tahu pada saat Allah memanggilku untuk menghadap kepada-Nya disela-sela pekerjaanku yang hanya 5 x sehari semalam dan paling lama hanya sekitar 10-15 menit itu, aku tidak tahu apakah sesudah aku sholat itu masih diberi-Nya aku kesempatan untuk kembali mi’raj kehadirat-Nya atau justru itu adalah sholatku yang terakhir. Wallahu a’lam.

    M. Jono AG
    masjono@telkom.co.id

    ==============================
    kumpulan cerita rohani penuh hikmah – kisah perawan cantik – cerpen rohani penuh hikmah

  3. kumpulan cerita rohani penuh hikmah – kisah rohani penuh hikmah – cerpen rohani penuh hikmah
    ==============================

    Kesetiaan Bang Habib
    Rabu, 12/01/2011 05:17 WIB | email | print

    Oleh bidadari_Azzam

    Semua penduduk komplek perumahan kami mengenalnya dengan baik, sebut saja namanya Bang Habib. Beliau humoris dengan senyum khasnya, penampilannya rapi tapi lucu, namun selalu ramah. Tak ada yang mengejek atau mencemooh keadaan fisiknya, sebab dia sendiri adalah orang yang percaya diri dan terlihat bersyukur dengan keadaannya. Padahal tubuhnya, (maaf) terlahir dengan sedikit tidak normal, semacam gangguan pertumbuhan tulang sehingga badannya sangat pendek, tentu ‘kurang matching’ dengan kepala yang besar dan kulitnya yang gelap, begitu penilaian orang yang baru kenal padanya.

    Ayah dan ibunya telah meninggal dunia, entah bagaimana ceritanya, dia diasuh oleh seorang tokoh agama di komplek tersebut, lalu kami mengenalnya sebagai “Bang Habib Si Penjaga Masjid”.

    Karena rumahku dekat dengan masjid, dan kakakku juga sering menjadi mu’azzin (yang mengumandangkan adzan), otomatis keluarga dan para tetanggaku sangat akrab dengan Bang Habib ini. Kagum padanya, di usia yang masih harus bermanja pada orang tua, dia malah sudah melakukan berbagai kegiatan dengan mandiri, mencuci hingga menyetrika sendiri, merapikan ruangan kamarnya, memasak, dll, tentunya ditambah dengan ‘amanah special’ sebagai penjaga masjid. Bang Habib tak pernah mengeluh di saat harus lebih sering mengepel lantai masjid akibat cipratan becek air hujan, membersihkan semua WC dan kamar mandi masjid, ditambah menyapu halaman masjid yang sangat luas. Kemudian saat semakin sering ada jamaah yang banyak mengobrol dengannya, hadirlah sohib Bang Habib yang sering ikut menginap di sana, Bang Halim kita panggil namanya.

    Kerja sama mereka sangat bagus, yang satu mengepel lantai masjid sisi kanan, yang lain mengepel lantai di sisi kiri. Saat yang satunya membersihkan menara dan peralatan di ruang dekat mimbar, yang lainnya membersihkan gulungan sajadah. Bang Habib menyapu halaman depan masjid, sementara Bang Halim menyapu halaman belakang, dan banyak lagi kegiatan mereka sehari-hari yang membuat keduanya semakin mencintai rumah Allah itu, laksana tinggal di istana surgaNYA, setiap hari tidak ketinggalan sholat berjama’ah—iya donk, mereka juga yang bergantian menjadi mu’azzin atau kadang-kadang membimbing anak-anak TK/TPA untuk belajar menjadi mu’azzin. Subhanalloh…

    Satu cerita unik kala diriku masih berusia 5 tahun, masih ‘belajar berpuasa pol sehari penuh’ saat bulan ramadhan. Bersama sohib-sohib yang merupakan tetanggaku, kami bermain di halaman masjid. Beberapa kali kami masuk kamar mandi dan cuci tangan, cuci kaki serta bermain cipratan air. Lalu kami melihat Bang Habib memasuki ruangan kecil, dapur mini tepat di sebelah kamar beliau. Ternyata dia akan memasak makanan untuk berbuka puasa. Beberapa menit kemudian, dia keluar dari dapur dan entah pergi kemana, lalu kami iseng-iseng memasuki dapur tersebut. Salah seorang teman yang sudah berbuka puasa (alias setengah hari) mencolek secuil masakan Bang Habib, “hmmm…enak”, katanya, yang lain tertawa. Lalu Saya dan teman lain yang saat itu sedang kehausan mengambil gelas dan air putih di panci air dapur Bang Habib, kemudian meneguknya bergantian, “legaaaaa….”, sampai bertepuk tangan lho kami di saat itu, (harap maklum dan jangan ditiru), namanya juga masih kanak-kanak. Kami sedang ‘berimajinasi’ seolah-olah penemuan ruang dapur saat itu adalah menemukan harta karun, “oooh…ternyata Bang Habib tuh tinggalnya di masjid, ada dapur juga toh…”, begitu contoh celoteh temanku.

    Tiba-tiba tak sengaja seorang teman lain menjatuhkan tutup panci, praaang! bunyinya berisik. “Hey…siapa tuh di dapur?”, terdengar suara orang dari kejauhan, sepertinya Bang Habib sudah pulang. Dan suara lainnya terdengar pula, sepertinya Bang Halim yang langsung menuju dapur, namun tak menemukan kami. Saya dan teman-teman sudah berlarian melalui pintu lain sekaligus memanjat pagar dari arah berlawanan dengan mereka, tentunya sambil bersorak-sorai khasnya anak-anak.

    Setelah hari usil itu berlalu, rasanya ada ‘rasa malu hati’ kalau bertemu Bang Habib dan Bang Halim, padahal setiap hari di bulan ramadhan, mereka pasti datang saat setengah jam sebelum adzan maghrib untuk mengambil makanan berbuka puasa—waktu itu setiap keluarga diperbolehkan menyumbang makanan apa pun untuk buka puasa jamaah masjid setiap hari, tinggal dicatat saja jadwal dan rencana makanan apa yang akan disiapkan di hari tersebut, dan semua penduduk senang, karena hal itu menambah semangat persaudaraan dan meningkatkan amalan baik di bulan mulia. Pada waktu hari iedul fitri tiba, akhirnya Saya dan teman-teman menemui Bang Habib, ikut bermaafan sekaligus ‘pengakuan hari usil itu’, dengan gaya anak-anak yang lucu tentunya, malu kalau mengingatnya.

    Dan ternyata Bang Habib cuma tersenyum simpul, tidak terkejut atau marah-marah, ckckckck, sambil menyalami kami satu persatu, “kalian khan anak-anak soleh-solehah…masih kecil gini, gak ada dosa… tapi lain kali, puasanya harus beneran pol yah, kalau kehausan siang-siang, tidur siang donk, jangan main terus…hehehehe”, selorohnya. Lega hati kami.

    Hari terus berlalu, tak terasa kegiatan di masjid bertambah padat, sampai akhirnya lahirlah “Risma..” (remaja islam masjid…), yang sering mengadakan seminar dan pesantren kilat (sanlat). Sosok Bang Habib dan Bang Halim adalah ‘partner setia’ setiap acara di masjid. Kadang-kadang mereka juga aktif membantu RT dan RW dalam mengadakan perlombaan 17 agustusan, misalnya pengadaan panjat pinang, mengatur lokasi lomba tarik tambang, acara marathon bersama, dll.

    Bang Habib dan Bang Halim tidak pernah hilang dari masjid itu—meskipun cuma sehari, sementara sosok kami, teman-teman, dan generasi-generasi Risma sudah lulus sekolah, satu persatu pindah rumah dari komplek itu, lalu melanglang-buana ke berbagai negeri. Adapun seseorang yang mencoba bertanya pada Bang Habib, apakah beliau punya keinginan semisal memiliki usaha lain di luar kota atau menikah dan kemudian merantau melihat suasana di tempat lain ? Bang Habib menjawab ringan, “Sesekali Saya juga ikut acara ke luar kota sama anak-anak TPA, atau pengajian bapak-bapak, ibu-ibu, dapat ilmu juga. Saya masih bisa hidup sampai saat ini pun, sudah sangat bersyukur sekali, Saya sudah merasa bahwa tidak perlu punya keinginan muluk-muluk, yang penting selalu sehat dan tetap bisa mengurus masjid ini… Banyak ulama kita yang sudah meninggal dan disholatkan di masjid ini, Saya pun nantinya ingin di sini saja (disholatkan saat meninggal dunia), sedari kecil sampai dewasa disinilah rumah saya…”, seraya berurai air mata. Beliau ceritakan bagaimana perihnya kehilangan orang tua, namun “pak haji X” yang menolongnya telah menceritakan tentang sosok baginda Rasulullah SAW, yang merupakan manusia teladan sepanjang masa padahal hidupnya yatim piatu di usia kanak-kanak. Beliau ceritakan betapa sulitnya menerima keadaan fisik diri sendiri, tidak keren, tidak bisa tinggi, tidak ‘matching’ antara kepala dengan badan, apalagi dengan kondisi kesehatan yang masih sering down saat masa pertumbuhan—menyebabkan dia sulit menyelesaikan pelajaran di sekolah. Namun para bapak aktivis masjid yang sabar, memotivasinya terus-menerus, bahwa Allah SWT telah menciptakan semua makhlukNya dengan sempurna, dan kelak kita semua tak ditanya soal ‘sekeren apa di mata orang lain’, hanya nilai Ketakwaan padaNya yang dapat menyelamatkan diri, hanya amalan baik di dunia yang akan menemani kita saat berada di yaumil hisab. Hasil tempaan itu menjadikan Bang Habib sebagai sosok pemuda idaman. Ia percaya, setiap orang punya ‘amanah’ masing-masing, apapun peranan kita, ‘setia-lah’ dalam rasa optimis padaNYA.
    “dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Thalaaq [65] : 3)

    Beberapa tahun yang lalu Bang Habib sudah menikah dengan seorang muslimah nan cantik dan insya Allah sholehah. Mereka telah dikaruniai Allah SWT amanah, anak-anak ceria. Begitu pun Bang Halim, menikah dan memiliki anak yang cerdas. Namun, Bang Halim telah meninggal dunia saat kecelakaan lalu lintas tiga tahun lalu, (semoga Allah SWT melimpahkan tempat terindah di alam kuburnya, amiin).

    Terakhir kuterima kabar dari teman lain bahwa Bang Habib sekarang telah menunaikan rukun islam ke lima, subhanalloh… ia dan istrinya tetap setia menjaga masjid ‘masa kecil kami’, dan sekarang sudah tambah banyak aktivitas disana, termasuk program manasik haji dan umroh. Semoga sesibuk apapun kita, tidak melupakan ‘basecamp ummat’, masjid. Pemuda seperti Bang Habib dan Bang Halim sangatlah diperlukan untuk kemajuan ummat ini, berkontribusi langsung menjaga kebersihan dan keindahan masjid, meningkatkan kreativitas masyarakat. Jangan sampai masjid jadi ‘sasaran politik’, ramai di saat kampanye pemilu doang—tertular penyakit aneh rembesan kolusi, dsb, naudzubillahi minzaliik…

    (bidadari_Azzam, salam ukhuwah dari Krakow yang merindukan masjid, 7 jan,2011)

    ==============================
    kumpulan cerita rohani penuh hikmah – kisah perawan cantik – cerpen rohani penuh hikmah

  4. kumpulan cerita rohani penuh hikmah – kisah rohani penuh hikmah – cerpen rohani penuh hikmah
    ==============================

    Ketika Orang Rusia Mengamalkan Surat Ar Rahman:33
    Selasa, 11/01/2011 13:56 WIB | email | print

    Oleh Syaripudin Zuhri

    Menjelang 50 tahun perayaan manusia pertama ke angkasa, ada pertanyaan yang menggelitik, kapan Indonesia menerbangkan astronotnya ke angkasa? Kapan Indonesia yang mayoritasnya muslim mengamalkan surat ar Arahman:33. Masa kita hanya dapat bernyanyi, kapan-kapan! Masa yang mengamalkannya orang Rusia? Mengapa pertanyaan ini muncul? Mari lanjutkan membacanya.

    Mungkin banyak diantara kita yang belum tahu atau mungkin malah tak tahu bahwa manusia pertama yang ke angkasa itu justru dari Rusia, bukan Amerika! Dalam sejarah tecatat pada tanggal 12 April 1961 Yury Gagarin meluncur keangkasa. Maka dialah manusia pertama yang meluncur keangkasa, yang sebelumnya diluncurkan anjing sebagai uji coba, bisakah makhluk hidup diluncurkan keangkasa! Dengan uji coba anjing yang berhasil diluncurkan keangkasa, maka manusiapun bisa!

    Dengan pesawat Vostok I meluncurlah Gagarin keangkasa, mulailah langkah kecil manusia di bidang ruang angkasa menuju langkah besar. Ketika Rusia, saat itu Uni Soviet, meluncurkan kosmonotnya, sebutan untuk astronot di Rusia, Amerika Serikat kaget, terperangah, aha… Rusia duadah terbang duluan ke angkasa, malulah Amerika Serikat. Dan kebetulan saat itu memang sedang perang dingin, antara Blok Barat di bawah pimpinan Amerika Serikat dan Blok Timur di bawah pimpinan Uni Soviet.

    Pukulan telak dihantamkan oleh Uni Soveit pada Amerika Serikat, tanpa gambar gembor, Uni Soveit dapat meluncurkan kosmonotnya ke angkasa! Namun karena dunia informasi pada saat itu memang dikuasai dunia Barat, khususnya Amerika, maka langkah awal manusia menembus angkasa untuk pertama kalinya, tak terdengar ‘gregetnya” seakan “tak terjadi apa-apa”, padahal itu adalah peristiwa pertama kali manusia bisa ke angkasa!

    Namun ketika Amerika Serikat berhasil astronotnya menginjakan kakinya ke bulan dunia gempar! Dunia gegap gempita memberitakan itu dan lagi-lagi karena keberhasilan dunia barat menguasai informasi, yang terdengar ke angkasa oleh dunia adalah Neil Amstrong, bukan Yury Gagarain! Mungkin sampai saat ini bila ditanyakana siapa yang pertama manusia ke angkasa? Dijawabnya pasti Neil Amstrong! Padahal pertanyaanya adalah siapa yang pertama kali ke angkasa? Bukan ke bulan! Itulah yang tarjadi, Gagarin “dilenyapkan” oleh dunia informasi Amerika atau Barat. Yang dikenal dunia adalah Amstrong, bukan Gagarin.

    Sudahlah, itu urusan mereka, yang saya mau tekankan adalah di mana posisi Indonesia, kapan astronot Indonesia ke angkasa? Jangan-jangan sudah banyak yang pesimis untuk menjawabnya. Jangankan ke angkasam ke bulan, ngurus makan saja kita masih susah. Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin. Mau sekolah tinggi saja mahalnya tak terjangkau rakyat kecil, bagaimana rakyat mau menjadi pinter, kalau beban kehidupan begitu berat menekannya?

    Atau bahkan ada yang sudah tak peduli lagi, mau ke angkasa atau bukan, mau makan atau tidak, bukan urusan! Atau memang kita harus terus menerus bangsa yang kalah dan dikalahkan, khsusunya dengan negara jiran kita, Malaysia! Di angkasa kitapun dikalahkan oleh Malaysia, mereka sudah meluncurkan astronotnya ke angkasa terbang bersama Rusia!

    Setelah Dr Pratiwi Sudarmono calon astronot kita yang gagal terbang, karena meledaknya Challenger beberap tahun lalu, setelah itu tak terdengar lagi calon astronot kita, terdengar lagi satupun astronot kita yang dipersiapkan ke angkasa! Mungkin ada yang berpikir, buat apa ngurusin angkasa yang biayanya mahal? Ngurus perut aja belum bisa! Buat makan saja susah! Namun anehnya biaya trilunan rupiah anggaran tahun 2010 tak terserap! Ya ampun uang menjadi nganggur, tak produktif. Sementara yang di korupsipun tak tanggung-tanggung, entah berapa triyunan, tak ada yang bisa menjawab.

    Loh dari pada anggaran hanya buat jalan-jalan bagi anggota DPR yang katanya terhormat, bukankah lebih baik membuat program yangjelas, dan salah satunya yang prestisius ya ke angkasa itu, biarlah anak cucu nanti bangga akan negaranya, karena telah berhasil ke angkasa! Masa kita baru si Gatotkaca aja sih yang terbang, atau tokoh komik kita, Godam, yang bisa terbang ke angkasa! Mana astronot kita? Ingat sebentar lagi di Rusia akan memperingati 50 tahun atau setengah abad kosmonotnya ke angkasa, tepatnya 12 April 2011 tahun ini dan mereka akan merayakannya besar-besaran!

    Rasanya sedih sebagai suatu bangsa yang lebih dahulu merdeka dari Malaysia, dan pernah dua-tiga dekade dahulu Malaysia banyak berguru ke Indonesia, namun sekarang kita, Indonesia, tertinggal jauh olehnya. Mereka sudah punya kebanggaan yang menara kembar Petronas, yang sudah dijadikan tempat shoting film, baik dari Hollywood, Amerika, maupun oleh Bollywood, India. Sehingga negara Malaysia dapat promosi gratis dari dua pusat perfilman raksasa itu. Kapan Indonesia ada ikonnya yang mendunia, selain Bali? Kapan menara Jakarta jadi direalisasikan? Oya dibidang angkasa kita juga sudah dikalahkan Malaysia, mereka sudah meluncurkan astronotnya ke angkasa beberapa tahun lalu.

    Halo… halo mana nih calon astronot kita? Kita sudah dikalahkan Malaysia, loh kalau tiba-tiba nanti Thailand atai Vietnam astronot mereka ke angkasa, wah tambah malu kita! Kita negara terbesar dan terluas wilayahnya di bandingkan negara-negara ASEAN lainnya, juga terbanyak penduduknya dan sangat kaya sumber daya alamnya.

    Ya kalau kita dikalahkan lagi di bidang angkasa, ya ampun …. dana itu dikemanakan?
    Masa kita hanya berlomba-lomba agar dapat dikuburkan di tempat yang mewah, yang dananya puluhan juta rupiah atau bahkan lebih. Ya ampun mau mati aja kok sampai sekian juta rupiah rela dibenamkan, sementara yang masih hidup mau makan saja susahnya minta ampun, mau membeli cabe kritingnya saja rakyat tak mampu! Heranya kok di ijinkan yakh …membangun kuburan super mewah, dengan nama asing dan adanya di Indonesia! Orang tak tahu bahwa nama itu ada di Indonesia, kirain di Amerika sana, eh tak tahunya hanya di kerawang, Jawa Barat saja!

    Aneh banget nih negara kita, yang miskin sampai matipuntak tahu mau dikuburin di mana, sementara yang kaya, padahal katanya harus berus bergaya hidup sederhana, bahkan dalam ajaran Islam, kita hanya dibekali dengan kain kafan saat meninggal dunia dan saat dikuburkan hanya di tanah biasa, tak perlu ornamen apapun, sederhana sekali. Tapikan itu duit mereka, harta mereka, suka-suka merekalah! Tapi mereka hidup di Indonesia, dimana rakyatnya masih banyak yang miskin, masa mau mati saja masih menujukkan bahwa saya orang kaya! Loh-loh kok jadi ke bawah, ke kuburan, bukankah tadi lagi bicara ke atas, ke angkasa?

    Iya, saya gemes, melihat orang-orang kaya kita, sepertinya tak peduli pada yang miskin, masa orang lagi pada kelaparan, mereka membangun kuburan yang super mewah? Yang herannya pemerintah kok mengijinkan membangun kuburan semacam itu? Bukankah ketika orang mati hanya tiga perkara yang dapat mengiringnya ke akherat, amal jariah, anak yang sholeh dan ilmu yang bermanfaat. Kok masih kuburan juga, habis geretan saya!

    Oke kita kembali ke angkasa, memang dampak langsungnya mungkin kecil, tapi dalam jangka panjang ketika ada astronot Indonesia ke angkasa, akan membuat generasi kita di masa datang termotivasi dengan kuat dan sangat bangga akan negerinya, karena telah berhasil meluncurkan salah seorang warga negaranya ke angkasa, bukan suatu prestasi yang kecil!

    Benar-benar luar biasa kalau Indoensia bisa meluncurkan astronotnya ke angkasa. Kok saya seperti bermimpi? ya tak apa-apalah, saya bermimpi sekarang, entah realisasinya bisa 10, 20, 50 atau 100 tahun mendatang atau bahkan berabad-abad kemudian baru terlaksana, tak penting! Yang penting ada astronot Indonesia yang ke angkasa yang dipersiapkan sekarang-sekarang ini, atau pada puluhan atau ratusan tahun mendatang!

    Jangan sampai ke duluan negara-negara tetangga kita yang lainnya, atau jangan-jangan si singa kecil itu, Singapur, sudah merencanakan astronotnya ke angkasa, kalau itu terjadi, benar-benar, malu-maluin, masa kalah lagi dengan negara sekecil itu, negara yang secara fisik kalau dimasukan ke hutan Kalimantan, lenyap, tak kelihatan! Ayolah bangkit bangsaku, bangsa kita, di Rusia tanggal 12 April 2011 mendatang akan memperingati 50 tahun keberhasilan mereka menembus angkasa! Okelah kita tak punya pesawatnya, orangnya dulu deh yang ke angkasa, masa menunggu janji-janji Amerika saja?

    Irak, Afganistan, Malaysia negara-negara berkembang lainnya sudah ke angkasa bekerjasama dengan Rusia, Rusialah yang menerbangkan para astronot mereka, mengapa kita tidak berkerjasam saja dengan Rusia? Sudahkah pemerintah memprogramkan dalam jangka pendek, menengah atau jangka panjang untuk meluncurkan salah seorang astronotnya ke angkasa? Atau jangan-jangan para ahli bahasanya sedang sibuk mencari, kata serapan astronot untuk bahasa Indonesia apa yakh? Jangan-jangan kita memang baru bisa membuat program atau acara”nujuh bulan” Ituloh acara adat untuk ibu-ibu yang hamil tujuh bulan! Loh apa hubungannya dengan angkasa? Ya paling tidak ada kata”bulan”nya.

    Coba perhatikan surat Ar Rahman: 33 yang berbunyi” Wahai golongan jin dan manusia jika kamu sanggup menembus(melintas) penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya, kecuali dengan kekuatan(dari Allah)” Masa yang mengamalkan orang Rusia atau Amerika. Lucukan? Apa lagi saat diluncurkan pesawat Vostok I, Rusia masih bagian dari Uni Soviet yang komunis! Rasanya kontradiksi, yang beriman hanya membaca, yang komunis mengamalkan, kan aneh! Arab Saudi yang “gudangnya duit” tak kedengaran program mengamalkan ayat ini, Indonesia yang mayoritasnya muslim, entah kapan mengamalkan ayat ini.

    Oke salam dari “angkasa”, sampai jumpa di “orbit” yang baru!

    ==============================
    kumpulan cerita rohani penuh hikmah – kisah perawan cantik – cerpen rohani penuh hikmah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s